Pagi ini Hayu sedang bersiap, apa pun masalah yang sedang dihadapinya saat ini, dia harus mengesampingkannya, dia butuh uang untuk hidup, dan juga dia harus bangkit dari keterpurukkannya.
Dia tidak mau larut dalam kesedihan, Bisma bukanlah lelaki yang pantas untuk dia tangisi. Lebih baik dia menangisi dosa-dosa yang dia perbuat tiap hari, daripada menangisi lelaki tak tahu diri itu.
Hayu turun dari kamarnya, dia tertegun saat melihat Candra yang sudah duduk di ruang makan bersama ibunya.
‘Gercep juga Pak Candra, pandai mengambil situasi yang sedang terjadi saat ini.’
“Selamat Pagi, Hayu. Kamu pasti lupa kalau pagi ini kita ada meeting dengan klien di hotel Straw.”
Hayu menepuk keningnya, dia melupakan hal itu, pantas saja bosnya sudah sidak sepagi ini, dia merasa bersalah karena tadi sempat berpikir bahwa Candra datang hanya untuk memanfaatkan situasi saat ini, nyatanya pemikirannya itu salah.
“Selamat Pagi, Pak. Maaf, Pak , saya benar-benar lupa, tapi berkas-berkas yang kita butuhkan sudah saya bawa kemarin, jadi kita tidak perlu mengambilnya, kita bisa langsung berangkat ke tempat yang sudah kita sepakati.”
“Baiklah kalau begitu, saya akan menunggu kamu sarapan, ya meski sejujurnya saya lebih senang kalau kita sarapan di hotel daripada di rumah, karena waktu kita tidak banyak, kita harus buru-buru, dan menghindari kemacetan di jalan.”
Ibu Hayu tersenyum melihat interaksi antara Hayu dan Candra, “Berangkat saja, Nduk, ini Ibu bawakan roti panggang, nanti bisa kalian makan selama perjalanan menuju hotel.”
Bu Hayu menyodorkan sekotak roti panggang ke arah putrinya itu. Ibu Hayu memang sudah menawari Candra roti panggang, tapi dia menolak karena terburu-buru. Dengan sigap Ibu Hayu memasukkan sarapan mereka berdua ke dalam kotak bekal.
“Terima kasih, Bu. Maaf, lain kali Candra akan menerima tawaran ibu untuk sarapan dan makan siang, juga makan malam di sini,” ujarnya cengengesan.
“Wah, Bapak mau membuat Ibu saya bangkrut. Pak, Bapak tahu, sekarang apa-apa mahal, minyak goreng mahal, bumbu juga mahal, semuanya mahal, hanya harga diri kami yang murah.”
“Nduk, ndak boleh bilang begitu, ingat, jangan mengingat hal yang menyakiti hatimu, biarlah mereka melakukan apa yang mereka mau. Ingat Nduk, rendah di mata mereka, bukan berarti rendah di mata Tuhan.”
Mendengar pembicaraan ibu dan anak itu, Candra mulai mengerti apa yang sesungguhnya terjadi dengan mereka, hal yang sudah bisa di tebak oleh Candra sebelumnya, kalau mereka tentu akan menjauhkan Hayu dari Bisma dengan bantuan uang. Tapi kenapa mereka tega melakukan itu juga pada ibu Hayu, kasian orang tua itu, beliau tak tahu menahu soal apapun. Selama ini dia selalu berbincang dengan wanita yang lemah lembut dan pekerja keras. Sosok yang membuatnya kagum, di usianya yang hampir senja, dia masih semangat bekerja demi mewujudkan semua impiannya, demi ingin membahagiakan putri satu-satunya yang dia miliki.
“Cepatlah kalian berangkat, takutnya nanti kalian terlambat,” ujar ibu Hayu, mengingatkan mereka berdua.
Mereka berdua segera berpamitan dengan ibu Hayu. Setelahnya dia menaiki mobil Candra dan segera meninggalkan rumah Hayu menuju Hotel Straw.
“Makan Hayu, kamu harus makan, aku nggak mau sekretaris ku kurus kering seperti kucing kampung.”
“Wah, Bapak sepagi ini sudah melakukan kekerasan verbal kepada saya, atau ini masuk ke ranah bullying. Ini saya juga mau makan, Pak. Saya masih cukup waras untuk mengingat bahwa saya butuh makan, apa Bapak mau? Mau saya suapi?” tanya Hayu pada atasannya itu.
