Pukul dua belas siang, Bella dan Marco telah resmi menjadi sepasang suami istri. Namun selang satu jam setelah itu, mereka kembali bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu di antara mereka.
Itulah yang Marco inginkan, dia memang sudah menikahi Bella agar gadis itu tidak bisa kabur darinya. Setelah menikah bukankah Bella berarti sudah terikat dengannya?
Sudah pasti gadis itu tidak akan pernah bisa lepas darinya bagaimanapun caranya.
Pernikahan mereka juga hanya dihadiri oleh beberapa orang saja, itupun hanya orang-orang yang benar-benar dipercaya oleh Marco. Orang-orang yang sudah dijamin tidak akan pernah membocorkan perihal pernikahan itu kepada siapapun.
Saat ini dua orang itu sedang berada di dalam perjalanan untuk menuju ke apartemen Bella, apartemen yang gadis itu tempati sebelum dirinya bertemu tanpa sengaja dengan Marco dan Pablo.
Marco benar-benar menepati ucapannya untuk mengantarkan Bella ke apartemen yang menjadi saksi bisu perjalannya selama ini, walaupun sekarang statusnya sudah berbeda dengan sebelumnya.
Dimana dulu dia berstatus sebagai seorang gadis, dan sekarang dia menyandang status seorang istri.
Istri dari seorang pria tampan dan kaya yang sialnya adalah seorang Mafia, seorang pria yang telah melenyapkan teman dekatnya hanya dengan alasan karena dia dekat dengan Bella.
Marco tidak lama berada di apartemen Bella, pria itu langsung pergi setelah memastikan Bella sudah akan berada di dalam kamar apartemennya. Bella sendiri juga merasa heran darimana pria itu tahu kata sandi kunci apartemennya, sebab selama ini tidak ada yang tahu semua itu selain dirinya sendiri.
“Ingat, Nona Millers. Sekarang kau adalah istriku, kau tidak akan pernah bisa lepas dariku karena sudah memiliki sebuah ikatan denganku.”
“Beberapa orang kepercayaanku akan berjaga di sekitar tempat ini, beberapa juga akan menyewa kamar apartemen yang berada di samping kanan, kiri dan depan apartemenmu. Jadi jangan pernah berpikir untuk kabur dari genggamanku, karena kamu bagiku hanya seekor nyamuk yang sangat dengan mudah aku tepuk!” ucap Marco sebelum pria itu benar-benar pergi.
Sebenarnya alasan utama Marco meletakkan para pengawal terlatihnya cukup banyak di dekat Bella itu bukan karena dia takut gadis itu akan kabur, sama seperti ucapannya yang mengatakan Bella dimatanya itu bagaikan seekor nyamuk.
Tidak akan sulit menemukan dan menangkap gadis itu andai dia benar-benar memiliki rencana untuk kabur dari jangkauannya, sebab dengan semua kekuasaan yang dia miliki. Pastinya akan sangat mudah menemukan dia kembali.
Namun yang menjadi alasan utama Marco meletakan banyak pengawal di sekitar Bella itu tidak lain adalah untuk menjaga keselamatan perempuan pujaannya, Marco terlalu gengsi untuk menyatakan perasaannya terhadap Bella dan lebih memilih untuk bersikap seperti itu pada Bella.
Tidak peduli sekalipun semua itu menyakiti perasaan dara cantik itu.
Apalagi selama ini Marco tidak pernah serius mencintai seseorang perempuan, kebanyakan dari mereka hanya dimanfaatkan oleh Marco untuk kepentingan dirinya sendiri. Setelah dia merasa bosan dan ingin yang baru, maka dia akan melempar wanita sebelumnya ke dalam kandang singa peliharaan nya.
Tidak peduli bagaimanapun keadaannya, entah hidup atau mati.
Biasanya Marco akan dengan sengaja melempar wanita-wanita mainannya dalam keadaan hidup, setelahnya dia akan mendengarkan perempuan-perempuan itu menjerit kesakitan di dalam sana karena tubuhnya yang sedang dicabik-cabik oleh hewan peliharaannya itu.
