SATU ATAP DUA CINTA: Kunikahi Ibu Tiriku Setelah Ayah Mati

18. AWAL KEINGINAN ANGGA WIJAYA

Angga Wijaya pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Pikirannya begitu kacau saat ini. Pekerjaan pun ikut terbengkalai. Semua agenda dibatalkan hanya demi mencari sang putra yang saat ini entah di mana rimbanya.

 

“Assalamualaikum, Dek,” ucap Angga Wijaya, uruk salam sambil memasuki ruangan. Namun, tidak ada satu orang pun yang menjawab. 

 

“Dek!” panggilnya kemudian, mengedarkan pandangannya sebab Anita tidak kunjung terlihat.

 

“Mas Angga.”

 

 Penggilan lembut itu, seketika membuat pria lima puluhan tahun itu, langsung berbalik badan, lalu melebarkan senyuman. Mood yang semula tidak baik-baik saja, seolah berganti keceriaan.

 

“Mas Angga udah pulang?” tanya Anita, menghampiri sang suami. Mengikis jarak yang hanya beberapa meter itu.

 

“Iya, Dek. Mas kangen banget sama kamu,” jawabnya disertai senyuman menggoda. 

 

“Dih, apaan si, Mas. Kayak ABG aja,” celetuk Anita, melayangkan protes.

 

“Memangnya kenapa kalau Mas berbicara seperti ABG? Apa kamu tidak menyukainya?” 

 

“Bukannya tidak suka, Mas. Hanya saja terdengar lucu bagiku.” Anita menjawab dengan suara malu-malu.

 

Ada rona merah di pipinya, yang tertangkap oleh indra sang suami. Kalau sedang malu seperti ini, terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Pikir Angga Wijaya, yang seolah kembali ke masa-masa remaja dulu.

 

“Kamu lagi ngapain, Dek?” tanya Angga Wijaya, memulai topik pembicaraan baru. Kalau terus dilanjutkan, bisa-bisa istrinya salah tingkah terus.

 

“Aku lagi masak, Mas,” balas Anita disertai senyuman tulus.

 

“Mau Mas, bantuin?” tawarnya santai.

 

“Emang Mas, bisa masak?”

 

“Heum, kamu meremehkan suamimu ini?” Dia menaikkan sebelah alisnya, tampak raut kekesalan terlihat di wajah yang mulai ada kerutan itu.

 

“Enggak meremehkan. Aku kan cuma tanya aja. Memangnya Mas Angga bisa masak?” Anita mengulang pertanyaan yang ia lontarkan tadi.

 

“Tentu saja bisa, istriku sayang …” sambil menarik hidung Anita dengan gemas. “Memangnya kamu kira, Mas enggak bisa masak? Gini-gini juga, suamimu ini, pintar masak. Kamu enggak percaya?”

 

“Aku enggak percaya, soalnya belum lihat Mas Angga masak,” jawabnya seperti balik menantang.

 

“Kamu benar-benar meremehkan saya, Dek.”

 

Anita pun cengengesan seperti tidak merasa bersalah. Hal tersebut pun, membuat Angga Wijaya merasa gemas dengan sang istri. 

 

“Baiklah. Biar hari ini, Mas yang masak untuk makan siang,” ucap Angga Wijaya penuh keyakinan.

 

“Sungguh, Mas?”

 

Dia mengangguk sambil mengelus pipi Anita lembut. “Iya, Dek. Hari ini, Mas pengen banget bahagiain kamu.”

 

Anita pun langsung memeluk sang suami, “terima kasih, Mas Angga. Aku sayang banget sama kamu, Mas.”

 

Tiba-tiba kalimat sayang itu terlontar dari mulutnya. Angga Wijaya pun mempererat pelukannya. 

 

“Iya, Dek. Mas juga sayang banget sama kamu.”

 

Entah mengapa, hari ini begitu tenang dan penuh cinta. Angga Wijaya pun, tidak mengatakan alasan yang sebenarnya, kenapa ia pulang lebih awal. 

 

Menurutnya, mengatakan sama saja membuat suasana semakin kacau balau. Jadi, sebaiknya dirahasiakan lebih dulu, moga-moga, tidak ada hal lebih gila lagi, yang dilakukan Gema.

 

Keduanya pun melenggang pergi bersama-sama menuju dapur. Dua insan, yang katakanlah sebagai pengantin baru itu, tampak sangat bahagia di hari yang ceria ini.

 

Angga Wijaya menunjukkan kebolehannya dalam hal memasak. Anita, yang memang tidak terlalu akrab sebelumnya dengan suami, baru mengetahui bahwasanya ia memiliki suami yang serba bisa. 

 

Menu siang ini, sayur asem, tempo, tahu dan sambal terasi. Heum, membangkitkan selera makan. 

