Lubis memperhatikan gambar yang di tunjuk Alika, raut wajahnya seketika berubah.
Lubis memperhatikan foto USG yang ada di tangannya.
Mata berbinar memancarkan kebahagian.
“Alika! Apa keponakan ku laki laki?” tanya Lubis dengan nada sangat bersemangat.
Alika mengangguk.”Ia Mas, menurut hasil USG ini bayi Via berjenis kelamin laki laki.”
“Haah!” Lubis memeluk Alika dengan penuh rasa bahagia.
“Alika, Aku sungguh bahagia mendengar kabar ini.” ucap Lubis yang masih memeluk Alika erat.
Sedari dulu Lubis memang sangat menginginkan bayi laki laki, namun Tuhan belum menghendakinya.
Dan sekarang!
Lubis akan memiliki keponakan laki laki.
______
Hubungan Lubis dan Alex berangsur membaik setelah kejadian tempo lalu.
Bukan hanya dari hubungan bisnis saja tapi di kehidupan pribadinya juga.
Erina sering mengajak berkunjung ke kediaman Lubis untuk sekedar menjenguk Via.
Walau Via sendiri tidak pernah berinteraksi langsung dengan Erina. Karena memang Via banyak melupakan orang orang di sekelilingnya.
Ya di ingatnya hanya kenangan pahit tentang David mantan pacarnya, dan juga tentang kehamilan yang tidak dia inginkan.
Hari ini Erina di temani Mama, Alin dan juga Della.
Pergi ke Mall untuk berbelanja keperluan bayi, usia kandungan Erina yang sudah berusia tujuh bulan, membuatnya sedikit kesusahan untuk berjalan.
Della dengan sigap membantu Erina.
Sampai di Mall mereka berempat langsung mencari toko yang menyediakan peralatan bayi.
Begitu masuk Mama langsung pergi memilih barang barang yang menarik perhatiannya, Mama memilih dengan sangat antusias begitu juga dengan Ka Alin..
Sedangkan Erina hanya mengikuti saja, sambil milih milih.
“Aduh! Ini lucu sekali.” Mama mengambil sepatu bayi lalu memasukkannya ke dalam keranjang.
“Ini, bagus. Ini lucu!”
“Wah! Alinl Mama ambil yang ini.”
“Ayo kesana. Sepertinya lucu lucu.”
Begitulah kehebohan Mama.
Sebenarnya Erina. juga sangat antusias, namun dirinya tidak bisa seheboh Mama yang kesana kemari.
Saat Erin sedang memilih milih baju tiba tiba teringat VIa.
Umur kandungan Via sama dengan Erina hanya beda satu minggu saja.
“Dell. Kita ke tempat baju anak laki laki yuk.” ajak Erina.
“Baik Nona.”
Erina berjalan ke tempat pakaian anak laki laki, begitu sampai Erina kebingungan mau pilih yang mana, semua bagus dan juga lucu.
Ingin sekali Erina mengambil semua yang ada di toko ini. Wkwkwk…
Berkat bantuan Della akhirnya Erin beberapa baju, sepatu topi, kaos kaki dan juga satu set alat makan bayi.
Sudah puas mengelilingi toko, sudah banyak juga belanjaan belanjaan yang terkumpul di troli, membuat Mereka menyudahi acara belanjanya.
Mama sudah mendorong dua troli penuh, Ka Alin satu troli, begitu juga dengan Della yang mendorong dua troli penuh belanjaan.
Mama dan yang lain berkumpul di kasir untuk membayar belanjaan mereka, namun karena belanjaan mereka sangat banyak.
Mama menyuruh Della membawa Erina ke mobil, kasihan jika masih harus menunggu di kasir.
“Sayang, kamu tunggu di mobil saja, biar ini Mama dan Alin yang menunggu.” Mama mengusap keringat di kening Erina.
Erina sempat diam sejenak. Namun kemudian Erina mengangguk setuju.
“Della, kamu bawa Erina ke mobil sekarang.” titah Mama.
“Baik Nyonya.”
Della membawa Erina keluar dari Mall.
“Nona tunggu disini sebentar, saya akan ambil mobil.” ucap Della, ketika mereka tiba di lobi Mall.
“Ok deh. Tapi jangan lama lama ya.” pinta Erina.
“Pegel banget ini kaki.” imbuhnya lagi.
Della mengangguk, lalu pergi meninggalkan Erina.
Tidak sampai lima menit Della sudah kembali, Della lebih dulu memarkirkan mobilnya, setelah itu Della kembali turun menghampiri Erina.
“Mari Nona.” Ajak Della. Della menuntun Erina sampai ke mobil membukakan nya pintu.
Huhuhuhu… Agh!
Prang!
Prang!
Aku benci kamu David!
Aku benci anak ini!
Huhuhu….
Via mengamuk di kamarnya.
Depresinya kumat!
Lubis dan Alika yang sedang ada di lantai bawah langsung berlari ke lantai atas dimana kamar Via berada.
Padahal hari ini rencananya Lubis dan Alika akan membawa Via pergi berbelanja untuk keperluan bayi nya nanti.
