Samudra membuka pagar dengan tangan gemetar. “Pa … saya … saya hanya ingin bicara sebentar dengan Arunika. Saya ingin minta maaf secara langsung.”
Papa Arunika tidak menunggu Samudra menyelesaikan kalimatnya. Dengan langkah lebar yang penuh tenaga, pria tua itu menghampiri Samudra. Begitu jarak mereka hanya tinggal satu jengkal, sebuah pukulan mentah mendarat telak di rahang kiri Samudra.
BUGH!
Samudra tersungkur ke lantai teras yang keras. Sudut bibirnya pecah, mengeluarkan darah segar yang menetes ke kemeja putihnya. Dia mengerang, memegangi rahangnya yang seolah bergeser, tetaplah dia sama sekali tidak melawan. Samudra menunduk, menerima amarah pria yang selama dua dekade lalu sudah dia anggap seperti ayah kandungnya sendiri, tetapi dia khianati dengan cara yang paling kotor.
“Itu untuk dua puluh tahun umur anakku yang kamu curi!” bentak Papa Arunika, napasnya memburu. “Dan ini …” Papa menarik kerah kemeja Samudra, memaksa pria itu berdiri hanya untuk menatap matanya yang berkilat penuh kebencian. “… ini untuk setiap tetes air mata yang jatuh karena penipuanmu!”
Arunika dan Mamanya berlari keluar rumah karena mendengar keributan itu. Arunika membeku di ambang pintu. Melihat Samudra yang bersimpuh di kaki Papanya dengan wajah babak belur, ada rasa sesak yang sempat mampir di dadanya, tetapi rasa itu bukan lagi rasa cinta. Itu adalah rasa muak yang bercampur dengan rasa kasihan yang sangat hambar.
“Papa, sudah!” seru Arunika, tetapi dia tidak mendekat untuk menolong Samudra. Arunika tetap berdiri di jarak yang aman, di balik perlindungan dinding rumahnya.
Papanya kemudian melepaskan cengkeraman tangannya pada kemeja Samudra, membuat Samudra kembali terjatuh. “Nduk, lihat pria ini. Lihat sosok yang selama ini kamu tangisi. Dia tidak lebih dari seorang pengecut yang merangkak kembali setelah dunianya hancur.”
Samudra mendongak, matanya yang merah menatap Arunika. “Run … aku ke sini, tulus benar – benar ingin minta maaf. Elena … dia sudah pergi. Dia membawa sisa uangku, setelah tahu aku harus melunasi utang bank itu. Aku tidak punya apa – apa lagi. Rumah di Jogja, rumah di sini, semuanya hilang. Aku hanya ingin kamu tahu kalau aku menyesal telah memalsukan dokumen itu.”
Arunika menarik napas panjang, merapikan hijabnya yang sedikit tertiup angin pagi. Dia berjalan perlahan menuju teras, berdiri di samping Papanya yang masih dalam posisi waspada. Ia menatap Samudra seolah sedang melihat orang asing yang tersesat.
“Kamu datang ke sini bukan karena menyesal, Sam,” suara Arunika terdengar sangat dingin dan tenang, kontras dengan emosi Papa yang meledak – ledak. “Kamu datang karena kamu sekarang merasa kesepian, sendirian, tidak punya siapa pun. Kamu datang karena Elena meninggalkanmu saat uangmu telah habis. Kamu tidak menyesal telah sudah menipuku. Akan tetapi, Kamu hanya menyesal karena kamu melepaskanku, dan orang yang kamu sanjung – sanjung, darah muda itu melepaskanmu setelah Kamu terpuruk dalam kemiskinan.”
Samudra menggeleng lemah. “Tidak, Run. Aku sadar sekarang. Kamu adalah satu – satunya yang tulus …”
“Cukup, Samudra,” potong Arunika tegas. “Ketulusanku sudah habis. Kamu sudah membakarnya bersama semua dokumen palsu yang kamu buat. Kamu bilang kamu tidak punya apa – apa lagi? Bagus. Karena itu adalah harga yang harus kamu bayar untuk kebebasanku. Sekarang, silakan pergi. Jangan kotori pagi kami yang sedang menikmati waktu bersama.”
Samudra mencoba meraih ujung gamis Arunika, tetapi Papanya segera memasang badan, menghalangi tangan pria itu. “Jangan sentuh putriku dengan tanganmu yang kotor oleh tanda tangan palsu itu! Oleh kelakuanmu yang menjijikkan dengan gadis muda itu. Pergi sebelum aku memanggil warga dan menyeretmu ke kantor polisi karena penipuan identitas!”
