Table of Contents
Lates Chapters
20. Ikhlas
"Pain doesn't mean you're broken, it means you're becoming.” Menjadi manusia berarti menerima satu kenyataan bahwa tidak semua orang akan memahami dirimu. Kebaikanmu bisa dianggap biasa, pengorbananmu bisa dilupakan, dan memberi dengan tulus tidak selalu dibalas terima kasih. Kita punya…
19. Apa itu Berbakti?
Karena hidup bukan soal dipahami semua orang, tapi tentang tetap menjadi baik meski dunia menilaimu berbeda." Semenjak kedatangan Ibu dan suaminya, aku merasa hidupku berubah. Dari yang tadinya aman, nyaman, ceria dan bahagia menjadi berbalik arah. Ada rasa cemas, benci yang…
18. Karma (Pov. Ibu)
Aku tahu semua yang terjadi karena hubungan sebab-akibat dari perbuatanku dulu. Itu, tanpa diberitahu pun, aku tahu. Hanya saja, dengan apa yang menimpa kami, aku rasa sudah menjadi tanggung jawab Arini sebagai anak yang sudah aku kandung dan aku rawat dari kecil, walaupun…
17. Bukan Durhaka
Aku diam lama untuk memastikan bahwa yang datang adalah orang yang benar aku kenal. Sampai rasanya, suara teriakan bercanda tangis itu berhasil membuat suamiku diam, mungkin antara bingung dan tidak tahu harus bagaimana. ”Pak dokter, bagaimana ini, Pak?” Suara sopir ambulan lagi. …
16. Pesan Terakhir
Waktu berlalu dengan cepat membawa segala kenangan, tanpa terasa sudah sepuluh tahun aku menyandang gelar dokter di rumah sakit ini. Satu gelar yang tidak dengan mudah bisa kudapatkan. Tanpa perjuangan seorang Bapak. Sekarang, aku bisa tersenyum lega. Bisa bangga karena pencak ini.…
Comments
18 pemikiran pada “BAPAK”
Tinggalkan komentar
20 Chapters
Chapter 1: 1. Suara Bapak
Hari ini di sekolah ada rapat dewan guru, jadi anak-anak pulang lebih awal. Aku bersama tiga temanku melewati pematang sawah dan sesekali berhenti di sungai kecil untuk melihat ikan yang berlarian. Matahari di atas kepala rasanya panas sekali, membuat seragam putihku lengket oleh…
ReadmoreChapter 2: 2. Surat Dari Ibu
"Pak ... bapak," kataku sambil menarik ujung kaos oblong Bapak. "Ibuuu ... ke mana, Pak? Nggak pergi jauh, 'kan?" tanyaku kemudian dengan suara gemetar dan takut kalau-kalau yang aku pikirkan itu benar. Bapak diam saja, lalu menutup pintu. …
ReadmoreChapter 3: 3. Apa itu Talasemia?
