Bisa-bisanya mereka menuduhku seperti itu. Dan Mas Erlangga, ia sama sekali tak membela. Aku tahu, aku memang salah. Tanpa sepengetahuan suamiku, aku yang tak sengaja bertemu dengan Anton, kembali berteman dengannya. Lelaki yang pernah sangat ku cintai, tapi itu dulu, jauh sebelum aku bisa merasakan cinta tulus yang dimiliki Mas Erlangga.
“Toh, aku gak macam-macam, kok.” Monologku sembari meletakkan tas sandang di atas kasur empuk di kamar.
Ya, aku dan Anton memutuskan untuk menjadi sahabat, seperti sebelumnya. Aku dan Anton dipertemukan dalam sebuah kegiatan orientasi kampus. Kecocokan yang kami miliki membuatku dan dia merasa nyaman. Diawali dengan persahabatan hingga akhirnya Anton menyatakan cintanya padaku. Lumayan lama hubunganku dan lelaki berkulit sawo matang itu berjalan. Aku dan Anton pun sempat berjanji untuk setia dan akan menikah setelah aku lulus pasca sarjana.
Tiba-tiba saja suara mobil Mas Erlangga terdengar olehku. Aku yakin ia berusaha mengejarku yang pulang menggunakan ojek.
Aku tak habis pikir. Awalnya aku yang mencurigai suamiku itu, tapi kini justru aku yang terkesan bersalah.
Memang, Anton masih mencintaiku. Ia sendiri mengakuinya, Tapi apa yang bisa aku lakukan untuknya, selain hanya menerimanya kembali sebagai sahabat, tidak lebih.
“Jadi, seorang sahabat bisa seenaknya memberi hadiah kepadamu yang sudah berstatus istri?” Mas Erlangga semakin menyudutkanku.
Kehadirannya justru membuatku semakin tak nyaman. Padahal aku pergi dari acara arisan itu agar bisa menenangkan diri. Namun nyatanya, lelaki kekar itu masih ingin menyambung lidah keluarganya yang dari tadi menyudutkanku.
“Kamu kan tahu Mas, kalau dari masa kuliah dulu Anton memang senang memberi hadiah buat aku.” Jelasku, kembali mengingatkannya tentang kisahku dan Anton.
“Iya, tapi itu dulu, Inara!” suara Mas Erlangga sedikit meninggi. Dan kali ini ia menyebut namaku, menandakan emosinya sedang naik.
Karena biasanya, saat bicara langsung denganku, Mas Erlangga tak pernah memanggiku “Inara”. Ia selalu menyapaku dengan sebutan manis, yaitu “Sayang”.
“Lah apa bedanya? Toh kami hanya bersahabat, tidak lebih. Dan Anton sendiri sudah berjanji bahwa hubungan kami hanya sebatas sahabat.” Aku masih saja ingin membela diri, karena menurutku, aku sama sekali tidak bersalah.
Lagipula, jam tangan yang dibelikan oleh Anton merupakan janji terakhirnya yang belum ia penuhi padaku. Sebelum resmi berpisah, Anton sempat menjanjikan akan membelikan jam tangan limited edition tersebut. Aku tak pernah menagihnya, hanya saja sebagai seorang lelaki, ia memegang teguh janji yang telah ia ikralkan padaku.
“Sahabat?” raut wajah Mas Erlangga terlihat begitu nyeleneh. Ia merasa dipermainkan. “jadi jika ada seorang lelaki yang memberikanmu hadiah, yang kamu sebut sahabat itu, kamu harus berbohong kepadaku?” tatapan Mas Erlangga semakin tajam.
Aku memang bersalah. Seharusnya ku jelaskan saja yang sebenarnya pada Mas Erlangga. Namun, entah bagaimana, di saat itu aku memilih berbohong. Semua itu aku lakukan agar ia tidak marah.
Mas Erlangga memang tidak menyukai Anton. Karena lelaki itu adalah mantan kekasihku. Dan aku juga paham perasaan Mas Erlangga. Sehingga untuk menjaganya, aku memilih berbohong.
“Kalau ingin menjaga perasaanku, seharusnya kamu menjauhi lelaki manipulatif itu!” tegasnya.
