Table of Contents
- Chapter 1: Airmata di Cangkir Kopi
- Chapter 2: Riuh Yang Sepi
- Chapter 3: Pertemuan Dua Dunia
- Chapter 4: Undangan Diatas Meja Kayu
- Chapter 5: Luka dan Hutang Budi
- Chapter 6: Ke Tanah Sunyi
- Chapter 7: Sayap Diatas Awan
- Chapter 8: Pertemuan Setelah Kembali
- Chapter 9: Perjamuan Tanpa Rasa
- Chapter 10: Pengejaran Di Balik Bayangan
Lates Chapters
Prolog
Prolog: Harga Sebuah Kesetiaan Di kota sekeras Jakarta, cinta sering kali bukan hanya tentang dua orang yang saling menatap, melainkan tentang siapa yang memegang sertifikat masa lalu. Arumi selalu percaya bahwa pengabdiannya selama empat tahun mendampingi Davin dari titik nol adalah "investasi" perasaan…
Persimpangan Takdir
Dunia ini sering kali terasa terlalu luas saat kita mencari seseorang, namun mendadak menjadi sempit ketika kita justru ingin melupakan. Jakarta, dengan segala hiruk-pikuk dan jutaan nyawa yang berdesakan di dalamnya, ternyata masih menyimpan selera humor yang sarkastis mengenai pertemuan. Enam bulan setelah…
Langit di Balik Jendela
Tiga tahun telah berlalu sejak malam di rumah sakit yang mengubah segalanya. Jakarta sore itu baru saja dibasuh hujan, menyisakan aroma tanah basah yang segar dan pantulan jingga di atas aspal yang mulai mengering. Di sebuah gedung perkantoran modern di kawasan pusat bisnis,…
Mimpi Yang Terbeli
Ada jenis keheningan yang berbeda di kamar 702 malam itu. Bukan lagi keheningan yang mencekam seperti saat mesin ventilator mendesis, melainkan keheningan yang lembut, seperti selimut yang menyelimuti jiwa-jiwa yang sedang beristirahat. Davin tertidur lelap, namun kali ini nafasnya teratur. Tidak ada kerutan…
Perpisahan Yang Tak Terucap
Suasana di kamar 702 kini terasa jauh lebih tenang secara fisik, namun secara emosional, ada ketegangan baru yang mulai merayap di antara dinding-dindingnya yang putih bersih. Davin sudah mulai bisa duduk di kursi roda, dan perbannya pun sudah diganti dengan plester kecil di…
Comments
20 Chapters
Chapter 1: Airmata di Cangkir Kopi
Aroma kafein yang biasanya menenangkan, sore itu terasa mencekik. Arumi menatap rintik hujan yang menghantam kaca jendela kafe “Bosque”, meninggalkan jejak air yang menyerupai air mata yang dipaksakan jatuh. Di luar, Jakarta sedang murung. Langit abu-abu seolah sengaja membungkus kota dengan kesedihan yang…
ReadmoreChapter 2: Riuh Yang Sepi
Gedung SD Negeri Mentari pagi itu tampak seperti pelangi yang tumpah. Suara teriakan anak-anak kelas satu yang berkejaran di lapangan, bunyi peluit guru olahraga yang melengking, hingga aroma minyak telon dan bedak bayi yang masih tertinggal di seragam mereka, biasanya menjadi asupan energi…
ReadmoreChapter 3: Pertemuan Dua Dunia
Langkah kaki Arumi terasa berat saat memasuki lobi sebuah hotel bintang lima di pusat kota. Tempat ini adalah kebalikan dari kafe “Buana” yang hangat atau sekolahnya yang riuh. Di sini, segalanya terasa dingin, angkuh, dan berkilauan. Lantai marmernya begitu mengkilap hingga Arumi bisa…
ReadmoreChapter 4: Undangan Diatas Meja Kayu
Waktu ternyata tidak berjalan secepat yang dijanjikan oleh kata-kata motivasi di kalender meja Arumi. Baginya, satu minggu sejak pengiriman pesan singkat itu terasa seperti satu dekade yang dijalani di bawah air. Sesak, sunyi, dan dingin. Ia sengaja mengubah rutinitasnya; berangkat lebih pagi agar…
ReadmoreChapter 5: Luka dan Hutang Budi
Dunia tidak berhenti berputar hanya karena satu hati hancur berkeping-keping. Itu adalah kenyataan paling kejam yang harus dihadapi Arumi. Di luar jendela kamar kosnya yang sempit, Jakarta masih sibuk dengan deru mesin dan klakson yang tak sabar, sementara di dalam sini, waktu seolah…
ReadmoreChapter 6: Ke Tanah Sunyi
Keputusan itu diambil saat Arumi menatap pantulan wajahnya di cermin kantor guru dan tidak lagi mengenali siapa yang ada di sana. Matanya mati, kulitnya kusam, dan senyumnya telah lama terkubur di bawah tumpukan undangan pertunangan yang disimpan di laci terdalam. Pak Hendra, dengan…
ReadmoreChapter 7: Sayap Diatas Awan
Keheningan desa ternyata tidak memberikan kesembuhan yang instan, melainkan sebuah ruang gema yang memperkeras suara-suara luka di kepala Arumi. Dua minggu di bawah asuhan kasih sayang Ibunya, Arumi menyadari satu hal, selama ia masih memijak bumi yang sama dengan Davin, selama ia masih…
ReadmoreChapter 8: Pertemuan Setelah Kembali
