Petang itu keduanya kembali ke kediaman mereka di apartemen sederhana. Flo terlihat tengah menghitung sejumlah koin yang ia punya, sementara Alisa hanya berbaring di tempat tidurnya tanpa merangkum kembali informasi apa yang ia dapatkan tadi siang.
Flo yang melihat hal tersebut sudah menduga bahwa gadis itu kembali murung setelah mendengar apa yang terjadi di Karelia. Ia pun menghampirinya.
“Ehem…, kau tidak merangkum lagi, Alisa?”
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini dia tidak mau menjawab. Flo berusaha menghiburnya.
“Kau masih memikirkan apa yang terjadi pada Frenska dan yang lainnya ‘kan?”
Alisa nampak sedikit mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Huh, sudah kuduga. Kau terlalu banyak pikiran, Alisa.”
Flo lalu duduk di kasur tempat Alisa berbaring. Perempuan itu terlihat mengusap-usap rambut Alisa.
“Tidak jadi masalah kalau kau memang mengkhawatirkan teman-temanmu. Tapi kau juga harus memperhatikan dirimu sendiri. Jangan sampai dirimu jatuh sakit karena terlalu banyak pikiran,” ucap Flo.
“Hmm…”
Alisa kembali mengangguk dengan sedikit bersuara. Kali ini kondisi hatinya benar-benar sulit untuk dihibur.
Flo menghela napas sambil menengok seisi kamar itu. Dari ujung pintu hingga ujung jendela, ia memperhatikannya sambil sedikit melamun. Perempuan itu lalu memperhatikan sebuah kalender yang terpasang di dinding kamar. Tak lama kemudian, ia tiba-tiba terkejut melihat tanggal sekarang.
“Eh, iya. Aku lupa.”
Dirinya sontak berdiri dari kasur itu.
“Malam ini puncak festival musim panas. Aduh, kok aku bisa lupa ya?” ujarnya sambil menggaruk-garuk rambutnya.
Mengingat hal tersebut, Floria berusaha untuk membangunkan Alisa yang termenung di tempat tidurnya itu.
“Alisa, ayo bangun. Kita harus siap-siap ke festival musim panas. Pasti banyak hal yang menarik disana. Ayolah.”
“Kau saja yang pergi, aku ingin tidur disini saja,” jawab Alisa yang tengah termenung itu.
Ekspresi Alisa yang tak bersemangat itu membuat Flo kesal. Ia pun tak punya pilihan lain.
“Hadeh, Kau jangan merenung terus dong, A-LI-SA!!”
“EHH!??”
Floria menarik kaki Alisa hingga ia keluar dari tempat tidurnya. Hal itu sontak membuatnya terkejut.
“Ihh…, kau kenapa sih, Flo?”
“Ada festival nanti malam. Kau bisa mendapatkan banyak informasi menarik disana. Jangan sia-siakan hal itu, Alisa,” kata Flo sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
“Tapi…”
“Lagipula aku tidak mau berangkat sendirian kesana. Kalau kau tak mau menemaniku, aku tidak mau membantu penelitianmu lagi,” ucap Flo sambil cemberut.
Mendengar ucapan itu, Alisa pun akhirnya mau menemaninya.
“Hmm…, baiklah.”
Flo tersenyum mendengarnya.
“Nah, begitu dong. Jangan melamun terus. Ayo kita pergi.”
***
Mentari telah terbenam di ufuk barat. Walaupun hari sudah malam, jalanan kota justru semakin ramai. Banyak masyarakat berlalu lalang di jalanan yang berhiaskan lampu lampion berbagai warna tersebut.
Di sebuah toko pakaian, Floria membelikan sebuah baju pada Alisa. Ia pun menyuruh gadis Karelia itu untuk mencobanya. Tapi ada satu hal yang membuatnya gugup.
“F-Flo, apakah aku harus memakai ini?”
“Tentu saja. Itu pakaian tradisional wanita suku Higashi. Kau terlihat sangat cantik saat memakainya,” jawab Floria.
“Ta-tapi…”
“Sudahlah, nanti kau juga terbiasa kok. Aku juga pakai itu di festival nanti,” cakap temannya itu.
Pakaian tradisional yang dikenakan Alisa itu berupa gamis panjang yang berlengan lebar dengan bagian bawahnya hampir menutupi seluruh kaki. Sebuah selempang lebar diikatkan di bagian perutnya. Pakaian tradisional wanita Higashi itu berwarna merah muda dengan corak bunga.
Sementara itu, Floria juga mengenakan pakaian serupa, namun dengan warna biru. Pakaian tradisional yang mereka kenakan membuat mereka nampak cantik dan serasi hingga sang penjaga toko terkesima melihatnya.
“Wah…, kirei. Kalian terlihat serasi saat pakai itu,” puji sang penjaga toko.
“Terima kasih, Nyonya. Kami beli ini saja,” ujar Flo sambil memberikan sejumlah koin padanya.
“Terima kasih juga. Selamat bersenang-senang di festival musim panas,” ucap penjaga toko itu.
