Pulang dari kerjanya di sebuah cafe yang ada di downtown Brooklyn, seperti biasa Bella mengemudikan sepedanya dengan riang sepanjang perjalanan ke apartemen. Bayangan kasurnya yang empuk dan nyaman sudah menari-nari dalam benaknya. Namun, bayangan indah itu seketika sirna saat tiba-tiba ada sebuah mobil sedan mewah warna hitam yang muncul dari sebuah gang di depannya. Bella yang terkejut buru-buru mengerem, tapi sayangnya dia terlambat dan sepeda pun menabrak samping mobil sedan itu.
Bella terjatuh dan tertimpa sepedanya sendiri. Namun bukan sakit yang dia rasakan, melainkan amarah yang seketika menggelegak dalam dada. Dia menyingkirkan sepeda dari atas badannya, kemudian menghampiri pria yang baru muncul dari dalam mobil.
“Hei! Apa kau tidak punya mata?!” Si pria bersetelan jas hitam rapi mendorong bahu Bella kasar.
“Kau yang tidak punya mata. Jelas-jelas ini jalan lintas sepeda.” Bella tak mau kalah. Dia tahu dirinya berada di jalur yang benar. Namun pria itu juga tak mau kalah. Bella terlibat perdebatan sengit dengan pria itu.
“Lihat sepedaku rusak akibat kebodohanmu, Sir!”
“Apa kau tidak lihat mobilnya penyok?” Si pria menunjuk bagian samping mobil. “Biaya perbaikannya seperti gajimu dalam setahun.”
“Sombong sekali. Mentang-mentang orang kaya.”
“Ini mobil bosku dan kau dalam masalah besar, Nona.”
Bella mencebik. “Mana bosmu? Suruh dia ganti rugi sepedaku,” tantang Bella. Perdebatan Bella dan pria itu semakin memanas dan sepertinya tidak menemukan titik temu. Hingga seseorang di kursi belakang mobil menurunkan kaca mobil dan memanggil nama si pria, Pablo. Seseorang yang sejak tadi memperhatikan Bella dari dalam.
“Oh, kau bosnya?” Bella mendekati pria berkacamata hitam yang duduk di kursi belakang. Penampilannya seperti bos-bos perusahaan besar yang ada di Brooklyn. Namun, dia masih terlihat muda, meskipun pasti jauh lebih tua dari Bella. “Sopirmu telah merusak sepedaku. Kau harus ganti rugi sekarang juga!”
Si pria yang dipanggil dengan Pablo seketika mendekat pada Bella. “Hei! Jaga bicaramu, Nona. Kau tidak tahu sedang berbicara dengan siapa.”
“Ow, memangnya aku sedang bicara dengan siapa? Presiden Amerika?” ejek Bella, membuat Pablo kembali naik pitam. Bella memang tidak pernah mengenal takut apa pun jika dia yakin dia berada di jalan yang benar.
Pria berkacamata hitam di dalam mobil tersenyum miring. Dari balik kacamata hitamnya, dia meneliti wajah manis Bella dengan seksama. Kemudian, dia mengangkat tangannya memberi isyarat Pablo untuk menghentikan perdebatannya dengan Bella. “Berapa yang kau minta?” Suaranya begitu tenang tanpa terintimidasi oleh Bella yang tampak sudah dikuasai rasa kesal. “Apa ini cukup?” Pria itu mengambil tiga lembar seratusan dollar dari dalam dompetnya, dan mengulurkannya pada Bella.
Banyak sekali, pikir Bella. “Seratus dollar saja,” sahutnya masih dengan suara ketus.
“Ambil saja semuanya. Sepertinya kau tipe orang yang butuh uang untuk bertahan hidup.”
Sombong sekali, gerutu Bella. Sebenarnya, pria itu benar. Gaji perbulannya hampir tidak cukup untuk kebutuhannya sehari-hari. Namun, tentu saja dia gengsi untuk menerima semua uang itu meskipun dia butuh sekali.
“Cepat ambil. Aku bukan orang yang senang berbasa-basi.” Ragu-ragu Bella menerima lembaran dollar itu dari tangan si pria. Kemudian, kaca mobil kembali ditutup hingga wajah pria itu menghilang di baliknya.
