AJISEKA

41. Pergerakan Tanu.

Nyai Lurah, Salah satu lelembut yang menguasai pasar gaib sisi Timur Punden senyatanya adalah istri Ki Paksi Maruta. Wanita yang menjaga hutan pinggir perkampungan tepi selatan, bertugas menghalau dan mengabarkan kepada Danuseka jika ada sesuatu yang mengancam keamanan perkampungan manusia di wilayah Punden, khususnya tepi Timur atau Wono Wetan. Sudah pasti dirinya mengetahui dengan baik siapa Danuseka.

Maka dengan gamblang Nyai Lurah membeberkan siapa sejatinya diri Ajiseka.

“Trah Setyaloka yang hidup di alam Gaib, ha ha ha tidak heran jika mereka kebingungan mencari dirimu,” ujar Ki Paksi Maruta.

“Tak heran jika aku tidak mampu mengalahkan dirimu, Ajiseka. Jika menilik dari digdaya dan aura yang terbentuk saat bertarung, dirimu adalah Naga kecil dari selatan, sungguh aku tak mengira jika dirimu adalah manusia,” timpal Gaharu sembari menepuk pundak Ajiseka.

 Sedangkan Ajiseka sendiri hanya tersenyum kepada Gaharu, lalu ia menatap Ki Paksi Maruta. Sebab pernyataan lelaki sepuh itu mengundang tanya besar di dirinya.

“Mereka? Siapa yang Aki maksud?” tanya Ajiseka. Tentu dirinya kebingungan, pasalnya di alam lelembut ia tidak memiliki musuh atau sahabat jauh.

“Manusia-manusia yang mengerahkan makhluk gaib. Bahkan, banyak telik sandi dari kalangan manusia sudah menyebar di berbagai daerah. Posisimu sudah benar jika kau tetap di alam ini, setidaknya manusia kesulitan menemukanmu,” ujar Ki Paksi Maruta.

“Dari mana Aki tau perihal itu?”

“Padepokan ini menguasai sebagian kehidupan burung elang, sudah selayaknya mengabarkan kepadaku jika ada sesuatu yang menurut mereka mengganggu. Hal itu terjadi karena para Telik sandi dan rombongannya membicarakan sosok pemuda dari kalangan manusia, jika menilik dari ucapan Gaharu, Kaulah yang mereka cari,”

“Apakah mereka memiliki tanda pengenal, Ki? Simbol misalnya,” tanya Ajiseka. Dirinya mulai mencurigai pergerakan sekte Kembang Kenongo.

Pasalnya ia hanya pernah berurusan dengan dua padepokan yang sama-sama berada di kekuasaan sekte itu. Ki Paksi Maruta mengernyitkan dahi, mencoba mengingat apa-apa yang dilaporkan oleh muridnya. Tidak lama kemudian beberapa kali ia mengangguk pelan, menandakan jika dirinya mengingat sesuatu.

“Aki tidak tau namanya, tetapi menurut Kabar mereka memakai kalung serupa yang berbentuk sebuah kembang. Apakah menurut Nak Mas itu sebuah simbol?”

“Iya, Ki. Jika bentuk simbolnya seperti itu berarti mereka memang mencariku,”

“Ada hal apa mereka mencarimu, Nak Mas?” tanya Ki Paksi Maruta.

Ajiseka pun menceritakan masalahnya semasa menjalankan misi ke selatan. Bahkan, ia juga menceritakan perihal sosok sepuh yang memberikan pedang pusaka Nogoweling kepadanya. Hal itu membuat Ki Paksi Maruta dan gurunya tercengang.

“Aki rasa perjalanan misi itu hanya perantara saja, kemungkinan lelaki sepuh itu sudah menunggu dirimu, Ajiseka. Lagi pula Nogoweling tidak akan sembarangan menyatu dengan manusia jika dia sendiri tidak menghendakinya,” ujar Ki Balung Wojo.

“Dengan munculnya Roh Nogoweling, kejadian di luar nalar mungkin akan terjadi di dua alam, sebab dia adalah penyeimbang dan juga penjaga. Waspadalah, Nak Mas Ajiseka.” Timpal Ki Paksi Marita.

