Table of Contents
- Chapter 71: BAB 70 – PICK A POE
- Chapter 72: BAB 71 – MENCARI CARA
- Chapter 73: BAB 72 – FAKTA PAHIT
- Chapter 74: BAB 73 – ADA APA DENGAN DEWI
- Chapter 75: BAB 74 – PROBLEMA BARU
- Chapter 76: BAB 75 – NIAT TERSEMBUNYI
- Chapter 77: BAB 76 – KECURIGAAN SANG IBU
- Chapter 78: BAB 77 – MULAI TERUNGKAP
- Chapter 79: BAB 78 – TERBONGKAR SEMUA
- Chapter 80: BAB 79 – MALAIKAT KECILKU
Lates Chapters
BAB 92 – PABRIK ANAK
“Heii, kamu Vanka, ‘kan? Pacarnya Pak Angga?” tanya Tsabitha sambil menyeringai senang, Moreno juga ikutan menoleh ke pelayan tersebut. Pelayan perempuan itu tampak malu-malu dan menunduk di depan Tsabitha dan Moreno. “Iya, Bu. Benar. Saya Vanka,” ujarnya lirih. “Nah, bener, ‘kan? Mas, ini…
BAB 91 – KRITIS
Bohong! Bohong! Semua yang aku bilang ini benar adanya, aku nggak bohong, kamu itu yang bohong!” Angga menimpali ucapan Dewi dengan nada tinggi. Membuat Moreno dan Tsabitha jadi semakin tidak nyaman. “Jangan dengarkan ucapan dia, Pak! Bapak nggak tahu ‘kan bagaimana Angga sebenarnya?…
BAB 90 – CANGGUNG
“Nah, itu Dewi sudah datang!” sapa Moreno riang sambil menunjuk ke Dewi saat perempuan itu hanya berdiri mematung dan terdiam di tempatnya. “Ayoo, sini, Wie! Silahkan duduk!” Perempuan itu hanya menyeringai kecil dengan ekspresi wajahnya yang canggung dan kaku, berubah 180 derajat, tidak…
BAB 89 – SUARA ITU
Sementara itu di ruang kerja Moreno, Tsabitha segera menghampiri suaminya yang masih berdiri di depan meja kerjanya yang lebar. “Sayang, ini berkas yang kamu tinggal tadi di rumah!” ujarnya sambil memberikan berkas itu dan menaruh tasnya di atas meja. Moreno menerimanya sambil tersenyum…
BAB 88 – AKTIFITAS PAGI
“Jadi begini, Pak. Saya tahu kalau saat ini Dewi ada di rumah Pak Reno. Farah juga ada di sana, karena Dewi yang bilang ke saya.” Sebelah alis Moreno kembali naik ke atas, laki-laki itu tampak heran karena berkali-kali Dewi menangis meminta perlindungan padanya…
Comments
20 Chapters
Chapter 1: prolog
"Para penumpang yang terhormat, selamat datang! Sesaat lagi kita akan terbang menuju ke Jakarta Indonesia. Kami persilahkan kepada anda untuk menegakan sandaran kursi, mengencangkan sabuk pengaman, karena sebentar lagi kita akan take off. Atas nama kapten Gunadi dan seluruh awak pesawat yang bertugas…
ReadmoreChapter 2: BAB 1 – Miss Medusa
Malam ini hujan turun rintik-rintik, Tsabitha termangu menatap buliran air yang mengalir turun di jendela kamar. Tubuhnya terasa berat dan kaku, enggan rasanya beralih dari kamar yang selalu memberikan kehangatan selama kurang lebih 20 tahun ini. Kamar yang selalu menjadi curahan hatinya di kala…
ReadmoreChapter 3: BAB 2 – Sacrifice
Setengah jam sudah Tsabitha menunggu Moreno yang sedang menemui Miss Medusa di ruangannya. Gadis itu jadi gelisah dan cemas, memikirkan apa yang sedang dibicarakan sama teman barunya dengan Miss Medusa di dalam. Sedari tadi dia hanya bisa bolak-balik sambil sesekali mengintip melalui jendela…
ReadmoreChapter 4: BAB 3 – Cinta Yang Salah
Malam itu hujan masih turun cukup deras di luar sana, sementara suara riuhnya pesta masih terdengar samar-samar di bawah, tiba-tiba pintu kamar terkuak kembali, dilihatnya Shanti sedang berdiri mematung sambil memegang handle pintu kamar, menatapnya seraya bertanya, “Bitha, kamu nggak papa, Sayang?" Bagaimana…
ReadmoreChapter 5: BAB 4 – Ikhlas
“Sejak awal, dua tahun yang lalu, kedatanganmu ke Indonesia memang sudah direncanakan, selain untuk urusan bisnis keluarga kita.” Tsabitha akhirnya mulai memberanikan diri untuk mengurai permasalahan mereka satu per satu. “Aku tahu itu! Aku kembali ke Indonesia memang untuk menjalankan bisnis Ayah yang…
ReadmoreChapter 6: BAB 5 – Sebuah Syarat
“Kita sudah sampai, kamu bisa pulang sekarang! Selamat malam!” ujar Moreno dingin. Tidak biasanya laki-laki ini berkata seperti itu saat mengantar Tsabitha pulang ke rumah. Namun, gadis itu sendiri juga enggan untuk mengeluh atas sikapnya yang seperti ini, padahal biasanya dia bakalan ngambek…
ReadmoreChapter 7: BAB 6 – Pertemuan Kedua
Pagi itu Tsabitha gelisah, sedari tadi kerjaannya hanya bolak-balik saja sambil memikirkan sesuatu. Gadis itu bergidik ngeri kalau teringat rencana Moreno yang akan menceraikan kakaknya setelah satu tahun pernikahan mereka. Tsabitha benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Bella nanti bila hari itu tiba.…
