“Bagaimana kondisi Mas Angga, Dokter?” Anita menatap melas pria di hadapannya.
“Kondisi, Pak Wijaya baik-baik saja. Dia hanya stres saja, yang membuatnya kelelahan,” kata pria itu, sedikit menjabarkan tentang kondisi Angga Wijaya yang saat ini terbaring tak sadarkan diri di tempat tidurnya.
“Kapan Mas Angga sadar, Dok?” Anita masih belum tenang, meskipun sudah diberitahu tahu, bahwasanya sang suami baik-baik saja.
“Tidak lama lagi dia Pak Wijaya akan sadar. Namun, harus tetap diingat. Beliau harus banyak-banyak istirahat dan jangan sampai stress berlebihan seperti tadi,” pesan pria yang mengenakan setelan jas putih kebesaran seorang dokter.
“Baik, Dok. Saya akan ingat pesan dokter dengan baik.” Anita meremas ujung hijabnya. Mendekap seerat mungkin. Mencoba untuk menguatkan diri sendiri.
Dia tidak menduga sebelumnya, akan terjadi hal seperti ini. Kondisi suaminya sangat drop, sampai tidak sadarkan diri.
“Kalau begitu, saya permisi dulu. Jangan lupa berikan obat yang sudah saya resepkan tadi!” tegasnya lagi.
Anita mengangguk cepat. “Terima kasih, Dokter.”
Selanjutnya pria itu melenggang pergi, meninggalkan ruangan tersebut. Anita pun hanya mengantarnya hingga pintu kamar saja karena ia tidak mau meninggalkan sang suami untuk waktu yang lama.
“Mas Angga,” panggilnya berucap lirih sambil menggenggam erat tangan kanan sang suami.
Anita mengecup punggung tangan itu, pelan dan penuh kasih sayang, dengan harapan dari sentuhan itu, Angga Wijaya bisa segera membuka matanya.
“Maafin aku ya, Mas. Seandainya malam itu aku tidak datang ke rumah ini, mungkin masalahnya tidak akan serumit ini,” katanya lagi, seolah pria yang terbaring tak sadarkan diri itu akan mendengarnya.
“Seharusnya, aku tidak datang malam itu, hanya demi meminjam uang kepadamu. Mungkin, saat ini hubunganmu dengan Gema akan baik-baik saja. Keluarga yang selama ini kamu bangun dengan cinta dan kasih sayang, tidak akan rusak seperti sekarang …”
Kata demi kata coba Anita rangkaian menjadi sebuah kalimat. Suaranya begitu pelan dan beberapa kali tampak menyeka air mata, yang mencoba menerobos dinding pertahanannya.
Kurang dari setengah jam ia berceloteh di samping sang suami, tiba-tiba mulai ada pergerakan dari Angga Wijaya.
Jari jemarinya bergerak pelan, yang bisa Anita rasakan secara langsung.
“Mas Angga.” Anita mengangkat kepalanya, buru-buru menyeka air matanya. Dipandanginya wajah tampan pria yang telah menginjak usia lima puluhan tahun itu.
Terdengar suara erangan pelan yang keluar dari mulut Angga Wijaya. Namun, ia masih belum bisa membuka matanya.
“Mas Angga.” Anita semakin erat menggenggam tangan suaminya. Dia juga mengecupnya berulang kali, supaya Angga Wijaya cepat sadar.
“Dek …,” akhirnya satu kata keluar dari mulutnya, meskipun itu terdengar sangat pelan. Namun, Anita bisa mendengarnya dengan jelas.
“Iya, Mas. Aku di sini.”
Anita benar-benar menunjukkan perhatian penuh. Bahkan ia tidak melepaskan genggaman tangan itu.
Perlahan-lahan, Angga Wijaya pun membuka matanya. Dalam pandangannya masih terlihat samar langit-langit kamarnya.
Seperti ada kekuatan sihir yang sangat kuat, kesadarannya pun cepat pulih. Semua itu terjadi karena sentuhan Anita yang begitu kuat.
“Mas Angga.” Tidak ada kata lain yang mampu ia ucapkan selain dua kata itu.
Angga Wijaya mengerjapkan matanya pelan. Menatap dalam-dalam kedua pasang yang berkaca-kaca itu. Selanjutnya, dia mengangkat tangan kirinya pelan-pelan, kemudian mengelus kepala sang istri penuh kelembutan.
“Maafkan Mas, Dek. Mas sudah berjanji akan membuat kamu selalu bahagia, tetapi hari ini. Mas, malah membuat kamu menangis,” ucapnya terdengar lirih. Tubuhnya masih sangat lemas. Belum bisa bergerak cepat.
“Mas jangan banyak ngomong dulu. Kata Dokter. Mas harus banyak-banyak istirahat.” Anita pun sedikit mengomel, lantaran sang suami yang sudah banyak bicara, padahal ia baru sadarkan diri.
“Mas baik-baik saja, Dek. Percayalah.” Dia mencoba memberi kalimat penenang. Namun, hal tersebut tidak semata-mata membuat Anita merasa lebih baik.
Anita yang sangat merasa ketakutan itu, segera ia mendekap tubuh sang suami.