Mendengar hal itu, Ajiseka malah terlihat murung. Jelas ia khawatir, pasalnya untuk mengalahkan wakil pimpinan satu padepokan saja ia harus memenggal kepalanya. Terbayangkan olehnya berapa jumlah anggota sekte yang akan ia hadapi nanti, sedangkan dirinya sendiri tidak memiliki teman di alam manusia.

Memikirkan itu Ajiseka benar-benar frustasi.

“Jangan risaukan sesuatu yang belum terjadi melangkahkan sesuai kehendak hatimu, perlu kau ketahui. Senjata pusaka milikmu memiliki roh yang luar biasa kuat, jangankan untuk melawan manusia, bangsa lelembut pun akan lebur jika roh Nogoweling menginginkan.” ujar Nyai lurah. Rupanya wanita itu tau apa yang sedang berkecamuk di kepala Ajiseka.

“Tapi bagaimana jika aku tidak mampu, Nyai? Bukankah dia akan mengikuti karakterku? Sedangkan Romo mengajarkan diriku agar tidak sembarang melukai apalagi membunuh,”

“Untuk mengatasi musuh yang mengancam keselamatan banyak orang, tidak mungkin kau tak membunuhnya, Nak Mas Ajiseka. Bahkan, pertempuran seperti itu sudah dipastikan bertaruh hidup dan mati. Lihatlah Romomu, dirinya mengorbankan prinsip yang ia pegang demi membela warganya yang terancam, seperti itulah kesatria yang sesungguhnya.”

Mendengar itu lagi-lagi Ajiseka terpikir akan keadaan sang ayah. Dirinya tidak bisa membayangkan jika sesuatu terjadi pada orang tua semata wayangnya itu.

“Jangan khawatirkan Romomu dan keadaan di wilayah punden, tetaplah berada di perguruanmu hingga kau siap melanglang buana. Banyak ancaman nyata di luar sana, dan kemungkinan besar bertujuan merangsek ke wilayah punden,” ucap Nyai lurah lagi.

“Baik, Nyai. Terimakasih sejauh ini telah membersamai Romo saya,” jawab Ajiseka sembari membungkukkan badan.

Sedangkan disisi lain, tepatnya di hutan wingit Wono Kelono. Rombongan Tanu bertolak ke lokasi dimana telik sandi melaporkan keadaan tetua jalur kebatinan. Mereka menyisir lokasi dengan seksama wilayah yang tampak begitu silu itu.

“Ki! Ki Tanu!” panggil seorang bawahannya.

“Ada apa, Kang? Ada titik terang kah?” tanya Tanu yang datang bersama beberapa orang bawahannya.

“Sesepuh kebatinan sudah meninggal, Ki.”

Lapor sang bawahan sembari menunjuk ke arah seonggok tubuh yang sudah tidak lagi bergerak. Bahkan, posisi mayatnya sangat memprihatinkan. Gegas Tanu memeriksa tubuh yang meringkuk seperti udang rebus itu, setelah memastikannya ia langsung memerintahkan bawahannya untuk mengurus jasad tetua kebatinan.

“Segera urus mayatnya! Kita tidak bisa membuang waktu lagi!” perintah Tanu kepada bawahannya.

Tanu sendiri baru beberapa hari di angkat menjadi salah satu tetua muda. Namun, pengangkatan dirinya tidak seperti tetua yang lain. Bahkan, ia memiliki pengaruh lebih besar daripada tetua sepuh.

Pasalnya ia mendapat jabatan setelah mengeksekusi korban di aula pertemuan sekte. Semua itu tidak lepas dari makhluk jelmaan yang menjadi pimpinan pusat atau junjungan anggota sekte Kembang Kenongo. Ya! Sariti menghendaki Tanu menjadi salah satu gundiknya.

Artinya Tanu juga dekat dengan wanita yang menjabat sebagai pimpinan padepokan Lowo Ireng. Sebab Nyai Roro Palupi lah yang menjadi wadah Sariti setiap melakukan pergumulan dengan Tanu.

“Hoy! Untuk apa kalian membuat tandu! Kuburkan di tempat atau bakar saja!” Teriak Tanu manakala melihat bawahannya merakit kayu dan tali.

“Baik, Ki.” Jawab salah satu bawahan. Mereka urung membuat tandu untuk membawa mayat tetua jalur kebatinan. Galian seadanya di siapkan. Bahkan, kedalamannya tidak sedalam pemakaman biasanya, mayat naas itu sudah di kuburkan.

