Sejarah mencatat, Hamu Kamina wanita selalu dipandang sebelah mata bila dibandingkan dengan Hamu Kamina pria, terlebih dengan kemampuan fisiknya yang di bawah para lelaki. Mereka selalu dianggap remeh dalam mengerjakan berbagai macam hal selain pekerjaan dapur. Namun hal itu seketika berakhir setelah seorang putri dari pengusaha pertambangan sederhana yang akan menjadi Permaisuri Pertama Archipelahia, Amanda Fatir menemukan sebuah mineral ajaib yang mengubah nasib mereka sepanjang sejarah Kamina.
Batu Angke namanya, sebuah mineral unik yang mampu memberikan Hamu Kamina wanita kekuatan yang dahsyat. Dengan mengaktifkan sejumlah organ syaraf yang tak berfungsi optimal pada tubuh seorang Hamu Kamina wanita, batu itu memberikan kekuatan istimewa kepada para wanita untuk mengendalikan ‘Partikel Gaib’ yang ada di alam dan mengubah wujudnya sesuka hati. Dengan kemampuan spesial tersebut, Hamu Kamina wanita kini berada pada derajat yang jauh lebih baik.
Pasca kemunculan batu ajaib ini, para ilmuwan memiliki banyak usulan nama untuk menamai para wanita dengan kemampuan spesial tersebut. Sejumlah nama seperti ‘Esper’, ‘Vailala’, ‘Mirakamina’, dan nama-nama lain telah diusulkan. Tetapi para ilmuwan teringat dalam berbagai cerita rakyat tentang para gadis muda yang bisa berubah menjadi penyihir jelita dengan ciri-ciri yang hampir serupa dengan wanita yang mengenakan batu Angke ini. Alhasil para ilmuwan pun sepakat untuk menamai mereka dengan istilah ‘Gadis Penyihir’ sesuai dengan cerita-cerita rakyat tersebut.
***
“Oh, jadi seperti inikah versi asli dari buku yang ditulis Reki Vidmann itu,”
Alisa membaca buku itu dengan seksama. Ia lalu menarik kesimpulan bahwa buku itu hampir sama dengan buku ‘Ensiklopedia Sejarah Keilmuan Sihir’ yang beredar luas di masyarakat. Namun Rikka memberitahu gadis itu bahwa ada sesuatu yang jauh berbeda pada edisi asli buku tersebut.
“Memang sekilas buku itu hampir sama dengan buku yang jadi pedoman ilmu sihir sekarang ini. Tapi coba perhatikan baik-baik pada bagian catatan penulisnya,”
Alisa membuka halaman yang berisi catatan penulis tersebut lalu membacanya dengan seksama. Begitu terkejutnya dia setelah melihat apa yang tertulis disana.
“Eh, Ini? Apa maksudnya ini? Kepulauan Edinberg? Eksploitasi tambang besar-besaran? Masa depan gadis penyihir? Maksudnya apa ini?”
Alisa bertanya-tanya tentang apa yang tertulis dalam catatan itu. Rikka pun menyederhanakannya.
“Awalnya Reki Vidmann dan ilmuwan lainnya optimis bahwa keberadaan gadis penyihir akan membawa masa depan yang baru bagi Hamu Kamina. Tapi sayangnya semuanya berubah sejak Frederick Fatir, Raja Kedua Archipelahia malah menyetujui eksploitasi tambang besar-besaran di Kepulauan Edinberg di Vitania Utara,” jelas Rikka.
“Eksploitasi tambang?”
“Iya. Eksploitasi tambang besar-besaran di Kepulauan Edinberg yang menyebabkan penduduk setempat tergusur. Hal ini pun yang akhirnya menjadi pemantik konflik antara Vitania dengan kerajaan pusat. Gadis penyihir sebagai garda terdekat dengan masyarakat tentu takkan tinggal diam. Konflik pun meletus dan memakan banyak korban hingga terjadilah peristiwa ‘Kejatuhan Fatir’,” lanjutnya.