Malam semakin larut, namun kondisi di luar malah semakin ramai. Floria pun mengajak Alisa untuk pergi ke Taman Tanabata yang menjadi salah satu pusat perkumpulan wisatawan selama festival berlangsung.
“Wah, ramainya.”
Alisa begitu terkesima melihat ramainya masyarakat yang berkunjung ke taman itu. Sebagian besar dari mereka mengenakan pakaian tradisional suku Higashi seperti yang dikenakannya bersama Flo. Sejumlah stand makanan tradisional juga terlihat di sepanjang jalan.
Floria mentraktir Alisa sebuah permen apel seharga 2 koin perak. Itu adalah salah satu cemilan khas yang biasa dinikmati masyarakat Higashi saat pelaksanaan festival.
“Mmm…, enak sekali. Terima kasih, Flo,” ucap Alisa sambil menikmati permen tersebut. Floria pun tersenyum padanya.
Mereka berjalan-jalan di sekitar taman itu. Pohon-pohon cherry blossom yang bermekaran serta lampu-lampu hias seolah menemani kunjungan mereka di tempat itu. Selain itu ada juga sejumlah atraksi tarian dan musik tradisional untuk menghibur para pengunjung. Kekhawatiran yang dirasakan Alisa sore tadi seolah hilang karena beragam hiburan yang tersedia disini.
Setelah cukup lelah berjalan-jalan menikmati festival, mereka berdua pun memutuskan untuk duduk bersama di sebuah bangku taman yang langsung menghadap ke pusat kota. Alisa benar-benar menikmati perayaan tersebut bersama Floria.
“Hei, Flo.”
“Iya, Alisa?”
“Terima kasih ya karena telah mengajakku kesini. Aku sudah cukup mendingan sekarang,” ucap gadis Karelia itu.
“Aku ‘kan sudah bilang. Jangan terlalu banyak pikiran. Sekali-kali kita refreshing dulu seperti ini,” jawab Flo.
“Kau benar. Flo.”
Mereka berdua memandangi kota yang berhiaskan gemerlap cahaya lampu tersebut. Melihat keindahan Kota Kaguyashima membuat Alisa ingin mengungapkan sesuatu padanya.
“Hei, Flo.”
“Iya?”
“Kota yang indah, festival yang ramai, semuanya ini sangat menyenangkan ya.”
Flo mengangguk.
“Tapi sayangnya tidak semua orang bisa menikmati semua ini. Orang-orang Karelia sana masih banyak yang takut untuk kesini, padahal masyarakat sini ramah terhadap orang-orang,” ungkap Alisa.
“Entahlah. Aku juga kasihan pada mereka,” kata perempuan Vitania itu.
Alisa lalu menoleh pada temannya itu.
“Ah, seandainya Karelia dan Vitania berdamai, aku yakin pasti festival disini bakalan jauh lebih ramai. Tidak bisa dibayangkan betapa senangnya mereka menikmati acara ini.”
“Hmm…, kau benar, Alisa.”
Gadis Karelia itu sedikit menundukkan pandangannya.
“Kapan ya semua ini akan berakhir? Aku sudah lelah dengan konflik ini,” curhatnya.
Flo menatap matanya. Alisa nampak kembali merenung. Melihat hal itu, Floria langsung menyentuh pipi gadis itu.
“Tidak perlu khawatir, Alisa. Semua ini pasti akan segera berakhir. Aku percaya itu.”
Flo menatapnya dengan hangat sambil tersenyum. Hal itu membuat Alisa lebih tenang.
Keduanya saling bertatap mata satu sama lainnya, hingga terdengar suatu benda meluncur dari samping mereka.
TIIIIITTTT
Sontak hal tersebut mengundang perhatian banyak orang, termasuk Alisa dan Floria. Mereka pun menyaksikan apa yang sedang terjadi.
“Itu…”
Sebuah cahaya meluncur vertikal ke atas dari Menara Amaterasu, gedung tertinggi di Kaguyashima. Tak lama berselang, cahaya itu menghilang sebelum akhirnya meledak di angkasa.
DUARRRR
Itu adalah kembang api raksasa yang biasa diluncurkan pada puncak acara festival musim panas. Diameternya mencapai satu kilometer, membuatnya menjadi kembang api terbesar dan paling terang se-Archipelahia, bahkan seplanet Kamina.
Alisa yang pertama kali melihat kembang api tersebut benar-benar terkesima. Ia hampir tak bisa mengungkapkan kekagumannya dengan kata-kata.
“Wah, indah sekali.”
Saking kagumnya Alisa pada kembang api super besar tersebut, dirinya sampai tidak sadar memegang tangan Floria di sampingnya. Flo yang mengetahui hal itu seketika tersenyum manis padanya. Perempuan Vitania itu terlihat bahagia melihat teman lamanya terhibur dengan atraksi tersebut.
Kedua gadis itu menyaksikan puncak acara tersebut sambil berpegangan tangan bersama di bangku taman.
***
Malam sudah larut. Orang-orang mulai kembali ke rumahnya, termasuk Alisa dan Flo. Mereka berdua berjalan bersama menuju kediaman mereka melewati pepohonan yang cukup rindang di pinggir taman. Suasana nampak sepi disana.