Candra yang sedang menyetir pun menoleh ke arah Hayu, “Are you kidding me?”
“Tidak, Pak. Sebagai sekertaris Bapak bukan kah memang sudah biasa kalau Bapak sedang menyetir saya yang menyuapi makan Bapak? Ini serius, lho. Pak. Atau bapak memang sudah kenyang, jadi biar semua saya yang memakannya.”
Candra terkekeh, dia tahu sekretarisnya itu sedang bercanda dengannya. Dia menoleh menatap Hayu yang hari ini tampak begitu cantik menggunakan setelan motif bunga yang membuatnya tampak begitu segar.
“Baiklah, kalau begitu aku tak menolak, asal kamu juga punya air minum. Kamu bisa mengambilnya di belakang kursi yang kamu duduki, seperti biasanya. Aku takut roti itu nyangkut di tenggorokan ku. Nanti bisa bahaya. Aku nggak mau kamu jadi tersangka pembunuhan kalau aku kenapa-kenapa.”
Hayu tertawa tergelak, bisa-bisanya sepagi ini bosnya sudah melawak, dia tahu Candra ingin menghibur dirinya. Hayu mengambil roti bakar, menggunakan sarung plastik yang sengaja dia tinggal di dashboard mobil Candra. Memakainya dan mencuil-cuil roti menjadi sekali makan. Dia mulai menyuapi Candra.
“Kenapa kamu menggunakan sarung tangan ini untuk menyuapiku, apa kamu takut aku menggigit jarimu lagi?”
Hayu menggeleng.
“Lalu kenapa memakainya, kamu takut jarimu itu terkena air liurku yang sangat berharga ini?”
Hayu memutar bola mata malas, “Sekalian saja, biar enggak usah membersihkan tangan saya, Pak. Kalau air liur bapak benar-benar mahal, sebaiknya Bapak tidak usah bekerja, tapi kumpulkan saja air liur Bapak, lanjutkan dengan menjualnya. Niscaya Bapak akan kaya tujuh turunan, tujuh belokan, tujuh undakan, tanpa harus bekerja keras.”
Candra tertawa terbahak mendengarnya, “Kalau aku tidak bekerja, kamu juga tidak akan bekerja, Hayu. Memang kamu kerja sama siapa?”
“Sama Bapak.”
“Nah, itu tahu. Masa kamu jadi sekretaris tanpa atasan, kan nggak mungkin.”
“Atasan saya banyak Pak, di rumah. Saya masukkan ke dalam lemari pakaian saya, Bapak mau lihat?” tanyanya absurd.
Tak lupa dia juga menyuapi Candra dengan potongan-potongan roti yang ada di dalam kotak makan itu. Sesekali bergantian dengannya. Candra meminta tolong Hayu untuk memberinya minum. Dengan sigap Hayu mengambil sebotol air mineral beserta sedotannya. Memegang dan menyodorkan tepat di depan mulut Candra.
“Pak, Bapak tumben, hari kelihatan ganteng, mungkin efek outfit yang bapak yang pakai. Sepertinya kita harus berterima kasih pada orang yang sudah membantu memilihkannya.”
Candra tertawa lebar, menampilkan deretan giginya yang putih dan rapi, dia tak menoleh ke arah wanita di sampingnya, melainkan masih fokus ke jalanan yang sudah mulai macet.
“Kamu ini, sedang membalut kesedihan kamu karena putus cinta dengan lawakanmu yang menyanjung saya, begitu,” goda Candra pada sang sekretarisnya.
“Buka mulut yang lebar, Pak.”
Dia menuruti perintah Hayu, dengan membuka mulutnya lebih lebar. Namun bukan Hayu namanya, kalau dia tak melakukan hal yang tidak bisa dilakukan pegawai lain pada Candra. Hayu memasukkan beberapa potongan roti ke dalam mulut Candra lalu menutupnya. Candra hanya pasrah menerima perlakuan sekretarisnya.
“Good Boy,” ucap Hayu mengelus kepala Candra.
Sepertinya Hayu sedang kemasukan setan. Sekian lama Candra menjadi atasannya dia tidak pernah melakukan hal itu, dia mana berani. Bahkan Candra sempat melongo menerima perlakuan Hayu barusan, tubuhnya membeku.
“Are you currently seducing me?”