Table of Contents
- Chapter 1: Bab 1. Elang Taraka
- Chapter 2: Bab 2. Mengandalkan Diri Sendiri
- Chapter 3: Bab 3. Ramuan yang Ditukar
- Chapter 4: Bab 4. Sangkar Besi
- Chapter 5: Bab 5. Gendhis Widuri
- Chapter 6: Bab 6. Bermuka Dua
- Chapter 7: Bab 7. Peradilan
- Chapter 8: Bab 8. Getar Cinta Beda Kasta
- Chapter 9: Bab 9. Ganjaran untuk Elang
- Chapter 10: Bab 10. Wono Daksino
Lates Chapters
Bab 30. Kembali ke Desa Sewindu
"Kalau begitu, katakan padaku, kamu memilih untuk mati dengan cara bagaimana?" Elang berkata jengkel. Gadis ini seharusnya mengucapkan terima kasih padanya, bukan malah menuduhnya sebagai penjahat. Kenes membuang wajah sambil memberengut. Tidak menyangka Elang berani berkata begitu padanya. Apa dia lupa,…
Bab 29. Membawa Raden Ayu Pergi
Elang sama sekali tidak menyangka Kenes Kirana justru akan melakukan hal yang kontra produktif dengan rencananya. Setelah berhasil masuk ruangan untuk bertemu dengan Kenes dengan susah payah, gadis itu malah melaporkannya pada penjaga. "Gusti Putri, aku datang untuk menyelamatkanmu!" dengkus Elang tak…
Bab 28. Desa Kahuripan
Burung rajawali raksasa terbang melayang di cakrawala berputar-putar di langit Kahuripan. Kepakan sayapnya menampar angin yang menciptakan deru yang berisik. “Kamu yakin ini Desa Kahuripan?” tanya Elang memastikan. Elang yang tampak duduk dengan tenang di punggung rajawali, bersikap waspada. Dia belum…
Bab 27. Mendapatkan Misi
Tengah malam yang sunyi, Elang Taraka masih saja terjaga. Dua pekan terakhir telah dihabiskannya untuk mengabdikan diri di Dusun Sewindu untuk menangani pagebluk yang melanda desa itu. Meski dalam hati makin resah tidak karuan ingin segera bergegas menuju Istana Damar Langit, tapi dia…
Bab 26. Bratasena Membelot
Suasana di sekitar Istana Damar Langit sangat mencekam. Langit yang tadi pagi begitu cerah, kini terlihat mendung. Begitu pun dengan sang Raja dan sang Ratu, entah bagaimana kabarnya? Apa kedua pasangan itu juga ikut mendung atau bahkan hujan tangis terus mengalir deras, melihat…
Comments
20 Chapters
Chapter 1: Bab 1. Elang Taraka
“Buka pintu! Ada titah dari Gusti Prabu.” Sebuah suara berirama tenor terdengar dari balik pintu. Disusul dengan suara gedoran pintu yang terdengar riuh mengganggu ketenangan malam. Seorang pemuda yang tengah bercakap ringan dengan sang Ibu, terpaksa menjeda perbincangan. “Siapa yang datang malam-malam begini,…
ReadmoreChapter 2: Bab 2. Mengandalkan Diri Sendiri
Berhari-hari sejak hari itu, Elang lebih banyak menghabiskan waktunya di ruang obat. Istana Damar Langit yang makmur, berlimpah dengan berbagai macam bahan herbal. Gusti Prabu telah memberinya izin menggunakan semua fasilitas yang ada untuk uji coba membuat ramuan mujarab. Hanya berbekal buku pengobatan…
ReadmoreChapter 3: Bab 3. Ramuan yang Ditukar
“Dayaaang ...." Suara lengkingan itu sejenak membuat aktivitas para Dayang di Kaputren terhenti. Dalam sekejap mata, mereka lari tunggang langgang menuju ke ruangan pribadi Raden Ayu Kenes Kirana. "Mohon ampun, Raden Ayu. Kami datang menghadap," ucap salah seorang Dayang dengan suara bergetar. Terlihat…
