Table of Contents
- Chapter 1: BAB 1. Lelaki yang selalu tersenyum
- Chapter 2: Bab 2. Ketika Memjadi Baik Tidak Pernah Sulit
- Chapter 3: Bab 3. Pernikahan Yang Datang Tanpa Bertanya
- Chapter 4: Bab 4. Perempuan yang tidak pernah sama
- Chapter 5: Bab 5. Sunyi Yang Lebih Bising Dari Pertengkaran
- Chapter 6: Bab 6. Luka Yang Tidak Pernah Belajar Berbicara
- Chapter 7: Bab 7. Jarak Yang Mengajarkan Suara
- Chapter 8: Bab 8. Menjadi Orang Baik Yang Kelelahan
- Chapter 9: Bab 9. Retak Yang Tidak Bisa Disembunyikan
- Chapter 10: Bab 10. Bertahan Atau Mengkhianati Diri Sediri
Lates Chapters
Bab 20. Yang Tersisa Dari Cahaya
Malam itu tidak memiliki bentuk. Langit retak di atas kota, garis-garis tipis cahaya kebiruan membelah gelap seperti urat yang memaksa hidup pada sesuatu yang seharusnya mati. Orang-orang masih berjalan, masih berbicara, masih hidup—namun dunia terasa rapuh, seolah satu tarikan napas saja cukup…
Bab 20. Perubahan baik dengan cara yang baik.
Ada masa ketika Marjin mengira bahwa menjadi “baik-baik saja” berarti tidak memiliki masalah. Tidak merasa lelah. Tidak menunjukkan luka. Tidak mengeluh, tidak goyah, dan tidak pernah terlihat rapuh. Namun setelah semua yang ia lalui, ia mulai memahami bahwa “baik-baik saja” yang sesungguhnya bukanlah…
Bab. 19 Wajah yang tidak lagi berpura-pura
Ada perubahan yang tidak selalu terlihat dari luar. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk keputusan besar atau langkah yang dramatis. Terkadang, perubahan itu justru muncul dalam hal-hal kecil—cara seseorang menjawab pertanyaan, cara ia menatap dirinya sendiri, atau keberaniannya untuk mengatakan, “Aku tidak baik-baik…
Bab 18. Memaafkan Diri Sendiri
Untuk pertama kalinya, Marjin berhenti menyalahkan dirinya atas semua yang gagal. Bukan karena semuanya tiba-tiba terasa mudah. Bukan juga karena luka itu hilang begitu saja. Justru sebaliknya—ia masih merasakan sisa-sisa perih yang menetap di dada, seperti bekas luka yang belum sepenuhnya sembuh. Namun…
Bab 17 Melepaskan Bukan Berarti Kalah
Ada malam-malam ketika kesedihan tidak lagi berbentuk tangis. Ia tidak datang sebagai air mata yang jatuh deras, atau suara yang pecah karena tak mampu menahan beban. Kesedihan itu hadir dalam bentuk yang jauh lebih sunyi—sebagai keheningan yang panjang, sebagai ruang kosong yang…
Comments
20 Chapters
Chapter 1: BAB 1. Lelaki yang selalu tersenyum
Marjin selalu tahu kapan ia harus tersenyum. Senyumnya sederhana dan santun, tidak berlebihan, tetapi cukup untuk membuat orang lain merasa nyaman. Senyum itu seperti sesuatu yang telah lama ia pelajari, hingga menjadi kebiasaan yang melekat tanpa perlu dipikirkan lagi. Ia menggunakannya hampir setiap…
ReadmoreChapter 2: Bab 2. Ketika Memjadi Baik Tidak Pernah Sulit
Sejak kecil, Marjin belajar satu hal yang sederhana: menjadi baik adalah cara paling aman untuk dicintai dan diterima. Ia tidak pernah benar-benar ingat siapa yang pertama kali mengajarkannya. Tidak ada nasihat panjang, tidak ada kalimat bijak yang ditempel di dinding rumah, tidak pula…
ReadmoreChapter 3: Bab 3. Pernikahan Yang Datang Tanpa Bertanya
