VIP Signed

BAPAK

By: eli.budianto
111 Readers 20 Chapters 9.9

20 HARI MENCARI MAAF

Arini tak pernah tahu bahwa lelaki yang ia panggil Bapak setiap hari bukan ayah kandungnya. Namun, dari tangan lelaki itulah ia tumbuh, belajar kuat, dan menjadi seseorang. Hingga sebuah pertengkaran memecah segalanya. Ibunya pergi, tanpa kabar, tanpa kembali, selama tiga puluh dua tahun. Di usia senja,…
Read Share

Table of Contents

Lates Chapters

20. Ikhlas

"Pain doesn't mean you're broken, it means you're becoming.”      Menjadi manusia berarti menerima satu kenyataan bahwa tidak semua orang akan memahami dirimu. Kebaikanmu bisa dianggap biasa, pengorbananmu bisa dilupakan, dan memberi dengan tulus tidak selalu dibalas terima kasih.   Kita punya…

19. Apa itu Berbakti?

Karena hidup bukan soal dipahami semua orang, tapi tentang tetap menjadi baik meski dunia menilaimu berbeda."     Semenjak kedatangan Ibu dan suaminya, aku merasa hidupku berubah. Dari yang tadinya aman, nyaman, ceria dan bahagia menjadi berbalik arah. Ada rasa cemas, benci yang…

18. Karma (Pov. Ibu)

Aku tahu semua yang terjadi karena hubungan sebab-akibat dari perbuatanku dulu. Itu, tanpa diberitahu pun, aku tahu. Hanya saja, dengan apa yang menimpa kami, aku rasa sudah menjadi tanggung jawab Arini sebagai anak yang sudah aku kandung dan aku rawat dari kecil, walaupun…

17. Bukan Durhaka

Aku diam lama untuk memastikan bahwa yang datang adalah orang yang benar aku kenal. Sampai rasanya, suara teriakan bercanda tangis itu berhasil membuat suamiku diam, mungkin antara bingung dan tidak tahu harus bagaimana.    ”Pak dokter, bagaimana ini, Pak?” Suara sopir ambulan lagi. …

16. Pesan Terakhir

Waktu berlalu dengan cepat membawa segala kenangan, tanpa terasa sudah sepuluh tahun aku menyandang gelar dokter di rumah sakit ini. Satu gelar yang tidak dengan mudah bisa kudapatkan. Tanpa perjuangan seorang Bapak.    Sekarang, aku bisa tersenyum lega. Bisa bangga karena pencak ini.…

Comments

18 pemikiran pada “BAPAK”

  1. Bapak yg di kenal baik tidak pernah marah,tidak pernah bertengkar dengan pasangan, menjadi sosok yg patut di kagumi begitu marah dan ribut bisa membuat anak-anak ketakutan dan trauma, apa masalah mereka sebenarnya…?

    Balas
  2. Bapak yg di kenal baik tidak pernah marah,tidak pernah bertengkar dengan pasangan, menjadi sosok yg patut di kagumi begitu marah dan ribut bisa membuat anak-anak ketakutan dan trauma,ada apa dengan di bapak…?

    Balas
  3. Sosok yg di kagumi karna bisa mengayomi keluarga tapi karna kemarahan yg belum di ketahui apa sebabnya bisa membuat anak yg mengagumi si bapak jadi takut dan trauma,ada masalah apa sebenarnya dengan si bapak….?

    Balas
  4. Halo, kakak semua.

    Ketemu lagi, nih, sama aku Eli Budianto dalam event 20 hari mencari maaf. Ikuti terus dan jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar, ya, Kak. Biar makin semangat nulisnya.

    Terima kasih🙏

    Balas

Tinggalkan komentar

You May Also Like

20 Chapters

Chapter 1: 1. Suara Bapak

Oleh: eli.budianto
Hari ini di sekolah ada rapat dewan guru, jadi anak-anak pulang lebih awal. Aku bersama tiga temanku melewati pematang sawah dan sesekali berhenti di sungai kecil untuk melihat ikan yang berlarian. Matahari di atas kepala rasanya panas sekali, membuat seragam putihku lengket oleh…
Readmore

Chapter 2: 2. Surat Dari Ibu

Oleh: eli.budianto
    "Pak  ... bapak," kataku sambil menarik ujung kaos oblong Bapak.    "Ibuuu  ... ke mana, Pak? Nggak pergi jauh, 'kan?" tanyaku kemudian dengan suara gemetar dan takut kalau-kalau yang aku pikirkan itu benar.    Bapak diam saja, lalu menutup pintu.   …
Readmore

Chapter 3: 3. Apa itu Talasemia?