Manipulatif adalah gelar yang selalu disandingkan Mas Erlangga untuk Anton ketikaa kisah-kisah baik tentangnya didengar dari teman-temanku. Entah dari mana prasangka itu ia dapatkan. Tapi menurutnya, Anton adalah lelaki yang penuh kepura-puraan.
Tapi menurutku tidak. Anton adalah tipe lelaki setia. Baik kepada sahabatnya, maupun wanita yang dicintainya. Terbukti sampai saat ini, setelah tiga tahun berpisah, ia sama sekali tak memiliki kekasih yang baru. Lelaki sepertinya sulit untuk move on.
Meski sekarang ia sudah menganggapku sebagai seorang sahabat, tidak lebih. Tapi aku ikut merasa bersalah padanya. Hubungan kami kandas karena ketidak berdayaanku pada amanah kakek.
Kakek adalah satu-satunya anggota keluargaku yang masih tersisa. Membuatku tak bisa menolak perjodohan itu. Karena hutang budi di masa lalu, membuat kakek menjodohkanku dengan Mas Erlangga. Meski awalnya aku menolak, namun pada akhirnya naluriku luluh saat melihat kakek sudah sakit-sakitan.
“Lantas, jika aku harus menjauhi Anton, bagaimana dengan kamu?” aku menantang suamiku sendiri. Emosiku yang sudah satu bulan ini terpendam, tak lagi bisa ku bendung. Kekuatannya sudah terkumpul, seperti bom waktu yang siap untuk meledak dan menghancurkan segalanya. “kamu bisa seenaknya akrab dengan Suci, dengan dalih membantunya. Oh iya, sekarang ditambah Riska, wanita yang harus kamu bantu karena alasan sedang hamil?” ku dongakkan kepalaku ke arah Mas Erlangga.
Aku tahu suamiku itu tidak suka dikerasi. Ia ingin tetap terlihat berwibawa di depan istrinya. Ya, naluri kelaki-lakiannya tak bisa dipatahkan olehku. Dan aku juga tak berniat membuatnya tak berdaya. Aku hanya ingin ia paham tentang komitmen sebuah pernikahan.
Jika ia bisa melakukan apapun yang ia mau, lantas bagaimana dengan aku?
Mungkin juga aku egois. Sebagai seorang istri, aku seharusnya menurut padanya. Tapi wanita sepertiku tak bisa begitu saja menerima ketika perlakuannya tidak sesuai dengan dengan nalar yang ku punya.
Setelah menikah, seorang wanita kehilangan banyak waktunya. Berbeda dengan lelaki, yang masih bisa melanjutkan hobi atau kebiasaannya. Seperti Mas Erlangga yang masih bisa berkumpul bersama teman-temannya saat hari libur, sedangkan aku hanya bertemu mereka saat ada resepsi pernikahan atau acara sakral lainnya. Dan itu pun jarang sekali terjadi.
Itu pula yang seharusnya ia pahami dariku. Aku dan Anton jarang sekali bertemu. Terakhir kali saat salah satu warga sekolah mengadakan acara syukuran tujuh bulan kehamilannya, dan ternyata ia adalah kerabat dekat Anton. Di sanalah kami bertemu setelah tiga tahun ini tidak bertatap muka. Sehingga ku pikir, tak ada yang perlu dikhawatirkan Mas Erlangga.
“Aku sudah mengatakan ini berulang kali, ya? Bahwa aku tak ada hubungan apapun dengan mereka, kecuali hanya untuk membantu.” Mas Erlangga masih dengan keyakinannya. “bahkan aku sudah membeli dua tiket liburan ke Malaysia untuk kita berdua” sambungnya lagi.
Ya, aku memang sering mengatakan itu pada Mas Erlangga, untuk liburan ke negri Melayu itu. Sekaligus aku bisa bertemu Sintia di sana. Meski belum lama ia pergi, aku sudah sangat merindukannya. Selama ini, komunikasi kami hanya sebatas video call saja. Dan aku ingin sekali bercerita langsung padanya tentang semua keresahan ini.
Pandanganku berubah nanar pada suamiku itu. Entahlah, mungkin aku sedikit merasa bersalah.
Sampai tiba-tiba, suara ponselku memecahkan segalanya. Ternyata panggilan dari Sintia. Tepat sekali, aku juga ingin mengabarinya tentang rencana kami berku
njung ke Malaysia.
“Apa? Hamil?” sontak aku terkejut.