Beberapa tahun yang lalu terjadi sebuah pertarungan mematikan antara dua kelompok gadis penyihir di Aastland, distrik timur ibukota Sentralberg. Pertarungan di malam hari itu melibatkan Brigade Penyihir Garis Depan Vitania dengan gadis penyihir pelindung ibukota. Banyak sekali korban yang berjatuhan dari kedua belah pihak dalam peristiwa tersebut.
Salah satu korban dari pertarungan berdarah itu adalah Charlotte Fatir, putri dari Louis Fatir yang juga merupakan anak keenam dari raja dan ratu pertama Archipelahia, Sazali dan Amanda Fatir. Dirinya tak bisa diselamatkan setelah dibawa oleh ambulans.
Hal tersebut sungguh mengejutkan mengingat Charlotte adalah seorang gadis penyihir pengguna elemen jiwa yang sangat kuat. Terdengar sebuah rumor bahwa dia dikalahkan oleh seorang gadis penyihir angin anggota Brigade Penyihir yang ternyata mampu menebas sihir jiwa yang ia lancarkan. Selama beberapa tahun rumor tersebut hanya menjadi buah bibir di kalangan masyarakat saja, sebelum akhirnya pertemuan ini mengungkap kebenarannya.
“Karena kau adalah salah satu gadis penyihir Vitania terkuat dengan kemampuan langka, aku tarik kata-kataku tadi. Aku tidak jadi mengeksekusi mati kalian, tapi aku akan memberi kalian pilihan. Serahkan gadis penyihir Karelia itu dan kalian semua akan bebas dari segala tuntutan pengkhianatan. Bagaimana?”
Pertanyaan yang dilontarkan Antilles membuat mereka kebingungan. Disisi lain mereka percaya bahwa pertemuan ini akan mengubah sejarah Archipelahia menuju perdamaian. Tapi disisi lain, kalau mereka menolak tawaran itu mereka harus menghadapi gadis penyihir angin terkuat se-Vitania itu.
Karena tak kunjung ada jawaban, Antilles pun mengambil keputusan sendiri.
“Hmm, baiklah kalau begitu,”
WUSHH
Wanita itu tiba-tiba bergerak secepat angin, dan tanpa disadari oleh mereka berdua ia sudah berada tepat di depan Alisa. Dengan pedang perak di pinggang kanannya, Antilles berupaya menusuk perut gadis Karelia itu.
“…”
“AWAS!!”
Untungnya Flo yang menyadari hal itu langsung mendorongnya. Namun sayangnya pedang itu sedikit menyayat pahanya. Hal ini diperparah dengan lukanya yang masih belum sembuh total.
“Aghh…”
“FLO!!”
“Hei kau, menjauh dari mereka,” ujar Rikka yang baru menyadari hal itu.
“Kau sendiri tak menjawab pertanyaanku tadi, Rikka. Aku memintamu untuk-“
WUSHH
Belum selesai dirinya berucap, sepasang shuriken tiba-tiba melesat ke arahnya. Dengan mudah Antilles bisa menghindarinya.
“Sudah Nyonya Rikka bilang, menjauh dari mereka!!” tegas Sena.
Antilles menatap mereka berdua dengan sinis.
“Sepertinya kalian memang tidak bisa diajak kerja sama, ya,”
Ucapan tersebut ditepis Rikka yang masih berpegang pada tujuannya.
“Kita yang tidak bisa diajak kerja sama, atau kau yang tidak mengerti permasalahan yang sebenarnya?”
Antilles seketika terdiam mendengar perkataan itu. Pikirnya, ada sesuatu yang ingin Rikka sampaikan karena ia sangat bersikeras melindungi gadis penyihir Karelia tersebut. Tapi hal itu masih belum cukup untuk meyakinkannya.
“Pengkhianat tetaplah pengkhianat,” kata Antilles sambil mengarahkan pedangnya pada mereka berdua.
“Huh, baiklah kalau begitu, kita selesaikan disini saja. Tapi kumohon, lepaskan gadis itu,”
Rikka memintanya untuk melepaskan Alisa, tapi Antilles menolaknya.
“Sayang sekali, aku tidak bisa melakukannya. Tapi mungkin ada benarnya, aku harus melakukan itu terlebih dahulu,”
SREETTT
WUSHH
Antilles memasang kuda-kuda bertarung lalu melesat secepat angin. Ia hendak menusuk gadis penyihir jiwa itu. Alhasil Rikka pun mau tidak mau harus menghadapinya.
TINGG
Dengan pisau kecil yang ia genggam, Rikka berhasil menepis serangan cutlass perak milik Antilles.
“KAK RIKKA!!”
Alisa hendak menolong wanita itu, namun Sena mencegahnya.
“Sudah, kalian diam disini saja. Biar kami yang mengurus dia,”
Sena memegang dua shuriken itu sambil menyilangkan kedua tangannya. Ia pun bersiap menyerang Antilles yang tengah bertarung dengan ketuanya tersebut.
“MELESATLAH, NAGAREBOSHI!!”
WUSHH
Dua buah shuriken itu melesat cepat ke arah Antilles. Mengetahui hal itu, wanita tersebut melompat ke belakang untuk menghindarinya. Namun ternyata itu bukanlah serangan utama.
SWINGG
Dengan secepat kilat, Sena berpindah posisi dan melempar kembali shuriken itu pada Antilles.