“Run, aku benar – benar minta maaf. Aku sadar keadaanku sekarang mungkin karna dari semesta, atas kelakuanku padamu,” ucap Samudra mengiba.
“Sudahlah Samudra, cukup. Semua yang Kamu terima itu, sebenarnya masih belum sebanding dengan yang putri saya rasakan. Jadi, saya mohon, pergilah!” seru Mamanya Arunika.
Samudra tertegun. Ia melihat ke arah Mama Arunika yang berdiri di depan pintu dengan tatapan kecewa yang sangat mendalam. “Maafkan Samudra, Ma.”
“Berani Kamu panggil istri saya, Ma?” gertak Papanya Arunika.
“Maaf, maksud saya Tante, Om.” Samudra meralat ucapannya. Dia pikir sebaiknya patuh, dari pada kembali babak belur.
Samudra lalu kembali menatap Arunika yang wajahnya kini datar tanpa ekspresi cinta sedikit pun. Ia menyadari kalau pintu ini sudah tertutup selamanya. Tidak ada lagi tempat pulang baginya. Kebaikannya di masa lalu telah terhapus oleh pengkhianatannya sendiri. Dia sekarang mengaku salah, kalau sama Elena sudah berlebihan, padahal Elena mendekatinya hanya karena modus saja.
Dengan tertatih, Samudra berdiri. Ia mengusap darah di bibirnya dengan punggung tangan. “Run, aku tulus ingin minta maaf. Aku banyak salah sama Kamu, Om dan Tante.”
Arunika diam tanpa ekspresi, dalam hatinya dia sungguh tidak tega. Bagaimana pun juga Samudra pernah mengisi hari – harinya. Rasa itu tidak bisa terhapus dengan mudah, apalagi dalam hitungan bulan.
“Baik, Run. Kalau pada akhirnya Kamu masih belum bisa menerima permintaan maafku, aku akan terima, aku tidak bisa memaksa. Tapi, Run, aku kesini dengan niat tulus, aku minta maaf sebesar – besarnya, dari lubuk hatiku yang paling dalam. Terima kasih untuk semuanya, waktu Kamu, cinta Kamu dan–”
“Cukup, Samudra!” tegur papanya.
Arunika mengangkat tangan sebagai interupsi agar Papanya diam.
“Baik, Pa. Eh, Om. Saya pamit.”
Tanpa sepatah kata lagi, Samudra berbalik dan berjalan menuju arah keluar pagar dengan bahu yang merosot.
“Samudra, tunggu!”
Suara Arunika membelah keheningan pagi yang tegang itu. Langkah Samudra yang terseret seketika terhenti tepat beberapa jengkal sebelum dia melewati gerbang besi yang catnya mulai mengelupas –gerbang yang dulu selalu terbuka lebar menyambutnya dengan aroma kopi dan senyum hangat keluarga ini.
Samudra berbalik perlahan. Harapan kecil yang berbahaya memercik di balik matanya yang bengkak. Apakah ada sisa belas kasih dari Arunika? Apakah ada celah untuk kembali?
Arunika berjalan menuruni anak tangga teras. Langkahnya tetap tenang, meski napasnya sedikit memberat.
“Run,” panggil papanya seraya ikut melangkah maju.
Papa Arunika sempat ingin menahan lengan putrinya, tetapi kemudian Mamanya menyentuh bahu suaminya, memberi isyarat agar membiarkan Arunika menyelesaikan urusannya sendiri.
Arunika berhenti di jarak dua meter dari Samudra berdiri. Ia memandangi pria itu —pria yang dulu dia puja sebagai pelindung, kini tampak seperti rongsokan harga diri yang dibalut kemeja penuh noda darah dan debu.
“Terima kasih sudah datang dan meminta maaf secara langsung padaku,” ucap Arunika datar.
Samudra menelan ludah yang terasa pahit. “Run … aku—”
“Aku memilih memaafkanmu. Sudah dari dulu, bahkan sebelum kamu bersimpuh di lantai itu hari ini.”
Mata Samudra berkaca – kaca. Sebuah senyum getir yang dipaksakan muncul di sudut bibirnya yang pecah. “Benarkah?”
