Table of Contents
- Chapter 1: Pengakuan Alan.
- Chapter 2: Berada di titik terlelah.
- Chapter 3: Bisikan misterius.
- Chapter 4: Merasa janggal.
- Chapter 5: Pov Alan.
- Chapter 6: Bekerja sebagai pengalihan pikiran.
- Chapter 7: Mengulang kebohongan demi menutupi kesalahan
- Chapter 8: Antara ingin melepas dan mempertahankan.
- Chapter 9: Kembali Menemui pelakor.
Lates Chapters
Kembali Menemui pelakor.
Hari yang ditunggu kaum para LDR telah tiba di mana hari ini Alan telah sampai di Jawa tepatnya di rumah orang tuanya. Tadi pria itu sudah memberi kabar Namira. Hari ini seharusnya menjadi hal yang paling ditunggu namun berbeda dengan Alan dan…
Antara ingin melepas dan mempertahankan.
Semakin hari Alan semakin sering berbohong, semua pria itu lakukan demi menjaga perasaan Namira dia tidak ingin istrinya itu marah atau menambah beban pikiran sang istri. Begitu pikirnya. Salahkah jika dia ingin menjaga perasaan Namira? Tentu saja! Jika Namira tahu…
Mengulang kebohongan demi menutupi kesalahan
“Halo assalamualaikum.” sapa Alan dari seberang sana. “Waalaikumsalam.” Jawab Namira. “Bunda lagi apa? Udah tidur ya?” tanya Alan. Namira menggeleng di balik ponsel.” nggak lagi nyantai aja.” sahut Namira. Alan mengangguk.” Kirain dah tidur.” “Nggak kok. Ayah lagi…
Bekerja sebagai pengalihan pikiran.
Namira menyampaikan pada suaminya tentang apa yang diucapkan oleh guru ngajinya tersebut, Namira menceritakan semua tanpa ada yang ditutupi dengan begitu dia berharap suaminya akan sedikit sadar dan alhamdulillah Alan mengikuti semua saran yang diberikan Namira. Pria itu sedikit demi sedikit mulai…
Pov Alan.
Alan. Pria merenung dalam kesendirian malam yang sunyi,dia tidak pernah menyangka bahwa kenakalnya akan nerujung seperti ini. Berawal dari kerja merantu atas ke inginan sendiri, yang awalnya ingin bekerja jauh agar perekonomian keluarga membaik. Tetapi semua tidak semudah yang di bayangkan…
Comments
You May Also Like
9 Chapters
Chapter 1: Pengakuan Alan.
“Bun. Ayah boleh ngomong gak?” Pertanyaan Alan di sambungan telepon itu membuat Namira heran. Tidak biasanya suaminya meminta izin dulu ketika bertanya. “Ngomong aja yah. Ada apa emang?” Namira rasa ada sesuatu yang tidak beres terdengar dari suara Alan yang sepertinya…
ReadmoreChapter 2: Berada di titik terlelah.
Semalaman penuh Namira tidak dapat tidur dengan nyenyak, wanita itu terngiang-ngiang perkataan Alan sore tadi. Tidak dipungkiri sikap Namira biasa ketika menghadapi Alan. Bahkan sebelum mereka melakukan panggilan video pun seperti tidak ada yang terjadi. Setelah merenung, Namira berpikir mungkin apa…
ReadmoreChapter 3: Bisikan misterius.
Jiwa Namira benar-benar terpukul dengan masalah yang sedang dihadapinya. Namira yang tadinya seorang yang periang, senang bersosialisasi dengan tetangga tapi sekarang wanita itu lebih suka diam menyendiri di rumah. Tidak ada semangat, tidak ada lagi keceriaan di wajah ibu tiga anak itu.…
ReadmoreChapter 4: Merasa janggal.
Hampir saja ponsel yang dipegangnya terjatuh, Namira sampai diam mencerna apa yang barusan dia dengar. Benarkah? Ini bukan mimpi? Namira mencubit tangannya sendiri. Sakit! Ini nyata. Ini bukan mimpi. Air mata Namira kembali jatuh, hati yang sudah hancur…
ReadmoreChapter 5: Pov Alan.
Alan. Pria merenung dalam kesendirian malam yang sunyi,dia tidak pernah menyangka bahwa kenakalnya akan nerujung seperti ini. Berawal dari kerja merantu atas ke inginan sendiri, yang awalnya ingin bekerja jauh agar perekonomian keluarga membaik. Tetapi semua tidak semudah yang di bayangkan…
ReadmoreChapter 6: Bekerja sebagai pengalihan pikiran.
Namira menyampaikan pada suaminya tentang apa yang diucapkan oleh guru ngajinya tersebut, Namira menceritakan semua tanpa ada yang ditutupi dengan begitu dia berharap suaminya akan sedikit sadar dan alhamdulillah Alan mengikuti semua saran yang diberikan Namira. Pria itu sedikit demi sedikit mulai…
ReadmoreChapter 7: Mengulang kebohongan demi menutupi kesalahan
“Halo assalamualaikum.” sapa Alan dari seberang sana. “Waalaikumsalam.” Jawab Namira. “Bunda lagi apa? Udah tidur ya?” tanya Alan. Namira menggeleng di balik ponsel.” nggak lagi nyantai aja.” sahut Namira. Alan mengangguk.” Kirain dah tidur.” “Nggak kok. Ayah lagi…
ReadmoreChapter 8: Antara ingin melepas dan mempertahankan.
Semakin hari Alan semakin sering berbohong, semua pria itu lakukan demi menjaga perasaan Namira dia tidak ingin istrinya itu marah atau menambah beban pikiran sang istri. Begitu pikirnya. Salahkah jika dia ingin menjaga perasaan Namira? Tentu saja! Jika Namira tahu…
ReadmoreChapter 9: Kembali Menemui pelakor.
Hari yang ditunggu kaum para LDR telah tiba di mana hari ini Alan telah sampai di Jawa tepatnya di rumah orang tuanya. Tadi pria itu sudah memberi kabar Namira. Hari ini seharusnya menjadi hal yang paling ditunggu namun berbeda dengan Alan dan…
Readmore





