SATU ATAP DUA CINTA: Kunikahi Ibu Tiriku Setelah Ayah Mati

16. KEMELUT KELUARGA WIJAYA

“Bagaimana kondisi Mas Angga, Dokter?” Anita menatap melas pria di hadapannya.

 

“Kondisi, Pak Wijaya baik-baik saja. Dia hanya stres saja, yang membuatnya kelelahan,” kata pria itu, sedikit menjabarkan tentang kondisi Angga Wijaya yang saat ini terbaring tak sadarkan diri di tempat tidurnya.

 

“Kapan Mas Angga sadar, Dok?” Anita masih belum tenang, meskipun sudah diberitahu tahu, bahwasanya sang suami baik-baik saja.

 

“Tidak lama lagi dia Pak Wijaya akan sadar. Namun, harus tetap diingat. Beliau harus banyak-banyak istirahat dan jangan sampai stress berlebihan seperti tadi,” pesan pria yang mengenakan setelan jas putih kebesaran seorang dokter.

 

“Baik, Dok. Saya akan ingat pesan dokter dengan baik.” Anita meremas ujung hijabnya. Mendekap seerat mungkin. Mencoba untuk menguatkan diri sendiri.

 

Dia tidak menduga sebelumnya, akan terjadi hal seperti ini. Kondisi suaminya sangat drop, sampai tidak sadarkan diri. 

 

“Kalau begitu, saya permisi dulu. Jangan lupa berikan obat yang sudah saya resepkan tadi!” tegasnya lagi.

 

Anita mengangguk cepat. “Terima kasih, Dokter.”

 

Selanjutnya pria itu melenggang pergi, meninggalkan ruangan tersebut. Anita pun hanya mengantarnya hingga pintu kamar saja karena ia tidak mau meninggalkan sang suami untuk waktu yang lama.

 

“Mas Angga,” panggilnya berucap lirih sambil menggenggam erat tangan kanan sang suami. 

 

Anita mengecup punggung tangan itu, pelan dan penuh kasih sayang, dengan harapan dari sentuhan itu, Angga Wijaya bisa segera membuka matanya.

 

“Maafin aku ya, Mas. Seandainya malam itu aku tidak datang ke rumah ini, mungkin masalahnya tidak akan serumit ini,” katanya lagi, seolah pria yang terbaring tak sadarkan diri itu akan mendengarnya.

 

“Seharusnya, aku tidak datang malam itu, hanya demi meminjam uang kepadamu. Mungkin, saat ini hubunganmu dengan Gema akan baik-baik saja. Keluarga yang selama ini kamu bangun dengan cinta dan kasih sayang, tidak akan rusak seperti sekarang …”

 

Kata demi kata coba Anita rangkaian menjadi sebuah kalimat. Suaranya begitu pelan dan beberapa kali tampak menyeka air mata, yang mencoba menerobos dinding pertahanannya.

 

Kurang dari setengah jam ia berceloteh di samping sang suami, tiba-tiba mulai ada pergerakan dari Angga Wijaya.

 

Jari jemarinya bergerak pelan, yang bisa Anita rasakan secara langsung.

 

“Mas Angga.” Anita mengangkat kepalanya, buru-buru menyeka air matanya. Dipandanginya wajah tampan pria yang telah menginjak usia lima puluhan tahun itu.

 

Terdengar suara erangan pelan yang keluar dari mulut Angga Wijaya. Namun, ia masih belum bisa membuka matanya.

 

“Mas Angga.” Anita semakin erat menggenggam tangan suaminya. Dia juga mengecupnya berulang kali, supaya Angga Wijaya cepat sadar.

 

“Dek …,” akhirnya satu kata keluar dari mulutnya, meskipun itu terdengar sangat pelan. Namun, Anita bisa mendengarnya dengan jelas.

 

“Iya, Mas. Aku di sini.”

 

Anita benar-benar menunjukkan perhatian penuh. Bahkan ia tidak melepaskan genggaman tangan itu.