Oleh: eli.budianto
Nomor itu langsung bisa aku hapal di luar kepala, karena di rumah tidak ada telepon. Aku bergegas ke rumah Bu RT, siapa tahu bisa membantu, tapi ternyata rumahnya sepi, tidak ada orang.    Aku kembali pulang dengan bersungut kesal, masuk ke kamar Ibu…
Readmore

Chapter 4: 4. Bingung

Oleh: eli.budianto
Aku duduk di kursi kayu kecil di samping ranjang Mbak Yuni. Tubuhnya lemah dengan beberapa bekas tusukan jarum infus di beberapa bagian. Wajahnya pucat sekali, matanya terpejam rapat, kata Bapak sedanb tidur jadi aku tidak boleh berisik. Padahal, aku ingin menggenggam tangannya, agar…
Readmore

Chapter 5: 5. Bukan Bapakku

Oleh: eli.budianto
Aku tidak paham apa yang dikatakan mereka. Tetapi, kulihat Bapak berulang kali memohon agar Ibu kembali untukku karena Bapak harus bekerja dan tidak mungkin meninggalkan aku di rumah sendirian.   Akan tetapi, Ibu seperti tidak mau.    ”Urusan Arini, biar aku dia ikut…
Readmore

Chapter 6: 6. Kejujuran yang Menyakitkan

Oleh: eli.budianto
Kata-kata Bapak masih terngiang di kepalaku, pelan, berat dan terasa membingungkan. Apa maksud dari Bapak bukan bapak kandungku? Bukankah setiap hari aku tinggal bersamanya? Di rumah juga banyak foto kami saat aku bayi digendong Bapak, saat aku dimandiin Bapak, saat aku diajari berjalan…
Readmore

Chapter 7: 7. Perjuangan Mbak Yuni

Oleh: eli.budianto
Kami sampai di depan ruang ICU, Bapak langsung diam. Seperti mengatur langkah. Aku hanya bisa berlari kecil di belakangnya sambil menahan napas. Pintu besar berwarna putih itu tertutup rapat, katanya tadi tidak boleh sembarangan orang masuk.     “Pak, kenapa Mbak Yuni dibawa…
Readmore

Chapter 8: 8. Tamu

Oleh: eli.budianto
Sebelum mempersilakan mereka masuk, Bapak lebih dulu menoleh ke arahku. Cukup lama seperti sedang memastikan kalau aku bisa menerima mereka. Tamu tengah malam yang tak pernah kuundang untuk datang.   Bapak sudah masuk ke dalam rumah sementara aku masih mematung di tengah pintu.…
Readmore

Chapter 9: 9. Tanpa Ibu

Oleh: eli.budianto
    ”Durhaka bukan selalu dosa anak, tapi sering kali cermin dari luka yang ditanam orang tua, kasih yang adil dan kata-kata yang menusuk hati.”   Semenjak kedatangan Ibu hari itu, aku tidak pernah lagi melihat ataupun tahu kabar apa pun. Ibu seperti…
Readmore

Chapter 10: 10. Ternyata Aku (Pov. Bapak)

Oleh: eli.budianto
Sejak tahu penyakit yang diderita anakku Yuni, aku jadi sering murung dan bertanya-tanya, kenapa bisa penyakit seperti itu ada di dalam tubuh anakku? Padahal kami, aku dan ibjya6 sehat saja, hanya mendiang ibunya dulu yang memang agak lemah karena darah rendah, kata keluarga,…
Readmore

Chapter 11: 11. Ketika Detakmu Berhenti

Oleh: eli.budianto
    Tiga tahun tanpa terasa, kami menjalani hidup penuh dengan kesederhanaan, tapi tidak melupakan rasa syukur karena Bapak sentiasa sehat untuk menjaga kami, walaupun kata Bapak. Penyakit dari Mbak Yuni adalah karena kesalahan Bapak yang kurang paham soal medis.    Tetapi, walaupun…
Readmore

