Table of Contents
Lates Chapters
Darah, Sabuk, dan Sisa Harapan
BAB 4 Langit Indramayu pagi itu menghitam, seolah turut menanggung beban yang Aura simpan di tubuhnya yang rapuh. Pram berdiri di depan meja resepsionis rumah sakit, mengurus laporan insiden yang melibatkan Haito. Ia mengaku sebagai saudara Aura, walau petugas curiga pada…
Jogjakarta, dan Sepucuk Pesan yang Tak Pernah Terkirim
Pagi masih sangat sunyi, dimana semburat merah keemasan menyapu langit di luar sana. Mataku terbuka dari lelap yang tak nyenyak, dan langsung menemukan sepasang manik yang mengunci rapat. BAB 3 Hujan turun perlahan di Jogjakarta. Tidak deras, hanya gerimis yang menetes pelan-pelan…
Wangi Aura
”Jangan Sentuh Luka yang Belum Kering” (dari sudut pandang Aura) Di mana tempat bagi hati yang tersesat? Di antara dinding-dinding asing dan nama-nama baru, aku melangkah, membawa beban yang tak terlihat. Bukan karena ambisi, tapi karena ingin mencari jawaban dari kehampaan ini.…
Pram yang Datang Tanpa Salam
(Dari sudut pandang Aura) Pernahkah merasa kehilangan? Pernahkah merasakan sentuhan yang sama persis tapi dari orang berbeda dan menatap legam netra yang sama persis tapi dari pemilik yang berbeda? Mustahil. Jawaban itu pasti langsung menyela. Tapi itulah yang terjadi setelah 18 tahun panjang…
Comments
4 Chapters
Chapter 1: Pram yang Datang Tanpa Salam
(Dari sudut pandang Aura) Pernahkah merasa kehilangan? Pernahkah merasakan sentuhan yang sama persis tapi dari orang berbeda dan menatap legam netra yang sama persis tapi dari pemilik yang berbeda? Mustahil. Jawaban itu pasti langsung menyela. Tapi itulah yang terjadi setelah 18 tahun panjang…
ReadmoreChapter 2: Wangi Aura
”Jangan Sentuh Luka yang Belum Kering” (dari sudut pandang Aura) Di mana tempat bagi hati yang tersesat? Di antara dinding-dinding asing dan nama-nama baru, aku melangkah, membawa beban yang tak terlihat. Bukan karena ambisi, tapi karena ingin mencari jawaban dari kehampaan ini.…
ReadmoreChapter 3: Jogjakarta, dan Sepucuk Pesan yang Tak Pernah Terkirim
Pagi masih sangat sunyi, dimana semburat merah keemasan menyapu langit di luar sana. Mataku terbuka dari lelap yang tak nyenyak, dan langsung menemukan sepasang manik yang mengunci rapat. BAB 3 Hujan turun perlahan di Jogjakarta. Tidak deras, hanya gerimis yang menetes pelan-pelan…
ReadmoreChapter 4: Darah, Sabuk, dan Sisa Harapan
BAB 4 Langit Indramayu pagi itu menghitam, seolah turut menanggung beban yang Aura simpan di tubuhnya yang rapuh. Pram berdiri di depan meja resepsionis rumah sakit, mengurus laporan insiden yang melibatkan Haito. Ia mengaku sebagai saudara Aura, walau petugas curiga pada…
Readmore





