Jejak Boots

Mencari tahu

Diri ini terus berusaha menghubungi Arkan. Namun, dia seolah menghilang tanpa kabar,  baru mengetahui dari salah satu berita internasional bahwa seseorang yang mirip Arkan sedang mendokumentasikan banjir besar di Paris. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri dengan berpikir positif. “Dia selalu seperti itu,” gumamku “Tenggelam dalam pekerjaannya, lupa dengan dunia sekitar.”

 

Tidak ada salahnya merebahkan diri sejenak di kasur empuk, yang sudah hampir satu bulan tidak kutempati, dan memejamkan mata sejenak. Namun, terdengar suara ketukan dari luar

 “Mbak Laira, ini Lely,”

“Ya Mbak Lely, sebentar,” aku bergegas membuka pintu, ternyata mbak Lely membawa tetangga lain untuk menjenguk ibu, “silahkan masuk mbak, dan ibu-ibu.” Ucapku menyilahkan mereka.

Selama ini memang ibuku sering membantu tetangga jika mereka ada hajatan. Ibu tak pernah menarik uang, kalaupun butuh, biasanya beliau meminta tidak lebih dari tiga puluh persen saja dari uang modal tuan rumah. Sementara ibu menemui tamu, aku kembali dalam kamar. Arkan, apa kamu juga memikirkanku, ahh…tak mungkin, kamu sedang asik dengan duniamu, celotehku dalam hati.

Jika teringat namanya, hatiku bergetar. Ingat pesan ibu di RS, harus mencari tau siapa keluarga mereka. Aku, pun, menghubungi Helena. Orang kepercayaan Alvaro di kantor. 

“[Oke, aku tunggu di Cafe biasa kita kumpul ya]” ketiknya di chat.

Aku segera izin ke Ibu yang masih mengobrol ramai dengan para tetangga kami untuk pergi sejenak, menemui Designer resmi perusahaan Alvaro yang bekerja untuknya sejak lama. 

 

“Kau mau tahu apa tentang Alvaro dan keluarganya?” tanya Helena dengan nada yang terdengar kaku, membuatku menarik napas panjang sebelum menjawab.

“Aku hanya ingin tahu tentang hubungan mereka. Ada banyak hal yang terasa janggal.”

Helena mentautkan alis. “Keluarga mereka memang penuh teka-teki “

“Setidaknya cerita ini bisa membuka sesuatu tentang apa yang sebenarnya terjadi,” ujarku, mencoba tetap tenang.

Helena akhirnya menyerah pada keingintahuanku. Dia menceritakan sedikit latar belakang keluarga mereka. “Alvaro dan Arkan dibesarkan di keluarga yang terpecah. Ibu mereka adalah seniman terkenal yang meninggalkan mereka saat masih kecil. Ayah mereka menikah lagi, tapi ibu tirinya bukanlah sosok yang menyenangkan. Keluarga ini… mereka tumbuh dalam kebingungan.”

Wanita berkulit putih ini tertawa kecil, tetapi nada bicaranya sinis. “Keluarga mereka memang penuh misteri. Tapi aku tidak mengerti mengapa kau begitu peduli. Alvaro itu… sulit ditebak, dan aku khawatir jika nanti kecewa.”

Aku mengernyitkan dahi. “Apa maksudmu?”

Helena mendekat, menatapku tajam. “Alvaro tidak pernah benar-benar dekat dengan orang lain. Dia memiliki dunianya sendiri. Kau mungkin berpikir dia peduli padamu, tapi…”

“Helena,” potongku, suaranya tegas. “Aku hanya ingin tahu tentang keluarganya, bukan mendengar opinimu tentang perasaanku.” Dia tampak kaget dengan pernyataan tegas diri ini, terdiam sejenak sebelum mulai bercerita kembali.

Aku tertegun mendengar cerita itu. Ada perasaan campur aduk di dalam hati.

Namun, sebelum Helena bisa melanjutkan, dia menerima telepon yang membuat wajahnya berubah serius. Berdiri cepat dan berpamitan. Kami mengakhiri pertemuan singkat ini, meski sebenarnya aku ingin memastikan isu plagiarisme saat kompetisi di Milan lalu, yang melibatkan dia. Itu, kata Arkan. Tapi, lebih baik menyimpannya saja, daripada menuduh yang belum jelas kebenaran dibalik itu.