“Kita lanjutkan pencarian, aku yakin pemuda itu berada di perkampungan yang tidak jauh dari tempat ini,”

“Ki Tanu, saya rasa perkampungan masihlah jauh. Terlebih jika kita melihat mayat tetua kebatinan, sudah pasti pemuda itu berada jauh dari tempat ini,”

“Ya, lebih baik kita segera menyusulnya bukan? Lihatlah hutan ini, Kang. Gelap dan silu, apakah Kakang ingin mencoba bermalam di sini, hem?”

Mendengar pertanyaan dari tetua mudanya, lelaki itu hanya menggaruk kepala. Tidak ada yang salah, pasalnya hutan rimba itu terlihat silu, atau seram. Tak terbayangkan jika mereka memutuskan bermalam di tempat itu, apalagi matahari sudah mulai condong ke barat.

Pencarian berlanjut, alibi sang tetua muda merujuk pada perkampungan penduduk, dan saat ini mereka sedang berusaha menemukannya. Usaha yang tidak sia-sia, setelah melewati dua perbukitan kecil rombongan Tanu melintasi lahan pertanian, artinya perkampungan tidak jauh dari tempat itu. Senyum lega tercetak jelas, tetapi tidak untuk Tanu, ia malah merencanakan sesuatu kepada wilayah yang hendak ia singgahi.

“Berhenti, Kang.” Ucap Tanu sembari menatap salah satu bawahannya. Setelah yang di maksud mendekat Tanu baru melanjutkan ucapannya.

“Kakang kesana dulu, lihat keadaan agar kita tidak mengalami kendala. Sementara Saya dan yang lainnya menunggu disini saja,” ucap Tanu sembari tersenyum.

“Baik, Ki Tanu.” Jawab lelaki itu. Tidak menunggu di perintah kedua kalinya ia mengayunkan langkah meninggalkan rombongan.

“Kalian tunggu di sini, saya perlu mengabarkan hal ini kepada Nyai Roro Palupi.” Setelah berucap, Tanu menyingkir dari rombongannya.

Tepat setelah Sandikala tiba, Tanu memulai meditasi. Memanggil junjungannya, dan tidak membutuhkan waktu lama untuk melakukan itu. Sebab sejatinya Tanu sudah terikat dengan sosok sang junjungan.

Semilir angin mengantarkan wewangian menyengat Indera penciuman, saat itulah sosok yang di nantikan datang. Ia terlihat samar, tetapi seiring lantunan mantra dari kecumik bibir Tanu yang terus mengalun, wujud itu semakin terlihat nyata. Anggun dan ayu, hanya kata itu yang dapat di jabarkan untuk penampilan seorang yang kerap di panggil Nyai Ayu Sariti oleh para pengabdinya.

“Ada apa cah Bagus … Tidak seharusnya kau memanggilku tanpa adanya wadah yang bisa ku gunakan, hem?” ujar Sariti sembari memutari tubuh Tanu.

“Maafkan saya, Nyai. Ada hal yang ingin saya sampaikan kepada Nyai Roro Palupi, tetapi saya tidak ada kemampuan untuk itu,” jawab Tanu.

Ya! Dirinya merasa kebingungan menyampaikan berita, juga mengenai langkah apa yang harus ia lakukan untuk menyikapi masalah yang terjadi. Jika saja berada di wilayah selatan ia tidak perlu bimbingan, tetapi saat ini dirinya berada di daerah tengah. Tempat yang belum ia ketahui sama sekali.

“Tidak menjadi masalah, sementara biarkan Roro Palupi menjadi urusanku. Seiring berjalannya waktu kalian akan semakin peka satu sama lain, Cah Bagus. Sekarang bergeraklah, banyak yang perlu kau lakukan untuk menemukan pemuda itu. Buatlah keributan agar dia menampakkan diri.”

Selesai berucap sosok Sariti langsung lesap begitu saja, ia meninggalkan bau wewangian yang menyengat. Bahkan, seluruh bawahan Tanu pun mencium aromanya. Hal itu membuat bulu kuduk mereka meremang, tidak hanya wewangian saja, rupanya kepergian Sariti juga meninggalkan suara kikikan khasnya.