Begitu sampai di depan kamar Via, Lubis langsung membuka pintu..
Brak!
Saking kerasnya Lubis membuka pintu hingga menimbulkan suara yang keras.
“Via stop!” terik Lubis dan juga Alika secara bersamaan.
Bagaimana mereka tidak panik! saat ini Via sedang memegang gunting yang diarahkan ke perutnya yang membuncit.
Seolah tidak menghiraukan sekitar. Via tidak peduli dengan kedatangan Lubis dan Alika.
Lubis langsung berlari menghampiri Via, hal pertama yang Lubis lakukan merebut gunting yang di pegang Via dan membuangnya ke sembarang arah.
Lubis memeluk erat tubuh Via.
“Sadar Via, jangan seperti ini.” ucapnya tergugu.
Alika pun ikut duduk di samping Lubis yang sedang memeluk Via.
“Mau sampai kapan kamu seperti ini, sebentar lagi bayimu akan lahir. Kaka harap dengan kehadiran kamu bisa sembuh. Ikhlaskan Via, ikhlaskan!” ucap Lubis menasehati. Entah didengar atau tidak oleh Vanya.
Namun ada sebuah harapan dalam kata katanya.
Via masih tergugu di pelukan Lubis, namun sekarang lebih tenang.
Hati Kaka mana yang tidak sakit melihat adiknya seperti ini.
Alika mengusap punggung Lubis, mencoba memberinya kekuatan agar sabar dan kuat menjalani ini semua.
Dulu Alika pun bukan orang yang baik, namun seiring waktu berjalan Alika berubah menjadi orang yang lebih baik.
“Alika tolong ambilkan obatnya Via.” pinta Lubis.
Alika langsung berjalan mengambil obat Vanya yang di simpan di atas meja, serta mengambil satu gelas air putih.
“Ini Mas.” Alika menyodorkan obat. Lubis menerimanya dan langsung memberikannya pada Vanya, setelah itu memberinya minum.
Setelah minum obat, kondisi Via berangsur membaik dan sudah lebih tenang.
Bahkan Via tertidur di pelukan Lubis.
Setelah memastikan Via tidur pulas, perlahan Lubis membaringkannya di bantu oleh Alika.
______
“Ya ampun Ma. Gak sekalian di beli sama tokonya juga.” goda Hanzero saat melihat belanjaan yang tadi siang.
Saking banyaknya belanjaan Mama tadi siang sampai semua barang itu di tumpuk di ruang tamu karena belum ada tempatnya.
Hanzero yang baru pulang kerja sampai di buat geleng geleng kepala.
Bukannya tidak suka!
Tapi Alex hanya tidak percaya dengan apa gang di lihatnya.
Saking bahagia nya sebentar lagi akan launcing cucu pertama sampai berbelanja pun kalap.
“Tadinya memang mau begitu,tapi setelah Mama pikir pikir.” Mama menjeda ucapannya.
“Lebih baik kamu saja yang belikan Alex.” sambung Mama sambil tertawa.
“Hadeh!” Alex menepuk jidatnya sendiri.
Semua yang ada di sana pun ikut tertawa.
“Mas. Nanti malam ke rumah Via yuk, tadi aku beliin dia baju baju bayi dan lainnya juga. Pasti Via seneng deh.” ajak Erina.
Alez diam sesaat.
Alex tidak menyangka Erina bisa sebaik ini pada Vanya padahal dulu sudah sering menyakitinya bahkan hampir membunuh Erina, namun Erina i benar benar wanita yang sangat baik bisa memaafkan tanpa melihat sejahat apa orang itu dimasa lalu.
“Nanti Mas, coba hubungi Lubis dulu ya.”
“Ia Mas.”
Terlihat sekali Erina sangat senang.
Lubis bukan lah orang susah yang tidak mampu membelikan peralatan bayi bagi keponakannya, namun Arumi hanya ingin membuat Via bahagia dan bisa berdamai dengan keadaan.
Niat Erina tulus, tidak memandang siapa Lubis sebelumnya.
Bahkan semenjak kejadian yang menimpa Via beberapa waktu yang lalu.
Erina sudah melupakan sakit hatinya pada Vi.
Erina memaafkan Via bahkan sebelum Via memintanya.
Pernah suatu hari Erina meminta Alex untuk mencari tahu keberadaan laki laki yang sudah membuat Via seperti itu.
Awalnya Aez menolaknya, namun Erina terus membujuk membuat Alex akhirnya mengalah dan mau mencari tahu.
Namun saat orang suruhan Jo bergerak, fakta yang tidak enak di dengar pun di dapat.
Ternyata laki laki yang menghamili Via ternyata masuk penjara karena kasus narkoba. Bahkan Lubis sudah mengetahui itu.
Lubis sudah menyerahkan semua pada pihak yang berwajib. Jadi Alex pun sama dia tidak bisa berbuat apa apa.
Alex memberitahu hasil penyelidikan pada Erina, dan hasilnya Erina semakin bersimpati terhadap Via..