Baru satu hari, aku menginjakan kaki di kota ini, ingin segera mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Kuputuskan pagi ini melihat Duomo di Milano. Sebuah icon bersejarah kota Milan. Mata ini terpana melihat arsitektur yang terukir indah dengan lebih dari seratus menara. Kamera menggantung di leherku, siap menangkap setiap momen. Seperti sepasang kakek nenek yang bergandengan tangan, berjalan menuju bangunan megah di depanku. Mereka tampak berbicara lembut, aku, pun mengambil foto mereka dari jarak sepuluh meter, agar background terlihat. Sungguh takjub dengan hasilnya.
Hati ini tersenyum lebar melihat sekumpulan foto jepretan tadi. Entah kenapa aku teringat Laira. Gadis itu seperti teka-teki yang selalu ingin kucari tahu jawabannya. Apalagi setelah aku bertemu dengannya kemarin sebelum masuk kamar hotel. Dia begitu mempesona dengan seyuman ramah, dan gaya ciri khasnya bersepatu boots itu. Aku sadar, jika kedatangan di Milan bukan untuk drama pribadi, tapi, tugas ini jadi terasa berbeda dengan adanya Laira.
“Arkan, kami butuh foto candid peserta saat sesi tantangan, just for fun serta mengakrabkan suasana lomba.” Kata salah satu panitia saat aku memasuki ruang acara.
Aku mengangguk sambil memeriksa kameraku. Tantangan hari ini adalah membuat konsep fotografi boots yang dipadukan dengan suasana kota Milan.
Aku melihat Laira sedang berdiskusi dengan salah satu peserta. Dia mengenakan boots favoritnya, tampak percaya diri meski aku tahu hatinya penuh kekhawatiran.
“Laira,” panggilku setelah tantangan selesai.
Dia menoleh. “Ya?”
“Mau jalan-jalan sebentar? Aku punya ide.”
Dia terlihat ragu sejenak. “Sekarang? Aku harus menyelesaikan laporan konsepku dulu.”
“Aku akan membantu nanti. Ayo, ini nggak lama,” rayuku.
Dia akhirnya setuju. Kami berjalan keluar menuju tempat parkir di mana Vespaku terparkir.
“Aku menyewanya selama diperlukan disini.” Jelasku dengan melihat Laira yang mentautkan alisnya
Kamu serius? Vespa?” tanyanya sambil terkekeh.
“Kenapa? Kamu nggak percaya aku bisa bawa ini keliling Milan?” jawabku sambil mengenakan helm.
Dia ikut tertawa kecil sebelum naik ke belakangku. “Baiklah, tapi jangan sampai kita tersesat, dan kembalikan aku satu jam lagi, mereka akan mulai.”
“Tenang, kamu lupa aku juga ada jobdesk di kompetisimu.” Ucapku, Laira memang gadis lugu yang tegas.
Kami berkeliling kota, melewati jalanan kecil yang dipenuhi toko-toko lokal dan kafe. Udara dingin Milan terasa segar di wajahku, dan tawa Laira di belakangku membuat semuanya terasa lebih hangat.
“Ini lebih menyenangkan daripada yang aku kira,” katanya saat kami berhenti di sebuah jembatan kecil. Lalu aku berpura-pura membetulkan kamera sambil mengajak ngobrol Laira, tanpa sadar aku mengambil posenya yang candid, membuatku tersenyum geli. Ternyata dia cerewet dan banyak komentar pada pemandangan sekitar yang jauh berbeda dari kota asal kami. Mungkin, dia bahagia sekali karena impian keliling dunia mulai terwujud.
“Aku tahu kamu butuh ini. Tekanan kompetisi itu tidak mudah.” Aku mendekat di jembatan bersama Laira.
Dia tersenyum. “Terima kasih, Arkan. Kamu selalu tahu apa yang aku butuhkan.”
“Mengapa wanita selalu drama?”
“Maksudnya?”
“Yuk, ikut aku, kamu pasti akan menyukainya sebelum kita kembali ke acara.” Tanpa sadar aku menggandeng tangan lembut wanita pekerja keras itu, tidak ada penolakan dari dirinya.
“Arkan, apa masih jauh? kita mau kemana?” Tanya Laira yang kujawab signal jari telunjuk saja.
Setelah beberapa saat, aku berhenti disebuah tempat yang sarat akan makna.
“Tempat ini bernama Galleria Vittorio Emmanuele II, pusat perbelanjaan tertua di Italia, dengan desain arcade yang elegan. Menjadi tempat untuk belanja barang mewah serta kuliner.” Panjang lebar aku menjelaskan, lalu memandang Laira yang tertegun, segera ku potret ekspresinya tanpa dia tahu.
“Tapi Arkan, mungkin aku hanya bisa mencicipi kuliner, untuk belanja…nanti dulu.” Ucapnya membuatku semakin gemas
“Boleh aku mentraktirmu?”
“Makan? Apa yang belanja?”