Chapter 12: 12. Berpisah dengan Bapak

Oleh: eli.budianto
Ada yang terasa asing, tapi senyuman itu membawaku dalam ketenangan. Bapak  …. “     Rumah ini semakin terasa sepi, tidak ada Ibu dan sekarang tidak ada Mbak Yuni. Semua orang seperti satu per satu pergi, hanya menyisakan kenangan.   Tanah pemakaman ini…
Readmore

Chapter 13: 13. Sebatas Rindu

Oleh: eli.budianto
"Ada beberapa luka yang tidak pernah benar-benar sembuh, kita hanya belajar hidup bersamanya."   Hari Jum'at menjadi hari yang paling indah bagi anak yang tinggal atau mukim di pesantren karena bukan saja hari libur, tapi hari di mana semua orang tua akan datang…
Readmore

Chapter 14: 14. Yang Terbaik

Oleh: eli.budianto
"Experience is the best teacher."   Apa yang kuperjuangkan hari ini, kelak akan menjadi alasan aku bertahan kemarin.   Menjadi santriwati membuatku jadi tahu bahwa hidup dalam pesantren itu penuh dengan kedisiplinan. Meskipun aku tidak seperti yang lain dijenguk setiap Jumat, tapi aku…
Readmore

Chapter 15: 15. Janji yang Ditepati

Oleh: eli.budianto
”Ada doa yang tidak langsung dijawab, tapi tetap dicatat oleh langit.”   7 tahun kemudian  ….      Aku berdiri di ruang transfusi anak dengan jas putih yang namanya sudah lengkap:   dr. Arini Aulia Rahmawati, Sp.A(K). Hematologi-Ankologi Anak.    Banyak orang mengira…
Readmore

Chapter 16: 16. Pesan Terakhir

Oleh: eli.budianto
Waktu berlalu dengan cepat membawa segala kenangan, tanpa terasa sudah sepuluh tahun aku menyandang gelar dokter di rumah sakit ini. Satu gelar yang tidak dengan mudah bisa kudapatkan. Tanpa perjuangan seorang Bapak.    Sekarang, aku bisa tersenyum lega. Bisa bangga karena pencak ini.…
Readmore

Chapter 17: 17. Bukan Durhaka

Oleh: eli.budianto
Aku diam lama untuk memastikan bahwa yang datang adalah orang yang benar aku kenal. Sampai rasanya, suara teriakan bercanda tangis itu berhasil membuat suamiku diam, mungkin antara bingung dan tidak tahu harus bagaimana.    ”Pak dokter, bagaimana ini, Pak?” Suara sopir ambulan lagi. …
Readmore

Chapter 18: 18. Karma (Pov. Ibu)

Oleh: eli.budianto
Aku tahu semua yang terjadi karena hubungan sebab-akibat dari perbuatanku dulu. Itu, tanpa diberitahu pun, aku tahu. Hanya saja, dengan apa yang menimpa kami, aku rasa sudah menjadi tanggung jawab Arini sebagai anak yang sudah aku kandung dan aku rawat dari kecil, walaupun…
Readmore

Chapter 19: 19. Apa itu Berbakti?

Oleh: eli.budianto
Karena hidup bukan soal dipahami semua orang, tapi tentang tetap menjadi baik meski dunia menilaimu berbeda."     Semenjak kedatangan Ibu dan suaminya, aku merasa hidupku berubah. Dari yang tadinya aman, nyaman, ceria dan bahagia menjadi berbalik arah. Ada rasa cemas, benci yang…
Readmore

Chapter 20: 20. Ikhlas

Oleh: eli.budianto
"Pain doesn't mean you're broken, it means you're becoming.”      Menjadi manusia berarti menerima satu kenyataan bahwa tidak semua orang akan memahami dirimu. Kebaikanmu bisa dianggap biasa, pengorbananmu bisa dilupakan, dan memberi dengan tulus tidak selalu dibalas terima kasih.   Kita punya…
Readmore
error: Content is protected !!