ReadmoreChapter 4: Bab 4. Sangkar Besi
Rombongan para Prajurit membawa Elang Taraka ke penjara. Di sepanjang perjalanan menuju penjara, banyak pasang mata yang menyaksikan Elang Taraka diarak seperti layaknya pesakitan. Tak ada lagi tatapan kekaguman seperti beberapa hari yang lalu dari wajah-wajah mereka. Sebelumnya, Elang mendapatkan puja-puji karena mendapatkan…
ReadmoreChapter 5: Bab 5. Gendhis Widuri
Di ruang obat Istana, Agra Gajendra beberapa kali melirik tempat dimana beberapa hari terakhir ini, Elang menghabiskan waktu untuk membuat ramuan. Masih ada tersisa beberapa bahan herbal di sana. Setelah memastikan tidak ada orang, Agra mengayunkan langkah mendekati tempat dimana Elang menghabiskan waktu…
ReadmoreChapter 6: Bab 6. Bermuka Dua
Seorang gadis melangkah dengan anggun menuju Kaputren dimana Raden Ayu Kenes Kirana tinggal. Di belakangnya, berbaris beberapa Dayang yang mengiringi langkah. Wajah semringah terpancar menguarkan aura kebahagiaan yang tak sanggup dideskripsikan dengan aksara. Sesekali dia tersenyum, sesekali bernyanyi, rasa bahagia tak tertandingi membuat…
ReadmoreChapter 7: Bab 7. Peradilan
Ayam jantan berkokok saling bersahut-sahutan, membangunkan penduduk kerajaan Damar Langit dari peraduan yang hangat. Kicauan burung cucak rowo yang bernyanyi di dahan pohon, menambah syahdu suasana pagi. Sialnya, suasana syahdu pagi ini sangat bertolak belakang dengan nasib malang Elang Taraka. Sejak matanya terbuka,…
ReadmoreChapter 8: Bab 8. Getar Cinta Beda Kasta
"Hooo ...." "Hooo ...." Siulan burung hantu di tengah malam buta serupa suara kematian yang mengkerdilkan jiwa yang larut dalam ketakutan. Banyak orang lebih memilih untuk merapatkan diri dalam hangatnya selimut, menyelami mimpi indah di peraduan. Suasana malam ini sangat lengang. Sesekali hanya…
ReadmoreChapter 9: Bab 9. Ganjaran untuk Elang
Matahari yang mulai menyingsing dari peraduannya kini terlihat menyemai cahaya untuk para penduduk bumi kerajaan Damar Langit. Satu persatu para penghuni istana mulai beraktifitas di tempat tugas masing-masing. Dapur istana yang tadinya berselimut dingin, menghangat karena kobaran tungku tanah mulai dipakai memasak hidangan…
ReadmoreChapter 10: Bab 10. Wono Daksino
Alun-alun kota raja kerajaan Damar Langit masih dipenuhi kerumunan manusia. Mereka ingin menyaksikan iring-iringan Prajurit yang akan mengawal Elang Taraka menuju tempat pengasingan. Wono Daksino, hutan yang terkenal angker dan wingit. Di barisan paling depan ada kereta istana yang terlihat begitu jumawa, ditarik…
ReadmoreChapter 11: Bab 11. Jubah Hitam
"Ada gubuk berdiri di tengah rimba Wono Daksino?" Sepasang netra Elang menyipit curiga. "Apakah ada manusia yang tinggal di sini?" gumamnya lirih. Tadi, Elang sempat berharap bisa menemukan manusia lain di tempat ini. Namun, saat melihat ada sebuah gubuk di tengah hutan, bulu…
ReadmoreChapter 12: Bab 12. Harimau Loreng
