Haryo Wicaksono dan Danuseka berdiskusi di pendopo padepokan. Keduanya membahas perihal penculikan dan pengambilan harta benda dengan cara yang tidak wajar. Pasalnya menurut Galuh yang memeriksa dan menanyai keluarga korban mengatakan jika keadaan rumahnya tidak mengalami kerusakan.
Bahkan, rata-rata yang di temui Galuh mengatakan hal yang serupa. Danuseka yang mendengarkan dengan seksama pun mengambil kesimpulan bahwa pelaku menggunakan ilmu sirep. Ilmu yang memungkinkan mangsanya akan terlelap.
“Sebaiknya di ikuti saja kemana perginya sosok penculik itu, jangan langsung meringkusnya karena hanya akan membuat mereka semakin waspada terhadap lingkungan. Biarkan dan ikuti, dengan begitu akan mudah menemukan tempat persembunyiannya,” ujar Danuseka kepada Haryo Wicaksono.
“Ya, sebaiknya memang seperti itu, tetapi saya yakin mereka memiliki linuwih yang sifatnya tidak masuk akal. Bahkan, saya mengira di tempat ini hanya Galuh yang memahami hal itu,”
“Jangan khawatir perihal itu, Kang? Saya akan membersamai jika kesimpulan saja benar. Sebab memang sudah menjadi kewajiban saya menangani ilmu klenik semacam itu,”
“Terkadang saya berpikir, perlu dan tidaknya linuwih itu di padepokan Bayu putih. Menurut, Ki Danuseka bagaimana?” Tanya Haryo Wicaksono.
“Jika Kang Haryo menginginkannya, maka tidak ada alasan bagi saya untuk tidak turut andil, seperti halnya padepokan Bayu putih dahulu, sebab segala sesuatu sejatinya berhubungan.”
Bersamaan saat Danuseka berbicara, ayunan langkah dua orang gadis memasuki kediaman Haryo Wicaksono.
“Saya bersedia membantu mengajarkannya, Romo. Tetapi kemampuan saya tidak seperti, Ki Danuseka dan Ajiseka,” timpal Galuh.
Kedua lelaki itu tersenyum manakala Galuh bersedia membantu mengajari murid-murid padepokan Bayu putih yang berniat belajar di jalur kebatinan.
“Baiklah, Kang Haryo. Nanti setelah petang saya akan turut melakukan pengintaian bersama Nak Galuh.”
Selesai berucap, Danuseka memejamkan netranya. Menelisik desa setempat, dan memasang pagar gaib yang melingkupi desa. Bukan tanpa sebab Danuseka melakukan itu, pasalnya ia merasakan akan terjadi sesuatu dilingkungan tempat dirinya berada.
Semburat senja telah menghilang, mengantarkan sang Surya dalam peraduannya. Saat itu, Danuseka dan Galuh sudah berada di luar desa, tepatnya sekitar jalan masuk desa tempatnya tinggal. Bahkan, rencana Galuh yang hendak mengintai di wilayah lain terpaksa di urungkan.
“Waktu yang tepat untuk melakukan pemujaan terhadap makhluk gaib yang jahat. Galuh, lihatlah rembulan yang bersinar redup dan memendar merah itu. Jadikan ini pertanda jika iblis sedang mengatur rencana jahatnya, “ ujar Danuseka kepada Galuh.
“Baik, Ki. Jika boleh tau, adakah ada tanda kedatangan mereka ke tempat ini, Ki? Mengingat kita membatalkan rencana awal,”
“Kita tunggu saja, Galuh, tidak semua yang kita terawang terlihat serupa, tetapi setidaknya ada gambaran. Oleh karena itu, kita perlu pembuktian nyata.” jawab Danuseka.
“Galuh, gunakan Panglimunan dan tekan energimu. Saya merasakan ada hawa buruk yang mendekat.” ucap Danuseka lagi.
Galuh mengangguk, lalu tak lama kemudian ia menggunakan ilmunya untuk menghilang. Beberapa saat kemudian sepuluh orang datang secara terpisah, lalu berpencar melebar dalam satu garis. Semuanya bersedekap dan mulutnya berkecumik, ya! Mereka berusaha melafalkan mantra sirepnya.
Setelah selesai berkecumik, sepuluh orang itu berkumpul dalam satu titik, lalu mereka beranjak memasuki wilayah desa. Galuh merasa bingung dengan sikap Danuseka yang melarang dirinya bertindak, pasalnya sepuluh orang itu melenggang bebas memasuki desanya. Tentu Galuh khawatir jika Danuseka memancing kelompok itu menggunakan warganya.