Nomor itu langsung bisa aku hapal di luar kepala, karena di rumah tidak ada telepon. Aku bergegas ke rumah Bu RT, siapa tahu bisa membantu, tapi ternyata rumahnya sepi, tidak ada orang. Aku kembali pulang dengan bersungut kesal, masuk ke kamar Ibu…
ReadmoreChapter 4: 4. Bingung
Aku duduk di kursi kayu kecil di samping ranjang Mbak Yuni. Tubuhnya lemah dengan beberapa bekas tusukan jarum infus di beberapa bagian. Wajahnya pucat sekali, matanya terpejam rapat, kata Bapak sedanb tidur jadi aku tidak boleh berisik. Padahal, aku ingin menggenggam tangannya, agar…
ReadmoreChapter 5: 5. Bukan Bapakku
Aku tidak paham apa yang dikatakan mereka. Tetapi, kulihat Bapak berulang kali memohon agar Ibu kembali untukku karena Bapak harus bekerja dan tidak mungkin meninggalkan aku di rumah sendirian. Akan tetapi, Ibu seperti tidak mau. ”Urusan Arini, biar aku dia ikut…
ReadmoreChapter 6: 6. Kejujuran yang Menyakitkan
Kata-kata Bapak masih terngiang di kepalaku, pelan, berat dan terasa membingungkan. Apa maksud dari Bapak bukan bapak kandungku? Bukankah setiap hari aku tinggal bersamanya? Di rumah juga banyak foto kami saat aku bayi digendong Bapak, saat aku dimandiin Bapak, saat aku diajari berjalan…
ReadmoreChapter 7: 7. Perjuangan Mbak Yuni
Kami sampai di depan ruang ICU, Bapak langsung diam. Seperti mengatur langkah. Aku hanya bisa berlari kecil di belakangnya sambil menahan napas. Pintu besar berwarna putih itu tertutup rapat, katanya tadi tidak boleh sembarangan orang masuk. “Pak, kenapa Mbak Yuni dibawa…
ReadmoreChapter 8: 8. Tamu
Sebelum mempersilakan mereka masuk, Bapak lebih dulu menoleh ke arahku. Cukup lama seperti sedang memastikan kalau aku bisa menerima mereka. Tamu tengah malam yang tak pernah kuundang untuk datang. Bapak sudah masuk ke dalam rumah sementara aku masih mematung di tengah pintu.…
ReadmoreChapter 9: 9. Tanpa Ibu
”Durhaka bukan selalu dosa anak, tapi sering kali cermin dari luka yang ditanam orang tua, kasih yang adil dan kata-kata yang menusuk hati.” Semenjak kedatangan Ibu hari itu, aku tidak pernah lagi melihat ataupun tahu kabar apa pun. Ibu seperti…
ReadmoreChapter 10: 10. Ternyata Aku (Pov. Bapak)
Sejak tahu penyakit yang diderita anakku Yuni, aku jadi sering murung dan bertanya-tanya, kenapa bisa penyakit seperti itu ada di dalam tubuh anakku? Padahal kami, aku dan ibjya6 sehat saja, hanya mendiang ibunya dulu yang memang agak lemah karena darah rendah, kata keluarga,…
ReadmoreChapter 11: 11. Ketika Detakmu Berhenti
Tiga tahun tanpa terasa, kami menjalani hidup penuh dengan kesederhanaan, tapi tidak melupakan rasa syukur karena Bapak sentiasa sehat untuk menjaga kami, walaupun kata Bapak. Penyakit dari Mbak Yuni adalah karena kesalahan Bapak yang kurang paham soal medis. Tetapi, walaupun…
ReadmoreChapter 12: 12. Berpisah dengan Bapak
Ada yang terasa asing, tapi senyuman itu membawaku dalam ketenangan. Bapak …. “ Rumah ini semakin terasa sepi, tidak ada Ibu dan sekarang tidak ada Mbak Yuni. Semua orang seperti satu per satu pergi, hanya menyisakan kenangan. Tanah pemakaman ini…
ReadmoreChapter 13: 13. Sebatas Rindu
"Ada beberapa luka yang tidak pernah benar-benar sembuh, kita hanya belajar hidup bersamanya." Hari Jum'at menjadi hari yang paling indah bagi anak yang tinggal atau mukim di pesantren karena bukan saja hari libur, tapi hari di mana semua orang tua akan datang…
ReadmoreChapter 14: 14. Yang Terbaik
"Experience is the best teacher." Apa yang kuperjuangkan hari ini, kelak akan menjadi alasan aku bertahan kemarin. Menjadi santriwati membuatku jadi tahu bahwa hidup dalam pesantren itu penuh dengan kedisiplinan. Meskipun aku tidak seperti yang lain dijenguk setiap Jumat, tapi aku…
