Pukul 04.45 WIB.
Adzan subuh pun sudah berkumandang sejak beberapa menit lalu. Anita dan Angga Wijaya telah bersiap untuk sholat subuh berjamaah. Angga Wijaya sebagai imam dan Anita menjadi makmumnya.
Baik Anita maupun Angga Wijaya, sudah sama-sama sepakat untuk melupakan kejadian semalam. Saling memaafkan satu sama lain.
Sholat subuh kali ini, begitu khusyuk dan tenang. Sampai di sujud terakhir. Angga Wijaya tak kunjung menggerakkan tubuhnya.
Posisinya tetap sujud hingga beberapa menit. Mendapati adanya kejanggalan di sini, Anita pun menyudahi sholatnya.
“Mas Angga.” Dia mendekat dengan perasaan was-was, kemudian digerakkan tubuh sang suami pelan.
“Mas Angga!” Suaranya cukup histeris, lantaran suaminya memejamkan mata dan ketika didorong, ia pun telentang kaku.
“Mas bangun.” Sebisa mungkin ia tetap tenang. Mencoba mengendalikan isi kepalanya supaya tidak berpikir yang aneh-aneh.
Anita mencoba menggerakkan tubuh suaminya. Namun, tidak ada respon sama sekali dari Angga Wijaya.
Disentuhnya tengkuk suaminya. Dirasakan bagian tersebut yang seolah diam tanpa ada getaran. Seketika itu juga ia membola. Matanya berkaca-kaca tanpa diminta.
“Mas Angga,” panggilnya terdengar lirih. Napasnya seolah tercekat di ujung tenggorokan. Tatapannya kosong pada sang suami yang terkapar itu. Tubuhnya bergetar hebat. Dia meremas ujung mukena yang dikenakan.
“Mas Angga!!!” Barulah setelah itu ia menjerit histeris. Tangisnya pun pecah detik itu juga.
“Mas Angga! Jangan tinggalin aku, Mas! Mas Angga, bangun!” Dia tidak lagi bisa membendung perasaan itu. Anita menangis histeris. Meraung memanggil nama suaminya.
Tubuh yang sudah kaku itu, digoyang-goyang, dengan harapan sang suami dapat bangun.
Anita masih menganggap semua ini hanyalah mimpi. Ia hanya perlu bangun dari mimpi buruk ini. Suaminya masih hidup.
Ya. Ia, hanya sedang bersandiwara sekarang. Mengajaknya untuk bercanda. Akan tetapi, setelah beberapa menit berlalu, tidak ada tanda-tanda suaminya akan menyudahi sandiwara itu.
“Mas Angga!!! Bangun, Mas!!!” teriaknya sekali lagi. Meraung terus menerus, mencoba membangunkan suaminya.
Kali ini jeritannya berhasil membuat orang lain datang. Gema pun langsung berlari, ketika mendapati sang ayah terkapar tidak sadarkan diri di lantai.
Gema memandangi Anita sekilas, sebelum akhirnya dia menyentuh tengkuk sang ayah dengan dua ruas jarinya.
Setelah merasakan denyut nadi sang ayah yang sudah tidak ada lagi, Gema pun tertunduk lesu.
“Innalilahi wainnalilahi rojiun,” ucapnya lirih sembari memejamkan mata.
Apa ini? Jadi …
Mungkinkah ini hanya sebuah mimpi? Kalau memang mimpi, maka bangunlah!
Gema tidak mampu berkata-kata. Tubuhnya mendadak lemas. Seluruh tenaganya seperti terkurang habis tanpa sebab. Betapa terkejutnya ia dengan kejadian ini.
Sementara itu, Anita menatap kosong tubuh suaminya yang kini sudah tak bernyawa lagi.
“Mas Angga …” Dia memanggilnya lirih. Pandangannya memudar, sebelum akhirnya jatuh pingsan tepat di samping jasad Angga Wijaya.
“Anita!” teriak Gema langsung bereaksi.
Pagi yang seharusnya dipenuhi keceriaan, malah disambut dengan duka mendalam. Angga Wijaya menghembuskan napas terakhirnya, menyusul sang istri yang sudah lebih dulu pergi ke pangkuan-Nya.
***
Sore hari setelah pemakaman. Di saat para tetangga dan sanak keluarga berkumpul di lantai bawah. Gema pun sedang berada di ruang kerja ayahnya. Ada di lantai dua. Ruangan yang letaknya paling pojok di rumah ini.
Ya. Kini ruang kerja itu, tidak lagi ditempati oleh pria yang sangat Gema hormati dan cintai.
Gema menatap kosong seisi ruangan. Masih hangat dalam ingatannya, bagaimana setiap harinya Angga Wijaya duduk di kursi itu, kemudian tersenyum lebar ke arahnya.
Gema bisa melihat, semangat sang ayah ketika bekerja. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, tetapi semangat kerjanya tidak luntur termakan waktu.
Gema memiringkan kepalanya, melipat kedua tangannya. Dipandanginya kursi itu penuh kerinduan.
Ya. Dia sedang membayangkan, Angga Wijaya duduk di kursi itu sambil tersenyum lebar ke arahnya.
