Table of Contents
Lates Chapters
Bab 30
"Aduh, tuan. Saya sampai kaget." Ucap Nadia sambil tersenyum canggung. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Arian langsung duduk dan turun dari tempat tidur, dia berjalan mendekati Nadia dengan sorot mata yang menyeramkan. "T-tuan... Anda kenapa ??" Tanya Nadia sambil terus melangkah mundur.…
Bab 29
"Loh? Tuan, tuan..." Nadia terus memanggil, tapi Arian terus berjalan menaiki tangga sambil menarik tangan Nadia. Mereka memasuki kamar, Arian langsung menutupnya kembali. "Tuan ? Kok kita ke kamar ? Bukannya tadi anda bilang ingin saya buatkan kue ? Tapi..." "Ssttt... Kamu berisik…
Bab 28
Pagi hari tiba, seseorang di atas tempat tidur menggeliat dan mengerjapkan matanya yang masih terasa perih. Arian memindai sekeliling, dia tidur di kamar ? Bukannya semalam dia keluar dan mengobrol bersama Tris di taman ? Arian merasakan kepalanya yang sedikit berdenyut, mungkin itu…
Bab 27
Arian masih mematung di posisinya semula, dia meneguk salivanya dengan susah payah. Sesuatu terasa terdorong di bawah sana, Arian menengok ke arah bawah, dapat di lihat sebuah tonjolan di bawah perutnya. "I-ini ... Ini tidak mungkin." Arian menghela nafasnya dengan kasar lalu masuk…
Bab 26
Arian masih memangku kepalanya dengan kedua tangan. Dia mencengkram kepalanya dengan kuat hingga jika ada yang melihatnya pasti beranggapan kalau dia sedang dalam fase frustasi tingkat tinggi. Arian merasa begitu terjebak dalam situasi yang tidak bisa dia mengerti. Bahkan perkataan yang keluar dari…
Comments
Satu pemikiran pada “Diusir Dari Kampung, Dinikahi Sultan Tampan”
Tinggalkan komentar
20 Chapters
Chapter 1: Bab 1. Tiba di Kota
Di dalam bus yang begitu padat, penumpang sampai berdesak-desakan dalam memilih tempat. Di kursi paling kiri terlihat seorang gadis yang sedang tercenung, memisahkan diri dari keributan yang terjadi disana. Nadia, seorang gadis berusia 19 tahun. Dalam fikirannya terus berputar kejadian-kejadian yang baru…
ReadmoreChapter 2: Bab 2. Rumah Utama
"Saya Nadia, tuan. Anaknya pak Haris." "Pak Haris ? Asisten pribadinya tuan Alex ?" tanya pria itu sambil menatap Nadia dengan kening berkerut. Nadia yang mendengar jawaban pria itupun langsung berubah ekspresi, dia begitu senang ternyata pria ini benar-benar mengenal mendiang…
ReadmoreChapter 3: Bab 3. Tiba-Tiba Dilamar
Pagi hari, Nadia di panggil oleh pelayan untuk sarapan bersama. Nadia pun segera mengikuti langkah sang pelayan yang membawanya ke ruang makan yang begitu megah dengan meja yang panjang dan kursi-kursi yang berjajar rapi. Padahal penghuni rumah ini hanyalah sedikit. Atau mungkin…
ReadmoreChapter 4: Bab 4. Persiapan
Tuan Alex yang sedari tadi hanya terbengong menatap kedatangan cucunya itu pun langsung bangkit dan merangkul. "Ariaan... Kau sudah pulang, nak. Kenapa gak bilang kalau mau pulang hari ini ?" tanya tuan Alex dengan bahagia. Cucunya itu pun membalas pelukannya dan…
ReadmoreChapter 5: Bab 5
Hari - hari sudah berganti, seminggu itu waktu yang sangat singkat, semua para tamu sudah memenuhi ruangan di rumah utama. Tuan Alex sengaja menggelar pesta resepsi di rumah, karena supaya lebih berkesan dan terdapat kenangan. Nadia masih terdiam di dalam kamar, dia…
ReadmoreChapter 6: Bab 6
Pagi pun tiba, sang surya telah menunjukkan wujudnya dan merangkak semakin tinggi. Sinar lembut mentari pagi menembus tirai yang masih tertutup rapat, di ruangan tersebut suasananya masih begitu sepi, menunjukkan para penghuninya masih belum terjaga dari tidur lelapnya. Nadia menggeliat dan mengucek…
ReadmoreChapter 7: Bab 7
Pagi ini Nadia dan Arian pergi ke suatu tempat. Tentu saja bukan insiatif Arian, melainkan perintah dari sang kakek yang tidak pernah di tentang sama sekali. "Kita mau ke mana ?" tanya Nadia dengan ketus. Arian yang sedang menyetir mobil pun…
ReadmoreChapter 8: Bab 8
"Apa anda membutuhkan yang lainnya nyonya ?" tanya seorang pelayan. "Tidak, kau boleh meneruskan pekerjaanmu yang tertunda." ucap Nadia. Kini dia sedang duduk di taman samping villa sambil membaca sebuah majalah yang dia temukan tergeletak di atas meja. Pelayan yang tadi pun langsung…