__________
Gadis itu hanya duduk di kursi depan meja riasnya yang hanya memiliki sedikit barang-barang perawatan wajah serta make up di atas mejanya, dia terus menatap wajahnya sendiri di pantulan cermin.
Perlahan tangan itu menyentuh wajahnya yang memang terlihat cantik meski selama ini kurang terawat karena sibuknya dia menjari pundi-pundi uang untuk biaya hidupnya sendiri, terlihat jelas perbedaan wajahnya setelah beberapa hari tinggal dan menjadi tawanan seorang Marco Vilante.
Apa karena wajah itu yang membuat hidupnya sekarang seperti ini?
Apa karena wajah cantik itu yang membuat Marco enggan melepaskan dirinya?
‘Kau memang cantik Bella, sayangnya jalan hidup yang harus kau jalani tak secantik wajahmu!’ ucap Bella sambil menunjuk dirinya sendiri di dalam cermin.
Merasa miris dengan kehidupannya sendiri yang terjebak dalam hidup seorang mafia kejam dan tak berperasaan bernama Marco Vilante.
Ketika Bella masih sibuk memandangi dirinya sendiri serta membayangkan perubahan apa yang akan menghampirinya dalam waktu dekat ini, tiba-tiba saja pintu apartemennya diketuk dari luar.
Sontak saja hal itu membuat Bella tersentak dan kemudian beranjak menghampiri pintu dan membukanya perlahan, di depan sana terlihat seorang pria dengan pakaian yang sangat rapi.
Badannya kekar dan tinggi, terlihat jelas meski dia memakai kemeja dan jas yang tampak mahal.
“Selamat siang, Nona Millers. Saya datang atas perintah Tuan Vilante untuk menyerahkan ini pada anda, beliau juga berpesan agar Nona tidak perlu lagi bekerja karena semua kebutuhan Nona akan ditanggung oleh Tuan secara langsung.” ucap pria itu sambil menyerahkan sebuah kotak pada Bella, gadis itupun menerima kotak yang disodorkan oleh si pria dan membuka isinya.
Bella sedikit terkejut saat dirinya melihat beberapa buah kartu kredit berwarna hitam di dalam kotak itu, selama hidupnya Bella tidak pernah memegang kartu seperti itu.
Wajar kalau sekarang dia merasa terkejut saat melihatnya, apalagi benda itu diberikan untuknya.
Meski demikian ekspresi wajah Bella terlihat biasa saja, tidak sekalipun ada raut wajah kegirangan karena mendapatkan benda itu tidak hanya satu melainkan sebanyak tiga buah sekaligus.
“Tuan berpesan, Nona bisa menggunakan kartu itu untuk membeli apapun yang Nona inginkan. Tidak perlu takut akan habis, karena Tuan sendiri akan mengisinya kembali setiap satu minggu sekali.” pria suruhan Marco itu kembali bersuara, dia hanya mengatakan apa yang disuruh oleh tuannya.
Namun hal yang tak terduga kembali di lakukan oleh Bella, dimana saat para perempuan begitu bahagia diberikan black card yang pasti isinya juga sangat banyak itu. Bella yang diberikan tiga sekaligus justru memilih hanya mengambilnya satu, setelah itu dia mengembalikan kembali dua kartu beserta kotaknya ke pada pria suruhan Marco.
“Aku ambil satu saja, biaya hidupku tidak terlalu mahal karena aku hanya hidup seorang diri. Aku juga tidak suka membeli barang-barang mewah, kau kembalikan saja dua kartu itu pada Marco.”
“Aku tahu kalau aku mengembalikan semuanya maka kamu yang akan menjadi sasaran kemarahan Marco, jadi aku ambil kartu ini satu buah. Jangan khawatir, aku tidak akan menghabiskan isinya.”
“Dan ya, katakan pada Marco kalau aku akan tetap mencari kerjaan. Orang-orang akan curiga kalau aku hanya berdiam diri di dalam apartemen namun uang selalu mengalir ke dalam rekeningku.” ucap Bella.
Setelahnya dia langsung menutup pintu apartemennya tanpa mau mendengar jawaban dari pria di depan sana.