Jejak Boots

Pertemuan

Kunyalakan Smart TV, dimana masih membahas topik seputar banjir besar sebagai headline mereka. Situasi ini terakhir melanda Paris pada empat tahun lalu. Saat itu, aku juga tak sengaja berada di kota romantis ini, apa aku memang pembawa sial? , gumamku.

“Sudah siap,” suara Zia Clara membuyarkan lamunanku.

“Aku yakin dia baik-baik saja, tak bisa, kah, tunggu beberapa saat lagi untuk memghubungi Arkan?” 

“Dia saudaramu, Alvaro, sampai kapan kalian begini?” 

“Sampai kami menyukai wanita yang sama.” 

“Apa!!” Clara mentautkan alisnya melihatku, “bagaimana bisa?” 

“Entahlah, itu faktanya, tapi aku tak akan membawa masalah pribadi, ayo bergegas.” Ucapku meninggalkan Zia Clara yang masih terpaku dan menggelengkan kepala.

Zia Clara, meski terlihat galak dan cerewet, tapi dia wanita yang bertanggungjawab pada kepo akannya, dia menyanyangi kami. Clara, adalah Adik dari Ayah Alvaro dan Arkan. Kami biasa memanggilnya Zia, dia sosok yang karismatik dan dikenal sebagai salah satu wanita paling berpengaruh di dunia mode Paris. Pemilik butik mewah Clara Elysian, yang berlokasi di Rue Saint-Honoré, kawasan elit mode di Paris.

Aku melihat salah satu berita online yang menyebutkan bahwa Clara akan menyumbangkan sebagian pendapatan butiknya untuk korban banjir Paris. Dia pasti sangat sibuk. Namun masih mengajakku untuk mencari kembaranku itu, demi kakaknya yang sama sekali hampir tak peduli dengan kami. Mungkin peduli harta, tapi tidak dengan kesehatan mental kami.

“Berhenti!” Ucap Zia memberi kode pada supir untuk menepi, “sepertinya ada yang memotret disana.” Zia Clara menunjuk seorang pria berbadan tegap yang sama denganku.

Arkan ternyata berada di tengah kekacauan, membawa kameranya untuk mengabadikan momen. Dia berdiri di sebuah jembatan kecil, memotret banjir yang menenggelamkan sebagian besar area di sekitarnya.

“Arkan!” aku memanggilnya.

Dia menoleh, senyum tipis terukir di wajahnya. “Al, kamu di sini?”

“Apa yang kamu lakukan? Ini berbahaya!” seruku, mendekatinya dengan susah payah melalui air yang mengalir deras.

Ini adalah peluang sekali seumur hidup,” katanya sambil terus memotret. “Momen seperti ini harus diabadikan.”

Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Ketika Arkan tenggelam dalam dunia seninya, tidak ada yang bisa menghentikannya.

“Papa mencari kita, ayolah, jangan bertingkah seperti anak kecil.” Ucapku lantang dan sedikit marah

“Oke, done…!” Jawabnya sambil tersenyum, seolah puas aku marah padanya, kami menuju mobil di zona aman, dimana ada Zia Clara yang menunggu.

“Lama sekali Arkan, haruskah kami keliling Paris untuk mencari fotografer gadungan yang tidak memperdulikan keluarganya?” Suara Zia Clara menggema di mobil sedan hitam yang kami tumpangi, seakan geram dengan tingkah laku saudara kembarku. Aku tidak mau terlibat lebih jauh, pura-pura tidur hingga zia membawa kami ke suatu tempat. 

di salah satu restoran klasik, satu kilometer dari Sungai Seine, Clara, Alvaro, dan Arkan duduk bersama di sebuah meja bundar. Meskipun pemandangan luar tampak berantakan, akibat sisa bencana banjir. Mereka terlihat serius. Clara mengatur pertemuan ini setelah mendapat kabar bahwa ayahku, Antonio, ingin bertemu untuk membahas sesuatu yang penting.

