“Halo, Nona Noora. Selamat datang di nerakamu!”
Noora langsung mendelikkan kedua matanya, dia baru menyadari kalau kedua tangannya dalam keadaan terikat.
“Apa-apaan ini, lepaskan aku!”
Perempuan itu berusaha memberontak untuk melepaskan ikatan di tangannya, namun semakin dia memberontak, ikatan di tangannya malah terasa semakin kencang.
“Awh ….” ringisnya.
Tuan Vilante mengangkat salah satu sudut bibirnya dan tertawa meremehkan melihat bagaimana usaha Noora untuk melepaskan diri, tapi malah berakibat semakin melukai tangannya sendiri.
“Hey, kau! Apa maksudmu melakukan semua ini, cepat lepaskan aku!” teriaknya menatap tajam Marco Vilante.
“Tidak akan pernah, bukankah aku sudah bilang kalau kau telah berada di dalam nerakamu?” ucap Tuan Vilante.
“Aku tidak mempunyai masalah dengan kalian, tidak ada alasan untuk kalian menangkap dan memperlakukan aku seperti ini.” jawab Noora.
Perempuan itu benar-benar tidak tahu siapa orang yang sedang berada di depannya sehingga dia dengan berani meninggikan suara di hadapannya, andai saja Noora tahu orang yang ada di depannya itu adalah seorang pemimpin mafia yang berkuasa di kota Brooklyn.
“Kau memang tidak punya kesalahan terhadapku, Nona. Tapi kau punya kesalahan terhadap gadis kecilku!” ucap Marco Vilante dengan tatapan mata yang begitu tajam, aura gelap perlahan mulai melingkupi ruangan dimana Noora ditahan dengan raut wajah datar dan dingin milik sang pemimpin mafia.
Satu persatu orang yang tidak tahan dengan suasana dalam ruangan itupun melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu, sampai akhirnya hanya tersisa Tuan Vilante dan juga Pablo.
“Hahaha, maaf Tuan. Tapi aku bahkan tidak tahu siapa anda, lalu bagaimana bisa aku berurusan dengan gadis kecilmu itu?”
“Aku yakin kau mengenalnya, bahkan sangat mengenalnya!”
Kedua alis Noora bertaut setelah mendengar perkataan Tuan Vilante, otaknya mulai menebak-nebak siapa gadis kecil yang dimaksud oleh pria di hadapannya.
Namun sejauh manapun dia menebak-nebak, Noora tetap tidak bisa menemukan jawaban atas pertanyaan itu.
“Siapa?” tanya Noora, pada akhirnya dia lebih memilih langsung bertanya pada Tuan Vilante dari pada harus terus menebak-nebak.
Pasalnya Noora merasa dirinya tidak pernah mengenal pribadi hadapannya ini, jangankan mengenal. Pernah melihatnya saja tidak, lalu bagaimana bisa dia berkata kalau dirinya memiliki urusan dengan gadisnya.
“Isabella Millers!”
Degh!
Noora langsung tersentak saat mendengar satu nama yang terucap dari bibir Tuan Vilante, seolah ada sebuah aliran listrik yang mengalir di tubuhnya dan membuat tubuh itu menegang.
“I-Isabel-la Mi-Lers?”
“Ya, kau memiliki urusan dengannya bukan?”
Mulut Noora kembali tertawa terbahak-bahak setelah mendengar pertanyaan Tuan Vilante, perempuan itu berpikir pria di depannya itu hanya sedang melucu saja.
Berbeda dengan Pablo yang sudah mulai ketar-ketir, dia tahu tuannya itu sedang memendam amarah yang siap meledak kapan saja.
Apalagi sampai saat ini belum ada kabar dari Floryn tentang sadarnya Bella di rumah sakit, kabar terakhir yang dikirimkan oleh wanita itu Bella masih berasa di dalam ruang ICU dan belum siuman.
“Ya, aku memiliki urusan dengan gadis sialan itu. Dia sudah merebut Darrel dariku, makanya aku ingin melenyapkan agar dia juga tidak bisa memiliki Darrel!”
“Pasti sekarang gadis itu sudah bertemu dengan malaikat maut, hahaha!”
Plak!
Tawa dari mulut Noora seketika terhenti saat sebuah telapak tangan menampar mulutnya dengan begitu keras, bahkan tamparan itu sampai membuat pipinya membiru. Sangat sakit jika digerakkan sedikit saja.