“Lantas kenapa mereka bisa tergusur? Sebenarnya tambang apa yang ada disana? Apakah tambang batu Angke?” tanya Alisa.
“Tidak. Batu Angke bisa diduplikasi dengan proses peleburan sederhana. Oleh karena itu jumlahnya tidak akan habis. Sementara batuan tambang ini tidak. Tak ada nama yang resmi untuk menamai batu tambang ini, tapi kebanyakan orang menyebutnya sebagai ‘Batu Hitam’.” jawab wanita berkacamata itu.
“Batu hitam?”
“Benar. Batu tambang itu mampu menghasilkan energi yang besar untuk memenuhi kebutuhan umat manusia di planet ini. Jumlahnya sangat besar di Kepulauan Edinberg dan daerah sekitarnya sehingga kerajaan pusat mulai menambang batuan ini dengan sumber daya yang mereka punya,”
Rikka kembali mengganti posisi duduknya.
“Tapi sayangnya, meskipun kepulauan itu termasuk ke dalam daerah Vitania, kami tidak mendapatkan apapun dari hasil pertambangan itu. Malah sebaliknya. Lingkungan tempat tinggal kami hancur, ladang-ladang tercemar limbah, banyak anak-anak yang tewas karena terjatuh ke dalam bekas galian tambang, hingga akhirnya sebagian besar dari kami harus pindah ke berbagai kota,”
Wanita berkacamata itu menghela napas.
“Huh, namun sayangnya dengan berpindah tempat pun kami tetap saja tergusur dan diperlakukan tidak manusiawi. Yah, contohnya seperti masyarakat di Falavece itu,”
“Apa?” Alisa terkejut mendengarnya.
“Iya, tempat penggusuran yang kalian lihat tadi siang. Mereka yang tinggal disana sebenarnya bukanlah warga asli Matrotshaven, melainkan pengungsi dari Edinberg dan wilayah sekitarnya,” ungkapnya.
“Pengungsi? Jadi itulah alasan mereka digusur?” gumam Alisa.
Alisa berpikir mungkin inilah sesuatu yang disembunyikan oleh Akise padanya. Namun tetap saja tindakan keras seperti itu tak bisa dibenarkan hati nuraninya.
“Tetapi, meskipun mereka pengungsi sekalipun, mereka tak pantas diperlakukan sekejam itu. Mereka adalah Suku Vitania, Bangsa Archipelahia, juga sesama Hamu Kamina seperti kita. Menggusur mereka dengan kekerasan dan tanpa memberikan solusi yang baik, itu perbuatan yang sungguh keji,” tegas Alisa.
Mendengar ucapan itu membuat Rikka tersenyum.
“Syukurlah kau masih berpikir seperti itu. Iya, memang benar. Mereka adalah Suku Vitania, sesama Bangsa Archipelahia, juga sesama Hamu Kamina. Mereka seharusnya diperlakukan dengan baik dan diberikan solusi yang tepat untuk permasalahan mereka. Sama seperti apa yang dilakukan di daerahmu di Karelia sana, mereka lebih ‘Hakumina Hamu Kamina La’,” ujar Rikka sambil mengutip pepatah Vitania Kuno yang berarti ‘memanusiakan manusia Kamina’.
“Mereka seharusnya mencontoh apa yang dilakukan penguasa Karelia sehingga tercapailah kesejahteraan,” lanjutnya.
“Kesejahteraan sih memang tercapai, tapi kesejahteraan untuk yang di atas. Hahaha…” sindir Sena sambil tertawa terbahak-bahak.
Alisa pun merenung. Semakin jelas informasi yang ia peroleh tentang apa yang sebenarnya terjadi di kerajaan itu, termasuk konflik yang menyeret Karelia dan Vitania.
Rikka kembali melanjutkan pembicaraan.