ReadmoreChapter 15: 15. Janji yang Ditepati
”Ada doa yang tidak langsung dijawab, tapi tetap dicatat oleh langit.” 7 tahun kemudian …. Aku berdiri di ruang transfusi anak dengan jas putih yang namanya sudah lengkap: dr. Arini Aulia Rahmawati, Sp.A(K). Hematologi-Ankologi Anak. Banyak orang mengira…
ReadmoreChapter 16: 16. Pesan Terakhir
Waktu berlalu dengan cepat membawa segala kenangan, tanpa terasa sudah sepuluh tahun aku menyandang gelar dokter di rumah sakit ini. Satu gelar yang tidak dengan mudah bisa kudapatkan. Tanpa perjuangan seorang Bapak. Sekarang, aku bisa tersenyum lega. Bisa bangga karena pencak ini.…
ReadmoreChapter 17: 17. Bukan Durhaka
Aku diam lama untuk memastikan bahwa yang datang adalah orang yang benar aku kenal. Sampai rasanya, suara teriakan bercanda tangis itu berhasil membuat suamiku diam, mungkin antara bingung dan tidak tahu harus bagaimana. ”Pak dokter, bagaimana ini, Pak?” Suara sopir ambulan lagi. …
ReadmoreChapter 18: 18. Karma (Pov. Ibu)
Aku tahu semua yang terjadi karena hubungan sebab-akibat dari perbuatanku dulu. Itu, tanpa diberitahu pun, aku tahu. Hanya saja, dengan apa yang menimpa kami, aku rasa sudah menjadi tanggung jawab Arini sebagai anak yang sudah aku kandung dan aku rawat dari kecil, walaupun…
ReadmoreChapter 19: 19. Apa itu Berbakti?
Karena hidup bukan soal dipahami semua orang, tapi tentang tetap menjadi baik meski dunia menilaimu berbeda." Semenjak kedatangan Ibu dan suaminya, aku merasa hidupku berubah. Dari yang tadinya aman, nyaman, ceria dan bahagia menjadi berbalik arah. Ada rasa cemas, benci yang…
ReadmoreChapter 20: 20. Ikhlas
"Pain doesn't mean you're broken, it means you're becoming.” Menjadi manusia berarti menerima satu kenyataan bahwa tidak semua orang akan memahami dirimu. Kebaikanmu bisa dianggap biasa, pengorbananmu bisa dilupakan, dan memberi dengan tulus tidak selalu dibalas terima kasih. Kita punya…
Readmore






seru banget ceritanyaa 🫶
seru banget ceritanyaa 🫶
Bapak yg di kenal baik tidak pernah marah,tidak pernah bertengkar dengan pasangan, menjadi sosok yg patut di kagumi begitu marah dan ribut bisa membuat anak-anak ketakutan dan trauma, apa masalah mereka sebenarnya…?
Bapak yg di kenal baik tidak pernah marah,tidak pernah bertengkar dengan pasangan, menjadi sosok yg patut di kagumi begitu marah dan ribut bisa membuat anak-anak ketakutan dan trauma,ada apa dengan di bapak…?
Sosok yg di kagumi karna bisa mengayomi keluarga tapi karna kemarahan yg belum di ketahui apa sebabnya bisa membuat anak yg mengagumi si bapak jadi takut dan trauma,ada masalah apa sebenarnya dengan si bapak….?
Halo, kakak semua.
Ketemu lagi, nih, sama aku Eli Budianto dalam event 20 hari mencari maaf. Ikuti terus dan jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar, ya, Kak. Biar makin semangat nulisnya.
Terima kasih🙏
Kak Eli, aku liat postingan kakak tadi di IG. Ini bisa baca sampai tamat?
Kak El, aku datang. Harus siapin tisu ini, Kak🥲
Hmmm, Kak El. Bau gawangnya kuat banget ini🥲
Kutunggu up selanjutnya ya, Kak
Kmn si ibu pergi, sehat yg kan lah si Yuni angkat penyakitnya 🥺
Kuat Yuni pasti kamu bisa pulih
cerita nya sederhana tpi makna nya dalem, dan alur nya bikin penasaran terus🙌🙌
ceritanya sederhana tpi makna nya dalem, alur nya juga bikin penasaran muluu🙌🙌
Bapakkk jadi ke inget masa² dulu..lanjut kak Eli
Siapa naruh bawang di sini 😭
Hmmm, kenapa naruh bawang banyak di sini, Kak?
Kenapa naruh bawang di sini, Kak El?
seru banget ceritanya harus nunggu up selanjutnya ya kak