Netra pria itu berbinar. “Terima kasih, Run. Terima kasih banyak. Aku tahu kamu memang wanita paling baik yang pernah aku kenal. Aku tidak tahu harus membalas apa, tapi aku janji akan memperbaiki semuanya, aku akan—”
“Tolong, jangan geer dulu, Samudra,” potong Arunika cepat. Nada suaranya tidak tinggi, tetapi tajam seperti sembilu yang menikam ulu hati, memangkas harapan palsu Samudra seketika. “Jangan salah paham.”
Samudra terdiam, kalimatnya tertahan di tenggorokan.
“Aku memaafkanmu bukan karena aku ingin kita kembali. Bukan juga karena aku masih mencintaimu,” lanjut Arunika. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Samudra yang merah. “Aku melakukan ini semua untuk ketenanganku sendiri. Juga … yang paling penting untuk kesehatan mentalku.”
Arunika menarik napas panjang, seolah sedang membuang beban berat yang selama ini mendekam di paru – parunya.
“Selama berbulan – bulan setelah pengkhianatanmu terbongkar, dan Kamu mengakhiri semuanya tanpa ampun. Bahkan komunikasi pun tidak Kamu izinkan, semua akses Kamu tutup. Sampai perjalananku untuk itu ke Jogja pun, tidak Kamu pedulikan–”
“ Run, soal itu, ma–” Samudra yang menyadari itu langsung memotongnya. Tapi, Arunika langsung memberikan interupsi dengan tangannya untuk diam.
“Cukup! Aku sudah tidak butuh penjelasan apa pun lagi darimu. Ini saatnya aku bicara. Aku rasa kamu paham etika itu,” sarkas Arunika.
“Oke. Baik, silakan lanjut,” ucap Samudra.
“Sejak, saat itulah, aku hidup dalam neraka yang kubuat sendiri. Aku membenci diriku karena terlalu bodoh. Aku menyiksa tubuhku dengan tidak makan, tidak tidur, dan menangis sampai mataku perih. Aku hampir mati karena meratapi pria yang bahkan tidak layak mendapatkan satu tetes air mataku.”
Arunika menjeda kalimatnya, matanya sedikit berkaca – kaca. Namun, bukan karena sedih, melainkan karena hati yang sudah terasa lega.
“Jadi, saat barusan aku bilang bahwa aku memaafkanmu, itu artinya aku juga sedang memaafkan diriku sendiri. Aku memaafkan memaafkan diriku sendiri karena pernah membiarkan orang sepertimu menyakiti tubuh dan batinku sedalam itu. Aku juga memaafkan diriku sendiri telah bodoh di masa lalu.” Arunika menjeda ucapannya untuk menghela napas, sebelum melanjutkannya, “Kamu tahu, Sam, dengan memaafkanmu, aku melepaskan ikatan hitam yang menghubungkan kita. Aku tidak mau membawa dendam atau energi negatif lagi padamu ke dalam masa depanku, karena dendam itu hanya akan membuatku tetap terikat padamu. Dan satu lagi, aku … sudah merasa tenang seperti ini, tanpamu. Aku merasa sangat bebas.”
Samudra terpaku. Kata – kata Arunika itu, lebih menyakitkan daripada bogem mentah dari Papa Arunika tadi. Jika pukulan fisik melukai tubuhnya, kata – kata Arunika barusan baru saja menghapus eksistensinya dari hidup wanita itu. Dia memang dimaafkan, tetapi dia juga dianggap tidak ada. Dia dimaafkan hanya agar Arunika bisa melupakannya dengan lebih sempurna.
“Kamu bilang kamu kehilangan segalanya?” Arunika tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh dengan rasa syukur atas kehidupan barunya. “Rumah, uang, Elena … itu semua hanya materi dan orang yang memang tidak ditakdirkan untukmu. Tapi, aku? Aku sudah kehilangan harga diri dan kewarasanku karena perbuatanmu. Tapi, untung aku lekas sadar dan hari ini, aku mengambilnya kembali.”
Samudra menunduk, menatap ujung sepatunya yang kusam. Di dalam batinnya, gejolak penyesalan itu kini berubah menjadi rasa perih yang teramat sangat.
“Apa semua ini terbalik?” batin Samudra meratap.
Dulu, dia berdiri di posisi Arunika —memegang kendali, merasa di atas angin dengan segala tipu dayanya, sementara Arunika mengemis perhatiannya. Dulu, dia yang merasa paling berkuasa saat memalsukan dokumen dan bermain api dengan Elena, menganggap Arunika hanyalah pelabuhan cadangan yang bodoh dengan ketulusannya. Sekarang, roda itu benar – benar berada di titik nadir baginya. “Rupanya, karma tidak main – main bekerjanya.”