 

Semua itu, makanan favorit Anita. Begitu juga dengan Angga Wijaya. Keduanya memiliki selera yang sama. Sehingga tidak sulit untuk menyesuaikan lidah.

 

Begitu tenang, begitu bahagia. Mungkinkah, ini kebahagiaan sebelum datangnya badai?

 

***

 

Sementara itu, sebelum kebahagiaan itu tercipta. Ada ada tangisan yang seolah tak kunjung ingin berhenti.

 

Tepat di hari pemakaman sang ayah tercinta. Ketika semua orang telah meninggalkan pemakaman. Anita pun masih duduk lemas di samping pusaran sang ayah. Garis bawah matanya begitu merah akibat menangis terus menerus.

 

Sementara itu, Angga Wijaya, yang mengenakan setelan kemeja hitam itu, tampak termangu. Matanya tertutup kacamata hitam, yang sebenarnya sedang menutupi kesedihan.

 

Dilihatnya arloji yang melingkar di lengan kirinya. Hari pun kian mentereng. Namun, Anita seolah masih enggan beranjak dari sana.

 

“Anita, pulang yuk!” ajaknya bernada lembut.

 

“Enggak baik, terus-terusan sedih kayak gini. Kasian Bapak di sana, kalau tahu. Kamu masih belum ikhlas melepas kepergiannya,” tambahnya memberi penjelasan.

 

Namun, perkataan itu tidak digubris oleh Anita. Dia masih menatap kosong batu nisan yang bertuliskan nama almarhum sang ayah.

 

Sekarang ia hanya seorang diri di dunia ini. Tidak lagi ada sosok ayah yang menemani. Seseorang yang menjadi cinta pertama bagi anak perempuan. 

 

Anita begitu terpukul. Ditambah lagi, ia tidak memiliki tempat tinggal sekarang, untuk dijadikan tempat bernaung dan bersembunyi dari teriknya matahari, hujan serta hembusan angin.

 

“Anita, ayo kita pulang. Sampai kapan kamu di sini terus?” bujuknya tanpa lelah.

 

“Pak Angga saja yang pergi. Aku masih ingin di sini, menemani Bapak,” ucapnya terdengar lirih. Matanya pun kembali berkaca-kaca. Namun, tidak terlihat oleh Angga Wijaya.

 

“Kamu tidak boleh egois seperti ini, Anita. Bapak sudah pergi. Kamu harus ikhlas. Biarkan dia tenang di sisi-Nya. Kamu hanya perlu mendoakan beliau dari kejauhan. Jangan, menyakiti dirimu seperti ini, Anita.”

 

Pria itu berusaha untuk membujuk gadis cantik, yang berstatus pacar sang putra tercinta.

 

“Bapak, akan sedih nanti, jika dia melihat kamu menangis seperti ini. Jiwanya tidak akan tenang, ketika melihat putri kesayangannya, terus larut dalam kesedihannya.”

 

Suasana di sana hanya hening. Sekeliling hanya terlihat gundukan tanah yang mulai ditumbuhi rerumputan. Angin berhembus cukup kencang, membuat siapa saja yang ada di sana terhanyut dalam suasana.

 

Pada akhirnya, Anita pun beranjak bangun dari sana. Angga Wijaya ingin menyentuhnya, memberikan pelukan hangat. Namun, niatnya terhalang oleh status.

 

“Ayo, kita pulang, Pak!” ajaknya lebih dulu.

 

Angga Wijaya pun mengangguk tanpa kata, lalu mengekor di belakang Anita.

 

Gadis cantik itu, berjalan sedikit sempoyongan. Mungkin karena tenaga dalam tubuhnya yang terkuras. 

 

Ketika langkah keduanya hendak meninggalkan pemakaman, tiba-tiba berhenti saat seorang pria datang menghampiri.

 

“Saya tadi ke rumahmu. Mereka mengatakan bahwa kau masih ada di pemakaman,” ucapnya sedikit meninggi. Dia berdiri berkacak pinggang, menunjukkan seolah-olah dirinya sangat berkuasa.

 

Anita menatap pria itu teduh, sedangkan Angga Wijaya meningkatkan kewaspadaannya.

 

“Cepat, bayar hutang yang sepuluh juta itu. Hari ini jatuh temponya!” kata pria itu tegas, yang langsung pada intinya.

 

Anita melebarkan matanya. Belum 24 jam, bapaknya dikebumikan, sudah datang orang untuk menagih hutang. Semesta sedang mengajaknya bercanda.

 

Anita bukannya tidak mengenal pria di hadapannya sekarang. Hanya saja, ia tidak habis pikir, ada orang yang tidak memiliki rasa simpati seperti dirinya?

