Chapter 2

PRIA SENJA

By: Mrs Dream Writer
75 Readers 4 Chapters 9.9

Romance

Di antara wangi rambut yang mengingatkan pada masa lalu, dan tatapan mata yang bicara lebih dari ribuan kata, dua insan yang sudah menikah saling jatuh cinta pada saat yang paling keliru. Aura Li dan Pram Satya bukan pencari cinta, mereka hanya korban dari rumah tangga yang…
Read Share

Table of Contents

Lates Chapters

Darah, Sabuk, dan Sisa Harapan

  BAB 4   Langit Indramayu pagi itu menghitam, seolah turut menanggung beban yang Aura simpan di tubuhnya yang rapuh. Pram berdiri di depan meja resepsionis rumah sakit, mengurus laporan insiden yang melibatkan Haito. Ia mengaku sebagai saudara Aura, walau petugas curiga pada…

Jogjakarta, dan Sepucuk Pesan yang Tak Pernah Terkirim

Pagi masih sangat sunyi, dimana semburat merah keemasan menyapu langit di luar sana. Mataku terbuka dari lelap yang tak nyenyak, dan langsung menemukan sepasang manik yang mengunci rapat.   BAB 3 Hujan turun perlahan di Jogjakarta. Tidak deras, hanya gerimis yang menetes pelan-pelan…

Wangi Aura

”Jangan Sentuh Luka yang Belum Kering” (dari sudut pandang Aura)   Di mana tempat bagi hati yang tersesat? Di antara dinding-dinding asing dan nama-nama baru, aku melangkah, membawa beban yang tak terlihat. Bukan karena ambisi, tapi karena ingin mencari jawaban dari kehampaan ini.…

Pram yang Datang Tanpa Salam

(Dari sudut pandang Aura) Pernahkah merasa kehilangan?  Pernahkah merasakan sentuhan yang sama persis tapi dari orang berbeda dan menatap legam netra yang sama persis tapi dari pemilik yang berbeda?  Mustahil. Jawaban itu pasti langsung menyela.  Tapi itulah yang terjadi setelah 18 tahun panjang…

Comments

Tinggalkan komentar

You May Also Like

eli.budianto
dwi.fitriani
4 Chapters

Chapter 1: Pram yang Datang Tanpa Salam

Oleh: Mrs Dream Writer
(Dari sudut pandang Aura) Pernahkah merasa kehilangan?  Pernahkah merasakan sentuhan yang sama persis tapi dari orang berbeda dan menatap legam netra yang sama persis tapi dari pemilik yang berbeda?  Mustahil. Jawaban itu pasti langsung menyela.  Tapi itulah yang terjadi setelah 18 tahun panjang…
Readmore

Chapter 2: Wangi Aura

Oleh: Mrs Dream Writer
”Jangan Sentuh Luka yang Belum Kering” (dari sudut pandang Aura)   Di mana tempat bagi hati yang tersesat? Di antara dinding-dinding asing dan nama-nama baru, aku melangkah, membawa beban yang tak terlihat. Bukan karena ambisi, tapi karena ingin mencari jawaban dari kehampaan ini.…
Readmore

Chapter 3: Jogjakarta, dan Sepucuk Pesan yang Tak Pernah Terkirim

Oleh: Mrs Dream Writer
Pagi masih sangat sunyi, dimana semburat merah keemasan menyapu langit di luar sana. Mataku terbuka dari lelap yang tak nyenyak, dan langsung menemukan sepasang manik yang mengunci rapat.   BAB 3 Hujan turun perlahan di Jogjakarta. Tidak deras, hanya gerimis yang menetes pelan-pelan…
Readmore

Chapter 4: Darah, Sabuk, dan Sisa Harapan

Oleh: Mrs Dream Writer
  BAB 4   Langit Indramayu pagi itu menghitam, seolah turut menanggung beban yang Aura simpan di tubuhnya yang rapuh. Pram berdiri di depan meja resepsionis rumah sakit, mengurus laporan insiden yang melibatkan Haito. Ia mengaku sebagai saudara Aura, walau petugas curiga pada…
Readmore
error: Content is protected !!