ReadmoreChapter 8: BAB 7 – Cemburu
"Kenapa kamu kerja di sini sih, Bith? Apa kiriman uang dari Bapak nggak cukup?” tanya Bella heran, saat Tsabitha sudah selesai bekerja dan ikut bergabung bersama kakak dan kakak iparnya. Malam itu Bella dan Moreno masih nongkrong di café Le Marais, Les Philosophes,…
ReadmoreChapter 9: BAB 8 – Hang Out
“Selamat pagi, sayang … sudah siap?” teriak Mabella, pagi itu, saat Tsabitha membuka pintu apartemen. “Iya, sudah!” balas gadis itu malas sambil berbalik, menuju ke dapur. “Kakak, sudah sarapan?” tanyanya sambil menaruh satu telor ceplok di piring. “Aku bikin sandwich, Kakak mau?” “Aku…
ReadmoreChapter 10: BAB 9 – Meradang
"Here we are!" ujar Moreno setelah mereka tiba di Le Queen, sebuah tempat hiburan malam yang merupakan percampuran banyak gaya modern dengan skala internasional di Paris. Dari pelataran parkir, sayup-sayup Tsabitha sudah bisa mendengar suara dentuman lagu irama house music yang menghentak jantungnya.…
ReadmoreChapter 11: BAB 10 – Terbuai
Saat itu mobil yang mereka tumpangi sudah membelah jalan raya. Sepanjang perjalanan, Mabella tampak mendominasi percakapan di antara mereka. Perempuan itu menceritakan betapa senangnya malam ini bisa berdansa berdua sama Moreno, sambil sesekali mencium pipi laki-laki itu yang fokus mengemudikan mobil lalu merebahkan…
ReadmoreChapter 12: BAB 11 – Konspirasi Hati
Matahari sudah meninggi ketika Moreno mengerjap-ngerjapkan matanya karena silau yang menerpa. Laki-laki itu terbangun dari tidur lelapnya setelah semalaman bercinta, menyalurkan hasrat yang lama terpendam bersama sang kekasih. Senyuman manis tampak menghias wajahnya yang tampan sambil melirik ke arah gadis itu yang masih…
ReadmoreChapter 13: BAB 12 – Penggoda
Siang itu selesai menikmati makan siang di hotel, Moreno, Mabella dan Tsabitha segera melesat ke pusat perbelanjaan yang sangat terkenal di kota Paris, Galeries Lafayette. Sebuah tempat belanja kalangan kelas atas di dunia. Bentuk interiornya yang megah dan berkelas membuat Mall ini memang…
ReadmoreChapter 14: BAB 13 – Addict
“Sayang, besok jadi ‘kan ke Menara Eiffel?” tanya Mabella sambil membersihkan wajah di depan cermin, setibanya di kamar hotel, setelah selesai menikmati makan malam di restaurant dan puas ngobrol banyak hal. Saat itu baru pukul 11 malam. Moreno menghela napas dalam sambil duduk…
ReadmoreChapter 15: BAB 14 – Love Is Blind
Di kampus … “Apa kamu mau nikah?” tanya Havika setengah berteriak, saat Tsabitha menceritakan tentang niatnya yang ingin menikah dengan Moreno. Kedua bola mata Tsabitha mendelik. “Vika! Jangan teriak-teriak gitu, malu tahu! Gak enak didengerin banyak orang! Lagian baru kamu yang tahu tentang…
ReadmoreChapter 16: BAB 15 – Perjalanan
"Mister Moreno ada di kamar 1001, Nona bisa langsung ke kamarnya, Mister Reno sudah menunggu di atas. Nanti biar kopernya saya antar ke atas," ujar sopir Moreno yang asli dari Jerman, tapi faseh berbahasa Indonesia dengan logatnya yang cadel. Malam itu, Tsabitha dijemput…
ReadmoreChapter 17: BAB 16 – Penthouse
Turun dari pesawat, mereka bertiga segera meluncur ke hotel President Wilson yang terletak di jantung kota Jenewa, saat itu sudah hampir jam dua pagi. Sebagai kota terpadat kedua di Swiss setelah Zurich, Jenewa merupakan kota metropolis kecil. Namun, terpadat di Romandy, bagian dari…
ReadmoreChapter 18: BAB 17 – Amazing
Pagi itu Tsabitha dan Havika kembali terpukau oleh keindahan alam yang terpampang nyata di depan mereka, ketika terbangun dari tidur. Keduanya kembali terkagum-kagum melihat keindahan kota kecil Jenewa. Buat mereka berdua yang baru pertama kali ke Eropa, Jenewa di akhir musim semi sangatlah berkesan…
ReadmoreChapter 19: BAB 18 – The Day
Siang itu semua orang sudah bersiap menanti kehadiran Tsabitha, sang pengantin perempuan yang masih bersiap di dalam kamar. Sementara ruang tengah utama penthouse yang awalnya hanya terdapat sofa-sofa besar, kini telah disulap menjadi sebuah area pernikahan yang menarik. Moreno pun puas dengan hasil dekorasi dari team…
ReadmoreChapter 20: BAB 19 – Special Dining
"Attention, please!" ujar Evan sambil berdiri dan mengangkat gelas winenya ke atas. Semua orang yang tadinya ngobrol satu sama lain sambil menikmati makanan, tiba-tiba terdiam ketika Evan berdiri dan meminta perhatian mereka. "Thank you very much. As the younger brother of Moreno Sebastian Darmais,…
Readmore