 

Ada kalanya mungkin menunggu hingga beberapa hari atau setidaknya selesai tujuh harinya. Ini mah, belum ada beberapa jam, sudah datang menagih. 

 

“Jika, kamu tidak mau bayar. Maka, kamu harus menikah dengan saya. Seperti yang sudah disepakati sebelumnya!” tegas pria itu kembali. Senyumannya merekah. Akan tetapi, Anita bergidik ngeri dibuatnya.

 

“Menikah?” Angga Wijaya langsung bereaksi keras, sebelum Anita sempat mengeluarkan kata-kata.

 

“Apa maksudnya ini?” Dia meradang, kemudian pasang badan. Berdiri tepat di depan Anita, guna meluruskan permasalahan yang ada.

 

“Bapaknya berhutang padaku sebesar dua puluh juta dan baru sepuluh juta yang dibayar. Dia janji akan segera membayarnya. Namun, sudah tiga bulan, hutang itu belum dibayar,” beber pria itu, terus melirik Anita yang bersembunyi di belakang Angga Wijaya.

 

“Aku akan segera membayarnya nanti,” jawab Anita pelan. 

 

Sebenarnya dia tidak ingin bersembunyi. Hanya saja, ia tidak memiliki tenaga untuk menghadapi masalah ini.

 

“Tidak perlu nanti. Saya akan membayarnya sekarang. Berikan nomor rekening Anda!” seru Angga Wijaya, yang kalimatnya ditunjukkan kepada pria itu. 

 

 “Jangan, Pak! Sudah terlalu banyak, yang Pak Angga perbuat untuk keluargaku. Aku tidak ingin memiliki hutang budi lebih banyak lagi kepada Pak Angga.”

 

“Kita bahas nanti saja. Sebaiknya kita selesaikan urusan ini lebih dulu.” Dia mengabaikan lebih dulu perkataan Anita, yang menurutnya tidak penting itu.

 

“Mana nomor rekeningmu. Biar saya bayar hutang itu!” Angga Wijaya mengeluarkan ponselnya, siap untuk mentransfer uang guna melunasi hutang tersebut.

 

Pria itu mengangguk. Ya, tanpa basa basi, ia segera menyebutkan nomor rekening miliknya.

 

Angga Wijaya memasukkan nomor rekening tersebut ke m-banking miliknya. Tidak perlu waktu lama, uang senilai lima belas juta pun masuk ke rekening pria itu.

 

“Ambil lima juta itu, sebagai tanda terima kasih,” ungkap Angga Wijaya serius.

 

“Baiklah. Terima kasih untuk transferannya,” jawab pria itu diiringi dengan senyuman sumringah penuh kemenangan, sebelum akhirnya ia melenggang pergi.

 

Siapa yang tidak senang, mendapatkan bonus cukup besar? Hutang sepuluh juta, dibayar lima belas juta. Rezeki nomplok harus disyukuri.

 

Pria itu telah benar-benar pergi. Kini hanya tinggal Anita dan Angga Wijaya yang ada di sana.

 

“Apa yang Bapak lakukan? Mengapa Bapak memberikan uang sebanyak itu kepada dia?” Suara Anita bergetar, pun dengan tubuh mungilnya.

 

“Saya hanya ingin membantu melunasi hutang-hutamu saja, Anita. Biarkan pria itu mendapatkan lebih. Bagi saya tidaklah masalah,” jawabnya enteng.

 

“Bapak yang tidak masalah, tapi aku yang keberatan!” Emosinya seketika memuncak, bersamaan dengan derai air mata yang jatuh membasahi pipi.

 

“Satu hutang memang sudah lunas. Namun, hutang yang lebih besar lagi pun datang. Bagaimana bisa aku membayar semua uang yang telah Bapak keluarkan, selama ini? Bahkan hutang untuk biaya rumah sakit, belum aku bayar. Sekarang sudah bertambah lagi …”

 

“Menikahlah dengan saya, Anita!” sambarnya sebelum Anita menyelesaikan kalimatnya.

 

Anita mengangkat kepalanya dan membola. Bagaimana bisa, pria di hadapannya mengatakan hal demikian?

 

“Saya akan menganggap semua hutang itu lunas, bilamana kamu mau menikah dengan saya!” tegas Angga Wijaya tanpa berkedip.

 

Pandangan keduanya pun saling bertemu. 

 

***

Ya, inilah awal dari semua drama yang terjadi.

