Table of Contents
- Chapter 1: 1. Meninggalkan Semuanya
- Chapter 2: 2. Habis, Hancur, Lenyap
- Chapter 3: 3. Ibu, Aku Mau Ayah
- Chapter 4: 4. Seperti Anak yang Lain
- Chapter 5: 5. Pria Tampan Itu
- Chapter 6: 6. Namaku Adisti Kayshilla Dewina
- Chapter 7: 7. Aku Nggak Nakal
- Chapter 8: 8. Tentang Ayah
- Chapter 9: 9. Kamu di Sini?
- Chapter 10: 10. Si Bos yang Mempesona
Lates Chapters
Bab 30. Kamu Tidak Punya Pilihan
Vernon memarkir mobil di depan rumah orang tuanya. Di seberang mobilnya, mobil Rima masih terparkir di sana. "Dia belum pulang juga?" gumam Vernon kesal. Kejadian siang saat dia tiba di apartemen, seketika muncul di bayangan Vernon. Pria yang membuka pintu disusul Rima yang…
Bab 29. Panggilan Darurat
"Aduh, Disti, kamu ngomong apa?" Dalam hati Adisti merasa konyol bisa mengeluarkan pertanyaan itu. "Aku tidak mungkin menjalani hidup dengan pasangan yang tidak setia. Aku masih berpegang penuh mengenai pentingnya kesetiaan tanda pasangan kekasih. Jika itu dilanggar, aku tidak akan melanjutkan hubungan." Vernon…
Bab 28. Apa Itu Cinta?
"Cia! Ayo, makan! Sudah disiapkan sama Ibu." Meity muncul dan mengajak Felicia makan malam. "Iya, Nek." Felicia tidak jadi menjawab pertanyaan Vernon. Dia melompat turun dari kursi. "Om, aku mau makan. Aku lapar sekali." "Oya, oke." Vernon tersenyum. "Pak, mari, kita makan…
Bab 27. Papa Atau Ayah?
"Tidak apa-apa, Pak. Terima kasih mau mengunjungi Cia. Saya hanya tidak ingin Adisti tidak fokus bekerja." Meity mencermati wajah Vernon. Dia bisa melihat ada kesedihan yang coba pria itu tutupi dengan senyumnya. "Ah, tidak, Bu. Aku juga baru datang dari kantor. Tidak sama-sama…
Bab 26. Kegalauan Pak Bos
Vernon menyentakkan pegangan Rima. Dia tidak mengira Rima ternyata tidak tulus sayang padanya. Selama ini dia salah mengira pada wanita yang dia yakini adalah jodoh yang tepat. "Vernon, aku ga ada hubungan khusus sama dia. Aku hanya menghabiskan waktu bareng saja. Kita ga…
Comments
20 Chapters
Chapter 1: 1. Meninggalkan Semuanya
Ketika melakukan kesalahan dalam hidup ini dan menghancurkan semua yang seharusnya baik untuk dijalani, masihkah ada kesempatan untuk menggapai masa depan? -Adisti- ** “Anak tidak tahu diri!” Plakk!! Gamparan keras mendarat di pipi mulus Adisti. Tangan kuat dan kekar sang ayah,…
ReadmoreChapter 2: 2. Habis, Hancur, Lenyap
Bis melaju lebih lambat. Hujan cukup deras mengguyur jalanan. Adisti memperhatikan rumah-rumah yang berjajar di sepanjang jalan yang dilalui bis itu. Tatapannya nanar. Sedih dan gelisah, itu yang dia rasakan. Semua hancur. Kehidupan yang menyenangkan yang dia miliki berantakan dalam sekejap. Dan itu…
ReadmoreChapter 3: 3. Ibu, Aku Mau Ayah
Lima tahun berlalu. Gadis kecil dengan rambut sepunggung itu memegang gaunnya dan mengibar-ibarkannya ke kiri dan kanan dengan riang. Senyum indah menghiasi bibir mungil di wajahnya. “Sayang, lihat!” Panggilan itu membuat si gadis kecil mengangkat kepala, memandang ke depan. Senyumnya makin lebar, dan…