 

Pertemuanku dengan Helena, cukup menjawab pertanyaan dalam diri, tentang siapa mereka sebenarnya. Pernyataan tentang Alvaro membuatku berpikir ulang atas kebaikan yang dia beri untuk kami. Memang, terasa tidak bijaksana menyimpulkan sepihak, setidaknya untuk saat ini, aku tidak ingin terlalu optimis dengannya. Pun, sikap Arkan yang dingin meski saat bertemu dia begitu romantis, membuatku susah melupakan lelaki tampan bertubuh tinggi besar itu. 

“Laira,” ibu memanggil dan masuk ke kamarku, “kamu darimana tadi?” 

“Bertemu Helena, untuk menanyakan keluarga kedua orang itu.”

“Lalu?” Dengan mengernyitkan dahi, ibu penasaran. Kuceritakan seperti Helena menjelaskan padaku. Membuat wanita yang kurasa makin berkerut ini menarik napas dalam.

“Ibu bukannya memihak Alvaro, tapi sejauh ini dia yang berani menyatakan suka melalui caranya, menolongmu, juga Ibu saat di rumah sakit.” 

“Bu…aku mengerti, tapi, saat di Milan…Arkan sangat menjagaku, mengajakku jalan-jalan ketika penat oleh tugas dari panitia.” 

“Apa kamu dihubungi oleh Alvaro saat di Milan?” 

“Ya, dia mengirimiku pesan, menanyakan kabar dan lainnya.” 

“Baik, itu juga bentuk perhatian Laira…”

“Biarlah waktu yang menjawab, Bu, siapa nanti jodoh Laira, sekarang istirahatlah, ibu pasti capek.” Aku mulai enggan menanggapi sikap agresifnya akhir-akhir ini

“Ya, Ibu istirahat dulu, maaf jika terlalu mendesakmu untuk segera memutuskan menikah.” Ujar Ibu yang langsung kuakhiri dengan pelukan hangat.

 

Kunyalakan laptop yang sudah beberapa hari mati. Kaget, melihat foto Arkan denganku di layar, dengan pose sedang menaiki motor vespa sambil makan es krim. Arkan yang membelikannya untukku, lalu dia ambil foto selfie kami. Sembari melihat foto di layar, hati ini bertanya-tanya mengapa Arkan tidak menghubungi sama sekali, sekedar bertanya kabar.

Kuraih ponsel, dan memberanikan diri scrolling sosial medianya untuk melihat update foto terakhir yang diunggah beberapa hari lalu sebelum bencana banjir itu. Aku melihat ada satu foto saat di Milan, memotret diriku di depan icon bangunan kota tua disana. Sungguh cantik, seakan aku pengunjung yang tak dia kenal dimana Arkan melakukan foto candid padaku. 

 

Rasanya aku tak mau meninggalkan kota itu jika bersamanya. Aku scroll lagi foto lainnya dalam album digital yang dirangkum dengan judul Milan, ada banyak foto hasil jepretannya yang aesthetic, dan ternyata banyak foto hasil kompetisiku juga, dimana aku terlihat beberapa kali foto candid saat presentasi, makan, juga mengobrol dengan peserta lain. Diri ini merasa malu melihatnya, apa ini yang dinamakan fase berbunga-bunga? Ya Rabb, maafkan aku.

Kututup sosial media milik Arkan, takut terlampau bahagia padahal belum tentu dia merasa hal yang sama. Segera ku scroll pada feed utama, dimana banyak sekali lalu lalang info untuk umroh. Seketika terlintas pada pikiranku, bergegas kubuka buku planner, dan mencari tulisan umroh bersama ibu. Aku kembali mencari tahu rekomendasi beberapa travel yang bisa terbang bulan depan. Rasanya impas saat uang hasil kompetisi, kugunakan untuk ibadah bersama ibu ke Baitullah. Namun, sebuah pesan masuk dimana aku juga antusias saat membukanya.

[Congratulation, Laira you are invited for coming to Paris Fashion Week, that will be held soon, be aware for an update]

Mataku terpana membaca isi pesan dari panitia. Meski memang aku berhak mendapat undangan karena salah satu pemenang boots competition di Milan, namun akibat banjir, acara di tunda, dan sebenarnya aku juga sudah merelakan tidak bisa hadir saat ibuku operasi. Ternyata, benar kata orang, jika sudah rezeki tak akan kemana. Ini rezekiku, aku akan hadir memberi kejutan pada Arkan…

 

 

 

-bersambung-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lates Chapters

Dilemma

  Arkan dan aku saling bertatapan, bingung menanggapi berita yang sungguh membuat kami shock. "[Papa...bercanda, kan?]" Ucapku masih tak percaya  "[Jika kamu berkenan, silahkan datang…

