”Selama dua dasawarsa, aku adalah sebuah kapal yang pongah, merasa aman bersandar di dermaga yang sama. Aku membiarkan sauhku tertanam begitu dalam di dasar lautmu. Mengira bahwa ini semua adalah bentuk tertinggi dari kesetiaan.
Selama ini, aku tidak pernah menyadari telah menjaga karat agar tidak merusak ikatan kita. Akan tetapi, kamu justru sedang membangun dermaga baru untuk kapal yang lain.
Di lorong sunyi ini, aku sedang belajar memutar tuas, menarik perlahan jangkar yang sudah menyatu dengan lumpur luka. Aku harus bisa memaafkan semua yang telah menyakitiku. Berat, memang. Karena maaf itu, bukan seperti sebuah pintu yang sekali buka langsung selesai. Melainkan sebuah lorong panjang yang harus dilewati. Namun, aku harus melakukannya. Aku harus melepas sauh itu, agar aku bisa kembali berlayar.”
Gerimis tipis membasahi kaca jendela, sama seperti gerimis di sudut matanya yang terus menetes di pipi mulusnya. Pandangan Arunika memburam. Namun, di balik keremangan itu, ada kenangan sebening kristal. Mengalir deras membanjiri benak gadis cantik berusia 28 tahun itu. Usia yang sudah cukup untuk berumah tangga seharusnya, tetapi takdir berkata lain.
Arunika menghela napas panjang, aroma kopi hitam pekat di hadapannya tak mampu mengusir kepahitan yang menelusup rongga dadanya. Tahun 2025, adalah akhir dari semua kisahnya yang telah dirajut selama 20 tahun.
“Aku akan selalu bersamamu, Run,” janji Samudra suatu senja di tepi danau, saat Arunika berusia 18 tahun.
“Janji?”
“Iya, aku janji.”
“Apa nantinya kita akan menikah?” tanya Arunika.
“Tentu dong, Run.” Meskipun sudah menjadi sepasang kekasih, Samudra jarang memanggilnya dengan sebutan ‘Sayang’, mungkin karena hubungan mereka berawal dari persahabatan. Atau mungkin, kakak beradik?
”Aku akan menikahi kamu, membangun rumah kecil dengan taman bunga mawar yang indah kesukaanmu,” tambah Samudra.
Arunika tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Samudra, menghirup aroma maskulin yang selalu menenangkannya. Saat itu, dunia terasa begitu sempurna, penuh dengan kemungkinan dan janji manis.
Namun, semua janji Samudra itu, kini terasa seperti bisikan angin, yang tidak pernah ditepati oleh Samudra. Semua itu kini hanya tinggal kenangan
Sayangnya, hubungan mereka terpaksa kandas, setelah 20 tahun bersama.
Dua puluh tahun bukan waktu yang sebentar bagi dua orang yang saling mengenal dan mempunyai hubungan. Angka itu terasa begitu fantastis, membelitnya seperti akar tua yang tidak bisa dicabut. Ada banyak sekali rentetan peristiwa, tawa, air mata, dan mimpi yang telah mereka dibangun bersama, selama waktu tersebut.
***
September 2025
Sabtu pagi itu seharusnya menjadi hari yang tenang karena libur setelah lima hari bekerja hingga larut malam. Kebetulan sering lembur juga, akhir-akhir ini. Namun, bagi Arunika Kinasih, Sabtu itu adalah puncak dari sebuah semua kegilaan yang harus dia hadapi.
Arunika duduk di tepi tempat tidur. Seperti biasa setiap pagi, dia selalu mengirim satu pesan singkat, hanya sebuah ucapan selamat pagi. Namun, tanda centang abu-abu itu hanya ceklis satu selama beberapa menit.
“Ah, mungkin dia sibuk. Mungkin ponselnya low bat,” pikir Arunika mencoba berpikir positif. “Bisa jadi juga jaringan wifi tempat dia bermasalah dan kuotanya habis. Ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi.”
Namun, sebenarnya hatinya gelisah. Takut terjadi apa-apa dengan pria yang dicintainya itu.
Arunika lalu beralih membuka aplikasi Instagram, mencari akun @Samudra.Narendra yang biasanya muncul di barisan teratas. Nihil. Profil itu hilang, seolah ditelan bumi. Akun Facebook dan juga Tik Tok pun sama.