ReadmoreChapter 4: 4. Seperti Anak yang Lain
Tubuh Adisti makin terasa gemetar. Dia menutup mata dengan kedua tangan seketika, karena takut luar biasa melihat yang terjadi di depan matanya. Tiba-tiba, pria tampan dan gagah itu sudah berada di tengah jalan. Dengan cepat dia mengangkat Felicia lalu membawanya ke tepi. Motor…
ReadmoreChapter 5: 5. Pria Tampan Itu
"Selamat siang, Pak." Adisti menyapa pria yang berdiri di sampingnya dan sedikit ke belakang. "Kalau kamu mau coba masuk ke perusahaan itu, masa depan kamu akan bagus, Adisti." Pria yang sudah berambut putih itu tersenyum pada Adisti. "Apa mungkin saya diterima, Pak?" Adisti…
ReadmoreChapter 6: 6. Namaku Adisti Kayshilla Dewina
Adisti berbalik dengan cepat, Dadanya berdegup kencang. Adisti tidak tahu bagaimana membahasakan kelakuan sepasang kekasih itu. Wanita itu, Adisti ingat dia. Pria itu, Adisti juga ingat. Pria tampan yang menyelamatkan Felicia. Mereka bermesraan di lorong kantor yang sepi. "Ya Tuhan ... mereka sudah…
ReadmoreChapter 7: 7. Aku Nggak Nakal
Jalanan lumayan ramai. Adisti sedikit kesal, karena perjalanannya menuju sekolah Felicia tidak sangat lancar. Banyak pertanyaan bergerilya di pikirannya. Apa yang terjadi? Apa yang Felicia lakukan pada temannya? Adisti gelisah dan cemas. Jika terjadi sesuatu dengan anak orang, bisa jadi masalah pasti. "Cia,…
ReadmoreChapter 8: 8. Tentang Ayah
Mata Adisti terbelalak. Dia mendapat pesan jika dia diterima sebagai pegawai di perusahaan besar itu. Holding Company. Perusahaan yang bukan saja bergerak di satu bidang usaha. Ada setidaknya empat sekaligus bidang usaha yang ditangani perusahaan PT. Pertiwi Merdeka. Adisti tersenyum lebar, tetapi juga…
ReadmoreChapter 9: 9. Kamu di Sini?
Meity memegang kedua tangan Felicia. Dia tersenyum manis, menatap bola bening dan jernih gadis kecil yang cantik itu. "Sayang, orang dewasa itu beda dengan anak-anak. Mereka punya masalah itu lebih macam-macam. Ada yang mudah diselesaikan, ada yang tidak. Kalaupun mereka sudah selesai masalahnya,…
ReadmoreChapter 10: 10. Si Bos yang Mempesona
"Selamat pagi, Pak Vernon." Bersamaan Cahyo dan Lestia menyapa pria gagah dan tampan itu. Adisti memperhatikannya. Dengan kaos putih tanpa kerah, lalu jas biru gelap, pria itu memang tampan sekali. Dagunya, matanya, hidung dan juga bibirnya. Perfect. Sepertinya pria ini yang dibicarakan pegawai…
ReadmoreChapter 11: 11. Asal Jangan Aneh-aneh
Dengan tergesa Adisti berjalan, bahkan sedikit berlari keluar ruangannya. Ternyata di ruang sebelah, yang memang lebih luas, ada tiga karyawan lagi, dua laki-laki dan satu perempuan. Adisti mengangguk sambil tersenyum pada mereka, tapi kakinya terus berjalan menuju ke ruangan direktur. "Jadi Pak Vernon…
ReadmoreChapter 12: 12. Pasangan Unik Atau Aneh?
