Cinta Dibalik Layar Data

Bab.5. Jejak Hitam

Malam sunyi, Randi tidak lagi berkutat dengan data tetapi kini telah berubah menjadi sang akuntan dadakan

 

Dua hari Randi bekerja dalam kesunyian yang mematikan di ruang administrasi SMP Bintang Timur. Setelah berhasil membersihkan data Dapodik, kini ia berhadapan dengan labirin angka dan kuitansi yang berantakan, mencoba memutihkan LPJ Dana BOS Tahap 1.

Pak Arman telah menyerahkan tumpukan kuitansi yang terselip, bahkan beberapa di antaranya dicatat dengan tangan di kertas bekas. Memang benar, sebagian dana dialihkan untuk membeli pompa air dan buku, kebutuhan primer yang tidak bisa menunggu, namun dicatat sebagai pembelian alat tulis kantor.

Randi, dengan kemampuan analitisnya yang tajam, harus menjadi akuntan forensik dadakan. Ia menyusun ulang anggaran, melakukan re-alokasi virtual, dan mencocokkan setiap rupiah agar terlihat sesuai dengan Juknis. Ia memastikan total dana yang keluar sesuai dengan yang dilaporkan, hanya saja peruntukannya diubah agar lolos audit administratif. 

Pagi di hari ketiga, Randi akhirnya mencetak berkas itu. Laporan setebal 50 halaman itu kini terlihat rapi, logis, dan sempurna secara administratif. Di akhir laporan, ia menambahkan lembar ringkasan yang menjelaskan bahwa sisa penggunaan dana akan dipertanggungjawabkan pada Tahap 2, sebuah langkah pengamanan terakhir.

“Sudah selesai, Pak Arman,” kata Randi, meletakkan map hijau yang berisi LPJ yang sudah ditandatangani dan distempel basah.

Pak Arman menatap map itu dengan napas tertahan, seolah itu adalah jimat keselamatan. “Terima kasih, Pak Randi. Bapak tidak hanya menyelamatkan sekolah ini dari penutupan, tetapi juga menyelamatkan saya dari masalah hukum.”

“Kita belum menang, Pak Arman,” koreksi Randi. “Ini baru permulaan. Sekarang kita pergi ke Dinas. Kita serahkan ini, dan kita cabut satu lagi alasan mereka untuk menekan kita.”

Randi tiba di Kantor Dinas Pendidikan dan langsung menuju lantai dua, ke bagian Koordinator Dana BOS.

Ia disambut oleh Ibu Rina, Koordinator Dana BOS yang dikenal sangat teliti dan kaku dalam urusan administrasi. Ibu Rina menatap Randi dengan pandangan sedikit terkejut. Biasanya, yang datang mengurus LPJ adalah Kepala Sekolah atau Bendahara.

“Selamat pagi, Ibu Rina. Saya Randi, dari SMP Bintang Timur. Saya datang untuk menyerahkan Laporan Pertanggungjawaban Dana BOS Tahap 1,” ujar Randi, meletakkan map hijau itu di meja.

Ibu Rina mengangkat alis. “SMP Bintang Timur? Cepat juga Anda. Kami mendapat instruksi khusus dari Pak Kabid agar laporan ini segera masuk.”

Randi mengangguk. “Kami langsung bekerja cepat. Kami ingin semua urusan administratif kami bersih.”

Ibu Rina membuka map tersebut. Matanya bergerak cepat, memeriksa kesesuaian format, tanda tangan, dan total angka. Ia membalik halaman demi halaman. Randi berdiri tegak, siap menjawab setiap pertanyaan jebakan atau celah.

Ibu Rina berhenti di halaman rincian penggunaan, matanya menyipit, seolah sedang mencari anomali yang selama ini ia harapkan. Ia memeriksa realokasi pembelian buku dan perlengkapan dibandingkan dengan RKAS awal.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, Ibu Rina mendongak, ekspresinya sulit dibaca.