“Cih,”
Antilles berhasil menghindar kembali. Tapi lagi-lagi, Sena berpindah posisi dan menyerangnya dengan cara yang sama dengan tempo yang semakin cepat dan bertubi-tubi. Serangan khas ala ninja itu rupanya berhasil membuat Antilles cukup kewalahan.
“Nah, bagaimana? Kau kewalahan kan? Sekarang lihat ini,”
Serangan shuriken bertubi-tubinya berhenti, tapi Sena ternyata bersiap meluncurkan serangan kejutan pada Antilles. Gadis penyihir angin itu kini dikelilingi oleh ratusan shuriken yang melayang-layang di udara.
“TERIMALAH INI!! SANBYAKU NO NAGAREBOSHI!!” teriak Sena sambil menepuk kedua tangannya.
SWING SWING SWINGG
Ratusan shuriken itu melesat dengan cepat ke arah Antilles. Teknik sihir menyerupai Spell ‘Nalastormu’ milik Floria itu nyaris tak memberikan kesempatan pada wanita itu untuk menghindar.
Tapi sayangnya, serangan itu masih tak sebanding dengan kemampuan sihir angin yang dimiliki gadis penyihir peringkat 10 tersebut.
“Percuma saja,”
WUSHH
Tanpa menggerakkan satu jari pun, Antilles dengan mudahnya menghempaskan ratusan shuriken itu dengan sihir anginnya.
“Ehhh, itu curang,” keluh Sena sambil mengambil dua shuriken ‘aslinya’.
“Tak ada istilah curang dalam pertarungan. Kau harus mengandalkan strategi dan taktikmu sendiri, Natsuki Sena,” ucap Antilles.
“Cih,”
“Tapi untuk seorang kadet sepertimu, kau cukup mengesankan. Tapi sekarang giliranku. Lihat ini,”
Antilles memutar pedang peraknya lalu melesat seperti angin. Tidak hanya itu, ia pun bergerak kesana kemari seolah mengikuti arah hembusan angin.
TINGG TINGG TINGG
Wanita itu menyerang Sena dengan pedangnya, sementara gadis ninja itu berusaha menahan serangan Antilles dengan pelindung di kedua lengannya.
“Cih, teknik apa ini sebenarnya?” tanya Sena sambil berusaha menahan serangan itu.
“’Dancing Art, Teknik Angin Puyuh Timur Laut. Kau pasti tidak akan tahu karena kau bukanlah gadis penyihir angin,” jawab Antilles.
Gadis penyihir peringkat 10 itu menyerang Sena dengan Dancing Art dasar khas Archipelahia Utara itu, tapi dengan gerakan yang sangat halus namun mematikan.
TRING WUSHH TRINGG
Serangan unik itu pun berhasil membalikkan keadaan. Sena mulai kehilangan kontrol atas pertarungan tersebut.
Dengan memanfaatkan kelengahan sang gadis ninja, Antilles pun melancarkan serangan tak terduga.
“Dasar lengah.,
“Ap-“
BRUKK
Antilles menendang punggung Sena hingga ia terhempas cukup jauh. Ia pun kembali berputar dan melesat ke arah Alisa, lalu berusaha untuk mengunuskan pedangnya pada gadis Karelia tersebut.
“…”
“ALISA!!”
TRINGG
Sebuah pedang besar menahan hunusan cutlass tersebut. Rupanya itu berasal dari temannya. Floria yang kini sudah dalam wujud gadis penyihir.
“Flo!!”
“Apapun yang kau lakukan itu sia-sia saja, pengkhianat,”
Antilles melompat mundur dan berusaha menyerang kembali. Kini ia berusaha untuk menikam Floria. Ia pun memasang kuda-kuda dan berusaha untuk menahannya. Alisa hanya berdiam diri di belakang gadis itu, dan Sena tidak sempat melempar shurikennya kembali.
“Rasakan ini, pengkhianat,” ucap gadis penyihir angin peringkat 10 itu.
“Sial,”
“FLOO!!”
Di tengah suasana genting itu, sebuah benda tiba-tiba muncul di depan mereka. Benda itu menghujam tanah dengan sangat keras dan membuat mereka bertiga terhempas.
SRINGG
BRUKK
“Uhuk uhuk… Eh, ini?”
Alisa baru menyadari ada sebuah tembok sihir transparan yang memisahkannya dengan Antilles. Ternyata itu adalah sihir pelindung yang dirapalkan oleh Rikka untuk melindungi mereka berdua.
“’Soluna Skyoldir’, bisa-bisanya kau menggunakan sihir pelindung tingkat tinggi ini untuk melindungi para pengkhianat seperti mereka,”
Antilles menoleh ke arah Rikka yang tengah mengangkat tangannya itu.
“Kalian berdua, pergilah,” sahut Rikka pada Alisa dan Flo.
“Tapi, Kakak…”
“Aku bilang pergi sekarang. Biar kami yang mengurusnya,”
Mendengar hal itu, dengan terpaksa Alisa dan Floria meninggalkan tempat itu. Flo kembali berubah wujud menjadi gadis biasa dan membawa Alisa dengan Motosicca-nya menjauh dari tempat itu.
“Semoga kalian baik-baik saja, Kak Rikka, Sena,”
Alisa dan Floria bergegas pergi dari kebun itu, meninggalkan Rikka dan Sena di dalam ‘Skyoldir’ bersama Antilles. Kini mereka bertiga berada dalam pertarungan antara hidup dan mati.
***