 

Perlahan-lahan, Angga Wijaya pun membuka matanya. Dalam pandangannya masih terlihat samar langit-langit kamarnya.

 

Seperti ada kekuatan sihir yang sangat kuat, kesadarannya pun cepat pulih. Semua itu terjadi karena sentuhan Anita yang begitu kuat.

 

“Mas Angga.” Tidak ada kata lain yang mampu ia ucapkan selain dua kata itu.

 

Angga Wijaya mengerjapkan matanya pelan. Menatap dalam-dalam kedua pasang yang berkaca-kaca itu. Selanjutnya, dia mengangkat tangan kirinya pelan-pelan, kemudian mengelus kepala sang istri penuh kelembutan.

 

“Maafkan Mas, Dek. Mas sudah berjanji akan membuat kamu selalu bahagia, tetapi hari ini. Mas, malah membuat kamu menangis,” ucapnya terdengar lirih. Tubuhnya masih sangat lemas. Belum bisa bergerak cepat.

 

“Mas jangan banyak ngomong dulu. Kata Dokter. Mas harus banyak-banyak istirahat.” Anita pun sedikit mengomel, lantaran sang suami yang sudah banyak bicara, padahal ia baru sadarkan diri.

 

“Mas baik-baik saja, Dek. Percayalah.” Dia mencoba memberi kalimat penenang. Namun, hal tersebut tidak semata-mata membuat Anita merasa lebih baik.

 

Anita yang sangat merasa ketakutan itu, segera ia mendekap tubuh sang suami. 

 

“Kebahagiaanku adalah melihat Mas Angga sehat. Jadi, Mas Angga harus cepat sembuh, supaya aku merasa bahagia terus,” ungkapnya bernada manja.

 

Sedikitnya hal tersebut, membuat Angga Wijaya sedikit tersenyum dan merasa lebih baik. Dia kembali mengelus kepala sang istri yang tertutup hijab itu.

 

“Maafin Mas ya, Dek. Mas tidak memberitahukan ini sebelumnya ke kamu. Mas tidak tahu, situasinya akan serumit ini jadinya.”

 

Anita segera melepaskan pelukannya. Mendengar kalimat itu keluar dari mulut sang suami, membuat perasannya menjadi kacau kembali.

 

“Sudah ya, Mas. Kita enggak usah bahas soal itu lagi. Aku tidak mau, Mas Angga terlalu stress karena memikirkan hal yang telah diperbuat Gema.”

 

Anita tidak bisa menutupi kekesalannya, lantaran dalam kondisi yang kurang fit, sang suami masih mengungkit soal warisan rumah. Padahal ia sendiri memilih untuk segera melupakannya.

 

“Iya, Dek. Mas tahu, tetapi masalahnya memang tidak semudah itu. Satu hal yang membuat Mas tidak meninggalkan rumah ini karena janji Mas kepada almarhum Calista, yang membuat Mas tidak ingin meninggalkan rumah ini.”

 

Anita pun menatap teduh dan cukup lama, pria yang kini telah menjadi suaminya itu. 

 

“Iya, Mas. Aku bisa ngertiin kok. Aku yakin, pasti Mas Angga memiliki alasan kuat untuk meninggalkan rumah ini. Mas tenang aja ya. Enggak usah dipikirin. Aku akan baik-baik saja, selama ada Mas Angga di sisiku.”

 

Angga Wijaya mengulas senyuman tipis. Ucapannya itu, nyatanya bukan sekedar kalimat penenang belaka, melainkan sebuah untaian kata yang mampu menembus hati yang paling dalam. 

 

“Kenapa Mas Angga menatapku seperti itu?” tanya Anita penasaran, sebab ia merasa ada makna tersembunyi di balik senyuman yang coba suaminya tunjukkan itu.

 

“Enggak kenapa-kenapa, Dek. Mas merasa sangat bahagia karena memiliki kamu sebagai istri, Mas.”

 

Anita yang cukup penasaran tadi, kini seolah-olah berubah menjadi anak kucing yang begitu menggemaskan.