“Oh iya, ngomong-ngomong kalau kau berpikir bahwa semua ini adalah kesalahan dari Dinasti Fatir maka kau salah. Coba lihat apa yang ada di halaman selanjutnya,”
Sesuai perkataan Rikka, Alisa pun membuka halaman selanjutnya dari buku itu. Ada sebuah kertas kecil yang merupakan sebuah surat.
“Itu adalah surat berisi kritik untuk karya Reki, dikirimkan oleh Tantowi Arslan dari ibukota Clonovia, Bandaraya. Ia adalah salah satu petinggi Patrol dari Divisi Kochi di kota itu,” tutur wanita berkacamata tersebut.
“Apa? Divisi Kochi?” Alisa kaget mendengarnya.
“Iya. Divisi Kochi. Tidak semua dari mereka suka bertindak kasar seperti di Falavece itu,” ucap Rikka.
Alisa pun membaca surat itu dengan seksama.
***
Kepada Yang Terhormat Tuan Reki Vidmann di Vitania.
Saya sangat mengapresiasi buku Anda mengenai sihir yang sangat detail ini. Tetapi saya harus menyampaikan pesan ini, karena jika tidak maka akan menimbulkan penafsiran yang salah di kalangan masyarakat.
Sehubungan dengan pernyataan Anda terkait izin pertambangan itu, sepenuhnya bukanlah salah Yang Mulia Paduka Raja Frederick Fatir. Saya menyaksikannya sendiri karena pada saat itu saya kebetulan sedang bertugas di Istana Perak Sentralberg. Saya melihat ada sejumlah orang dengan sedikit mendesak agar Yang Mulia menandatangani beberapa dokumen yang banyak. Awalnya saya tidak mau berspekulasi, tetapi penampilan mereka memang sedikit mencurigakan, apalagi setelah saya melihat mereka bolak-balik dengan sebuah Carreta hitam yang sepertinya bukan dari wilayah Sentralberg.
Semoga saja perkiraan saya salah, tapi sepertinya ada pihak-pihak yang berusaha menekan Yang Mulia agar menandatangani izin tambang tersebut.
Tertanda, Tantowi Arslan, Kepala Urusan Sumber Daya Manusia Divisi Kochi, Patrol Wilayah Kota Bandaraya, Daerah Otonomi Clonovia.
***
“Tidak mungkin. Ini…”
Alisa begitu bingung dengan isi surat misterius itu. Dan fakta yang diungkap Rikka selanjutnya membuat ia terperangah.
“Itu surat terakhir yang dikirimkan oleh Arslan, sebelum ia menghilang,” ucap sang petinggi Brigade Penyihir itu.
“Apa? Hilang?”
“Benar. Sampai sekarang tidak ada yang tahu pasti kenapa sang Kochi itu menghilang. Aku tidak mau berspekulasi lebih jauh, tapi kau sudah tahu sendiri ‘kan bahwa semua daerah di Kerajaan Archipelahia ini punya track record yang mengerikan soal memata-matai,” ungkap Rikka.
“Begitu ya,”
Alisa kembali melamun. Ia benar-benar tak menyangka bahwa penelitian sederhananya itu malah mengantarkan dirinya pada jantung permasalahan yang terjadi di kerajaan itu. Hal yang seharusnya cukup rumit untuk dipecahkan gadis SMA seperti dia.
Melihat pembicaraan sudah sampai pada intinya, Rikka pun mengajak gadis penyihir Karelia itu untuk melakukan sesuatu bersama.
“Alisa Garbareva, sebenarnya aku tidak hanya ingin memberitahumu kenyataan yang terjadi disini saja, tetapi aku juga ingin bekerja sama denganmu. Ayo kita bekerja sama untuk menyelesaikan konflik ini, antara kau dan aku, Vitania dan Karelia,”
Sayangnya ajakan petinggi Brigade Penyihir itu tak membuat Alisa bersemangat. Justru hal itulah yang semakin menjatuhkan mentalnya, terlebih dengan apa yang terjadi sebelumnya.