“Keduanya.” Ucapku antusias, siapa, sih, wanita yang tidak suka belanja dan ditraktir, terlihat senyuman kecil dari sudut bibirnya. Lalu Laira sedikit berlari, tak sabar ingin menemukan barang incarannya. Kami, pun, menghabiskan satu jam setengah untuk kuliner singkat sekaligus membelikan barang kesukaan Laira. Dia kurang suka barang yang menghabiskan banyak dana, hanya sepasang sepatu boots model vintage bewarna maroon, serta gantungan kunci vespa yang dia beli dua, diberikan satu untukku.
Jalan-jalan singkat bersamanya ditutup dengan makan es krim rasa cappucino sambil makan di saat vespa kami berjalan, tak lupa aku memotret momen kecil ini dengan berfoto selfie. Aku ingin mengatakan sesuatu, tetapi memilih untuk diam. Ada perasaan yang sulit kujelaskan setiap kali bersamanya.
Teringat saat malam itu, ketika Al dan Laira di restoran, membuat dadaku terasa sesak. Mereka terlihat akrab, tertawa bersama. Alvaro dengan pesonanya yang khas, jelas mencoba mendekati Laira. Sulit rasanya melihat gadis yang ku suka bersama kembaranku sendiri.
Aku dan Alvaro tidak pernah benar-benar akur, meskipun kami kembar. Sejak kecil, kami selalu bersaing dalam segala hal.
Alvaro adalah anak yang sempurna di mata keluarga kami. Dia pintar, tampan, dan selalu tahu bagaimana cara memikat hati orang. Sementara aku…selalu merasa seperti bayangannya.
Hubungan kami semakin renggang ketika dewasa. Alvaro memilih dunia bisnis, sementara aku mengejar passion-ku di fotografi. Namun, melihatnya bersama Laira seperti pukulan lain bagiku. Seolah-olah dia kembali mengambil sesuatu yang penting dariku, keributan, pun, terjadi, hingga Laira memutuskan meninggalkan restoran. Al menantangku mengejar cinta Laira, aku diam karena saat itu sedang ada job di restoran itu, aku tak mau orang tau keributan kami. Namun, dalam hati kecil bicara, kali ini aku tak akan membiarkan dia menang. Dan hari ini, aku telah mewarnai hati Laira dengan mengajak jalan-jalan, walau dengan waktu yang singkat.
Keesokan harinya, sesi final kompetisi boots dimulai. Aku sibuk dengan kameraku, mencoba menangkap momen-momen terbaik.
Tapi kemudian aku mendengar desas-desus yang membuatku berhenti.
“Laira dituduh plagiat desain peserta lain,” bisik seorang panitia.
Aku segera mencari Laira. Dia berada di salah satu sudut ruangan, dikelilingi beberapa peserta yang tampak menuduhnya.
“Ini tidak benar! Aku tidak mungkin mencuri desain siapa pun!” katanya dengan suara gemetar.
“Laira,” panggilku sambil mendekatinya. “Apa yang terjadi?”
Dia menoleh padaku, matanya berkaca-kaca. “Mereka bilang desainku mirip dengan salah satu peserta. Tapi aku tidak pernah melihat desain mereka sebelumnya.”
Aku melihat desain yang dimaksud dan mencoba membandingkannya dengan boots milik Laira. Memang ada kemiripan, tetapi itu terlalu umum untuk disebut plagiat.
“Kita bisa buktikan bahwa kamu tidak salah,” kataku, mencoba menenangkannya
Aku berbicara dengan panitia, meminta mereka untuk menyelidiki masalah ini lebih lanjut.
“Kami akan memeriksa ulang, tetapi untuk saat ini, Laira tetap diizinkan tampil di final,” kata salah satu juri.
Aku kembali menemui Laira. Dia masih terlihat tegang, tetapi setidaknya dia punya kesempatan untuk membela diri.
“Kamu harus tetap tampil. Jangan biarkan ini menghancurkanmu,” kataku.
Dia mengangguk pelan. “Aku akan mencoba” jawabnya dengan lirih.
Malam harinya, aku duduk di balkon hotel, memikirkan semua yang terjadi. Aku tidak tahu siapa yang mencoba menjatuhkan Laira, tetapi aku yakin dia tidak bersalah.
Kuputuskan untuk membantu dengan caraku sendiri, dengan mulai mencari informasi tentang peserta lain, mencoba menemukan petunjuk siapa yang mungkin melakukan ini.
Di sisi lain, aku terus mengingat momen-momenku dengan Laira. Tawa, senyum, dan cara dia membuatku merasa berarti. Aku tidak bisa membiarkan siapa pun menyakitinya.
Hingga larut malam mencoba menelusuri akun sosial media peserta lain yang kuanggap mencurigakan. Tak disangka akhirnya menemukan sesuatu. Sebuah foto desain boots mirip dengan milik Laira diunggah beberapa minggu sebelum kompetisi. Tapi ada yang aneh, foto itu diambil dari sudut yang sangat mirip dengan studio tempat Laira biasa bekerja.
-bersambung-