Pengakuan

"Aku sudah persiapkan segala keperluan kamu dan Anami untuk pulang." "Terima kasih, Arkan. Entah mengapa, justru kamu yang ngurusin kami, bukan Ayah kandungnya." Ucapku sambil…

Kembali

Sakit hati ini diperlakukan seperti itu oleh suami. Aku menghubungi asisten untuk segera memesan tiket pulang. Setelahnya, aku menelpon pengacara keluarga untuk konsultasi terkait masalah…

Mendidih

Mendadak suasana berubah menegangkan. Rumah sakit Saint Laurent menjadi tujuanku, karena di RS ini sudah ada rekam medisku saat kontrol bulanan. Serta, rasa sakit di…

Mencair

"Minggir, aku mau bertemu Laira." Ucap wanita itu dengan menerobos asistenku  "Maaf Nona, anda tidak sopan sekali."  "Biarkan dia masuk." Ucapku dengan lantang. Bukannya duduk…

So sick

"Sayang, Papa menelponku lagi." Suamiku mendekat setelah dua jam di balkon. "Aku tak peduli, Al." Jawabku, merasa masih kesal dengan pembicaraan warisan tadi. "Kita harus…

Kacamata Al

Aku terbangun melihat istri cantikku di sudut bed kami dengan memegang ponsel.  "Everything ok, right?" Tanyaku sambil setengah duduk dan membuka tangan lebar untuk memberi…

Groom and Bride

"Kamu tahu, pernikahan itu bukan untuk main-main, Laira." Ucap ibu lagi. Kini, mataku tak bisa membendung buliran air yang keluar. "Aku tahu, Bu." Jawabku singkat…

Penjelasan

Kubuka pintu toilet dengan elegan, seorang wanita cantik berambut lurus sebahu, dengan pakaian modis ala selebritis menyambutku. Kali ini dia tersenyum ramah, penuh arti. "Aku…

Calmdown

"bisa kita bicara sebentar, sebelum aku memberi jawabannya?" Ucapku pada Al yang tengah berlutut melamar diri ini. "Silahkan, tapi aku tetap berlutut." Kata Al sambil…

PFW

Paris Fashion Week, sebuah acara bergengsi dunia, dimana aku menulisnya sebagai sebuah salah satu wishlist. Tak terbayangkan akan hadir disini, dengan cara memenangkan sebuah lomba. …

Paris

[Selamat pagi, dengan travel Al Baiti, bisa dibantu?] [Ya mbak, saya Laira, ingin menanyakan paket Umroh] [Baik, rencana berangkat kapan Bu Laira?] [Insyaallah satu atau…

Pertemuan

Kunyalakan Smart TV, dimana masih membahas topik seputar banjir besar sebagai headline mereka. Situasi ini terakhir melanda Paris pada empat tahun lalu. Saat itu, aku…

Overthinking

Aku duduk di samping ranjang ibu di kamar rumah sakit. Operasi kaki yang baru saja dijalaninya telah selesai, namun perjalanan pemulihan masih panjang. Wajahnya terlihat…

Bimbang

 Milan tampak indah di malam hari, tapi pikiranku tidak bisa fokus pada keindahan itu. Aku tahu keputusan apa yang harus diambil, tapi entah kenapa hatiku…

Titik terang

Aku berdiri di atas panggung, menatap barisan juri dan puluhan penonton yang memenuhi aula kompetisi. Panitia juga mengadakan live streaming di babak final. Tangan gemetar…

Arkan View

Baru satu hari, aku menginjakan kaki di kota ini, ingin segera mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Kuputuskan pagi ini melihat Duomo di Milano. Sebuah icon bersejarah kota…

Milan

Aku melangkah keluar dari Bandara Malpensa, Milan. Sejenak ingin mencari tahu keberadaan sosok tadi, namun, pramugari segera menyuruhku untuk bergegas turun, bergantian dengan penumpang lain.…

Terbang

"Apa aku ketinggalan sesuatu?" Mataku tertuju pada ibu, lalu Alvaro, sambil menghidangkan teh untuknya. Kedua orang ini tampak menyiratkan satu hal yang tak kumengerti. "Tidak…

Ternyata

Suasana mendadak kaku, hening sekejap. Aku terpaku begitu juga Al. Tapi, ekspresi wajah mereka berbeda, aku melihat tatapan tajam di mata mereka, seolah ada sesuatu…
error: Content is protected !!