VIP Signed

Mahar Pengabdian

By: devi.ayu
68 Readers 20 Chapters 9.9

20 HARI MENCARI MAAF

"Terkadang, melepaskan adalah cara tertinggi untuk mencintai diri sendiri. Karena cinta yang dipaksakan hanyalah penjara, dan keikhlasan adalah satu-satunya kunci untuk membuka pintunya."
Read Share

Table of Contents

Lates Chapters

Prolog

Prolog: Harga Sebuah Kesetiaan Di kota sekeras Jakarta, cinta sering kali bukan hanya tentang dua orang yang saling menatap, melainkan tentang siapa yang memegang sertifikat masa lalu. Arumi selalu percaya bahwa pengabdiannya selama empat tahun mendampingi Davin dari titik nol adalah "investasi" perasaan…

Persimpangan Takdir

Dunia ini sering kali terasa terlalu luas saat kita mencari seseorang, namun mendadak menjadi sempit ketika kita justru ingin melupakan. Jakarta, dengan segala hiruk-pikuk dan jutaan nyawa yang berdesakan di dalamnya, ternyata masih menyimpan selera humor yang sarkastis mengenai pertemuan. Enam bulan setelah…

Langit di Balik Jendela

Tiga tahun telah berlalu sejak malam di rumah sakit yang mengubah segalanya. Jakarta sore itu baru saja dibasuh hujan, menyisakan aroma tanah basah yang segar dan pantulan jingga di atas aspal yang mulai mengering. Di sebuah gedung perkantoran modern di kawasan pusat bisnis,…

Mimpi Yang Terbeli

Ada jenis keheningan yang berbeda di kamar 702 malam itu. Bukan lagi keheningan yang mencekam seperti saat mesin ventilator mendesis, melainkan keheningan yang lembut, seperti selimut yang menyelimuti jiwa-jiwa yang sedang beristirahat. Davin tertidur lelap, namun kali ini nafasnya teratur. Tidak ada kerutan…

Perpisahan Yang Tak Terucap

Suasana di kamar 702 kini terasa jauh lebih tenang secara fisik, namun secara emosional, ada ketegangan baru yang mulai merayap di antara dinding-dindingnya yang putih bersih. Davin sudah mulai bisa duduk di kursi roda, dan perbannya pun sudah diganti dengan plester kecil di…

Comments

Tinggalkan komentar

You May Also Like

20 Chapters

Chapter 1: Airmata di Cangkir Kopi

Oleh: devi.ayu
Aroma kafein yang biasanya menenangkan, sore itu terasa mencekik. Arumi menatap rintik hujan yang menghantam kaca jendela kafe “Bosque”, meninggalkan jejak air yang menyerupai air mata yang dipaksakan jatuh. Di luar, Jakarta sedang murung. Langit abu-abu seolah sengaja membungkus kota dengan kesedihan yang…
Readmore

Chapter 2: Riuh Yang Sepi

Oleh: devi.ayu
Gedung SD Negeri Mentari pagi itu tampak seperti pelangi yang tumpah. Suara teriakan anak-anak kelas satu yang berkejaran di lapangan, bunyi peluit guru olahraga yang melengking, hingga aroma minyak telon dan bedak bayi yang masih tertinggal di seragam mereka, biasanya menjadi asupan energi…
Readmore

Chapter 3: Pertemuan Dua Dunia

Oleh: devi.ayu
Langkah kaki Arumi terasa berat saat memasuki lobi sebuah hotel bintang lima di pusat kota. Tempat ini adalah kebalikan dari kafe “Buana” yang hangat atau sekolahnya yang riuh. Di sini, segalanya terasa dingin, angkuh, dan berkilauan. Lantai marmernya begitu mengkilap hingga Arumi bisa…
Readmore

Chapter 4: Undangan Diatas Meja Kayu

Oleh: devi.ayu
Waktu ternyata tidak berjalan secepat yang dijanjikan oleh kata-kata motivasi di kalender meja Arumi. Baginya, satu minggu sejak pengiriman pesan singkat itu terasa seperti satu dekade yang dijalani di bawah air. Sesak, sunyi, dan dingin. Ia sengaja mengubah rutinitasnya; berangkat lebih pagi agar…
Readmore

Chapter 5: Luka dan Hutang Budi

Oleh: devi.ayu
Dunia tidak berhenti berputar hanya karena satu hati hancur berkeping-keping. Itu adalah kenyataan paling kejam yang harus dihadapi Arumi. Di luar jendela kamar kosnya yang sempit, Jakarta masih sibuk dengan deru mesin dan klakson yang tak sabar, sementara di dalam sini, waktu seolah…
Readmore

Chapter 6: Ke Tanah Sunyi

Oleh: devi.ayu
Keputusan itu diambil saat Arumi menatap pantulan wajahnya di cermin kantor guru dan tidak lagi mengenali siapa yang ada di sana. Matanya mati, kulitnya kusam, dan senyumnya telah lama terkubur di bawah tumpukan undangan pertunangan yang disimpan di laci terdalam. Pak Hendra, dengan…
Readmore

Chapter 7: Sayap Diatas Awan

Oleh: devi.ayu
Keheningan desa ternyata tidak memberikan kesembuhan yang instan, melainkan sebuah ruang gema yang memperkeras suara-suara luka di kepala Arumi. Dua minggu di bawah asuhan kasih sayang Ibunya, Arumi menyadari satu hal,  selama ia masih memijak bumi yang sama dengan Davin, selama ia masih…
Readmore

