Table of Contents
- Chapter 1: 1. Kak Wira, Anak Kesayangan Bunda
- Chapter 2: 2. Kakakku Yang Tersayang, Bukan Aku Tidak Sayang
- Chapter 3: 3. Tentang Ayah yang Tidak Pernah Kanaya Jumpa
- Chapter 4: 4. Perjalanan Menguak Rahasia Keluarga
- Chapter 5: 5. Anak yang Tidak Dianggap Layak
- Chapter 6: 6. Pelita dan Kenangan Masa Lalu
- Chapter 7: 7. Tentang Tita Yang Tercinta
- Chapter 8: 8. Yang Tidak Mungkin Kembali
- Chapter 9: 9. Luka Terdalam di Hati Wira
- Chapter 10: 10. Pelita dan Cinta di Hatinya
Lates Chapters
Nay Anak Baik! Papa Sayang Nay!
Andai Kanaya lebih cepat menyadari betapa beruntung dia selama ini, sudah pasti dia tidak akan tenggelam dalam penyesalan sedemikian besar. Karena ternyata tidak menemukan keberadaan Kak Wira di seberang sekolah jauh lebih menyakitkan ketimbang harus menghadapi rasa malu di hadapan teman-temannya. Kanaya baru…
19. Putriku Tersayang
Tiga hari sudah Kanaya tidak tidur. Dia bahkan sudah lupa kapan terakhir kali makan. Karena sejak operasi terakhir Kak Wira sampai sekarang, Kanaya sama sekali tidak beranjak dari kursi ruang tunggu kecuali untuk pergi ke kamar mandi. Air matanya sudah kering. Dia tidak…
18. Jangan Tinggalkan Aku
“Mulai sekarang kamu tinggal di sini dengan kami ya, Le!” Bukan ajakan melainkan keputusan yang awalnya diambil sepihak oleh Bu Dewi, yang kemudian diamini oleh Wira sebab dia sama sekali tak punya pilihan kala itu. Bagaimanapun juga Wira butuh tempat tinggal. Butuh rumah…
17. Luka di Hati Nay
Tidak ada yang lebih menyenangkan dalam hidupku Wira selain menjadi orang tua. Tidak peduli apakah saat itu anaknya masih bernama Nayla atau Kanaya, satu-satunya yang ada di kepala pria itu hanyalah …, gadis kecil di hadapannya merupakan buah cintanya dengan Pelita yang wajib…
16. Belenggu dalam Duka
“Tetap saja ini nggak masuk akal, Bunda!” kata Kanaya persis setelah sang Ibu menyelesaikan ceritanya. Gadis itu berulang kali mengalah nafas pendek, mencoba melepaskan diri dari rasa sakit yang terus menghujaninya sejak tadi. “Nay masih tidak paham kenapa Bunda harus bohong? Kenapa Bunda…
Comments
20 Chapters
Chapter 1: 1. Kak Wira, Anak Kesayangan Bunda
Kata orang, sebelum manusia dilahirkan Tuhan akan menanyai mereka puluhan kali tentang kesediaannya hadir ke dunia. Mulai dari orang tua, keluarga, sampai segala macam cobaan hidup yang harus mereka lalui nantinya. Dan, apabila seseorang berhasil lahir ke dunia itu berarti mereka telah siap…
ReadmoreChapter 2: 2. Kakakku Yang Tersayang, Bukan Aku Tidak Sayang
“Masalahnya kan nggak semua orang kayak Kak Chintya. Gue bukan Kak Chintya. Bunda tahu itu. Dan nggak seharusnya Bunda membanding-bandingkan gue dengan Kak Chintya.” Seperti biasa Kanaya menjadikan Amanda sebagai tempatnya menumpahkan keluh kesah. Sebenarnya Kanaya paham kekhawatiran bundanya, hanya saja bukankah pemikiran…
ReadmoreChapter 3: 3. Tentang Ayah yang Tidak Pernah Kanaya Jumpa
Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, kali itu Kanaya memilih tidak langsung pulang begitu bel panjang terdengar. Dia memutuskan untuk menunggu sekolah sepi. Barulah setelah memastikan tak ada siapa pun yang akan melihatnya, atau setidaknya orang yang mengenalnya, dia menghampiri Kak Wira yang telah lama…
ReadmoreChapter 4: 4. Perjalanan Menguak Rahasia Keluarga
“Apa kamu bilang?” Wira ingat suara itu. Suara tinggi, keras dan menakutkan yang selalu memenuhi rumah hampir dua bulan terakhir. Papa. Lagi dan lagi, Papa bertengkar dengan Mama. Memaksa Wira kecil bersembunyi di dalam lemari. Ketakutan setengah mati. “Tidak! Dokter pasti salah! Tidak…
ReadmoreChapter 5: 5. Anak yang Tidak Dianggap Layak
Wanita berambut panjang tersebut menatap bangunan di hadapannya dengan dada sesak. Sebagai seorang ibu sudah tentu hatinya hancur saat mendapati kondisi sang anak berbeda dari anak kebanyakan, akan tetapi disisi yang lain dia juga tahu bahwa hidup harus terus berjalan. Anak yang kini…
ReadmoreChapter 6: 6. Pelita dan Kenangan Masa Lalu
Di malam sebelumnya di dalam kamar tidurnya yang dicat serba putih, Wira baru saja mencetak selembar foto dari kamera tua miliknya. Kemudian memasak gambar tersebut ke dalam album tebal yang dia simpan di atas meja. Potret terbaru Kanaya yang baru dia ambil kemarin,…
ReadmoreChapter 7: 7. Tentang Tita Yang Tercinta
Adalah penyesalan terbesar Kanaya sebab selama ini dia tidak pernah benar-benar mengenal keluarganya sendiri. Andai saja dia menyempatkan diri untuk menanyai ibunya lebih dalam mengenai keberadaan keluarga besarnya di Jogja, sudah pasti Kanaya tidak akan setelantar ini. Terlantar di tanah leluhurnya sendiri. Bukankah…
ReadmoreChapter 8: 8. Yang Tidak Mungkin Kembali
“Kalau ada kabar dari Nay, tolong kamu hubungi Tante ya.” Entah sudah berapa banyak orang yang coba Bu Dewi hubungi hanya untuk menemukan keberadaan kedua buah hatinya. Mulai dari teman-teman sekolah Kanaya, tetangga sampai keluarga dan kerabat yang berada di Jakarta. Akan tetapi,…
ReadmoreChapter 9: 9. Luka Terdalam di Hati Wira
Ucapan sang kakak tadi pagi bagaimanapun juga telah menusuk ke dalam dada perempuan yang saat itu duduk menatap pantulan dirinya sendiri di cermin kamar tersebut. Adalah ketakutan terbesar seorang Bu Dewi, yang sayangnya tidak bisa dia hapus sekeras apa pun usahanya, selama hampir…
ReadmoreChapter 10: 10. Pelita dan Cinta di Hatinya
“Apa kamu masih pusing?” Pertanyaan dari Mbak Sekar dijawab menggunakan anggukan pelan oleh Kanaya. Meski sebenarnya dia malu, tapi rasa sakit di kepalanya tidak tertahankan. Belum lagi rasa tak nyaman yang menjalar di sekujur tubuh dan perutnya. Kanaya benar-benar tumbang. Padahal semalam dia…
ReadmoreChapter 11: 11. Pernikahan dan Cinta Sejati
“Kanaya bangun!” Ketika kabar itu terdengar, Wira yang sedari tadi menunggu di luar kamar segera bangkit untuk berlari menemui adik kesayangannya. Benar saja, Kanaya telah membuka matanya. Dari situ tersenyum lembut seolah ingin berkata, aku baik-baik saja. Wira bergegas memeluknya, menumpahkan segala rasa…
ReadmoreChapter 12: 12. Hari-Hari Paling Bahagia