 

Dia kembali memeluk sang suami dan kemudian berkata. “Aku pun sangat bahagia karena memiliki Mas Angga sebagai suamiku.”

 

Ungkapan itu, bukanlah sebuah bualan atau lelucon yang diperuntukkan untuk mencarikan suasana, tetapi memang sebuah kalimat yang benar-benar keluar dari dalam hatinya. 

 

***

Sementara itu, di tempat terpisah. Gema pun memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah, yang tampak kosong dan terbengkalai itu.

 

Pekarangannya dipenuhi rerumputan yang cukup tebal. Dapat dikatakan area ini sudah lama tidak diurus. 

 

Gema keluar dari mobilnya, memakai kacamata hitam kebanggaannya, lalu berjalan memasuki rumah itu.

 

Bagian dalamnya sangat berdebu. Dinding-dindingnya dipenuhi jaring lama-lama. Entah sudah berapa lama rumah ini ditinggal penghuninya.

 

Gema pun berjalan tanpa merasa risih sama sekali. Tujuannya bukan untuk mengomentari rumah tersebut, melainkan ada urusan lain yang harus ia selesaikan.

 

Tepat beberapa meter dari posisinya berdiri sekarang. Gema melepaskan kacamata hitamnya itu. Ditatapnya dengan sorot mata tajam, seorang pria yang duduk di sana. Kedua kakinya diangkat dan berada di atas meja.

 

“Aku sayang untuk menyepakati perjanjian kita!” seru Gema dengan lantang.

 

Pria itu segera mengubah posisinya menjadi duduk tegak. Dia melepaskan kacamata hitamnya juga. 

 

“Apa kau sudah membawa uangnya?!” tanya pria itu, yang tidak kalah lantang suara dari Gema.

 

“Iya. Aku membawa ceknya!” Gema mengikis jarak yang hanya tersisa beberapa meter itu.

 

Sikapnya begitu tenang, seolah yang ia hadapi adalah teman atau rekan kerjanya. Padahal, ini kali pertama mereka berjumpa.

 

“Mana cek yang kau janjikan itu!” Pria itu berkata dengan sangat serius. Aura yang terpancar dari sorot matanya begitu mengerikan. Namun, Gema masih mampu mempertahankan ketenangannya.

 

“Ini cek untuk sertifikat rumah itu!” tegasnya sambil mengeluarkan selembar kertas dari dalam saku celananya.

 

“Jumlahnya 2 Milyar, untuk tanah, rumah berserta isinya!”

 

Pria itu menyeringai kecil. Sementara Gema, menatap serius tanpa ekpresi. 

 

“Setelah ini, rumah itu akan menjadi milikku. Kalian harus pergi dan jangan pernah menunjukkan muka kalian di hadapanku lagi!” tambahnya, sekaligus mengakhiri kalimatnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Lates Chapters

49. EKSTRA PART 2 (TAMAT)

SEMBILAN TAHUN KEMUDIAN!   • "Dirga! Jangan kencang-kencang larinya, Nak!" teriak Anita, sembari mengejar bocah laki-laki yang berlari sambil membawa pesawat mainan di tangannya.  …

48. EKSTRA PART 1 (Kabar Bahagia )

"Gimana perjalan tadi, Sayang? Kamu merasa nyaman kan?"    "Heum, iya. Aku merasa nyaman banget."   Sepasang suami istri itu, berjalan sambil bergandengan tangan. Belum…

47. TAMAT (END)

"Kamu sudah pulang, Sayang?" ucap Anita, menyambut kedatang Gema, seraya mencium punggung tangannya, sebagai tanda bakti seorang istri kepada suami.    "Iya. Hari ini aku…

46. TELAH SELESAI

[Lu lagi di mana?]   [Lagi di rumah sakit. Ada apa?] Gema tersenyum lembut, saat menyuapi Anita dan mengobrol dengan seseorang di telpon.   [Siapa…

45. ADA YANG DITANGKAP

Gema langsung membawa Anita ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, begitu juga dengan Sari dan satpam yang berjaga di rumahnya.   Dikarenakan mengalami luka berat…