Chapter 8: Pertemuan Setelah Kembali

Oleh: devi.ayu
Lima tahun adalah waktu yang cukup bagi Jakarta untuk mengubah wajahnya dengan gedung-gedung yang lebih menjulang, namun bagi Arumi, lima tahun adalah waktu yang ia gunakan untuk membangun ulang seluruh fondasi jiwanya. Ia kembali ke tanah air bukan lagi sebagai gadis yang hancur,…
Readmore

Chapter 9: Perjamuan Tanpa Rasa

Oleh: devi.ayu
Malam itu, Jakarta bersolek dengan cahaya yang angkuh. Hotel Grand Melia menjadi panggung bagi sebuah perhelatan akbar, Indonesian Education Award. Karpet merah membentang luas, menyambut para tokoh penting, birokrat, dan pengusaha yang menjadi donatur utama dalam transformasi pendidikan nasional. Arumi turun dari mobil…
Readmore

Chapter 10: Pengejaran Di Balik Bayangan

Oleh: devi.ayu
Pertemuan di malam gala dinner itu bukannya menjadi titik akhir bagi Davin, justru menjadi sumbu yang membakar habis sisa-sisa kewarasannya. Sosok Arumi yang begitu tenang, profesional, dan yang paling menyakitkan sama sekali tidak terusik oleh kehadirannya, telah menciptakan lubang hitam di dada Davin.…
Readmore

Chapter 11: Benturan di Ujung Penyesalan

Oleh: devi.ayu
Davin menginjak pedal gas lebih dalam, membiarkan raungan mesin mobil mewakili jeritan di dalam dadanya yang tak mampu ia keluarkan. Jalanan Jakarta yang basah oleh sisa hujan sore tadi tampak seperti pita hitam yang licin, memantulkan lampu-lampu kota yang kini terlihat seperti garis-garis…
Readmore

Chapter 12: Di Ambang Batas Kesadaran

Oleh: devi.ayu
Bau disinfektan yang tajam seolah-olah menjadi aroma kematian yang menunggu di setiap sudut lorong Rumah Sakit Medika. Lampu neon yang berpijar pucat memantul di atas lantai porselen, menciptakan suasana yang kaku dan mencekam. Di balik pintu ganda bertuliskan “ICU Dilarang Masuk”, Davin sedang…
Readmore

Chapter 13: Ingatan Yang Tertinggal di Masa Lalu

Oleh: devi.ayu
Dunia medis menyebutnya sebagai amnesia disosiatif pasca-trauma, sebuah mekanisme pertahanan otak yang memilih untuk mengunci memori yang terlalu menyakitkan dan kembali ke zona waktu yang dianggap paling aman. Namun bagi Sarah, kondisi ini adalah kutukan yang lebih perih daripada kematian itu sendiri. Setelah…
Readmore

Chapter 14: Terapi Memori

Oleh: devi.ayu
Pagi di koridor rumah sakit terasa lebih menyesakkan daripada biasanya. Arumi melangkah dengan tas kulit besar yang terasa sangat berat, bukan karena isinya, melainkan karena beban moral yang tersimpan di dalamnya. Hari ini adalah hari ketiga ia menjalani peran sebagai "umpan memori". Di…
Readmore

Chapter 15: Fragmen Yang Pecah

Oleh: devi.ayu
Kegelapan di dalam kamar 702 terasa lebih pekat malam itu. Di atas ranjangnya, Davin terengah-engah. Keringat dingin membasahi bantalnya, dan matanya terpejam rapat, namun di balik kelopak mata itu, sebuah sinema masa lalu sedang diputar dengan paksa. Bukan sinema yang indah tentang tawa…
Readmore

Chapter 16: Perpisahan Yang Tak Terucap

Oleh: devi.ayu
Suasana di kamar 702 kini terasa jauh lebih tenang secara fisik, namun secara emosional, ada ketegangan baru yang mulai merayap di antara dinding-dindingnya yang putih bersih. Davin sudah mulai bisa duduk di kursi roda, dan perbannya pun sudah diganti dengan plester kecil di…
Readmore

Chapter 17: Mimpi Yang Terbeli

Oleh: devi.ayu
Ada jenis keheningan yang berbeda di kamar 702 malam itu. Bukan lagi keheningan yang mencekam seperti saat mesin ventilator mendesis, melainkan keheningan yang lembut, seperti selimut yang menyelimuti jiwa-jiwa yang sedang beristirahat. Davin tertidur lelap, namun kali ini nafasnya teratur. Tidak ada kerutan…
Readmore

Chapter 18: Langit di Balik Jendela

Oleh: devi.ayu
Tiga tahun telah berlalu sejak malam di rumah sakit yang mengubah segalanya. Jakarta sore itu baru saja dibasuh hujan, menyisakan aroma tanah basah yang segar dan pantulan jingga di atas aspal yang mulai mengering. Di sebuah gedung perkantoran modern di kawasan pusat bisnis,…
Readmore

Chapter 19: Persimpangan Takdir

Oleh: devi.ayu
Dunia ini sering kali terasa terlalu luas saat kita mencari seseorang, namun mendadak menjadi sempit ketika kita justru ingin melupakan. Jakarta, dengan segala hiruk-pikuk dan jutaan nyawa yang berdesakan di dalamnya, ternyata masih menyimpan selera humor yang sarkastis mengenai pertemuan. Enam bulan setelah…
Readmore

Chapter 20: Prolog

Oleh: devi.ayu
Prolog: Harga Sebuah Kesetiaan Di kota sekeras Jakarta, cinta sering kali bukan hanya tentang dua orang yang saling menatap, melainkan tentang siapa yang memegang sertifikat masa lalu. Arumi selalu percaya bahwa pengabdiannya selama empat tahun mendampingi Davin dari titik nol adalah "investasi" perasaan…
Readmore
error: Content is protected !!