“Laporannya… rapi,” katanya, sedikit nada terkejut dalam suaranya. “Semua terlampir lengkap, dan realisasi penggunaan dana sesuai dengan batas persentase yang diatur Juknis. Kami akan proses dan berikan tanda terima.”

Randi merasakan bahunya sedikit mengendur. Ia telah berhasil lolos dari jebakan birokrasi ini.

“Terima kasih, Bu Rina. Kami pastikan ke depan tidak ada lagi keterlambatan,” kata Randi.

“Saya harap begitu,” jawab Ibu Rina sambil mengeluarkan lembar tanda terima. “Tapi, Pak Randi, dengar baik-baik. Walaupun laporan ini bersih, itu tidak berarti status SMP Bintang Timur berubah. Keputusan penutupan tetap berlaku. Dan Dana BOS Tahap 2 tidak akan dicairkan.”

Randi menerima tanda terima itu, mencatat tanggal dan stempel resmi.

“Saya mengerti, Bu Rina. Tapi paling tidak, kami sudah menunaikan kewajiban kami,” balas Randi, sambil menyeringai.

“ Tetap semangat Pak, saya yakin apa yang bapak kerjakan ini akan membuahkan hasil yang baik. Dan semoga Pak Kabid melunak dan meluluskan permintaan Pak Randi” Bu Rina memberikan semangat padanya.

“ Saya akan membantu bapak, melaporkan semua yang telah bapak usahakan. Saya akan membantu Pak Randi, agar Dana Bos Tahap 2 sekolah bapak bisa cair” lanjut Bu Rina dengan senyuman yang membuat hati Randi sejuk.

Ada secercah harapan yang didapatkan dari penuturan Bu Rina, sebuah harapan yang membuat hatinya bernapas lebih ringan.

“ Terima kasih banyak atas bantuannya, bu” jawab Randi dengan wajah kusutnya.

“ Saya telah mendengar dari ruangan sebelah, tentang keteguhan Pak Randi, semangat Pak Randi menghadapi Pak Kabid. Saya sangat salut dengan perjuangan Pak Randi” tambah Bu Rina.

Randi meninggalkan ruangan itu dengan dokumen LPJ yang berhasil diserahkan dan diterima. Ia kini memegang dua bukti kunci yang bisa membantah argumentasi Dinas laporan verifikasi dapodik 100% clean dan LPJ Dana BOS Tahap 1 diterima dan clean.

Pak Kabid kini tidak punya alasan administratif apa pun untuk menutup sekolah ini. Bola panas telah dikembalikan ke tangan Dinas.

Lates Chapters

Bab 30. Panggung Sandiwara di Yayasan Matahari

Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden ruang rapat Yayasan Matahari terasa lebih menyengat dari biasanya. Randi duduk di ujung meja oval, memandangi…

Bab 29. Di bawah Naungan Matahari

Hari-hari berikutnya membawa Randi ke tengah pusaran pengakuan. Kemenangan Bintang Timur melawan ancaman penutupan telah menjadi desas-desus manis di kalangan yayasan. Tak lama setelah Randi…

Bab 28. Matahari Terbit Di Atas Puing

Setelah perpisahan dingin dengan Pak Arman, beberapa hari terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca bagi Randi. Pengangguran bukanlah bagian dari rencana yang ia susun…

Bab 27. Harga Sebuah Kebenaran

Setelah malam yang sunyi itu, di mana kehangatan Bu Yuda menjadi satu-satunya perlindungan Randi dari badai ancaman Pak Arman, Randi tahu keputusan sudah tak bisa…

Bab 26. Sekolah Sebagai Arena Politik

Strategi Randi yang disarankan oleh Bu Yuda, bermain sabar, mengurangi visibilitas, dan mengalihkan kredit berjalan cukup efektif selama beberapa minggu. Ketegangan dengan Pak Arman mereda,…

25. Menghadapi Ancaman Dengan Hikmat

Seperti biasanya Randi, menjemput Yuda di sekolah tempat istrinya itu mengajar. wajahnya kusut seperti tak bergairah. Perubahan itu ditangkap oleh Yuda. Dia tahu betul sikap…