”Maksud Kak Henny gimana, ya?” Dengan tatapan berubah kaget dan bingung Adisti melihat pada Hanny. ”Haa … haa ….” Hanny tidak menjawab malah ngakak selebar-lebarnya. “Cantik, jangan terlalu jauh mikirnya!” Adisti kembali duduk, sambil terus memperhatikan Hanny. ”Pak Bos itu memang tampan, keren,…
ReadmoreChapter 13: 13. Tatapan Tajam dan Dalam
Adisti hanya melongo, tidak percaya yang dia dengar. "Adisti cahaya matahari!" Panggilan itu terdengar keras. Adisti mengerjap-erjap lalu mengembalikan kesadaran. "Tidak apa, Pak. Saya pesan ojek online saja." Adisti segera mengeluarkan ponsel dan mencari aplikasi transportasi online yang dia simpan. "Yakin?" Vernon menatap…
ReadmoreChapter 14: 14. Doa Buat Ayah
Kelas segera senyap. Mahasiswa tidak punya pilihan kecuali ikut maunya dosen. Seperti yang lain, Adisti pun mengeluarkan secarik kertas dan bersiap memberikan jawaban untuk lima pertanyaan yang akan diajukan sang dosen. "Sial, semalam ga baca buku sama sekali," ucap Ernita lirih. "Drakor atau…
ReadmoreChapter 15: 15. Perasaan yang Salah
Adisti belum beralih menatap pada deretan huruf yang terpasang di dada kiri petugas keamanan di depannya. Nama itu, 'Prawira Sanjaya', seketika mengingatkan Adisti pada pria yang selama ini dia rindukan, yang kepadanya Adisti telah berdosa besar. Nama itu mirip sekali dengan nama ayahnya,…
ReadmoreChapter 16: 16. Mencurigai Sesuatu
Selesai dari kantor Angga, Adisti kembali ke tempatnya dan mulai melakukan pekerjaannya. Adisti berusaha fokus dengan yang dia lakukan. Ada event tiga bulan berturut-turut yang diikuti kantor untuk promosi produk dan meningkatkan penjualan. Adisti tidak bisa main-main. Meskipun masih baru, dia dituntut untuk…
ReadmoreChapter 17: 17. Om Ganteng Paling Keren!
Adisti merasa ada yang mencekat di lehernya. Dia tidak tahu harus menjawab bagaimana pertanyaan Vernon. Jika dia katakan Felicia putrinya, pasti akan muncul pertanyaan lain. Jika dia bilang Felicia adiknya, dia seperti mengingkari kenyataan dia adalah seorang ibu. ”Beda jauh ya, umur Cia…
ReadmoreChapter 18: 18. Tak Bisa Mengelak
Jantung Adisti seperti mau copot mendengar Felicia dengan polosnya bicara pada Vernon. Kalau bisa, Adisti ingin lenyap tenggelam ke dasar bumi. ”Ingin punya ayah?” Vernon menatap dua mata bening di depannya itu. Lalu dia alihkan pandangan pada Adisti. ”Cia, tadi belum pipis, kan?…
ReadmoreChapter 19: 19. Semakin Mengaguminya
”Itu rumahku, Om! Besar!” Felicia dengan wajah gembira menunjuk rumah besar di ujung jalan yang tinggal seratus meter di depan mereka. ”Kos Ibu Meity?” Vernon membaca papan nama di depan rumah besar itu. ”Iya, Pak. Ibu Meity pemilik kos-kosan wanita ini. Aku beruntung…
ReadmoreChapter 20: 20. Tingkah Aneh Cahyo
Perintah itu cukup mengejutkan Adisti. Membuat design bukan hal mudah. Apalagi dengan waktu mendesak, sangat mungkin tidak maksimal hasilnya. Belum lagi pekerjaan hari itu yang tertunda karena acara jalan-jalan menenangkan hati si Bos. ”Adisti?” Angga membuyarkan pikiran Adisti yang mulai melompat ke sana…
Readmore