Kini, justru dia sendiri yang merasakan kepedihan yang dulu dirasakan Arunika. Rasa kesepian yang mencekik, rasa dikhianati oleh orang yang dipercaya (Elena), dan rasa tidak memiliki tempat untuk kembali. Kepedihan itu kini berpindah total ke pundaknya, dan celakanya, ia harus menanggungnya sendirian tanpa ada Arunika lain yang akan membelanya.
“Pergilah, Sam,” ujar Arunika lembut, keputusannya sudah final. “Cari jalanmu sendiri. Jangan pernah kembali ke sini, jangan pernah kirim pesan, dan jangan pernah cari tahu tentang hidupku lagi. Anggap saja Samudra yang dulu sudah mati, dan Arunika yang sekarang adalah orang asing yang baru saja berpapasan denganmu di jalan.”
Arunika berbalik tanpa menunggu jawaban. Dia berjalan kembali ke arah orang tuanya. Papa dan Mamanya menyambutnya dengan pelukan hangat di ambang pintu. Mereka masuk ke dalam rumah, dan suara pintu yang tertutup rapat menjadi bunyi paling mematikan bagi pendengaran Samudra pagi menjelang siang itu.
Samudra masih berdiri di sana, di depan gerbang. Ia menatap rumah itu untuk terakhir kalinya. Matahari mulai meninggi, menyinari darah yang sudah mengering di kemejanya. Ia menyadari kenyataan paling pahit, dimaafkan oleh orang yang sudah tidak lagi peduli adalah bentuk hukuman yang paling kejam.
Samudra berbalik, lalu melangkah menjauh. Setiap langkahnya terasa berat, seolah dia sedang menyeret seluruh dosa masa lalunya.
Samudra lalu masuk ke mobilnya yang berdebu, lalu pergi meninggalkan kompleks itu untuk terakhir kalinya.
***
Begitu mobil itu menghilang di belokan jalan, ketegangan di teras perlahan mencair. Papa menghela napas panjang, bahunya yang tegang mulai rileks. Beliau menatap kepalan tangannya sendiri yang memerah, lalu menatap Arunika.
“Maafkan Papa, Nduk. Papa lepas kendali tadi. Papa tidak tahan melihat wajahnya yang seolah – olah menjadi korban,” ucap Papa lirih.
Arunika mendekat, memegang tangan Papanya dan mengusap buku – buku jari pria tua itu yang lecet. “Terima kasih, Pa. Pukulan Papa tadi … sepertinya mewakili seluruh rasa sakit hati Arunika selama ini. Sekarang, semuanya sudah impas.”
Mamanya yang barusan masuk, datang membawa air hangat dan kain kompres. “Sudah, jangan dibahas lagi. Pria itu sudah mendapatkan balasannya. Hidup tanpa harta mungkin berat, tetapi hidup tanpa harga diri dan dihantui rasa bersalah itu jauh lebih menyiksa. Mana dia sudah tidak punya orang tua, kekasih, atau pun keluarga lainnya. Biarkan dia menanggungnya sendiri.”
Arunika menatap kolam ikan di depannya. Airnya tetap jernih, ikan – ikannya tetap tenang berenang meski baru saja ada keributan besar. Arunika kembali masuk ke dalam rumah. Di sana, kartu nama Dewa masih tergeletak rapi di atas meja kayu jatinya. Arunika tersenyum. Jika Samudra adalah representasi dari masa lalu yang rapuh dan penuh tipu daya, maka meja jati dan perlindungan keluarganya adalah fondasi masa depan yang takkan tergoyahkan.
Minggu pagi itu, di bawah langit yang cerah, Arunika akhirnya lega, bisa bernapas sepenuhnya, memaafkan dirinya sendiri dan sudah menyampaikan semua unek – unek di benaknya selama ini kepada Samudra. Arunika sudah menyadari bahwa menjadi kebucinannya di masa lalu adalah bagian dari proses pendewasaannya, dan sekarang, ia merasa telah lulus dari ujian yang paling berat. Arunika tidak lagi butuh kata maaf dari Samudra, karena dirinya telah memberikan kedamaian itu untuk dirinya sendiri.
***
#day20
#20harimencarimaaf
#novelgoodcompetition