Pada awalnya, Marjin tidak pernah benar-benar ditanya apakah ia siap menikah. Pertanyaan yang datang kepadanya hampir selalu berbentuk pernyataan. “Kamu sudah umur segini, Jin.” “Pekerjaanmu juga sudah tetap.” “Orang tua tentu ingin melihat kamu bahagia.” Bahagia. Kata itu terdengar ringan ketika diucapkan orang…
ReadmoreChapter 4: Bab 4. Perempuan yang tidak pernah sama
Marjin mulai menyadari bahwa Alina adalah perempuan yang tidak pernah sama. Bukan dalam arti berubah-ubah tanpa arah, melainkan karena setiap hari ia seperti menampilkan sisi yang berbeda. Kadang ia tampak lembut dan hangat, seperti seseorang yang mudah memahami orang lain. Namun di lain…
ReadmoreChapter 5: Bab 5. Sunyi Yang Lebih Bising Dari Pertengkaran
Rumah itu tetap berdiri seperti biasa. Tidak ada yang berubah dari bentuknya. Sofa abu-abu masih berada di sudut ruang tamu. Jam dinding masih berdetak dengan tempo yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Tirai putih masih menahan cahaya pagi dengan cara yang lembut, menyaring…
ReadmoreChapter 6: Bab 6. Luka Yang Tidak Pernah Belajar Berbicara
Pagi itu datang dengan langit yang tidak sepenuhnya cerah. Awan tipis menggantung di langit, seperti pikiran yang belum selesai dipikirkan. Cahaya matahari berusaha menembusnya, tetapi hanya berhasil menciptakan warna pucat yang lembut di balik tirai kamar. Marjin berdiri di depan cermin kamar…
ReadmoreChapter 7: Bab 7. Jarak Yang Mengajarkan Suara
Hari keberangkatan itu datang tanpa aba-aba yang dramatis. Tidak ada hujan deras yang mengguyur halaman rumah. Tidak ada musik sendu seperti dalam film-film yang sering memperlambat setiap langkah perpisahan. Hanya pagi yang terlalu biasa untuk sebuah perpisahan sementara. Udara terasa sejuk, seperti…
ReadmoreChapter 8: Bab 8. Menjadi Orang Baik Yang Kelelahan
Ada hari-hari ketika Marjin merasa kebaikan itu seperti pakaian yang terlalu sempit—masih bisa dipakai, tetapi perlahan membuat napasnya terasa sesak. Dari luar, semuanya tampak rapi dan wajar. Tidak ada yang benar-benar salah. Namun di dalam dirinya, ada kelelahan yang mulai menumpuk, pelan-pelan,…
ReadmoreChapter 9: Bab 9. Retak Yang Tidak Bisa Disembunyikan
Pertengkaran itu bermula dari sesuatu yang sangat kecil. Begitu kecil hingga jika diceritakan kepada orang lain, mungkin terdengar sepele. Bahkan mungkin terdengar konyol. Namun sering kali, retak besar dalam hubungan tidak muncul dari peristiwa besar. Ia tumbuh dari hal-hal kecil yang dibiarkan menumpuk…
ReadmoreChapter 10: Bab 10. Bertahan Atau Mengkhianati Diri Sediri
Ada malam-malam ketika pertanyaan datang tanpa suara, tetapi menggema paling keras di dalam hati. Setelah pertengkaran kecil yang membuka begitu banyak hal itu, hubungan Marjin dan Alina tidak langsung memburuk. Justru sebaliknya, mereka mulai berbicara lebih jujur daripada sebelumnya. Percakapan mereka tidak lagi…
ReadmoreChapter 11: Bab 11. Malam Yang Penuh Pertanyaan
Malam turun tanpa suara. Tidak ada hujan. Tidak ada angin. Bahkan suara kendaraan yang biasanya terdengar dari jalan di depan rumah malam itu terasa lebih pelan dari biasanya, seolah dunia dengan sengaja memberi ruang bagi kesunyian yang menggantung di ruang tamu. Marjin duduk…
ReadmoreChapter 12: BAB 12. Belajar Mengakui Lellah
