Pagi itu terasa berbeda.
Tidak ada suara langkah kaki berlari ke lantai atas. Tidak ada ember dipukul-pukul. Tidak ada teriakan “JACKPOT!” dari kolong rumah. Bahkan angin yang masuk lewat celah papan pun terasa lebih pelan, seolah ikut menjaga suasana.
Di lantai atas, Sasa membuka buku dengan hati-hati, seperti takut merusak ketenangan yang langka itu.
“Sepi ya…” gumamnya.
Gilang mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari catatannya. “Aneh malah.”
Rafi tersenyum kecil. “Baru juga kemarin kita marah-marah. Mungkin mereka kapok.”
Namun di dalam kamar, Bu Raras justru tidak merasa lega.
Ia duduk di tepi tempat tidur, menyisir rambut ikalnya perlahan. Pikirannya masih tertinggal pada kejadian kemarin—wajah Bu Minah yang tersinggung, nada suaranya yang tinggi, dan anak-anak yang turun dengan langkah berat.
“Jangan sampai saya terlalu keras…” gumamnya.
Sebagai orang Toraja, ia dibesarkan dengan nilai ketegasan. Bagi keluarganya, aturan adalah sesuatu yang harus dijaga, bukan dinegosiasikan. Tapi tinggal di rumah panggung ini membuatnya belajar satu hal: tidak semua orang hidup dengan cara yang sama.
Ia berdiri, mengambil selendang, lalu melangkah turun.
Di bawah, suasana tidak secerah yang dibayangkan.
Bu Minah duduk di depan pintu dengan wajah lelah. Tangannya memegang gelas teh yang sudah dingin. Di sampingnya, Ari bermain mobil-mobilan kecil yang rodanya sedikit miring.
“Brum… brum…” suara Ari pelan, tidak seperti biasanya.
Doni tidak memukul ember. Nisa tidak menjerit. Bahkan Tegar hanya duduk diam, menatap lantai.
Bu Raras memperlambat langkahnya.
“Pagi, Bu Minah,” sapanya lembut.
Minah menoleh, sedikit kaget. “Eh, Bu Raras… pagi.”
Nada suaranya berbeda. Lebih pelan. Lebih… hati-hati.
Bu Raras duduk di bangku kayu di sampingnya. “Anak-anak hari ini tenang sekali.”
Bu Minah tersenyum tipis. “Saya bilang sama mereka… jangan ribut lagi. Takut dimarahi.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi ada sesuatu yang menusuk di dalamnya.
Bu Raras menghela napas pelan. “Bukan begitu maksud saya, Bu.”
Bu Minah menatap ke depan. “Saya orang Sunda, Bu. Dari kecil diajarin lemah lembut. Tapi hidup tidak selalu lembut.” Ia tertawa kecil, getir. “Kadang saya harus keras supaya anak-anak tidak hancur.”
Bu Raras diam.
“Saya tahu mereka nakal,” lanjut Bu Minah. “Tapi mereka cuma punya saya. Kalau saya tidak bela, siapa lagi?”
Ari tiba-tiba mendekat, mengangkat mobil-mobilannya.
“Bu… lihat, mobil Ari mahal sekali!” katanya polos.
Bu Raras tersenyum. “Wah, mahal ya? Berapa harganya?”
Ari mengangkat lima jari kecilnya dengan bangga. “Lima ribu!”
Bu Raras menahan tawa. “Wah… mahal sekali. Harus dijaga baik-baik.”
Dari dalam rumah, Doni ikut menyahut, “Itu paling mahal di rumah ini!”
Bu Minah tersenyum kecil melihat anak-anaknya. Untuk sesaat, wajah kerasnya hilang, digantikan oleh kelembutan yang jarang terlihat.
“Itu saya beli dari sisa uang belanja,” katanya pelan. “Dia senang sekali.”
Bu Raras mengangguk. “Anak-anak memang begitu. Hal kecil bisa jadi besar.”
Ia menatap Bu Minah lebih dalam. “Saya juga minta maaf kalau kemarin terlalu keras.”
Bu Minah menggeleng cepat. “Tidak, Bu. Justru saya yang terlalu… bagaimana ya… gampang tersinggung.”
Bu Raras tersenyum tipis. “Namanya juga kita sama-sama jaga rumah. Kadang lupa jaga hati.”
Bu Minah tertawa kecil. “Iya juga.”
Beberapa detik mereka duduk dalam diam. Angin pagi lewat membawa bau tanah dan kayu.
“Bu Raras,” kata Bu Minah tiba-tiba, “jujur saja… saya sering iri sama ibu.”
Bu Raras terkejut. “Iri?”
“Iya. Ibu tenang sekali. Sabar. Anak-anak atas juga hormat.” Bu Minah menunduk. “Saya… tiap hari rasanya berantakan.”
Bu Raras menggeleng pelan. “Tidak ada hidup yang benar-benar tenang, Bu.”
Bu Minah tersenyum miris. “Tapi ibu kelihatan kuat.”
Bu Raras terdiam beberapa saat. Lalu berkata pelan, “Saya juga belajar, Bu. Dulu saya keras sekali. Semua harus sesuai aturan. Sampai… saya kehilangan banyak orang.”
Bu Minah menoleh. “Maksudnya?”
Bu Raras tersenyum tipis, tapi matanya menyimpan cerita. “Kadang kita terlalu ingin semuanya benar, sampai lupa bahwa orang tidak selalu bisa seperti yang kita mau.”
Bu Minah mengangguk pelan.
Dari dalam rumah, suara Ari kembali terdengar. “Mobil Ari mau parkir di sini!”
Doni menjawab, “Jangan! Itu tempat saya!”
Tegar akhirnya bersuara, “Sudahmi, jangan ribut.”
Bu Raras dan Bu Minah saling pandang, lalu tertawa kecil.
“Sudah mulai lagi,” kata Bu Raras.
Bu Minah menghela napas, tapi kali ini dengan senyum. “Namanya juga anak-anak.”
Bu Raras berdiri. “Kalau mereka mau naik ke atas, bilang dulu ya. Tapi jangan lari-lari.”
Bu Minah mengangguk. “Iya, Bu. Saya ingat itu.”
Sebelum naik, Bu Raras menepuk bahu Ari. “Mobil mahalnya dijaga baik-baik ya.”
Ari mengangguk serius. “Iya! Ini mobil paling mahal di dunia!”
Bu Raras tertawa pelan, lalu kembali naik ke lantai atas.
Di tangga, ia berhenti sejenak.
Suara di bawah memang belum sepenuhnya berubah. Masih ada riuh, masih ada tawa keras. Tapi ada sesuatu yang berbeda—ada usaha, ada pengertian, meski kecil.
Di atas, Sasa menyambutnya. “Bu, tadi ke bawah?”
“Iya,” jawab Bu Raras.
“Bagaimana?”
Bu Raras tersenyum. “Kadang… orang cuma butuh didengar.”
Sasa mengangguk.
Dari bawah, suara Ari terdengar lagi, “Jangan sentuh mobilku! Mahal itu!”
Rafi tertawa dari dalam kamar. “Itu mobil paling mahal sedunia, Bu!”
Bu Raras ikut tersenyum.
Di rumah panggung itu, dua dunia masih berbeda. Tapi perlahan, mereka mulai belajar satu hal: memahami tidak selalu berarti setuju, tapi cukup untuk membuat semuanya sedikit lebih ringan.
Dan untuk pertama kalinya, ketenangan tidak terasa asing—meski hanya sebentar.