ReadmoreChapter 9: Bab 9
Tris memasuki mobil kembali dengan raut bersalahnya dan berkali-kali menghirup udara dalam-dalam. Nadia yang masih syok hanya terdiam, tatapannya mengikuti mobil truk yang tadi hampir saja bertabrakan dengan mobil yang dia tumpangi. "Huuffttt, Triis... Sebenarnya kau ini kenapa ? Kenapa kamu gak konsentrasi…
ReadmoreChapter 10: Bab 10
Nadia tiba di rumah pada sore hari, tepat sebelum pukul 3 sore yang sudah Tris janjikan pada Sena - pelayan yang bertanggung jawab penuh untuk menemani dan melayani sang nyonya. Dengan senyuman yang mengembang, Nadia terus berjalan menuju ke dalam vila, dia bahkan…
ReadmoreChapter 11: Bab 11
Pagi buta sekali Tris sudah bersiap dengan segalanya. Barang-barang beserta baju-bajunya sudah dia kemas dan di masukan ke dalam tas besar miliknya, rencananya dia pagi ini akan mengundurkan diri pada sang tuan walupun dia baru sehari bekerja disana. "Mau bagaimana lagi ? Aku…
ReadmoreChapter 12: Bab 12
Setelah selesai menonton para pelayan yang sedang menyiapkan sarapan, Nadia pun berjalan menaiki tangga, bersiap untuk mengetok pintu kamar. Tuk tuk tuk "Tuan..." panggilnya. Namun tak ada jawaban apapun dari dalam. "Ah, mungkin tuan masih di kamar mandi." Gumamnya. Nadia pun memilih untuk…
ReadmoreChapter 13: Bab 13
Kedatangan keduanya di sambut dengan antusias oleh kakek mereka. Penjaga langsung mengambilkan koper dan membawanya ke dalam rumah. "Bagaimana bulan madu kalian ? Lancar ?" Tanya Alex sambil merangkul cucunya berjalan memasuki rumah utama. Dari awal mobil mereka memasuki gerbang, Alex langsung berdiri…
ReadmoreChapter 14: Bab 14
Hari-hari berlalu, Arian benar-benar sibuk seperti apa yang di katakan Alex tempo hari. Nadia pun kini tak ingin terlalu memperdulikan suaminya. Mengharapkan seseorang seperti Arian untuk perhatian itu sangat menjengkelkan, alhasih dia memilih untuk berusaha mengabaikan apapun yang berkaitan dengan suaminya. Arian hampir…
ReadmoreChapter 15: Bab 15
Dua hari berlalu sejak Arian kecelakaan. Selama itu juga Nadia dengan setia menunggui suaminya, karena Alex yang sudah tua tidak bisa berlama-lama di rumah sakit. Nadia dengan sabar membantu setiap Arian membutuhkan sesuatu atau menginginkan sesuatu. Namun, tak jarang juga laki-laki itu menolak…
ReadmoreChapter 16: Bab 16
Nadia sedang membereskan kamar, dia menepuk-nepuk kasur serta bantal yang akan di gunakan oleh suaminya. Arian yang masih duduk di sofa menatapnya, dia mengalihkan pandangannya saat Nadia menoleh padanya. "Ayo tuan..." Ucap Nadia sambil memegang lengan Arian hendak memapah suaminya lagi. Namun, Arian…
ReadmoreChapter 17: Bab 17
Pagi menjelang, Arian menggeliat dan melihat jam, dia kembali membenamkan kepalanya di bantal saat mengetahui jam baru menunjukkan pukul lima pagi. Ceklek. Suara pintu kamar mandi terbuka, Arian mendongak dan mendapati Nadia sudah memakai baju lengkap dan handuk yang melilit di rambutnya. Seketika…
ReadmoreChapter 18: Bab 18
Seharian ini Nadia sibuk mengurus kakeknya yang malah semakin parah. Walaupun ada beberapa pelayan, Nadia tetap bersikukuh mengurus kakek sendiri, sedangkan pelayan hanya membantu pekerjaan Nadia. Nadia sudah mengakjk kakek supaya di rawat di rumah sakit, tapi kakek bersikukuh tidak mau dan hanya…
ReadmoreChapter 19: Bab 19
Di sepertiga malam, semua penghuni rumah di buat gempar dengan kabar tuan besar yang tak sadarkan diri. Dengan sigap Arian pun membawa sang kakek kedalam mobil, Nadia pun ikut dan duduk di kursi belakang menemani sang kakek. Selama perjalanan Nadia menggosok telapak tangan…
ReadmoreChapter 20: Bab 20
Esok harinya, Nadia sedang sibuk memasukkan semua barang-barang pada tas. Hari ini kakek jadi pulang kerumah karena dokter sudah memberinya izin, dengan syarat harus rutin melakukan chek-up ke rumah sakit. "Sudah belum ?" Tanya Arian yang baru datang dari luar. Dia semalaman menginap…
Readmore






Lanjut ka… aku menunggu