“Dia menendang?!” Mata Wira membulat tidak percaya saat rasakan gerakannya nyata dari perut Pelita. Buah hati mereka, janin yang tumbuh di rahim wanita muda itu telah semakin besar. Membuat pasangan muda tersebut kian dekat dari status menjadi orang tua. “Kamu merasakannya?” Wira mengangguk,…
ReadmoreChapter 13: 13. Bahwa Kehidupan Tidak Selalu Mulus
Wira semakin tidak sabar untuk bertemu dengan Pelita. Dia telah membayangkan betapa menyenangkan kehidupannya nanti karena akhirnya bisa bertemu kembali dengan perempuan yang sangat dia cinta. Masih terekam jelas di ingatan Wira betapa indah hari-hari yang dia lalui bersama keluarga kecilnya di kontrakkan…
ReadmoreChapter 14: 14. Tentang Ayah, Kakak dan Penyesalan Kanaya
Matahari hampir mencapai puncak ketika mereka sampai di depan sebuah rumah besar bercat putih dengan halaman yang berdasarkan alamat merupakan kediaman keluarga Pelita. Keluarga ibunya, lebih tepatnya. “Kita sudah sampai!” Mbak Sekar membangunkan Kanaya yang tertidur di bangku sebelahnya. Kanaya berjingkat, menyuka sisa…
ReadmoreChapter 15: 15. Rumah yang Hilang
Meski belum pernah bertemu secara langsung tapi, Kanaya tentu sadar kalau pria ini jelas-jelas bukan ayahnya. Dia bahkan tidak mirip sama sekali dengan ayah yang selama ini Kanaya kenali. Kak Wira justru menjawab, “Ini Papa Wira.” Hah? Kanaya melongo. “Maksudnya?” Dia mengerutkan kening.…
ReadmoreChapter 16: 16. Belenggu dalam Duka
“Tetap saja ini nggak masuk akal, Bunda!” kata Kanaya persis setelah sang Ibu menyelesaikan ceritanya. Gadis itu berulang kali mengalah nafas pendek, mencoba melepaskan diri dari rasa sakit yang terus menghujaninya sejak tadi. “Nay masih tidak paham kenapa Bunda harus bohong? Kenapa Bunda…
ReadmoreChapter 17: 17. Luka di Hati Nay
Tidak ada yang lebih menyenangkan dalam hidupku Wira selain menjadi orang tua. Tidak peduli apakah saat itu anaknya masih bernama Nayla atau Kanaya, satu-satunya yang ada di kepala pria itu hanyalah …, gadis kecil di hadapannya merupakan buah cintanya dengan Pelita yang wajib…
ReadmoreChapter 18: 18. Jangan Tinggalkan Aku
“Mulai sekarang kamu tinggal di sini dengan kami ya, Le!” Bukan ajakan melainkan keputusan yang awalnya diambil sepihak oleh Bu Dewi, yang kemudian diamini oleh Wira sebab dia sama sekali tak punya pilihan kala itu. Bagaimanapun juga Wira butuh tempat tinggal. Butuh rumah…
ReadmoreChapter 19: 19. Putriku Tersayang
Tiga hari sudah Kanaya tidak tidur. Dia bahkan sudah lupa kapan terakhir kali makan. Karena sejak operasi terakhir Kak Wira sampai sekarang, Kanaya sama sekali tidak beranjak dari kursi ruang tunggu kecuali untuk pergi ke kamar mandi. Air matanya sudah kering. Dia tidak…
ReadmoreChapter 20: Nay Anak Baik! Papa Sayang Nay!
Andai Kanaya lebih cepat menyadari betapa beruntung dia selama ini, sudah pasti dia tidak akan tenggelam dalam penyesalan sedemikian besar. Karena ternyata tidak menemukan keberadaan Kak Wira di seberang sekolah jauh lebih menyakitkan ketimbang harus menghadapi rasa malu di hadapan teman-temannya. Kanaya baru…
Readmore