“Kebahagiaanku adalah melihat Mas Angga sehat. Jadi, Mas Angga harus cepat sembuh, supaya aku merasa bahagia terus,” ungkapnya bernada manja.
Sedikitnya hal tersebut, membuat Angga Wijaya sedikit tersenyum dan merasa lebih baik. Dia kembali mengelus kepala sang istri yang tertutup hijab itu.
“Maafin Mas ya, Dek. Mas tidak memberitahukan ini sebelumnya ke kamu. Mas tidak tahu, situasinya akan serumit ini jadinya.”
Anita segera melepaskan pelukannya. Mendengar kalimat itu keluar dari mulut sang suami, membuat perasannya menjadi kacau kembali.
“Sudah ya, Mas. Kita enggak usah bahas soal itu lagi. Aku tidak mau, Mas Angga terlalu stress karena memikirkan hal yang telah diperbuat Gema.”
Anita tidak bisa menutupi kekesalannya, lantaran dalam kondisi yang kurang fit, sang suami masih mengungkit soal warisan rumah. Padahal ia sendiri memilih untuk segera melupakannya.
“Iya, Dek. Mas tahu, tetapi masalahnya memang tidak semudah itu. Satu hal yang membuat Mas tidak meninggalkan rumah ini karena janji Mas kepada almarhum Calista, yang membuat Mas tidak ingin meninggalkan rumah ini.”
Anita pun menatap teduh dan cukup lama, pria yang kini telah menjadi suaminya itu.
“Iya, Mas. Aku bisa ngertiin kok. Aku yakin, pasti Mas Angga memiliki alasan kuat untuk meninggalkan rumah ini. Mas tenang aja ya. Enggak usah dipikirin. Aku akan baik-baik saja, selama ada Mas Angga di sisiku.”
Angga Wijaya mengulas senyuman tipis. Ucapannya itu, nyatanya bukan sekedar kalimat penenang belaka, melainkan sebuah untaian kata yang mampu menembus hati yang paling dalam.
“Kenapa Mas Angga menatapku seperti itu?” tanya Anita penasaran, sebab ia merasa ada makna tersembunyi di balik senyuman yang coba suaminya tunjukkan itu.
“Enggak kenapa-kenapa, Dek. Mas merasa sangat bahagia karena memiliki kamu sebagai istri, Mas.”
Anita yang cukup penasaran tadi, kini seolah-olah berubah menjadi anak kucing yang begitu menggemaskan.
Dia kembali memeluk sang suami dan kemudian berkata. “Aku pun sangat bahagia karena memiliki Mas Angga sebagai suamiku.”
Ungkapan itu, bukanlah sebuah bualan atau lelucon yang diperuntukkan untuk mencarikan suasana, tetapi memang sebuah kalimat yang benar-benar keluar dari dalam hatinya.
***
Sementara itu, di tempat terpisah. Gema pun memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah, yang tampak kosong dan terbengkalai itu.
Pekarangannya dipenuhi rerumputan yang cukup tebal. Dapat dikatakan area ini sudah lama tidak diurus.
Gema keluar dari mobilnya, memakai kacamata hitam kebanggaannya, lalu berjalan memasuki rumah itu.
Bagian dalamnya sangat berdebu. Dinding-dindingnya dipenuhi jaring lama-lama. Entah sudah berapa lama rumah ini ditinggal penghuninya.
Gema pun berjalan tanpa merasa risih sama sekali. Tujuannya bukan untuk mengomentari rumah tersebut, melainkan ada urusan lain yang harus ia selesaikan.
Tepat beberapa meter dari posisinya berdiri sekarang. Gema melepaskan kacamata hitamnya itu. Ditatapnya dengan sorot mata tajam, seorang pria yang duduk di sana. Kedua kakinya diangkat dan berada di atas meja.
“Aku sayang untuk menyepakati perjanjian kita!” seru Gema dengan lantang.
Pria itu segera mengubah posisinya menjadi duduk tegak. Dia melepaskan kacamata hitamnya juga.
“Apa kau sudah membawa uangnya?!” tanya pria itu, yang tidak kalah lantang suara dari Gema.
“Iya. Aku membawa ceknya!” Gema mengikis jarak yang hanya tersisa beberapa meter itu.
Sikapnya begitu tenang, seolah yang ia hadapi adalah teman atau rekan kerjanya. Padahal, ini kali pertama mereka berjumpa.
“Mana cek yang kau janjikan itu!” Pria itu berkata dengan sangat serius. Aura yang terpancar dari sorot matanya begitu mengerikan. Namun, Gema masih mampu mempertahankan ketenangannya.
“Ini cek untuk sertifikat rumah itu!” tegasnya sambil mengeluarkan selembar kertas dari dalam saku celananya.
“Jumlahnya 2 Milyar, untuk tanah, rumah berserta isinya!”
Pria itu menyeringai kecil. Sementara Gema, menatap serius tanpa ekpresi.
“Setelah ini, rumah itu akan menjadi milikku. Kalian harus pergi dan jangan pernah menunjukkan muka kalian di hadapanku lagi!” tambahnya, sekaligus mengakhiri kalimatnya.