Lima tahun adalah waktu yang cukup bagi Jakarta untuk mengubah wajahnya dengan gedung-gedung yang lebih menjulang, namun bagi Arumi, lima tahun adalah waktu yang ia gunakan untuk membangun ulang seluruh fondasi jiwanya. Ia kembali ke tanah air bukan lagi sebagai gadis yang hancur,…
ReadmoreChapter 9: Perjamuan Tanpa Rasa
Malam itu, Jakarta bersolek dengan cahaya yang angkuh. Hotel Grand Melia menjadi panggung bagi sebuah perhelatan akbar, Indonesian Education Award. Karpet merah membentang luas, menyambut para tokoh penting, birokrat, dan pengusaha yang menjadi donatur utama dalam transformasi pendidikan nasional. Arumi turun dari mobil…
ReadmoreChapter 10: Pengejaran Di Balik Bayangan
Pertemuan di malam gala dinner itu bukannya menjadi titik akhir bagi Davin, justru menjadi sumbu yang membakar habis sisa-sisa kewarasannya. Sosok Arumi yang begitu tenang, profesional, dan yang paling menyakitkan sama sekali tidak terusik oleh kehadirannya, telah menciptakan lubang hitam di dada Davin.…
ReadmoreChapter 11: Benturan di Ujung Penyesalan
Davin menginjak pedal gas lebih dalam, membiarkan raungan mesin mobil mewakili jeritan di dalam dadanya yang tak mampu ia keluarkan. Jalanan Jakarta yang basah oleh sisa hujan sore tadi tampak seperti pita hitam yang licin, memantulkan lampu-lampu kota yang kini terlihat seperti garis-garis…
ReadmoreChapter 12: Di Ambang Batas Kesadaran
Bau disinfektan yang tajam seolah-olah menjadi aroma kematian yang menunggu di setiap sudut lorong Rumah Sakit Medika. Lampu neon yang berpijar pucat memantul di atas lantai porselen, menciptakan suasana yang kaku dan mencekam. Di balik pintu ganda bertuliskan “ICU Dilarang Masuk”, Davin sedang…
ReadmoreChapter 13: Ingatan Yang Tertinggal di Masa Lalu
Dunia medis menyebutnya sebagai amnesia disosiatif pasca-trauma, sebuah mekanisme pertahanan otak yang memilih untuk mengunci memori yang terlalu menyakitkan dan kembali ke zona waktu yang dianggap paling aman. Namun bagi Sarah, kondisi ini adalah kutukan yang lebih perih daripada kematian itu sendiri. Setelah…
ReadmoreChapter 14: Terapi Memori
Pagi di koridor rumah sakit terasa lebih menyesakkan daripada biasanya. Arumi melangkah dengan tas kulit besar yang terasa sangat berat, bukan karena isinya, melainkan karena beban moral yang tersimpan di dalamnya. Hari ini adalah hari ketiga ia menjalani peran sebagai "umpan memori". Di…
ReadmoreChapter 15: Fragmen Yang Pecah
Kegelapan di dalam kamar 702 terasa lebih pekat malam itu. Di atas ranjangnya, Davin terengah-engah. Keringat dingin membasahi bantalnya, dan matanya terpejam rapat, namun di balik kelopak mata itu, sebuah sinema masa lalu sedang diputar dengan paksa. Bukan sinema yang indah tentang tawa…
ReadmoreChapter 16: Perpisahan Yang Tak Terucap
Suasana di kamar 702 kini terasa jauh lebih tenang secara fisik, namun secara emosional, ada ketegangan baru yang mulai merayap di antara dinding-dindingnya yang putih bersih. Davin sudah mulai bisa duduk di kursi roda, dan perbannya pun sudah diganti dengan plester kecil di…
ReadmoreChapter 17: Mimpi Yang Terbeli
Ada jenis keheningan yang berbeda di kamar 702 malam itu. Bukan lagi keheningan yang mencekam seperti saat mesin ventilator mendesis, melainkan keheningan yang lembut, seperti selimut yang menyelimuti jiwa-jiwa yang sedang beristirahat. Davin tertidur lelap, namun kali ini nafasnya teratur. Tidak ada kerutan…
ReadmoreChapter 18: Langit di Balik Jendela
Tiga tahun telah berlalu sejak malam di rumah sakit yang mengubah segalanya. Jakarta sore itu baru saja dibasuh hujan, menyisakan aroma tanah basah yang segar dan pantulan jingga di atas aspal yang mulai mengering. Di sebuah gedung perkantoran modern di kawasan pusat bisnis,…
ReadmoreChapter 19: Persimpangan Takdir
Dunia ini sering kali terasa terlalu luas saat kita mencari seseorang, namun mendadak menjadi sempit ketika kita justru ingin melupakan. Jakarta, dengan segala hiruk-pikuk dan jutaan nyawa yang berdesakan di dalamnya, ternyata masih menyimpan selera humor yang sarkastis mengenai pertemuan. Enam bulan setelah…
ReadmoreChapter 20: Prolog
Prolog: Harga Sebuah Kesetiaan Di kota sekeras Jakarta, cinta sering kali bukan hanya tentang dua orang yang saling menatap, melainkan tentang siapa yang memegang sertifikat masa lalu. Arumi selalu percaya bahwa pengabdiannya selama empat tahun mendampingi Davin dari titik nol adalah "investasi" perasaan…
Readmore





