Namaku Githa, aku adalah orang yang kurang suka bergaul dengan banyak orang. Tetapi, aku juga bisa jadi sangat aktif ketika bersama orang yang membuat ku nyaman. Aku seorang siswi dari sekolah ‘Membangun Harapan’ dan sekarang aku sudah masuk kelas 3 SMA, lebih tepat nya sudah akan segera lulus. Cerita ini bermula pada saat aku kelas 1 SMA. Pada saat itu, aku baru saja masuk minggu ke 2 setelah MPLS, aku diberitahu teman ku bahwa ada kakak kelas yang cukup menawan, namanya Rio. Dia atlet renang, dan nama nya sudah sangat tak asing di sekolah ku. Tapi banyak rumor yang mengatakan dia tak didukung oleh keluarga nya untuk menjadi atlet. Aku tak begitu peduli juga tentang dia, karena sebelumnya kita belum pernah saling melihat muka, aku mengenal nya hanya lewat teman teman ku. Sahabat ku, Sasha, memberi ku ide yang kurasa itu tak baik untuk dilakukan. Dia bilang,
”kamu dekati saja rio,siapa tau kamu bisa dekat dengan atlet yang dingin itu kan?”
Aku tak tau apa yang dipikir kan oleh Sasha saat itu, lalu ku jawab,
”apa apaansih kamu sha? mana mungkin aku bisa dekat dengan kakak kelas begitu cepat? kita saja baru 2 minggu masuk kesini”
Sasha anak nya memang selalu ceroboh dan bertingkah gegabah sebelum memikirkan akibat nya. Sampai disuatu saat aku bertemu dengan Rio. Dia bisa dibilang sangat tinggi, jika dibanding kan dengan anak laki laki lain di kelas nya. Setelah aku selesai mengambil buku di perpustakaan, aku melewati lorong yang bisa dibilang cukup sempit. Sebenarnya ada jalan menuju ke kelas ku yang lorong nya lebar, tapi jalan nya cukup jauh, jadi aku lebih memilih melewati lorong yang sempit itu. Pada saat aku berjalan melewati lorong itu, bahuku tak sengaja ditabrak dengan badan Rio, semua barang di tangan ku terjatuh ke lantai. Bukan nya membantu,dia malah membentak ku dan berkata
”kalau jalan itu mata nya lihat jalan,jangan malah menghayal.ngerti nggak?”
Disitu aku sangat kesal dengan apa yang dia katakan,karena dia yang jelas jelas dia yang menabrak bahu ku.lalu aku menjawab dengan tegas,
”badan mu saja yang terlalu besar,kau tidak melihat? lorong ini sangat sempit! kenapa tak lewat tempat lain saja?”
Kami sempat cekcok disitu sampai bel kelas ku pun berbunyi. Lalu dia langsung berjalan santai meninggalkan ku yang masih membereskan buku buku yang berhamburan,seperti tak terjadi apa apa. Disitu aku menggertak kan gigi ku dan aku berteriak kepadanya,
”jangan mentang-mentang kau atlet terkenal di sekolah ini, kau jadi seenak nya seperti itu!?”
Lalu dia hanya membalik kan kepala nya dan hanya tersenyum sinis sambil berkata,
”memang aku salah apa?kan yang duluan menabrak itu kau kan?”
Lalu pergi. Mulai hari itu aku sangat membenci Rio. Pada saat bel pulang berbunyi, aku bertemu lagi dengan nya di lorong yang sama, dia melihat ku seperti aku hanya lalat yang lewat di hadapan nya, dia menatap sinis dan dingin kepada ku. Aku pun tak mau kalah, aku buang muka saat melihat muka nya. Kita saat itu saling benci, bahkan sekedar melihat muka saja kita tak sudi. Pada saat sampai rumah, aku lalu menelpon Sasha dan menceritakan semua yang ku alami dari awal kita bertabrakan sampai pulang. Bukan nya dia ikut kesal sepertiku, dia malah senang dan berkata kepada ku dengan penuh kegirangan,
”bagus dooong!! peluang kamu untuk mendekati rio jadi lebih besar kan?”
Hari itu aku betul betul emosi dengan semuanya, aku kesal dengan Rio, terlebih lagi dengan Sasha yang pikiran nya hanya percintaan,Lalu aku menjawab,
”otak kamu tuh isinya pacaran mulu sha, nggak ada yang lain?”