“Apa kau tahu siapa Isabella Millers itu, Nona?” tanya Tuan Vilante sambil menggeram di hadapan Noora, berusaha menahan amarah yang sedang menguasai dirinya.
“Apalagi, Bella hanyalah seorang gadis murahan yang telah merebut kekasihku!”
“Kau yakin dengan ucapanmu?”
Kali ini Tuan Vilante melangkahkan kakinya memutari Noora yang terikat di atas kursi, memberikan aura mengintimidasi secara langsung pada perempuan itu.
Badannya semakin menegang saat mendengar kekehan sinis dari mulut Tuan Vilante di belakangnya, entah kenapa Noora merasa aura yang dibawa oleh pria di belakangnya ini sangat berbeda.
Dia bisa membuatnya menegang hanya dengan mendengar kekehannya, padahal sebelumnya Noora tidak pernah merasa takut pada apapun.
“Apa kau tahu sekarang kau sedang berada dimana, Nona?”
Dengan entengnya, Nora mengatakan kalah sekarang dirinya pasti sedang berada di sebuah gedung yang terbengkalai.
Noora mengaku dirinya sudah terbiasa dengan semua itu, sebab ini bukan kali pertama dia diculik oleh seseorang dan disekap di sebuah bangunan yang tampak kumuh dan tak terawat.
Mendengar jawaban perempuan di hadapannya yang tampak begitu percaya diri itu, Tuan Vilante sontak tertawa. Tidak menyangka perempuan bernama Noora ini akan begitu yakin dengan perkiraannya.
“Biar aku beritahu yang sebenarnya dimana kamu berada saat ini … Sekarang kau sedang berada di dalam penjara bawah tanah markas utama Dark Angel!” ucap Tuan Vilante sambil berbisik lirih di telinga Noora pada akhir kalimatnya.
“K-kau bercanda kan?”
Pertanyaan Noora dijawab oleh Tuan Marco dengan sebuah benda dingin yang menempel di leher wanita itu, membuat tubuh Noora langsung menegang dan senyum di bibirnya yang menghilang.
“Kau pikir aku bercanda, Nona?”
Seringai mengerikan terukir di kedua sudut bibir Tuan Vilante, begitu juga dengan tatapan matanya yang tampak begitu menyeramkan. Jangan lupa dengan ekspresi wajahnya yang juga terlihat sadis dan bengis, Tuan Vilante telah kembali pada karakternya yang sebenarnya!
Dia yang tidak mengenal kata ampun untuk orang yang telah mengusik ketenangan dan juga orang yang disayanginya, jika biasanya dia akan diam saja melihat wanita yang bersamanya terluka.
Tapi berbeda dengan Bella, gadis itu benar-benar berarti bagi Marco Vilante. Dia adalah perempuan pertama yang telah berhasil menggugurkan benteng es yang dibangun dengan tebal di hatinya, walaupun sekarang Marco Vilante belum benar-benar menyadari perasaannya terhadap Bella.
Tapi pria itu tidak akan tinggal diam jika ada seseorang yang berbuat buruk terhadap gadisnya, bagi Marco. Bella adalah gadis kecil yang harus dia lindungi dengan segala hal yang dia punya, gadis itu harus menjadi miliknya bagaimanapun caranya.
Tidak peduli jika dia harus memiliki gadis itu dengan cara memaksanya sekalipun!
Noora sontak gelagapan saat merasakan benda dingin yang menempel di lehernya perlahan menggores kulitnya dan menimbulkan rasa nyeri dan perih yang bercampur menjadi satu, lalu setelahnya dia bisa merasakan sesuatu yang mengalir dari lehernya yang terluka.
Ya, Tuan Vilante telah menggores leher jenjang Noora dengan cara yang sangat pelan. Sengaja agar wanita itu bisa merasakan setiap sensasi saat senjata tajam itu ketika melintas di kulitnya yang putih mulus tanpa luka sedikitpun, sebab Noora memang benar-benar selalu menjaga penampilannya dengan baik.
“Anggap saja luka itu adalah ucapan selamat datang dariku, Nona Noora!”
“Bersiaplah karena akan ada kejutan-kejutan lain yang aku berikan padamu!”