“Astagfirullah, ada apa, ini?” lirih Arunika.
Tidak cukup sampai di situ, Arunika mencoba menelepon. Suara operator yang datar kembali menyapa, “Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.”
Arunika terpaku. “Tidak mungkin!”
Arunika yang tadi sempat berpikir positif, sekarang langsung dibuat jatuh seketika karena memang kenyataannya jauh lebih pahit dari sekadar gangguan sinyal. Pria itu telah memblokir semua akses komunikasi dengannya.
”Kamu benar-benar melakukannya, Sam?” bisik Arunika. Suaranya pecah di tengah kamar yang sepi. “Setelah dua puluh tahun … kamu membuangku begitu saja, bahkan hanya dengan satu klik tombol blokir?”
Tiba-tiba Arunika mengingat sesuatu. “Tunggu, masih ada telegram.”
Arunika pun mencoba untuk chat dengan aplikasi tersebut. [Sam, ada apa?]
[Kenapa aku tidak bisa chat ke whatsapp kamu. Bahkan, semua sosmed milikmu tidak bisa aku temukan. Apa aku diblokir?]
Tidak lama kemudian, pesan itu dibaca pemiliknya. Akan tetapi, profil telegram milik pria tersebut langsung tidak ada berikut juga dengan semua pesannya. Keterangan dibawah namanya yang seharusnya jam berapa terakhir dilihat, atau online, itu berubah menjadi lama tidak dilihat.
Deg
Rasanya seperti sedang bernapas di dalam air. Sesak, perih, dan mematikan bagi Arunika. Samudra tidak hanya memutus komunikasi dengannya. Pria itu juga menghapus Arunika dari hidupnya. Padahal, separuh dari ingatan Arunika adalah tentang pria itu.
“Tega, Kamu, Sam!”
Arunika tidak terima dengan semua ini. Tanpa berpikir panjang, Arunika menyambar jaket denim dan kunci motor matic-nya. Ia tidak bisa diam. Ia tidak bisa menerima akhir yang pengecut seperti ini. Ia harus mendengar alasan langsung dari bibir pria itu.
Perjalanan dari rumahnya menuju kediaman Samudra membutuhkan waktu sekitar dua jam. Itu bukan jarak yang dekat untuk ditempuh dengan sepeda motor, apalagi di bawah langit September yang mulai menyengat sejak pagi.
Selama perjalanan, angin kencang menghantam helmnya, seolah berusaha mendorongnya untuk putar balik. Namun, Arunika tetap memacu gasnya. Sepanjang perjalanan mengingatkan dia dengan Samudra. Bagaimana tidak, mereka sering jalan bersama. Mereka juga kadang berhenti untuk sekedar makan di resto yang ada di pinggir jalan besar. Kini semua kenangan itu seperti racun yang harus ditelannya.
***
Dua jam kemudian, dengan tubuh yang kaku dan debu yang menempel di jaketnya, Arunika tiba di depan pagar rumah Samudra. Ia mematikan mesin motor. Jantungnya berdegup kencang, lebih kencang dari mesin motornya tadi.
Arunika masih bisa melihat mobil Samudra terparkir di garasi. Artinya Pria itu ada di dalam. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menekan bel yang menempel di pagar. Sekali, dua kali tidak keluar. Akhirnya setelah yang ketiga kalinya, ada jawaban dari dalam rumah, “Ya, sebentar.”
Tidak lama kemudian, pintu rumah terbuka. Samudra muncul dengan kaus oblong dan celana pendek, khas orang yang sedang menikmati akhir pekan yang santai. Namun, begitu matanya menangkap sosok Arunika yang berdiri lesu di balik pagar dengan helm di tangan, raut wajahnya berubah drastis. Pria itu kaget, sekaligus tampak sangat terganggu.
Samudra berjalan perlahan membuka pagar.
”Kenapa kamu ke sini, Run?” tanya Samudra. Suaranya dingin, tidak ada lagi nada hangat yang dulu selalu menenangkan Arunika. “Ada apa?”
”What?”
Bersambung …
#day1
#20harimencarimaaf
#novelgoodcompetition