Diterima

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lates Chapters

Dilemma

  Arkan dan aku saling bertatapan, bingung menanggapi berita yang sungguh membuat kami shock. "[Papa...bercanda, kan?]" Ucapku masih tak percaya  "[Jika kamu berkenan, silahkan datang…

Pengakuan

"Aku sudah persiapkan segala keperluan kamu dan Anami untuk pulang." "Terima kasih, Arkan. Entah mengapa, justru kamu yang ngurusin kami, bukan Ayah kandungnya." Ucapku sambil…

Kembali

Sakit hati ini diperlakukan seperti itu oleh suami. Aku menghubungi asisten untuk segera memesan tiket pulang. Setelahnya, aku menelpon pengacara keluarga untuk konsultasi terkait masalah…

Mendidih

Mendadak suasana berubah menegangkan. Rumah sakit Saint Laurent menjadi tujuanku, karena di RS ini sudah ada rekam medisku saat kontrol bulanan. Serta, rasa sakit di…

Mencair

"Minggir, aku mau bertemu Laira." Ucap wanita itu dengan menerobos asistenku  "Maaf Nona, anda tidak sopan sekali."  "Biarkan dia masuk." Ucapku dengan lantang. Bukannya duduk…

So sick

"Sayang, Papa menelponku lagi." Suamiku mendekat setelah dua jam di balkon. "Aku tak peduli, Al." Jawabku, merasa masih kesal dengan pembicaraan warisan tadi. "Kita harus…

Kacamata Al

Aku terbangun melihat istri cantikku di sudut bed kami dengan memegang ponsel.  "Everything ok, right?" Tanyaku sambil setengah duduk dan membuka tangan lebar untuk memberi…

Groom and Bride

"Kamu tahu, pernikahan itu bukan untuk main-main, Laira." Ucap ibu lagi. Kini, mataku tak bisa membendung buliran air yang keluar. "Aku tahu, Bu." Jawabku singkat…

Penjelasan

Kubuka pintu toilet dengan elegan, seorang wanita cantik berambut lurus sebahu, dengan pakaian modis ala selebritis menyambutku. Kali ini dia tersenyum ramah, penuh arti. "Aku…

Calmdown

"bisa kita bicara sebentar, sebelum aku memberi jawabannya?" Ucapku pada Al yang tengah berlutut melamar diri ini. "Silahkan, tapi aku tetap berlutut." Kata Al sambil…

PFW

Paris Fashion Week, sebuah acara bergengsi dunia, dimana aku menulisnya sebagai sebuah salah satu wishlist. Tak terbayangkan akan hadir disini, dengan cara memenangkan sebuah lomba. …

Paris

[Selamat pagi, dengan travel Al Baiti, bisa dibantu?] [Ya mbak, saya Laira, ingin menanyakan paket Umroh] [Baik, rencana berangkat kapan Bu Laira?] [Insyaallah satu atau…

Mencari tahu

Diri ini terus berusaha menghubungi Arkan. Namun, dia seolah menghilang tanpa kabar,  baru mengetahui dari salah satu berita internasional bahwa seseorang yang mirip Arkan sedang…

Overthinking

Aku duduk di samping ranjang ibu di kamar rumah sakit. Operasi kaki yang baru saja dijalaninya telah selesai, namun perjalanan pemulihan masih panjang. Wajahnya terlihat…

Bimbang

 Milan tampak indah di malam hari, tapi pikiranku tidak bisa fokus pada keindahan itu. Aku tahu keputusan apa yang harus diambil, tapi entah kenapa hatiku…

Titik terang

Aku berdiri di atas panggung, menatap barisan juri dan puluhan penonton yang memenuhi aula kompetisi. Panitia juga mengadakan live streaming di babak final. Tangan gemetar…

Arkan View

Baru satu hari, aku menginjakan kaki di kota ini, ingin segera mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Kuputuskan pagi ini melihat Duomo di Milano. Sebuah icon bersejarah kota…

Milan

Aku melangkah keluar dari Bandara Malpensa, Milan. Sejenak ingin mencari tahu keberadaan sosok tadi, namun, pramugari segera menyuruhku untuk bergegas turun, bergantian dengan penumpang lain.…

Terbang

"Apa aku ketinggalan sesuatu?" Mataku tertuju pada ibu, lalu Alvaro, sambil menghidangkan teh untuknya. Kedua orang ini tampak menyiratkan satu hal yang tak kumengerti. "Tidak…

Ternyata

Suasana mendadak kaku, hening sekejap. Aku terpaku begitu juga Al. Tapi, ekspresi wajah mereka berbeda, aku melihat tatapan tajam di mata mereka, seolah ada sesuatu…
error: Content is protected !!