Cicit burung mengantar langkah riang Ajiseka. Tekadnya yang kuat membuat dirinya mantab meninggalkan ayahnya. Bahkan, embun pagi yang dingin tidak menyurutkan ayunan langkahnya.
Tepi Selatan menjadi tujuan pertama Ajiseka, ia dijemput oleh dua orang tetua yang cukup mumpuni. Belum lagi pengawalan diam-diam Ki Dirgodono, tetua sepuh Punden yang jarang sekali berbaur dengan warga. Lelaki yang piawai dalam penyamaran dan ahli menekan aura kedigdayaannya.
Untuk pertama kalinya Ajiseka keluar dari pemukiman, langkahnya begitu riang manakala dirinya melintasi hutan lebat. Bahkan, Ajiseka tidak khawatir jika ada binatang buas seperti yang pernah diceritakan oleh sang ibu. Sesekali Ajiseka bersiul menirukan kicauan burung, terkadang mengernyitkan dahinya saat mencurigai sesuatu.
Tiba-tiba Ajiseka berhenti, ia menatap tajam pohon besar yang letaknya tidak jauh dari tempatnya berdiri.
“Ki, apakah itu gubuk, Aki?” tanya Ajiseka kepada Ki Sawung, tetua sepuh yang menjemputnya.
“Bukan Aji? Gubuk Aki masih jauh, dekat dengan rumah Paklik Janudoro,” mendengar itu Ajiseka manggut-manggut. Janudoro adalah tetua muda yang dahulu satu seperguruan dengan Danuseka.
“Saya pikir gubuk Ki Sawung, disana ada nenek-nenek yang manggil sambil begini,” ucap Ajiseka sembari melambaikan tangannya. Menirukan gerakan tangan wanita tua yang memanggilnya.
“Mungkin dia sedang beristirahat, atau mungkin mengenalmu. biarkan saja,” timpal Janudoro.
“Baik, Paklik. Lagi pula nenek itu sepertinya jahat.” Ajiseka mengajak kedua lelaki yang menjemputnya agar segera meninggalkan wilayah yang mereka lintasi. Pasalnya ia merasa pernah melihat wanita tua itu.
Perjalanan dari tepi Timur yang merupakan tanah kelahiran Ajiseka menuju tepi Selatan tidak begitu lama. Bahkan, jarak kedua wilayah adalah jarak yang paling dekat diantara dua wilayah lainnya di sekitar Punden. Tidak sampai setengah hari Ajiseka sudah sampai di kediaman Janudoro, tempat yang menjadi singgahan Ajiseka nantinya.
“Aji, ikuti gerakanku, ya!” ucap tegas Janudoro. Ajiseka bersiap mengikuti gerakan yang dilakukan oleh Janudoro.
“Ini sudah, Lik. Lalu?”
Janudoro menghampiri anak didiknya, membetulkan posisi kaki Ajiseka yang sedikit bergeser.
“Jangan istirahat sebelum Paklik memintanya.” ucap Janudoro.
Ajiseka mengangguk, niat protesnya ia urungkan setelah mendengar ucapan Janudoro. Bahkan, hingga setengah hari Ajiseka masih tetap dengan posisi awalnya.
“Masih kuat?” tanya Janudoro.
“Masih. Lik,” jawab Ajiseka sedikit bergetar, menandakan jika ia sudah kepayahan dengan latihannya.
“Cukup untuk hari ini, istirahatlah dahulu. Besok latihan akan ditingkatkan.”
Ajiseka mengangguk patuh, setiap arahan yang diberikan oleh Janudoro dijalani dengan baik. Tetapi ia merasa sedikit kecewa. Sebab, latihan yang diharapkan mempelajari jurus-jurus ternyata tidak di ajarkan. Melihat raut wajah Ajiseka, Janudoro kembali berucap.
“Langkah awal mempelajari ilmu Kanuragan memang seperti itu, Kau harus memahami dasar-dasarnya terlebih dahulu.” ucap Janudoro setelah melihat Ajiseka duduk bersandar dipohon besar. Ajiseka menyelonjor kedua kakinya, mengikuti perintah Janudoro.
“Baik, Paklik. Berapa lama mempelajari gerakan dasar tadi, Lik?” tanya Ajiseka.
“Cepat tidaknya, tergantung dirimu. Sekarang tarik nafas lalu hempaskan, lakukan mengikuti hitungan detak jantungmu. Lima untuk tarikan nafas dan tahan tiga hitungan detak jantung, ” ucap Janudoro sembari memperagakan latihan olah nafas kepada Ajiseka.
Ajiseka mengangguk dan mengikuti setiap arahan yang dilakukan oleh Janudoro. Cukup lama Ajiseka melakukan proses latihan pengaturan nafas. Bahkan, saat Janudoro menambah hitungannya Ajiseka malah merasa tertantang untuk terus melatih olah nafas hingga ia benar-benar mampu menguasai. Melihat semangat muridnya, Janudoro tersenyum senang.
“Besok latihan memperkuat kuda-kuda sekaligus olah nafas ya? Untuk saat ini sudah cukup, baiknya kamu beristirahat saja,” ucap Janudoro kepada Ajiseka. Setelah itu Janudoro pergi meninggalkan Ajiseka seorang diri.
“Baik Paklik.”