44. PELECEHAN

Anita yang hendak ke dapur pun, tiba-tiba berlari, langkahnya berbalik, tidak jadi ke dapur ketika mendengar suara pintu terbuka. Dia sangat yakin kalau Gema yang…

43. HANYA SEORANG OB

Hari yang baru telah datang menyapa. Pagi-pagi sekali, Gema sudah berangkat bekerja. Tidak dapat dipungkiri, masalah yang terjadi di perusahaan tidak bisa dianggap enteng.  …

42. PAMAN DATANG

"Gema Dirgantara!"    Seseorang berseru dengan lantai. Gema lantas menurunkan Anita dari gendongannya. Semula berniat untuk melepas lelah di dalam kamar pun, pupus sudah.   …

41. AKHIRNYA PULANG

Malam telah menyapa. Anita mondar-mandir seperti setrikaan di ruang tengah. Cemas menunggu kepulangan Gema.    Sejak siang tadi, Anita belum mendapat kabar apapun tentang Gema.…

40. KEMELUT WIJAYA GROUP PART 2

Lidia, yang mendapat perintah dari Gema untuk mengantarkan Anita pulang, tampak fokus pada jalanan di depannya. Sesekali dia melirik ke belakang, kursi penumpang lebih tepatnya,…

39. KABAR BURUK PERUSAHAAN WIJAYA

Siang harinya.    "Bagaimana rasanya, Sayang? Apa kamu menyukainya?" tanya Gema sambil tersenyum lebar.    Anita melihat tangan kanan dan kirinya secara bergantian. Ia sedang…

38. KABAR BAIK DARI FERDI

Pembangunan sekolah pun sudah berjalan dua hari. Anita tampak sangat antusias, lantaran para warga sekitar semangat bergotong royong mendirikan sekolah sederhana ini.   Selain para…

37. KELAKUAN GEMA DIRGANTARA

Setelah mendatangi toko material, Gema dan Anita memutuskan untuk kembali ke rumah. Setidaknya langkah awal untuk mewujudkan mimpi Anita itu, sudah berjalan lantar sejauh ini. …

36. RENCANA ANITA

"Boleh, aku mengatakan sesuatu?" tanya Anita penuh keraguan. "Sebenarnya, ada hal yang ingin sekali aku wujudkan."   "Apa itu, Sayang? Katakanlah." Gema menjawabnya yakin. Walau…

35. SERTIFIKAT RUMAH

Masih di hari yang sama. Malam pun datang menyapa. Anita sedang berdiri menghadap ke cermin. Dilihatnya raga sendiri dari pantulan kaca.   Gema yang baru…

34. CEWEK HALU

"Aku punya buktinya! Bukti kalau Gema, berjanji akan menikahiku!" seru Manda pernah percaya diri.    Manda mengangkat ponselnya, menunjukkannya di hadapan Anita dan Gema. Ia…

33. MASALAH BARU DATANG LAGI

"Kemu kenapa, Sayang?" tanya Gema sedikit panik, lantaran Anita yang langsung memeluknya tepat saat ia membuka mata. Selain itu, Anita sedikit terisak. Tentu menimbulkan pertanyaan…

32. HARI PERTAMA SEBAGAI SUAMI ISTRI

Malam yang panjang itu, telah berlalu. Sangat indah bagi dua insan yang baru saja sah menjadi sepasang suami istri itu.   "Sayang, bangun yuk! Kita…

31. SAH JUGA

EMPAT BULAN BERSELANG.    Dalam Islam. Wanita yang sudah menikah, lalu ditinggal suami, entah itu bercerai atau mati, harus menjalani masa ida, selama tiga bulan…

30. JANJI

"Yuk kita nikah!"    BRUSSSHH!   Anita menyemburkan air yang sedang diminumnya, saking terkejutnya mendengar ajakan Gema, yang seperti mengajak bocil jajan permen.   Kalimat…
error: Content is protected !!