Hari berikutnya. Kali ini Gema bangun lebih awal. Setelah sholat Subuh, dia langsung berkutat di dapur, seorang diri tanpa dibantu oleh ART.
Ya, begitulah seperti yang dibayangkan. Dia sedang memasak. Ceritanya itu membuat sarapan untuk semua orang dengan penuh semangat dan antusias. Tangan kanannya memegang pisau dan asyik memotong bawang-bawangan.
Siapa yang bilang, cowok enggak bisa masak? Tentu saja bisa. Cowok pun bisa memasak bila ada kemauan.
Sementara itu, di atas kompor yang sedang menyala. Dia sedang menghangatkan sayur yang kemarin Anita masak. Kemarin malam, sayur itu tidak habis. Dari pada dibuang, mending dihangatkan kembali. Toh rasanya juga masih enak.
Senyuman sumringah terpencar sempurna di wajah tampan pemuda dua puluh lima tahun itu. Entah jin mana yang telah merasukinya, sehingga suasana hatinya kali ini tampak sangat bahagia?
Setelah memotong bawang, sekarang dia mengiris cabai. Kemudian mengeluarkan bahan makanan dari dalam kulkas.
Anita yang baru saja selesai sholat subuh, lantas buru-buru pergi ke dapur. Sebab hidungnya terus mencium aroma yang menggugah selera makannya.
“Tumben, kamu udah bangun?” tanya Anita, yang tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya ketika melihat Gema yang sudah sibuk di dapur.
Apa-apaan ini? Dia mengira ART yang sedang memasak, ternyata … Seorang Gema Dirgantara.
“Hooh, kebangun dari jam tiga. Enggak bisa tidur lagi. Habis subuh. Ya udah, mending masak aja,” jawab Gema santai.
Kali ini nada bicaranya agak berbeda dari sebelumnya. Terdengar lebih santai dan tidak ada kecanggungan. Seolah kembali ke sosok Gema yang dulu.
Anita yang mendengarnya pun tercengang. Tidak dapat dipungkiri, ia begitu terkejut dengan perubahan sikap dari anak tirinya itu.
“Kenapa kamu diam? Aneh ya, lihat aku masak?” Gema melirik Anita yang diam di posisinya. Langkah selanjutnya, ia mematikan kompor yang tadi sedang menghangatkan sayur itu.
Gema melakukannya dengan lihai. Tidak kaku. Seakan-akan dia sudah sering bermain di dapur.
“Hehehe … Iya aku tahu, kamu pasti kaget kan lihat aku masak? Soalnya kan selama ini, aku tuh tahunya cuma makan doang. Ya kan?” Dia menebak dan cengengesan, menunjukkan deretan giginya yang putih. Menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Sungguh seperti kebiasaannya dulu.
Anita pun mendekat. Agaknya ada yang tidak beres di sini. Rasa penasarannya begitu tinggi. Tidak mungkin, pemuda yang beberapa waktu terakhir bersikap dingin dan arogan, langsung berubah menjadi kalem dan penuh senyuman, hanya dalam waktu singkat?
“Kamu enggak lagi …” Spontan Anita mengangkat tangan kanannya. Niat hati ingin menyentuh kening Gema. Namun, hal tersebut langsung dihentikan oleh sang pemilik nama.
Pada akhirnya, baik Gema maupun Anita saling beradu pandang, dengan jarak yang hanya beberapa jengkal. Status yang selama ini menjadi jarak, seolah hilang untuk beberapa saat.
Aneh banget. Padahal, beberapa kejadian terakhir, Gema seolah enggan untuk didekati Anita. Pun dengan Anita. Akan tetapi, situasi sekarang seakan-akan kembali ke momen saat keduanya berstatus pasangan kekasih. Menjauhkan status ibu dan anak yang mengikat keduanya.
“Maaf!” Anita buru-buru menarik tangannya, setelah berhasil mendapatkan kembali kesadarannya.
Gema pun menyembunyikan tangannya ke dalam saku celana. Jujur! Saat ini dia merasakan adanya aliran listrik bertegangan tinggi yang mengalir dalam tubuhnya.
“Ya udah. Kamu lanjut lagi masaknya. Aku enggak bakalan ganggu kamu,” ucap Anita dan langsung membuang pandangannya ke sisi berbeda.
Kejadian barusan, membuatnya lupa ingin melakukan apa tadi?
Ya. Mengapa momen seperti dulu, harus terjadi lagi? Dia harus cepat-cepat mengendalikan pikiran serta hatinya. Bagaimana juga, Angga Wijaya adalah suaminya, sekaligus seseorang yang berada di tahta tertinggi hatinya.
Anita tidak lagi menoleh. Dia mempercepat langkahnya dan akhirnya meninggalkan ruangan tersebut. Sementara, Gema masih berada di posisinya sambil terus memperhatikan Anita yang telah pergi itu.
“Seperti yang telah aku janjikan kepada Ayah. Aku akan membuatmu, kembali bahagia, Anita …,” gumamnya sembari mengerjapkan mata dan tersenyum simpul.
Ada makna yang sangat dalam dibalik senyuman itu.