Tidak lama kemudian lelaki yang di utus oleh Tanu kembali sembari mengulas senyum, artinya kabar baik ia bawa dari hasil selidiknya.

“Aman, Ki. Bahkan, wilayah perkampungan itu sedang ada keramaian. Kita bisa mencari pemuda itu tanpa harus sembunyi-sembunyi,” ucap lelaki itu.

“Baiklah! Mari, kalian boleh melakukan apa pun. Anggap saja berada di wilayah kita sendiri, Mue he he he”

“Wah, kebetulan banyak wanita cantik disana, kita bisa bersenang-senang. Ah iya, boleh kan, Ki?” ujar lelaki yang baru saja kembali dari perkampungan.

“Apa pun itu! Lakukan sesuka hati kalian.” Jawab tegas Tanu.

Hal itu memantik semangat orang-orang padepokan Lowo Ireng yang mengikuti misi pencarian. Maka, dengan langkah mantap mereka melanjutkan perjalanannya. Menyisir lahan pertanian dan tidak memperdulikan jika ada banyak tanaman yang baru saja setinggi dengkul.

Riuh warga berkumpul menikmati alunan gamelan, semua membaur menjadi satu. Bahkan, saat ada warga asing yang datang pun, mereka tidak menyadarinya. Ya! Orang-orang Lowo Ireng telah merangsek masuk, sebagian lagi sudah mulai melakukan tindakan tidak terpuji kepada para pedagang yang sedang menjajakan dagangannya.

Sesuai titah pimpinan rombongan, mereka melakukan arogansi kepada warga. Menjarah dagangan juga hasilnya, semula tidak ada yang menyadari kekacauan yang terjadi. Tetapi salah satu pedagang berinisiatif melaporkan hal itu kepada tetua kampung setelah dagangannya habis di jarah.

Acara yang seharusnya menjadi hiburan rakyat menjadi kacau balau akibat ulah orang-orang yang tidak di kenal. Hal itu membuat tetua kampung murka, ia memerintahkan Jogoboyo atau keamanan desa untuk mengurus perusuh. Warga di bawah kepemimpinan Jogoboyo dengan sigap melakukan penyergapan.

Tetapi lawan yang mereka hadapi adalah murid padepokan yang sudah terbiasa membuat ulah. Akibatnya banyak warga yang terluka parah akibat terjadinya baku hantam. Sedangkan Tanu sendiri masih belum melakukan sesuatu, ia hanya mengomandoi bawahannya saja.

Merasa puas dan sudah cukup membuat ulah, Tanu pun menarik mundur bawahannya.

Disisi lain, tepatnya di wilayah Punden. Danau yang dihuni oleh siluman air tiba-tiba bergejolak. Duripati, wanita siluman yang pernah melakukan perlawanan kepada Danuseka itu tersenyum senang. Pasalnya, benih hasil perbuatannya bersama lelaki dari bangsa manusia telah menunjukkan hasil.

Ya! Perkawinan silang antara siluman dengan manusia sengaja ia lakukan demi mendapat keturunan yang diharapkan memiliki digdaya luar biasa. Kini ia telah menggeliat di dalam cangkang halus berupa telur. Akibatnya danau bergolak, kabut tipis mulai menyelimuti permukaan danau tepi barat. Menandakan jika sebentar lagi akan ada sesuatu yang luar biasa di dalam danau itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lates Chapters

84. Akhir perjalanan hidup

Tidak sedikit warga yang langsung jatuh pingsan manakala sosok hitam besar memorak-porandakan tempat berlangsungnya Ritual doa-doa. Melihat hal itu Ajiseka tidak dapat menahan dirinya, pasalnya…

83. Jasad utuh Sariti

Senja jingga terlewati, temaram pun mengantar sang malam mencapai puncak kelam. Di sebuah bangunan kuno di atas Puncak Punden, beberapa orang tengah khusyuk memanjatkan doa…

82. Pertarungan Danuseka melawan Ajeng Ratri

Alam yang temaram memanas. Senyatanya Danuseka tidak selemah seperti dugaan Ajeng Ratri, setiap digdaya yang dikeluarkan mampu di halau begitu mudah oleh Danuseka. Sehingga dalam…

81. Sariti leluhur Ajiseka

Sorot penuh amarah terlihat jelas di tatapan mata Danuseka, sebab sosok arwah yang ada di depannya tidak lain adalah Sekar Sari atau Sariti. Dahulu semasa…