Jawaban Ajiseka sedikit terlambat, pasalnya langkah Janudoro sudah cukup jauh dari hadapan Ajiseka.
Tanpa sepengetahuan Janudoro, Ajiseka melanjutkan latihannya. Bahkan, saat malam hari Ajiseka diam-diam keluar dari gubuk dan melakukan hal yang sama. Jiwanya selalu berkobar manakala mengingat nasib ibunya. Hal itu memacu adrenalinnya dalam berlatih.
Kegigihan Ajiseka menuai hasil yang mengejutkan, sehingga membuat Janudoro kebingungan saat mendidik. Menurutnya Ajiseka terlalu cepat menyerap ajaran yang ia berikan. Bahkan, baru satu purnama Ajiseka sudah hampir menguasai jurus yang diajarkan. Janudoro merasa harus memanggil Ki Sawung agar melakukan pelatihan lainnya.
“Ki, saya rasa tidak sampai satu purnama lagi Ajiseka sudah menguasai semua yang saya ajarkan. Saya melihat potensi lain selain kanuragan. Jika Ki Sawung berkenan, alangkah baiknya kita didik secara bersamaan saja,” adu Janudoro kepada Ki Sawung.
“Jangan kang Janudoro … biarkan Dia mendalami Kanuragan terlebih dahulu, jika kita ajarkan secara bersamaan, saya khawatir Ajiseka tidak menangkap dengan baik ajaran yang kita berikan,”
“Baiklah, Ki. Maaf karena saya tidak memahami itu.” Jawab Janudoro.
Keduanya berbincang cukup lama mengenai bagaimana baiknya menangani Ajiseka.
***
Hampir dua purnama Ajiseka berada di kediaman Janudoro, Dia sudah menguasai seluruh ilmu Kanuragan yang dimiliki oleh gurunya. Bahkan, saat ini Ajiseka sudah mempelajari ilmu yang diajarkan oleh Ki Sawung. Ajiseka langsung menguasai setiap ilmu yang diajarkan kepadanya. Hal itu membuat Ki Sawung heran, ia sendiri butuh proses yang tidak mudah saat pertama kali mempelajarinya.
‘Tampaknya Ajiseka tidak terlalu membutuhkan pelajaran dariku, ah iya!’ monolog Ki Sawung. Lelaki itu duduk bersila tidak jauh dari Ajiseka yang sedang melakukan meditasi.
Sukma Ajiseka melesat cepat meninggalkan raganya tak lama setelah Ki Sawung duduk. Dia hendak memuaskan rasa penasarannya akan dunia luar. Tetapi, saat melintas dan keluar dari wilayah Punden dirinya dihadang oleh makhluk besar. Bahkan, Ajiseka langsung mendapat serangan darinya.
“Hoy!” teriak Ajiseka manakala makhluk besar terus menerus menyerangnya.
“Kau memasuki wilayahku tanpa permisi, wahai Manusia Kerdil! Sebagai hukumannya kau harus tunduk dan ikut denganku!” sentaknya setelah berhasil melontarkan energi panas ke arah Ajiseka.
Blar!
Dua energi berbenturan cukup keras, membuat tubuh kecil Ajiseka terpental jauh. Tubuhnya menghantam tanah kering dan menimbulkan cekungan yang cukup dalam. Beruntung Ajiseka segera bangkit, pasalnya serangan kembali menderanya.
“Siapa pun, Kau! Hentikan seranganmu! Aku hanya melintas saja!” teriak Ajiseka manakala makhluk besar merangsek maju.
“Kurang ajar! Seharusnya aku yang menghardikmu! Bukan, Kau!”
Lagi-lagi makhluk itu menyerang Ajiseka. Aura panas terpancar dari tubuh besarnya, menandakan jika energinya begitu kuat dan ganas. Bahkan, setiap pergerakannya meninggalkan hawa panas. Ajiseka menyadari hal itu, tetapi tidak ada pilihan lain selain melawannya.
Tentu makhluk besar itu bukanlah lawan yang tepat untuk Ajiseka. Bahkan, semua upaya perlawanannya terasa sia-sia. Dalam sekejap saja lokasi pertarungan terdapat banyak cekungan tanah bekas terhempasnya tubuh Ajiseka. Seringai bengis makhluk itu tergambar manakala Sukma Ajiseka mulai kehabisan energinya.
Disisi lain.
Teng!
Sukma Ki Sawung telah berhasil menembus alam lain. Menyambangi padepokan lelembut milik Dewi Panguripan yang tidak mudah di datangi oleh bangsa manusia. Netra lelaki itu terpaku pada dua pilar yang tampak megah dan indah dengan balutan aksara Jawa di setiap pilarnya. Ya! Ki Sawung berdiri tepat di depan gerbang, ia lantas mencari keberadaan penjaganya.
“Maaf, Kisanak. Saya Ki Sawung, utusan Ki Danuseka. Saya hendak bertemu dengan nyai Dewi,” ucap Ki Sawung setelah bertemu dengan penjaga padepokan.
“Danuseka?” tanya penjaga gerbang padepokan. Ki Sawung meyakinkan keraguan penjaga dengan anggukan.
“Aku sudah menunggunya sejak lama, bawalah kesini.” suara lirih nan merdu terdengar bersamaan munculnya sosok ayu rupawan yang datang secara tiba-tiba.
***