“Bosku sangat baik hati. Uang yang kau terima bahkan lebih mahal dari harga sepedamu, Nona.” Pablo menyeletuk sebelum masuk ke dalam mobil lalu mengemudikannnya. Bella mendesis sebal. Sopir yang sombong, sama seperti bosnya. Tapi, dia girang bukan main mendapatkan rezeki nomplok. Bella tidak kebingungan lagi membayar sewa apartemen dan bisa makan enak dengan uang pemberian pria yang cukup misterius itu.
Bella terpaksa menuntun sepedanya ke sebuah bengkel langganan yang ada di dekat apartemennya. Sebenarnya itu bukan bengkel sepeda, melainkan bengkel mobil. Namun karena sahabatnya Darrell bekerja di sana, maka Bella biasa meminta bantuannya untuk memperbaiki setiap kali sepedanya rusak.
“Kali ini apa yang terjadi?” tanya pemuda berbalut seragam kerja biru tua yang terdapat bekas oli di mana-mana.
“Aku menabrak sebuah mobil. Tapi, dia yang salah karena melintas di jalur sepeda.”
“Lalu?”
“Lalu aku meminta ganti rugi, dan pemilik mobil itu memberiku uang tiga ratus dollar dengan mudahnya.” Bella bercerita antusias.
“Kau sungguh beruntung, Bella. Tapi, kau harus berhati-hati. Untung saja kau tidak apa-apa setelah menabrak mobil itu.” Darrel memeriksa keseluruhan sosok Bella dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Ya, kau masih utuh,” ucapnya seraya mengacak rambut panjang Bella. Gadis itu tertawa renyah.
Setelah menitipkan sepeda di bengkel tempat Darrell bekerja, Bella berjalan kaki menuju apartememnya. Sebuah bangunan tingkat tiga yang kusam dan sedikit tidak terawat. Terletak di kawasan miskin Brooklyn. Hanya apartemen ini yang mampu Bella jangkau biaya sewanya. Itu saja terkadang dia menunggak karena gajinya hampir tidak cukup. Dia harus bekerja ekstra untuk membayar biaya sewa apartemen. Land lady-nya seorang wanita paruh baya berbadan tambun yang sangat cerewet. Tak jarang Bella mendapat omelan yang menyakitkan setiap kali dia terlambat membayar sewa. Namun kali ini, Bella dengan senang hati menemuinya dan memberikan uang sewa untuk bulan ini meskipun belum masuk jatuh tempo.
“Tumben kau disiplin? Biasanya kau selalu terlambat membayar sewa. Apa kau jual diri untuk mendapatkan uang lebih cepat?” Lihatlah, tidak ada yang bagus darinya di mata wanita bernama Brenda itu. Bella hanya memutar bola mata mendengar pujian sekaligus tuduhan Brenda. Dia tinggalkan wanita itu dan segera masuk ke dalam apartemennya yang sempit.
Di tempat lain, di dalam mobil mewah yang dikendarai oleh Pablo, Marco tersenyum simpul mengingat gadis bersepeda yang beberapa saat lalu bertengkar dengan Pablo. Sopirnya benar, gadis itu tidak tahu sedang bicara dengan siapa. Jika gadis itu tahu siapa dirinya, mungkin dia akan melupakan sepedanya yang rusak dan tidak akan meminta ganti rugi. Dia adalah penguasa segala bentuk bisnis ilegal di Brooklyn. Pemimpin kartel Dark Hunter yang disegani semua kalangan. Dia dikenal sebagai seorang pria yang keras, dingin, dan kejam dalam melakukan tindakan-tindakan yang seringkali merugikan banyak orang.
Namun, gadis mungil berwajah manis itu sungguh menarik perhatiannya. Sepertinya dia tidak takut apa pun. Marco menyukai tantangan dan gadis itu sepertinya adalah target yang tepat untuk dia jadikan bahan kesenangannya.
“Pablo, cari tahu siapa gadis itu. Namanya, di mana dia tinggal, dan di mana dia bekerja,” titahnya pada sang supir.
“Baik, Tuan Vilante.” Meskipun sedikit heran, tapi Pablo tidak akan menanyakan maksud bosnya itu. Tugasnya adalah mengatakan iya atas segala perintah Marco Vilante.