Tapi dia malah menjawab,
”adaa!khayalan ku tentang kamu dan rio, hahahahaha”
Ucap nya dengan mengejek. Aku tak tau mengapa dia ingin sekali aku dan Rio bersatu, karena itu hampir tak mungkin. Lalu beberapa minggu berlalu, lomba 17 Agustus mulai diadakan. Semua murid antusias mengikuti lomba, termasuk Sasha, dia mengikuti lomba makan kerupuk, dan dia berkata kepada ku sambil sedikit bercanda,
”kapan lagi lomba dan dikasih makan git?”
Lalu aku jawab,
”terserah kamu aja sha”.
Tapi disitu aku masih bingung mau memilih lomba yang mana, antara lomba kaligrafi atau lomba menggambar.Sampai Rio berteriak menantang ku, dia bilang,
”kalau berani, lawan aku disini, jangan cuman modal melihat saja, kalau hanya melihat, memang bisa ngehasilin sesuatu? dasar cupu”
Disitu karena aku merasa kesal aku pun bilang,
”oke! liat nanti siapa yang menang? kau pikir kau sejago apa sampai menantang orang seperti itu?”
”kalo semisal aku menang bagaimana? kau bakal kasih aku apa?”
Ucap Rio, dengan sedikit berteriak.
Lalu aku balas dengan lantang,
”akan kuberikan kau t*i!”
Dan dia malah bilang,
”oke, aku tunggu t*i itu”
Sembari tersenyum licik.
Aku sangat emosi saat itu sampai mulut ku berkata hal yang menjijik kan seperti itu.
Lalu, hari itu kita pun langsung memulai lomba dan mengadu kemampuan kita di lomba itu. Dan setelah 30 menit, lomba selesai. Panitia bilang kemenangan nya akan di umum kan keesokan harinya. Singkat cerita, hari esok pun tiba. Kemenangan sebentar lagi akan diumumkan. Aku melihat muka Rio yang tampak sangat meremehkan ku, aku tau kaligrafi nya cukup bagus, karena Sasha bilang, orang tuanya selalu menuntutnya hebat dibidang seni. Sasha bilang,
”aku kok lebih yakin kalau rio yang akan menang ya?”
Nada nya seperti mengejek ku.jadi aku menjawab
”kamu jahat banget sha,masa lebih mendukung musuh sahabat mu daripada sahabat mu sendiri?”
Panitia nya pun menyebut nama rio dengan lantang di mic,
”juara satu adalaaahh, riiooo!! selamat yaa riioo”
Lalu nama ku disebut kedua setelah rio,
”laluuu juaraa duaa adalaahh giiithhaaaa, selamaat yaa giitt”
Walaupun aku meraih juara 2, tapi aku belum bisa mengalahkan Rio. Rio dengan senyum sinis nya lalu bilang,
”bagaimana? mana t*i yang kau janjikan pada ku?”
Disitu aku hanya diam, aku tak tau ingin mengatakan apapun, aku sangat malu saat itu.
*aakh seharus nya aku tak gegabah saat berbicara waktu itu.
Ucap ku dalam hati.Sedangkan Rio, dia seperti orang yang tak waras, berteriak-teriak dengan bangga dan sedikit mengejek ku.Beberapa minggu berlalu, setelah kejadian lomba itu. Aku dan Rio masih berada di lingkaran kebencian yang sama. Setiap kali bertemu di lorong, kantin, atau halaman sekolah, kami hanya saling melempar tatapan dingin tanpa sepatah kata pun. Seolah-olah kejadian waktu lomba itu menambah alasan bagiku untuk semakin membencinya.
Namun entah mengapa, aku mulai menyadari satu hal yang mengganggu pikiranku. Rio tidak selalu seperti yang terlihat. Di beberapa kesempatan, aku melihatnya duduk sendirian di tribun kolam renang setelah latihan, menatap air dengan wajah lelah. Tak ada senyum sinis, tak ada sikap sok dingin seperti biasanya. Hanya raut wajah kosong yang sulit kuartikan.
Suatu hari, Sasha kembali datang dengan mengatakan hal yang ku rasa itu tak mungkin terjadi.
“git, kamu sadar nggak sih? semenjak lomba itu, rio sering merhatiin kamu tau, apakah bakal ada benih cinta yang tumbuh?”
Katanya sambil menyenggol lenganku.
“jangan mulai lagi sha,”
Jawabku ketus, meski hatiku terasa sedikit terusik.
Aku menyangkalnya, tapi dalam hati, aku tahu… perasaanku mulai berubah, meski sangat pelan dan penuh penolakan.
Aku mulai bertanya pada diriku sendiri, apakah kebencian ini benar-benar murni, atau hanya cara lain untuk menyembunyikan rasa penasaran yang perlahan tumbuh tanpa aku sadari?
Mengapa aku bisa bingung dengan perasaan ku sendiri?