“Membantumu? Menyelesaikan konflik Karelia dan Vitania? Kak Rikka pasti bercanda ‘kan?” kata Alisa sambil tertunduk lesu.
“Tidak. Aku tidak pernah bercanda dalam mengajak seseorang untuk melakukan sesuatu yang besar seperti ini,” jawab Rikka.
“Tidak. Aku tidak bisa. Maafkan aku, Kak Rikka,”
Sambil tertunduk lesu, Alisa memegangi kedua lengannya. Raut wajahnya nampak pilu. Matanya mulai berkaca-kaca kembali.
“Aku tidak mampu melakukannya, aku hanyalah gadis yang lemah. Aku tidak akan bisa mendamaikan Karelia dan Vitania, aku…”
Air mata gadis Karelia itu mulai menetes. Sementara itu Rikka hanya berdiri disana dan memperhatikannya.
“…aku tak mampu melakukannya. Bahkan untuk menolong Akiha saja aku tidak bisa. Aku terlalu lemah…”
Alisa nampak putus asa. Belum pernah dirinya terlihat seperti itu semenjak ia menginjakkan kaki di tanah Vitania ini. Flo pun merasa iba padanya.
“Alisa…”
Meskipun begitu, Rikka masih berpegang teguh dengan pendiriannya. Dengan sedikit menaikkan suaranya, ia pun berujar pada Alisa.
“Kau mungkin berpikir seperti itu, tapi aku tidak. Bagiku, kau bukanlah gadis penyihir Karelia biasa. Kau memiliki keistimewaan. Penelitian yang kau lakukan ini bisa membuka mata mereka semua, baik para petinggi yang salah jalan maupun para gadis penyihir yang tak tahu arah,”
Rikka menghampiri gadis itu dan mengulurkan tangannya.
“Jadi aku mohon. Atas nama petinggi Brigade Penyihir Garis Depan Vitania, bekerja samalah dengan kami. Ayo kita damaikan Karelia dan Vitania bersama,”
Ajakan Rikka membuat Alisa sedikit mengangkat kepalanya. Ia benar-benar tak menyangka hal tersebut keluar dari mulut seorang petinggi Brigade Penyihir yang dikenal sangat kejam dan brutal. Bahkan mungkin Rikka Gallipolia tidak cocok disebut sebagai pemberontak, melainkan seorang revolusioner yang cinta perdamaian dan persatuan.
Ucapan tersebut cukup berhasil menghibur Alisa, mengubah rasa putus asanya menjadi harapan baru. Gadis itu pun mencoba meraih tangan sang petinggi Brigade Penyihir itu.
“Aku…”
Namun sayangnya belum selesai Alisa berucap, sesuatu datang ke arah mereka dengan sangat cepat.
WUSHH
“BAHAYA, MUNDUR!!” teriak Rikka.
SRAAKKKKK
Bangunan itu tiba-tiba terbelah dua Bukan oleh angin biasa, melainkan oleh sihir pisau angin.
“Apa?”
Tepat di atas mereka ada sesosok wanita seumuran Rikka. Wanita itu mengenakan sebuah jas merah tua dengan topi putih di atasnya. Di bahu kirinya terikat sebuah kain dengan simbol Brigade Penyihir Garis Depan Vitania. Ia nampak melayang di udara sambil mengarahkan pedang cutlass-nya pada mereka berempat.
Dilihat dari penampilannya, Alisa merasa tidak asing dengan wanita itu.
“Dia…”
Wanita yang ditemani sekitar 10 gadis penyihir di belakangnya itu menatap mereka dengan penuh kebencian, seakan tak senang dengan apa yang mereka lakukan disana.
“Aku tidak menyangka kalian bisa sampai sejauh ini. Tapi sekarang diskusi ini sudah selesai, pengkhianat,”
***