Mata pemuda tampan itu terpejam bersiap menerima terkaman harimau loreng yang tiba-tiba muncul itu. Dia sudah pasrah dengan kematian yang sebenarnya belum dia inginkan. Mungkin karena kelelahan fisik yang dia rasakan sudah melebihi ambang batas. Rasa ngilu bekas siksaan yang dia dapatkan di…
ReadmoreChapter 13: Bab 13. Kabut Kesedihan
Saat ini, istana Kaputren sedang berselimut kabut. Bertambah lagi satu alasan kesedihan Kenes Kirana. Bukan saja karena telah kehilangan wajah cantiknya saja. Sekarang, Kenes merasa sedih dengan alasan yang lain, yakni memikirkan ucapan Elang saat terakhir kali mereka berjumpa. Kenes yang tempo hari…
ReadmoreChapter 14: Bab 14. Pengintai
Malam makin larut ketika sesosok tubuh yang terbalut mantel hitam berjalan mengendap-endap menuju pondok tempat tinggal Mbok Sumi. Sosok itu mencari celah, sengaja menghindari para prajurit yang berkeliling di setiap penjuru Istana. Celingak-celinguk kanan kiri memastikan tak ada orang yang mengekorinya, barulah dia…
ReadmoreChapter 15: Bab 15. Pendekar Berjubah Putih
Wono Daksino di pagi hari ataupun siang nyaris tak ada beda. Pohon hutan yang besar dan rimbun menghalangi cahaya matahari menerobos masuk, sehingga selalu tampak redup. Elang mengambil sebuah kerikil dan memasukkannya ke dalam wadah yang terbuat dari gerabah setiap pagi menjelang. Begitulah…
ReadmoreChapter 16: Bab 16. Acarya Adiwilaga
Embun yang bertengger di daun-daun tanaman Wono Daksino menandakan baru saja pagi menjelang. Suara air terjun yang terdengar gemericik menambah nuansa wingit dan mistis. Apalagi ditambah dengan hawa dingin terasa menusuk tulang. Raungan harimau menggeram beberapa kali di pagi buta yang masih…
ReadmoreChapter 17: Bab 17. Elang dan Loreng
Sepasang kaki Elang terayun menuju aliran sungai yang suaranya sudah terdengar gemericik dari kejauhan. Beberapa hari ini, sang Maha Resi Acarya Adiwilaga memintanya untuk mengambil air dari sungai dengan jarak tempuh sekitar satu jam berjalan kaki dari gubuk tempat tinggal mereka. Gentong-gentong besar…
ReadmoreChapter 18: Bab 18. Mustika Naga Biru
Elang yang beberapa saat lalu terkapar dengan rasa sakit yang teramat sangat, perlahan merasakan perubahan. Begitu rasa sakit itu menghilang, tubuhnya perlahan terasa lebih ringan dan segar. Bahkan semua indranya berubah menjadi lebih jernih dan sensitif. Kegelapan goa bawah tanah yang…
ReadmoreChapter 19: Bab 19. Raden Mas Bratasena
6 bulan kemudian Sinar mentari pagi bersinar redup, membaurkan aura syahdu yang mendebarkan. Kanjeng Senopati memindahkan tempat tinggal Mbok Sumi di area dalem Senopaten, karena wanita paruh baya itu telah diangkat sebagai tabib pribadi Kanjeng Senopati Raden Mas Bratasena. Berbagai pertanyaan…
ReadmoreChapter 20: Bab 20. Raden Mas Hadyan Ganendra
Di Balairung istana, wajah Gusti Prabu Maheswara Kamandaka sedang bermuram durja. Dia tidak senang dengan sikap Senopati Bratasena yang tidak sopan. Bagi Gusti Prabu, sikap Senopati Bratasena bisa mengakibatkan hubungan dua kerajaan itu berubah memburuk. Sementara Sang Senopati tetap duduk dengan tenang di…
Readmore