Di saat mereka tengah berjalan, terlihat seorang wanita yang ditemani sejumlah orang di belakangnya. Wanita itu mengenakan sebuah jas merah tua menyerupai seragam formal lengkap dengan sebuah topi putih di atasnya. Sementara di bahu kirinya terikat sebuah kain dengan simbol segitiga biru muda beserta tiga bintang putih. Tidak salah lagi, dia adalah anggota Brigade Penyihir Garis Depan Vitania.
“Tetaplah di belakangku, Alisa.”
“Flo…”
Tepat saat dirinya berada di depan Flo, wanita itu langsung menatapnya dengan tajam.
“Floria Fresilca. Apa yang kau lakukan disini? Kau seharusnya berada di Matrotshaven ‘kan?” tanya wanita itu.
“Saya kemari hanya untuk liburan sejenak. Cukup lelah bagi saya untuk bekerja setiap hari,” jawab Flo.
Alisa terlihat berlindung di belakang perempuan itu. Melihat hal tersebut, wanita itu langsung bertanya sesuatu padanya.
“Siapa gadis itu?”
“Dia Alisa, temanku dari Clonovia. Dia sedang ada tugas penelitian disini.”
Wanita itu menatap Alisa dengan sorot mata yang tajam dan mengancam. Hal itu membuat Alisa semakin takut padanya.
“Oh, jadi sekarang kau dengan lancangnya bersama dengan gadis non-Vitania disini, begitu?” tanya wanita itu kembali.
Flo hanya mengangguk tanpa berucap sepatah kata pun.
“Baiklah kalau begitu. Kau membuatku tak punya pilihan lain.”
SWINGG
Wanita itu tiba-tiba memanggil sebuah pedang berjenis cutlass dari pinggul kirinya dan mengayunkannya pada leher Alisa, Gadis itu nampak ketakutan dengan serangan mendadak tersebut. Tapi untungnya Floria berhasil mencegahnya.
“Tunggu sebentar.”
Wanita itu menghentikan serangannya tepat saat mata pedang itu nyaris mengenai leher Alisa.
“Apa yang kau pikirkan, Floria? Kau mau berkhianat pada rakyat Vitania?” tanya wanita tersebut sambil mengarahkan pedangnya di leher Alisa.
“Maafkan saya. Saya tidak punya niatan untuk mengkhianati Vitania,” jawab Flo.
“Lantas kenapa kau mencegahku menghabisi gadis ini?”
“Saya tidak mencegah Anda melakukannya. Kalau Anda mau menghabisinya disini silahkan saja,” celetuknya.
“Eh, Flo?”
Ucapan itu sontak membuat Alisa terkejut bukan kepalang. Ia sempat berpikir apakah temannya itu akan menumbalkan dirinya pada para Brigade Penyihir. Namun itu hanyalah ketakutannya saja.
“Tapi saya ingin memberitahukan sesuatu pada Anda. Membunuh gadis tak berdosa ini bisa berbuah petaka bagi kita,” lanjut Flo.
“Apa maksudmu?”
“Saat ini kita sedang berperang dengan Karelia dan Sentralberg. Itu sudah cukup membuat kita semua repot. Dan jika kita membunuh gadis ini disini, sama saja kita menyeret Clonovia ke dalam konflik. Kita pasti akan semakin kewalahan, apalagi Clonovia yang dikenal dengan ‘Tujoh Bomoh Agong’nya,” jelas perempuan itu.
Wanita itu menatap Flo dengan sinis.
“Cih, Bisa-bisanya kau takut pada ‘Tujuh Penyihir Agung Klonobi’ itu. Lemah sekali kau, Floria Fresilca. Meskipun kemampuan mereka mungkin melebihi gadis penyihir terkuat di brigade ini, tidak ada alasan bagimu untuk takut pada mereka,” tepis wanita itu.
Flo hanya menatapnya tanpa bisa membalas argumen wanita petinggi Brigade Penyihir itu. Mereka berdua terdesak. Tapi untungnya keberuntungan masih berpihak pada mereka.
“Sudahlah. Orang lemah sepertimu memang tak bisa diandalkan. Floria.”
Wanita itu menurunkan pedang peraknya dan pergi meninggalkan mereka berdua.
“Dasar, anak buah Gallipolia memang pembangkang semua,” gumam wanita itu sambil meninggalkan keduanya.
Dia beserta pengawalnya hilang dibalik kegelapan. Alisa pun kini bisa menghela napas.
“Huh, aku kira aku akan mati,” ucapnya.
Flo menatap wajah Alisa yang terlihat masih ketakutan tersebut.
“Hei. Alisa.”
“Iya, Flo?”
“Maafkan aku, tapi sepertinya kita harus kembali ke Matrotshaven dulu,” kata temannya itu.
“Eh, emangnya kenapa?”
“Ada sesuatu yang harus aku lakukan,” jawab Flo singkat.
Alisa memandangi wajah perempuan itu. Ada sesuatu yang tidak beres padanya, terlebih setelah bertemu dengan petinggi Brigade Penyihir itu. Tetapi Alisa tak punya pilihan lain untuk sekarang.
“Oh, baiklah.”
***