Lates Chapters

49. EKSTRA PART 2 (TAMAT)

SEMBILAN TAHUN KEMUDIAN!   • "Dirga! Jangan kencang-kencang larinya, Nak!" teriak Anita, sembari mengejar bocah laki-laki yang berlari sambil membawa pesawat mainan di tangannya.  …

48. EKSTRA PART 1 (Kabar Bahagia )

"Gimana perjalan tadi, Sayang? Kamu merasa nyaman kan?"    "Heum, iya. Aku merasa nyaman banget."   Sepasang suami istri itu, berjalan sambil bergandengan tangan. Belum…

47. TAMAT (END)

"Kamu sudah pulang, Sayang?" ucap Anita, menyambut kedatang Gema, seraya mencium punggung tangannya, sebagai tanda bakti seorang istri kepada suami.    "Iya. Hari ini aku…

46. TELAH SELESAI

[Lu lagi di mana?]   [Lagi di rumah sakit. Ada apa?] Gema tersenyum lembut, saat menyuapi Anita dan mengobrol dengan seseorang di telpon.   [Siapa…

45. ADA YANG DITANGKAP

Gema langsung membawa Anita ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, begitu juga dengan Sari dan satpam yang berjaga di rumahnya.   Dikarenakan mengalami luka berat…

44. PELECEHAN

Anita yang hendak ke dapur pun, tiba-tiba berlari, langkahnya berbalik, tidak jadi ke dapur ketika mendengar suara pintu terbuka. Dia sangat yakin kalau Gema yang…

43. HANYA SEORANG OB

Hari yang baru telah datang menyapa. Pagi-pagi sekali, Gema sudah berangkat bekerja. Tidak dapat dipungkiri, masalah yang terjadi di perusahaan tidak bisa dianggap enteng.  …

42. PAMAN DATANG

"Gema Dirgantara!"    Seseorang berseru dengan lantai. Gema lantas menurunkan Anita dari gendongannya. Semula berniat untuk melepas lelah di dalam kamar pun, pupus sudah.   …

41. AKHIRNYA PULANG

Malam telah menyapa. Anita mondar-mandir seperti setrikaan di ruang tengah. Cemas menunggu kepulangan Gema.    Sejak siang tadi, Anita belum mendapat kabar apapun tentang Gema.…

40. KEMELUT WIJAYA GROUP PART 2

Lidia, yang mendapat perintah dari Gema untuk mengantarkan Anita pulang, tampak fokus pada jalanan di depannya. Sesekali dia melirik ke belakang, kursi penumpang lebih tepatnya,…

39. KABAR BURUK PERUSAHAAN WIJAYA

Siang harinya.    "Bagaimana rasanya, Sayang? Apa kamu menyukainya?" tanya Gema sambil tersenyum lebar.    Anita melihat tangan kanan dan kirinya secara bergantian. Ia sedang…

38. KABAR BAIK DARI FERDI

Pembangunan sekolah pun sudah berjalan dua hari. Anita tampak sangat antusias, lantaran para warga sekitar semangat bergotong royong mendirikan sekolah sederhana ini.   Selain para…

37. KELAKUAN GEMA DIRGANTARA

Setelah mendatangi toko material, Gema dan Anita memutuskan untuk kembali ke rumah. Setidaknya langkah awal untuk mewujudkan mimpi Anita itu, sudah berjalan lantar sejauh ini. …

36. RENCANA ANITA

"Boleh, aku mengatakan sesuatu?" tanya Anita penuh keraguan. "Sebenarnya, ada hal yang ingin sekali aku wujudkan."   "Apa itu, Sayang? Katakanlah." Gema menjawabnya yakin. Walau…

35. SERTIFIKAT RUMAH

Masih di hari yang sama. Malam pun datang menyapa. Anita sedang berdiri menghadap ke cermin. Dilihatnya raga sendiri dari pantulan kaca.   Gema yang baru…

34. CEWEK HALU

"Aku punya buktinya! Bukti kalau Gema, berjanji akan menikahiku!" seru Manda pernah percaya diri.    Manda mengangkat ponselnya, menunjukkannya di hadapan Anita dan Gema. Ia…

33. MASALAH BARU DATANG LAGI

"Kemu kenapa, Sayang?" tanya Gema sedikit panik, lantaran Anita yang langsung memeluknya tepat saat ia membuka mata. Selain itu, Anita sedikit terisak. Tentu menimbulkan pertanyaan…

32. HARI PERTAMA SEBAGAI SUAMI ISTRI

Malam yang panjang itu, telah berlalu. Sangat indah bagi dua insan yang baru saja sah menjadi sepasang suami istri itu.   "Sayang, bangun yuk! Kita…

31. SAH JUGA

EMPAT BULAN BERSELANG.    Dalam Islam. Wanita yang sudah menikah, lalu ditinggal suami, entah itu bercerai atau mati, harus menjalani masa ida, selama tiga bulan…

30. JANJI

"Yuk kita nikah!"    BRUSSSHH!   Anita menyemburkan air yang sedang diminumnya, saking terkejutnya mendengar ajakan Gema, yang seperti mengajak bocil jajan permen.   Kalimat…
error: Content is protected !!