“Ki, apakah tidak membahayakan keselamatan warga jika mereka menjadi pancingannya, Ki?” tanya Galuh. Gadis itu tidak sungkan mengutarakan kegelisahannya.
“Tidak ada warga yang terlibat, sekalipun mereka membawa sesuatu itu bukan warga desa.” jawab Danuseka sembari tersenyum.
“Maksudnya, Ki?”
“Saat ini mereka sedang memasuki alam lain, dan jika mereka berhasil membawa korbannya. Berarti ilmu kebatinannya belumlah sempurna dan masih dalam tahap sekedar bisa.”
Danuseka menjelaskan semuanya kepada Galuh perihal ilmu kebatinan. Sebab suatu saat dirinya harus benar-benar mengajarkan sesuai dengan jalurnya. Tanpa terasa, sepanjang perbincangan yang terjadi, sepuluh orang itu benar-benar kembali dan memanggul onggokan tubuh manusia.
Ya! Tubuh manusia, tetapi jika mereka yang melihatnya. Berbeda dengan Danuseka, sebab apa yang dilakukan oleh sepuluh orang itu tidak luput dari pengaruh tipu daya yang di gunakan olehnya. Bahkan, setelah mencermati, Galuh juga melihat keganjilan yang terjadi.
Melihat itu Galuh hampir saja tertawa jika tidak menahannya. Pasalnya tujuh orang yang dipanggul itu tidak lain hanyalah seonggok pohon pisang. Langkah sepuluh orang itu begitu riang, sehingga saat di kuntit oleh Danuseka dan Galuh mereka sama sekali tidak menyadarinya.
Hingga akhirnya mereka sampai di bangunan tua yang letaknya cukup jauh dari pemukiman lainnya. Cukup terpencil dan aral yang dilewati begitu gelap, menambah kengerian tersendiri jika melintas di daerah itu. Sepuluh orang itu memasuki gerbang tanpa menaruh curiga sedikit pun, menandakan jika ilmu yang dimiliki masih berada di tingkat rendah.
“Galuh, lebih baik kau tunggu disini dulu, biarkan saya yang melihat kesana,” ujar Danuseka.
“Baik, Ki.”
Sedangkan di dalam bangunan tua tiba-tiba terjadi keributan, sumpah serapah dan amarah terdengar memekakkan telinga. Pada saat itulah Danuseka menampakkan wujudnya di ambang pintu. Ya, sejatinya ia sudah berada di tempat itu tak lama setelah sepuluh orang memasukinya.
“Tidak ku sangka kalian masih bisa terkena tipu-daya. Bertobatlah saudaraku… Apa yang kalian perbuat sudah melenceng jauh, orang tua mempertaruhkan hidupnya demi menghidupi anak-anaknya. Tidak selayaknya mereka kalian renggut begitu saja…” ujar Danuseka.
“Heh! Siapa kau berani-beraninya lancang memasuki kediamanku!” teriak Bolokolo. Lelaki sepuh itu berdiri tegap dan kedua tangannya bersedekap.
Sesaat tatapannya terlihat nyalang, tetapi lambat-laun pandangannya menyipit. Jelas ia sedang menelisik lelaki asing yang berdiri tenang di ambang pintunya. Ia lantas menyeringai, dan menatap rendah kepada Danuseka.
“Jika kau ingin bergabung bukan seperti ini caramu, Kisanak! Di mana tata kramamu, he? Atau, jangan-jangan kau yang melakukan tipu daya terhadap murid-muridku, jelaskan padaku sebelum dirimu menyesal!”
“Memang akulah yang memperdayai mereka, sekali lagi hentikan kejahatan yang kalian lakukan. Terlebih dirimu, Ki… Saya tidak tau berapa nyawa yang sudah kalian renggut, tetapi apa yang di dapatkan dari perbuatan itu, tidak ada bukan?” jawab tenang Danuseka.
Sebelum memasuki bangunan tua itu Danuseka telah menekan energinya. Bahkan, ia hanya menyisakan sedikit energi kekuatannya agar tidak mencolok di hadapan mereka. Sebab Danuseka yakin dibalik orang-orang yang ia kuntit pasti ada pimpinannya.
Benar saja, lelaki sepuh yang menghardik dirinya memiliki kekuatan yang berbeda dengan sepuluh orang lainnya. Cukup besar, tetapi hal itu di sebabkan banyaknya prewangan yang mengikuti dirinya. Bukan asli ilmu kebatinan hasil olah diri.
“Apa pun hasilnya itu bukan urusanmu, Kisanak! Jelas sudah kau mengganggu pekerjaan kami, maka kau harus menerima akibatnya!” Teriak Bolokolo lagi.
