Tawang terbangun.
Ia melihat ke arah jam kecil di atas lemari kayu. Jam menunjukan pukul tiga dini hari.
Ia mengusap keringat di dahi. “ Mimpi itu benar-benar seperti nyata!” Ia menggumam lirih seraya menatap Mumtaz dan Jidan yang tidur dengan nyenyak di sampingnya.
Lalu, ia turun dari tempat tidurnya dan keluar ke ruangan lain untuk melihat Jayid yang juga masih tertidur lelap.
“Uf, mimpi itu benar-benar mengganggu! Apa mimpi itu datang karena aku memikirkan untuk mencari uang untuk tanah adik Pak ustaz?” Pikirannya terusik.
Sesaat ia menepikan mimpi itu ketika ia harus menyiapkan kue-kue yang hendak dititipkan di sekolah anaknya sekaligus menyiapkan sarapan dan bekal makan siang anak-anaknya.
Ia membangunkan anak-anaknya ketika adzan subuh berkumandang.
“Jayid, Mumtaz, ibu akan menemui Pak Ustaz untuk membicarakan masalah tanah itu sebelum panen di sungai Manyar. Antar Jidan ke PAUD sebelum kalian ke sekolah ya!” Tawang menyiapkan apa yang harus dibawa anak-anaknya.
“Ya. Ibu pergi aja, semoga semuanya lancar. Yang lain, biar kami yang urus.” Jayid menenangkan ibunya.
“Ya, Buk. Ibu yakin aja. Kata ustazah yang penting niat, yang lain Allah yang mudahkan. Siapa tahu dengan itu kita bisa punya rumah sendiri.” Mumtaz tersenyum seraya mengacungkan jempolnya.
“Berkahnya ibu punya anak-anak seperti kalian.” Tawang memeluk anak-anaknya.
Pukul enam Tawang sudah berada di ruang tamu rumah Ustaz Ahmad.
“Maaf, saya bertamu terlalu pagi, Ustaz. Saya datang untuk membicarakan masalah tanah.” Tawang merasa sungkan.
“Nggak papa, Bu Tawang. Saya tahu Ibu sibuk bekerja.” Ustaz Ahmad tersenyum. “Ya. Tanah itu dijual dengan harga lima juta. Bu Tawang bisa mencicilnya. Dan nanti kalau uangnya ada, Ibu belikan papan dan seng saja. Nanti, biar santri-santri saya yang bantu bangun. Biar langsung bisa ditempati.”
Tawang berkaca-kaca, bibirnya gemetar. “MasyaAllah, ini benar-benar rejeki yang tak disangka-sangka. Saya nggak tahu gimana harus mengucapkan terima kasih, Ustaz.”
“Suami Bu Tawang dulu ikut membangun pesantren ini. Dia dan anak-anak ibu juga santri di sini. Tanah ini memang diniatkan untuk membantu orang lain, Bu. Dan adik saya memilih keluarga Ibu.” Ustaz Ahmad mengeluarkan selembar kertas untuk akad pembelian. “Silakan tanda tangan di sini, Bu!”
Tawang menyusut air mata, membaca tulisan dalam kertas itu, lalu membubuhkan tanda tangan. Sesaat, pikirannya melayang pada suaminya yang sampai saat itu tak diketahui rimbanya. “Terima kasih, Ustaz.”
“Bu Tawang dan anak-anak sudah saya anggap seperti keluarga sendiri. Apalagi, dulu Ibu minta saya memberikan nama untuk Jayid, Mumtaz dan Jidan.” Ustaz Ahmad tersenyum.
“Kata-kata Ustaz membuat saya tidak merasa sendiri, sekali lagi terima kasih.” Lalu, Tawang pamit dan segera meninggalkan rumah Ustza Ahmad.
Langit mulai terang saat Tawang bergegas ke sungai Manyar.
Ia kembali membabat sayur dan buah di daratan di tengah sungai itu. Bahkan, kali ini ia memanen lebih banyak dari hari kemarin. “Untung di gerobak sewaan itu sudah ada tali.”
Dan di hari kedua itu, gangguan tak begitu berarti. Beberapa ular-ular melintas di sekitar kali dan suara-suara aneh bermunculan.
Tapi, kali ini mentalnya tambah kuat. Ketakutannya benar-benar tersingkir ketika ia telah mempersiapkan bekalnya dengan berdzikir dan membaca Quran tuanya tadi malam.
Dengan kecepatan tangannya yang biasa bekerja dan dengan kegesitan gerak tubuhnya, gerobak kecil itu penuh beberapa jam kemudian.
Ia mengikat hasil panen yang menggunung itu. “Alhamdulillah selesai.”
Tapi, kemudian ia tertegun. Begitu pikirannya lega, mimpi semalam yang begitu tampak nyata itu kembali mengusiknya.
“Benarkah ceruk Kijingan itu ada? Dan emas-emas itu … apa nyata?” Ia teringat perintah Alit untuk membuktikan itu di akhir mimpinya.
Ia berbalik ke satu arah.
“Kalau dari jalan yang ditunjukan dalam mimpi, ceruk Kijingan itu nggak begitu jauh dari sini. Kalau waktu pengembalian gerobak tengah hari, itu artinya aku masih bisa mencari mata air itu.” Pikirannya tergelitik.
Lalu, ia berdoa, memantapkan tekad dan menapaki jalan yang semalam ia lihat dalam mimpinya.
Satu jam kemudian ia sampai di sebuah ceruk.
“Ya Allah!” Ia ternganga.
Di depannya terpampang sebuah mata air lengkap dengan sepasang pancuran. Bahkan, tebing tinggi dan jurang curamnya.
“In- ini nya- ta?!” Ia tergagap … tak percaya.
Ia melahap setiap sudut pemandangan indah itu dengan tubuh gemetar. Lalu, ia menenankan diri.
“Jadi, siapa sebenarnya Si Alit itu?” Pikirannya terusik dengan sosok laki-laki lumpuh dalam mimpinya itu.
Dengan kaki yang sedikit gemetar, ia melangkah ke arah sepasang pancuran. Sekalipun, jantungnya masih berdegup tak menentu, tapi rasa penasaran untuk membuktikan kebenaran informasi dalam mimpi itu mmebuat ia terus melangkah.
Beberapa langkah kemudian ia sampai di dekat pancuran kembar itu.
Ia melihat tanah yang lebih gembur dari tanah sekitarnya. “Ini seperti baru saja ada yang menggali di bagian ini.” Ia berjongkok dan mengambil tanah-tanah itu.
“Eh!” Ia terkejut ketika melihat sesuatu yang berkilau di dekat pancuran itu. Lalu, ia mengambilnya dan-
“Ha?!” Ia terbelalak ketika menarik sebuah kalung emas dari tanah itu. “In- ini- nyata?!!”
Matanya terbelalak ketika mengamati kalung yang ia bentang sejengkal dari matanya. Matanya makin membelalak ketika ia menggigit kalung emas itu. “Ini emas asli!!”