Pagi itu datang dengan cahaya yang terasa lebih jujur dari biasanya. Tidak ada peristiwa besar yang menandainya. Tidak ada pertengkaran, tidak ada suara meninggi, dan tidak ada air mata yang tertinggal dari malam sebelumnya. Namun, ada sesuatu yang berbeda dalam diri Marjin—sesuatu yang…
ReadmoreChapter 13: Bab 13. Memaafkan Tanpa Membenarkan
Hujan turun sejak sore. Rintiknya rapat dan sabar, seperti sesuatu yang telah lama tertahan lalu akhirnya jatuh juga. Langit kelabu menggantung rendah di atas rumah-rumah, membuat suasana terasa lebih sunyi dari biasanya. Di ruang tamu yang diterangi lampu temaram, Marjin duduk sendirian.…
ReadmoreChapter 14: Bab 14. Istri Yang Juga Membawa Lukanya Sendiri
Malam itu tidak ada hujan. Tidak ada angin kencang yang menggoyangkan jendela. Tidak ada petir yang memecah langit. Rumah kecil itu berdiri tenang di tengah malam yang hening. Namun di dalam rumah itu, ada sesuatu yang berubah—bukan pada dindingnya, bukan pada lampu…
ReadmoreChapter 15: Bab 15.Percakapan Yang Terlambat
Ada percakapan yang seharusnya terjadi bertahun-tahun lalu. Ada kalimat yang seharusnya diucapkan sebelum luka berubah menjadi jarak yang terlalu jauh untuk dijangkau. Dan ada keberanian yang selalu datang terlambat—bukan karena seseorang tidak ingin berbicara, tetapi karena terlalu takut kehilangan. Malam itu, Marjin duduk…
ReadmoreChapter 16: Bab16. Tidak Semua Hal Bisa Diselamatkan
Ada masa ketika Marjin percaya bahwa selama ia mencintai dengan cukup sabar, cukup tulus, dan cukup lama, semua akan membaik dengan sendirinya. Ia percaya bahwa luka akan sembuh hanya dengan niat baik.Bahwa jarak dapat dijembatani dengan usaha yang tidak pernah berhenti.Bahwa keluarga—dengan segala…
ReadmoreChapter 17: Bab 17 Melepaskan Bukan Berarti Kalah
Ada malam-malam ketika kesedihan tidak lagi berbentuk tangis. Ia tidak datang sebagai air mata yang jatuh deras, atau suara yang pecah karena tak mampu menahan beban. Kesedihan itu hadir dalam bentuk yang jauh lebih sunyi—sebagai keheningan yang panjang, sebagai ruang kosong yang…
ReadmoreChapter 18: Bab 18. Memaafkan Diri Sendiri
Untuk pertama kalinya, Marjin berhenti menyalahkan dirinya atas semua yang gagal. Bukan karena semuanya tiba-tiba terasa mudah. Bukan juga karena luka itu hilang begitu saja. Justru sebaliknya—ia masih merasakan sisa-sisa perih yang menetap di dada, seperti bekas luka yang belum sepenuhnya sembuh. Namun…
ReadmoreChapter 19: Bab. 19 Wajah yang tidak lagi berpura-pura
Ada perubahan yang tidak selalu terlihat dari luar. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk keputusan besar atau langkah yang dramatis. Terkadang, perubahan itu justru muncul dalam hal-hal kecil—cara seseorang menjawab pertanyaan, cara ia menatap dirinya sendiri, atau keberaniannya untuk mengatakan, “Aku tidak baik-baik…
ReadmoreChapter 20: Bab 20. Perubahan baik dengan cara yang baik.
Ada masa ketika Marjin mengira bahwa menjadi “baik-baik saja” berarti tidak memiliki masalah. Tidak merasa lelah. Tidak menunjukkan luka. Tidak mengeluh, tidak goyah, dan tidak pernah terlihat rapuh. Namun setelah semua yang ia lalui, ia mulai memahami bahwa “baik-baik saja” yang sesungguhnya bukanlah…
Readmore