80. Bantuan Dewi Panguripan

Raja Tirta Dunya membisiki Ajiseka agar keluar dari pusaran air Danau, hal itu di lakukan karena tidak adanya pengawasan dari pihak lain. Sedangkan pemuda siluman…

79. Kekacauan di danau

  Tebing yang berdiri megah membentengi danau tepi barat luluh lantak akibat pertarungan sengit yang terjadi antara Ajiseka dan titisan iblis yang bernaung di tubuh…

78. Memantau danau berkabut

Senja di Wono wetan, mengantarkan bahagia untuk keluarga Danuseka. Kini keluarga itu telah utuh seperti sepuluh tahun yang lalu. Namun, Ajiseka tidak serta Merta berdiam…

77. Bertemu Tirtawani lagi

“Anak manusia! Ingatlah pesanku dahulu ketika kau datang dan mengambil mustika bening dari cangkangnya.” tiba-tiba Tirta Wani menimpali perbincangan Ajiseka dan Kumbolo. Putri Raja Tirta…

76. Menggali digdaya sendiri

Perjalanan waktu ke masa lalu kembali di mulai oleh Ajiseka. Tentu setelah ia mendapatkan pencerahan perihal kesalahannya. Ya! Welas asih yang dimaksudkan oleh ayahnya telah…

75. Tipu daya Danuseka

Haryo Wicaksono dan Danuseka berdiskusi di pendopo padepokan. Keduanya membahas perihal penculikan dan pengambilan harta benda dengan cara yang tidak wajar. Pasalnya menurut Galuh yang…

74. Perjalanan gaib

Langkah demi langkah terlewati, dan semuanya berbeda waktu. Ajiseka melihat perjalanan kehidupan seseorang dari masih kecil hingga terbentuknya sebuah keraton yang bernama Setyaloka hanya dengan…

73. Menyambangi Setyaloka

Pertarungan tidak terelakkan, tetapi sebelumnya Ajiseka terlebih dahulu membebaskan Sukma yang tertahan di dalam istana Dewi Sengkolo. Rupanya tidak sedikit korban yang sudah di ambil…

72. Kembali ke Wono wetan

Wanita jelmaan itu benar-benar mengembalikan Sukma Adhinata, walaupun ia berdalih dan seolah dia yang meminta untuk mengembalikan sukmanya. Nyatanya Adhinata telah sadar seutuhnya. Sariti juga…

71. Bertemu Sariti

Sosok wanita muncul setelah hembusan angin dingin sirna, ia berdiri anggun dengan busana bercorak batik berwarna merah terang. Parasnya ayu rupawan dengan hiasan sanggul di…

70. Ageng Pamungkas turun tangan

Sosok tua nan ringkih menangkis serangan serta memukul Roro Palupi dari jarak yang begitu dekat. Jika serangan jarak jauh yang sudah pasti menggunakan tenaga dalam…

69. Penyerangan di kediaman Haryo Wicaksono

“Serang!” Kata terakhir yang terucap dari salah satu tetua padepokan Lowo Ireng, dengan jumlah bawahan lebih dari seratus orang menjadikan dirinya begitu yakin mampu menaklukkan…

68. Menjadi tumbal

Cairan merah kental mengucur deras, menggenangi lantai aula sekte yang terbuat dari batu-batu pilihan dan terjejer rapi. Berakhirnya hidup seorang wakil pimpinan aliran hitam di…

67. Nasib Pancabala

Kunci Raga, ilmu warisan leluhur Ajiseka itu memang benar-benar membuat lawan tidak berkutik sama sekali. Tidak hanya mengunci raga manusia, tetapi juga berlaku untuk makhluk…

66. Kekalahan Adhinata

Rupanya aksi saling intai terjadi, Gaharu di perhatikan oleh sepasang mata. Tetapi sepasang mata itu juga mendapat perhatian khusus dari Paksi Maruta. Bahkan, sedikit saja…

65. Leburnya Padepokan Lowo Ireng

Tatapan yang tidak biasa, dan jika lengah seseorang akan mengikuti apa-pun keinginannya. Sayang wanita ayu itu adalah murid dari pedepokan lelembut, jelas upaya lelaki itu…
error: Content is protected !!