Embun kan tetap setia,
Mengantarkan pesannya malam kepada siang,
menyentuh surya untuk berjaga,
dalam desir kerinduan sukma.
Embun tetap setia,
mengupas pekatnya kelam menyiapkan jingga nya senja.
Hanya kuasa semesta,
jiwa ragaku tak lagi berpinta.
Jika harus mengakhiri semua,
usaikan dengan caraNya.
Biar kata tak lagi sama,
aku tak kan berduka.
Hanya satu keinginan tersisa,
Ijinkan sedikit waktu lagi saja,
untuk menyempurnakan segala.
Aku ingin meninggalkan semua dengan senyumannya.
Tentang satu kata yang kuminta
Biar menjadi satu pembuka dari ribuan purnama .
Dengan cara berbeda aku kan mengeja.
Seraya membenamkan lara pada selubung jiwa.
Tentang satu kata yang kuminta,
Biar menjadi satu persatu helaian pemisah yang akan menjadi pembeda.
Tak ingin aku menggila,
Melebur dalam realita dimana candu jiwa kian terasa sarat makna.
Walau sejatinya rindu ini kian meresahkan jiwa.
Aku kan bertahan memudar demi semua.
Tentang satu kata yang aku minta,
Berjanjilah untuk menyadurkannya.
Andai, waktu terhenti di batas yang tidak bisa kupastikan.
Terimakasih, telah sabar menemani diri,
Maaf karena terus menyeretmu ke dalam himpitan asing.
Memaksamu memahami.
Satu kebetulan yang tak bisa ku hindari,
Suratan tangan yang dikirim Tuhan,
menjadi pengingat jika BAIK dan BENAR
bisa kita putuskan.
Tentang siapa diri dan bagaimana menjalani,
tentang rasa asing yang menghakimi.
Maaf karena menghadirkan kejanggalan.
Pada sepenggal kisah ini.
Esok, lusa dan nanti.
Semoga tak menjadi
akhir dari kisah TENTANG SATU KATA KITA.