***
Satu jam kemudian. Gema pun mendatangi kamar Anita. Ya, lebih tepatnya kamar sang ayah dulu.
Gema mengetuk pintunya pelan, sembari memanggil nama ibu tirinya itu.
“Iya, sebentar!” Anita segera menyahut dari dalam kamar.
Tidak berselang lama, pintu kamar pun terbuka. Menampakkan sosok wanita cantik tanpa balutan make up, tampak begitu naturan.
Gema sempat melamun beberapa detik saling takjubnya akan kecantikan Anita, yang ternyata hingga detik ini masih mampu mengalihkan dunianya.
“Ada apa?” Anita bertanya. Suaranya lembut seperti helayan sutra.
Gema tersenyum canggung. Kekagumannya pada Anita tidak rupanya tidak bisa disembunyikan.
“Sarapannya udah siap. Maaf, tadi sedikit melamun,” ungkapnya sedikit menahan rasa malu, lantaran tidak bisa menjaga pandangannya.
“Heum, iya. Enggak apa-apa. Terima kasih udah dibuatin sarapan,” jawab Anita yang disertai senyuman hangat.
Kalau sudah begini, Anita harus membuang semua rasa canggung itu. Ya. Mungkin sudah saatnya berdamai dengan keadaan. Toh Gema pun telah menunjukkan perubahan sikapnya.
“Ayo, kita sarapan bareng!” ajak Gema dengan sopan. “Kamu jalan duluan!”
“Iya, terima kasih.” Anita mengulas senyuman tipis, yang terkesan sedikit dipaksakan. Hooh, sebab ini terlalu mendadak dan aneh menurutnya.
Anita pun berjalan lebih dulu, Gema mengekor di belakangnya.
Sesekali Anita menoleh. Dia terlalu takut dan waspada. Takut-takut Gema langsung menghunuskan sebuah pisau ke tubuhnya atau semacamnya, seperti di film-film.
Astaga! Begitu dangkal pikirannya.
Gema tersenyum tipis, melihat tingkah laku Anita yang menurutnya begitu lucu. Sedikitnya, dia bisa menebak apa yang sedang Anita pikirkan sekarang.
Keduanya berjalan memasuki ruang makan. Seketika Anita merasakan hidungnya dipenuhi dengan aroma-aroma lezat.
Aih … Ternyata cowok juga bisa masak dan dari aromanya, sepertinya sangat enak. Terbesit pikiran itu di benak Anita.
“Duduklah!” Gema menarik kursi itu. Secara lembut, dia melakukan Anita kayaknya ratu.
Anita mengangguk pelan, “iya. Terima kasih,” ucapnya ragu-ragu.
“Kamu enggak ikut sarapan juga?” Anita kembali bertanya, sebab dia melihat Gema yang masih berdiri di sampingnya.
Bukannya menjawab, dia malah cengengesan sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.
“Aku siapin dulu sarapan buat kamu.” Gema berkata dengan serius dan Anita membuka mulutnya mendengar hal tersebut.
“Enggak sudah terkejut kayak gitu. Memangnya salah ya, kalau aku melakukan kamu dengan baik seperti ini?”
Kalimat itu sungguh ambigu. Anita butuh waktu untuk menelaah dan mengartikan maksud ucapan yang terlontar dari mulut Gema.
“Eh, enggak … salah kok. Kamu boleh melakukannya. Hanya saja …” Anita kesulitan untuk menyusun kata-kata.
Apa itu ya kalimatnya? Ah, pokoknya sulit terucap.
“Sudah cukup! Aku tahu apa yang kamu mau sampaikan. Tunda aja dulu pembahasan ini. Mending kita sarapan. Sayang tuh makanannya dianggurin,” celetuknya memberi sentuhan candaan pada jawabannya.
Lagi-lagi Anita dibuat keheranan dengan tingkah laku Gema.
“Kamu mau apa?” tanya Gema yang hendak mengambil lauk pauk di atas meja.
“Biar aku ambil sendiri. Aku bisa kok.” Anita langsung menolaknya. Tentu dengan tindakan yang lembut.
Gema mengangguk paham. Ya. Dia akan biarkan Anita melakukan apa yang diinginkannya.
Setelah memastikan piring itu terisi, barulah Gema mau duduk. Bukan di sebelah Anita, melainkan berseberangan.
Anita mengangkat pandangannya. Bola matanya melirik Gema yang sedang tersenyum kecil ke arahnya.
Otak pemuda itu, sepertinya sedang bergeser. Itulah mengapa, pagi ini dia bersikap aneh dan menyebalkan. Pikir Anita demikian.
Anita menyantap sarapannya dengan perasaan was-was. Takut kalau ada racun di dalam makanannya, tapi tidak mungkin. Kalau memang ada racun, sudah pasti Gema akan terkena juga.
Lantas, sebenarnya apa yang terjadi kepada Gema di hari ini?
Setengah jam kemudian. Piring Gema sudah habis. Tidak tersisa makanan di atasnya. Sedangkan milik Anita masih tersisa sedikit.
Gema menatap Anita penuh kekaguman. Sementara Anita melirik tajam penuh tanya. Dia bertanya arti dari senyuman itu.
“Yuk, kita menikah!”