24. Intrik di Balik Gerbang Sekolah

Pernikahan Bu Yuda dan Randi ibarat keseimbangan sempurna. Kehangatan rumah tangga menjadi bentengnya. Namun, ketenangan di rumah justru diimbangi dengan gejolak baru di lingkungan kerjanya,…

Bab 23. Garis Batas di Angkasa

Kisah bisik-bisik di meja bundar MKKS, meskipun tidak merusak reputasinya, tetap sampai ke telinga Randi melalui Bu Yuda. Randi mendengarkan laporan istrinya tentang kecemburuan Bu…

Bab 22. Simpang Data dan Kepala Bayangan

Dua tahun telah berlalu sejak Randi, sang penyelamat data, mengambil alih tugas ganda. Dua tahun Randi menari di antara meja-meja: meja kepemimpinan di Bintang Timur,…

Bab 21. Panggilan Dari Angkasa

Bu Yuda adalah istrinya, sosok yang menjaga rumah dan anak-anaknya di tengah badai kehidupan ganda Randi. Ia juga mengajar di SMP/SMA Angkasa, sebuah sekolah kecil…

Bab 20. Janji Yang Di Sempurnakan

Tiga bulan setelah lamaran di Panakkukang, Randi dan Bu Yuda mengikat janji suci. Berbeda dengan harapan banyak orang, Bu Yuda memilih melangsungkan resepsi pernikahan di…

Bab 19. Menepati Janji Suci

Malam itu, setelah berhasil menghubungi Kak Syarif, Randi merasa perlu berbicara langsung dengan Bu Yuda, bukan hanya untuk memberitahu tanggal, tetapi untuk mengucapkan terima kasih…

Bab 18. Membuka Hati Keluarga

Satu bulan telah berlalu sejak pernikahan Bayu. Kehidupan di rumah Randi perlahan kembali normal. Bayu dan Putri, meskipun masih remaja, memulai hidup baru dengan bimbingan…

Bab 17. Ikrar Di Kampung Halaman

Berkat uluran tangan Bu Yuda dan dukungan moral yang ia berikan, Randi mampu menata pikirannya. Uang tunai dari Bu Yuda memang sangat membantu, namun yang…

Bab 16. Badai di Gerbang Janji

Keesokan harinya, setelah janji yang Randi ucapkan di depan Grup Pattasa, ia merasa seringan bulu. Kebahagiaan Bu Yuda yang terlihat samar, namun nyata, adalah hadiah…

Bab 15. Tembok Itu Telah Runtuh

Minggu sore itu, semesta seperti bersekutu. Grup Pattasa berencana menjenguk salah satu anak dari anggotanya yang sedang sakit, dan seperti biasa, Randi menjadi pengantar utama…

Bab. 14. Antara Pusara dan Dermaga

Randi tidak memilih melamar dengan tergesa-gesa. Ia memilih jalan yang lebih sulit dan konsisten. Membuktikan keseriusannya melalui tindakan dan kehadiran yang tak pernah absen, sebuah…

Bab 13.Senandung Pelangi yang Menguning

Setelah kepergian Arumi, ruang duka yang Randi dekap perlahan diusik oleh riuh desakan. Godaan untuk melangkah maju datang bukan hanya dari sudut sekolahnya, melainkan merambat…

Bab. 12. Janji di Ujung Perpisahan

Setelah malam-malam panjang Randi membagi energinya antara merapikan administrasi sekolah dan menjaga Arumi, keadaan kekasihnya memasuki fase kritis. Kanker Rahim itu tidak mau berkompromi. Seminggu…

Bab. 11. Nafas Kedua dan Operasi Citra

Randi duduk di mejanya, menatap dashboard Dapodik yang kini berwarna hijau, menandakan validitas sempurna. Ia telah menang di semua lini internal. Dan penutupan SMP Bintang…
error: Content is protected !!