Gema seolah masih merasakan semua ini nyata. Dia menganggap ayahnya masih hidup dan sedang bekerja.
Setelah beberapa menit berlalu, Gema pun membuang napas berat. Tanpa ia sadari, air mata telah menerobos pertahanannya.
“Ayah,” ucapannya lirih sambil mendongak.
Belum ada 24 jam, sang ayah dikebumikan, tetapi ia sudah merasa sangat rindu.
“Kenapa, Yah? Kenapa Ayah pergi secepat ini?”
Tiba-tiba ia mempertanyakan hal tersebut. Entah kenapa kalimat itu lolos dari mulutnya. Padahal ia tahu, bahwasanya maut adalah hal yang pasti di dunia ini.
Gema mengayunkan kakinya pelan. Mendekati meja kerja sang ayah. Fokus pandangannya terpaku pada sesuatu yang diletakkan tepat di atas laptop.
Sebuah amplop coklat berukuran sedang yang masih tersegel rapih.
Gema mengernyitkan keningnya. Sebelumnya ia tidak pernah melihat amplop tersebut. Mungkinkah itu milik sang ayah, yang belum sempat terbaca?
Demi menjawab rasa penasarannya. Gema pun mengambil amplop tersebut. Ada beberapa kata tertulis di sana.
‘Untuk Gema Dirgantara.’
Tertulis kalimat seperti itu di sebalikan amplop tersebut.
“Untukku? Dari siapa?” Dia pun bertanya-tanya. Namun, dilihat dari tulisan tangannya, itu milik Angga Wijaya.
Tanpa pikir panjang, Gema pun segera membuka amplop tersebut. Dia merobek ujungnya terlebih dahulu, baru setelahnya ia mengeluarkan isinya.
Ternyata lipatan kertaslah yang menjadi isinya. Rasa penasarannya kian memuncak. Gema membuka lipatan itu. Dikira ada satu lembar, nyatanya ada lima lembar kertas dan ada kata-kata di atasnya.
Gema membawa tulisan pada kertas yang paling atas.
‘Assalamualaikum, Nak. Maafkan ayah sebelumnya. Ayah yakin, saat kamu menemukan surat ini, ayah sudah tidak ada lagi di dunia ini.’
Itu, yang tertulis di paragraf awal.
Gema tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya setelah membaca baris pertama itu. Bagaimana bisa ayahnya menuliskan kata-kata demikian, seolah ia telah tahu kapan ajal menjemputnya?
‘Maafkan ayah ya, Nak. Hubungan kita akhir-akhir ini begitu renggang. Ada banyak drama dan emosi. Ayah tahu, semua itu karena keegoisan Ayah. Seharusnya kamu menikah dengan Anita dan bukan Ayah.’
Gema membacanya sangat serius, tanpa satu kata yang terlewati.
‘Mafakan Ayah, Gema. Beberapa hari terakhir, Ayah sangat kasar kepadamu. Seperi katamu. Bahkan Ayah sampai menamparmu …’
‘Maafkan Ayah, Gema. Saat Ayah menamparmu. Sebenarnya hati Ayah sangat terluka. Bagaimana bisa, seorang Ayah menampar putranya sendiri, sementara sang putra tidak melakukan kesalahan?’
‘Ya … Kamu tidak salah. Ayah yang salah dalam hal ini. Sebenarnya, ayah melakukan pernikahan ini karena Ayah merasa kasihan kepada Anita. Malam itu, Anita sayang ke rumah ini dengan penampilan yang kacau. Bahkan, dia tidak mampu membayar ojek online yang dia pesan.’
Gema tertegun saat membaca kalimat tersebut. Mendadak ia mencoba mengingat-ingat kembali hal yang mungkin ia lewati tanpa sadar?
Setelah berpikir keras beberapa saat, Gema pun tidak mendapatkan jawabannya. Ya, dia kembali melanjutkan membaca isi surat tersebut.
‘Malam itu, Anita sangat kacau. Sebenarnya dia datang untuk mencarimu. Dia tidak bisa menghubungi kamu melalui telpon karena hp-nya dijual untuk membeli obat Bapaknya yang sedang sakit.’
Gema baru teringat suatu hal. Dua Minggu sebelum terjadinya pernikahan itu. Anita berpesan kepadanya, bahwa ponselnya rusak. Sehingga ia berniat untuk membawa benda itu ke tukang service. Jadi, bilamana dirinya tidak bisa dihubungi, artinya ponsel itu sedang diperbaiki.
Saat itu, Gema percaya akan alasan tersebut. Namun, kenyataannya tidaklah demikian. Ponsel itu tidak sedang diperbaiki, melainkan dijual untuk menyambung hidup.
Gema memejamkan matanya. Baru beberapa paragraf membaca isi surat tersebut, dirinya sudah merasa tidak sanggup untuk melanjutkannya.
Entahlah! Agaknya ia masih belum siap mengetahui banyak fakta di dalam surat itu. Mungkin?
Gema menarik napasnya dalam-dalam. Mencoba menetralisir pikirannya yang kacau balau itu.
Setelah diam beberapa saat, akhirnya dia memutuskan untuk membaca semua isi surat itu.
Kira-kira apa yang saja yang Angga Wijaya tuliskan di surat itu?