“Ingatlah, Ki. Alam besar sudah di depan mata, turunkan emosimu dan berhenti membuang energimu,”
“Kau benar-benar lancang, Kisanak! Takarlah digdayamu sebelum melangkah masuk ke tempatku!”
Setelah berucap lelaki sepuh itu merapalkan mantra-mantra, mulutnya berkecumik tanpa henti. Bahkan, tatapannya menajam manakala merasakan jin jahat yang di panggil mulai berdatangan. Semakin pengap suhu di ruangan itu maka semakin cepat pula mulut si lelaki sepuh berkecumik.
Tidak disangka, makhluk astral yang di panggil ia arahkan untuk merasuk ke tubuh murid-muridnya. Alhasil sepuluh orang itu menjadi sangat liar, mereka menyerang Danuseka menggunakan tangan kosong dan cara penyerangannya begitu serampangan. Tentu Danuseka menyadari hal itu, tetapi ia masih tetap bersikap tenang dan tidak terpengaruh oleh liarnya sepuluh orang yang kerasukan.
Satu persatu di lumpuhkan oleh Danuseka dengan cara menarik paksa makhluk yang merasuk. Tindakan yang sangat berbeda antara Danuseka dan Ajiseka, lelaki itu lebih hati-hati dan menghindari pembunuhan terhadap lawan. Sedangkan jika Ajiseka yang menghadapinya sudah pasti sepuluh orang itu akan binasa di tangannya.
“Tidak ada gunanya kau memerintahkan makhluk seperti itu, Ki… Sudahi saja praktik sesatmu ini, ingatlah… Sejatinya apa yang kau lakukan ini merugikan dirimu sendiri. Lihatlah mereka, bukankah itu bukti kerugian yang kau alami?” ujar Danuseka sembari menunjuk sepuluh orang yang terkulai dan kehabisan energinya.
“Kau! Baiklah!” sentakannya manakala Danuseka banyak berbicara dan cenderung menggurui dirinya.
Seketika itu juga si lelaki sepuh memejamkan matanya, mulutnya kembali berkecumik merapalkan mantranya. Begitu juga dengan Danuseka. Ia menatap lelaki sepuh tanpa berkedip. Bersamaan dengan itu Sukma Danuseka keluar dari raganya dan melawan makhluk gaib yang diperintah si lelaki sepuh.
Lagi-lagi pasukan gaib itu kembali terdesak dan memilih meninggalkan Sukma Danuseka yang masih berjibaku dengan makhluk gaib lainnya. Hal itu membuat Bolokolo, si lelaki sepuh mengerang marah. Orang yang semula ia anggap tingkatan digdayanya berada di tingkat bawah senyatanya dengan mudah mengalahkan makhluk piaraannya.
Sedangkan Danuseka sendiri mulai bertindak lebih, ia menggali masa sebelum dirinya datang ke tempat itu. Bayangan kehidupan yang terlihat sungguh sangat mengerikan, ritual pembunuhan tidak lazim terpampang jelas. Tetapi ada hal yang membuat Danuseka di amuk penasaran, pasalnya salah satu dari sekian manusia yang ia lihat, ada satu sosok yang tidak bisa ia tembus.
Maka dengan adanya keganjilan itu, Danuseka menyimpulkan bahwa di belakang lelaki sepuh itu ada sosok lain yang memiliki aura begitu kuat. Pemberi perintah atas penculikan korban yang selama ini terjadi di wilayah selatan. Danuseka merasa sudah menemukan titik terang dari permasalahan yang sedang terjadi, dan ia pun menghentikan penelusurannya.
“Sadarlah, Ki… Tata cara kalian melakukan sesembahan terhadap makhluk itu sungguh sesat, berhentilah… Aki hanya di manfaatkan oleh makhluk itu. Makhluk yang menghendaki energi kehidupan manusia demi meningkatkan kekuatannya, dan yang Aki dapatkan sungguh tidak sebanding dengan korban yang di persembahkan,” ujar Danuseka setelah selesai menelisik.
“Sadar? Aku pimpinan perguruan, dan semua yang kulakukan sudah sesuai dengan kehendakku. Tidak perlu menceramahiku, Kisanak. Urus dirimu sendiri dan jangan mencampuri urusan perguruanku…”
“Jika seperti itu, terpaksa saya bertindak lebih terhadapmu dan bawahanmu, Ki.”
Selesai berucap Danuseka bergerak cepat ke arah lelaki sepuh itu.
Dugh!
Akh…
Bolokolo tersungkur, tubuh tuanya berusaha bangkit dan hendak melakukan perlawanan. Namun, sesuatu terjadi. Tubuhnya tiba-tiba kaku seperti kayu, ya! Ilmu kunci raga telah mengunci pergerakannya.