Hari itu aku pergi ke sekolah dengan tegas dan penuh percaya diri menuju kelas Rio. Bukannya aku melihat Rio bersama teman-temannya, aku justru melihatnya sedang berbincang manis dengan Sasha di bangkunya. Kepercayaan diriku yang sejak awal kubangun untuk meminta maaf langsung hancur lebur setelah melihat mereka bersama. Sasha hanya tersenyum sinis kepadaku dan berkata dengan nada ketus,
“Kenapa kamu ke sini? Kamu mau menyakiti hati Rio lagi?”
Aku yang masih berdiri tegak di pintu hanya terpaku lemas dan tak mampu berkata-kata mendengar ucapannya. Aku melihat Rio yang hanya diam dan menunduk, seolah-olah ia tak mampu berbuat apa-apa tanpa bayang-bayang Sasha di sampingnya. Aku lalu menjawab dengan suara yang sedikit bergetar,
“Aku hanya ingin berbicara dengan Rio, bukan denganmu. Tidak usah ikut campur dalam urusan kami.”
Rio kemudian buka suara, “Kamu ingin bicara apa denganku? Jika tidak penting, bicara saja dengan Sasha.”
Perkataan itu terasa seperti tamparan keras di wajahku. Ia tak lagi memanggilku semanis dulu. Tidak ada lagi nada lembut yang dahulu membuatku merasa aman. Sasha tertawa kecil dan berkata,
“Kamu dengar, kan? Jika tidak penting, itu urusanku.”
Aku berusaha tetap berdiri meski hatiku terasa runtuh.
“Aku hanya ingin menyelesaikan masalah yang tidak pernah benar-benar selesai sejak awal aku bersama Rio. Aku hanya ingin berkomunikasi dengannya.”
Sasha berdiri dan menghampiriku. Wajahnya begitu dekat dengan wajahku saat ia berkata dengan nada ketus,
“Rio sudah lama bersamaku. Sejak kamu menjauhinya, kamu sudah menyakiti hatinya. Kamu bahkan lupa dengan janjimu sendiri. Kamu bilang tidak akan meninggalkan Rio secara tiba-tiba, tetapi kenyataannya bagaimana?”
Aku menarik napas panjang sebelum menjawab,
“Aku hanya ingin berbicara sebentar dengan Rio. Dia sendiri yang mengatakan hal itu waktu itu.”
Rio yang berada di pojok ruangan hanya diam seperti tak memiliki suara. Aku memanggilnya,
“Rio, bukankah kamu sendiri yang berkata bahwa kita tidak boleh berpisah tanpa ada kata perpisahan? Lalu sekarang mengapa justru sebaliknya?”
Ia tetap diam dan tidak mau menatap mataku. Bahkan ia membiarkan Sasha menertawakanku. Dadaku terasa sesak. Aku akhirnya berlari kembali ke kelas dan duduk di sebelah Buna.
“Dari mana saja kamu, Git? Aku sudah mencarimu dari tadi. Kamu kenapa?”
tanya Buna.
Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh. Buna pun berhenti bertanya dan langsung memelukku. Ia mengusap kepalaku perlahan sambil berkata,
“Tenang saja, Git. Kamu pasti bisa melupakan ini perlahan. Seiring berjalannya waktu, kamu akan mendapatkan yang lebih baik.”
Aku bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya kutangisi. Apakah karena dikhianati sahabat sendiri atau karena kehilangan seseorang yang pernah begitu berarti? Setelah aku sedikit lebih tenang, Buna bertanya pelan,
“Kamu diapakan oleh Rio dan Sasha? Dipukul?”
Aku menggeleng.
“Tidak. Mereka ternyata sudah bersama di belakangku”.
Wajah Buna tampak marah, tetapi ia memilih tetap diam dan kembali menenangkanku.
“Percayalah, Git. Semua yang pergi akan digantikan dengan yang lebih baik. Bukankah sahabatmu yang toxic itu sudah tergantikan? Tidak lama lagi kamu pasti akan menemukan laki-laki yang lebih baik dari Rio”.
Aku hanya tersenyum kecil dan mengangguk. Dalam hati, aku masih bimbang. Haruskah aku tetap melanjutkan niatku untuk meminta maaf atau justru menyerah? Namun setelah kupikirkan kembali, aku merasa harus tetap menyelesaikan semuanya. Bukan untuk kembali bersama, melainkan untuk menutup semuanya dengan baik.
Bel jam pertama berbunyi. Sasha masuk ke kelas bersama guru di belakangnya. Aku tidak berani menatapnya. Sepanjang pelajaran berlangsung, aku sama sekali tidak fokus. Pikiranku dipenuhi berbagai cara agar dapat berbicara dengan Rio tanpa kehadiran Sasha di sampingnya.
Ketika bel istirahat berbunyi, aku langsung berlari menuju kelas Rio. Benar saja, Sasha seolah mengetahui niatku dan ikut berlari di belakangku. Aku menghampiri meja Rio dan menarik tangannya. Ia mengikuti tanpa perlawanan.
Namun belum sempat aku berbicara, Sasha sudah menarik kembali tangan Rio dan berkata kepadaku,
“Jangan ganggu Rio lagi! Dia sudah bukan milikmu lagi, Git!”
Aku tak mampu menahan diri.
“Aku hanya ingin membicarakan hubungan kami! Setelah itu aku tidak akan mengganggunya lagi. Kami bahkan belum benar-benar putus. Aku hanya ingin menyelesaikannya dengan baik.”
Namun Sasha tetap tidak mau mendengarkanku. Ia pergi bersama Rio, meninggalkanku berdiri sendirian di lorong.
Beberapa siswa mulai memperhatikanku. Ada yang berbisik, ada pula yang memandang dengan iba. Aku menunduk dan memilih kembali ke kelas. Di sana, aku duduk diam sambil menatap meja. Perasaanku campur aduk antara marah, sedih, dan kecewa.
Sepulang sekolah, aku berjalan sendiri menuju gerbang. Biasanya Rio selalu berjalan di sampingku. Hari itu terasa sangat berbeda. Langkahku terasa berat, tetapi entah mengapa hatiku perlahan menjadi lebih tenang. Mungkin karena aku mulai menerima kenyataan.
Aku menyadari bahwa mempertahankan seseorang yang tidak lagi ingin bertahan hanya akan membuatku terlihat semakin lemah. Aku tidak ingin terus-menerus memohon untuk didengar. Jika ia memilih Sasha, itu adalah haknya. Namun aku juga memiliki hak untuk menjaga harga diriku sendiri.
Malam harinya, aku menatap layar ponsel cukup lama. Aku menuliskan pesan untuk Rio, bukan untuk memintanya kembali, melainkan untuk benar-benar mengakhiri semuanya dengan dewasa.
“Rio, mungkin ini terakhir kalinya aku menghubungimu. Aku hanya ingin meminta maaf jika selama ini pernah menyakitimu. Aku juga berterima kasih atas semua kenangan yang pernah ada. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu.”
Aku membaca pesan itu berkali-kali sebelum akhirnya menekan tombol kirim. Tanganku gemetar, tetapi hatiku terasa lebih ringan.
Beberapa menit kemudian, balasan masuk. “Terima kasih. Jaga diri baik-baik.”
Hanya itu. Singkat dan tanpa emosi. Namun cukup untuk membuatku benar-benar menyadari bahwa semuanya telah selesai.
Aku menutup ponsel dan menatap langit-langit kamar. Air mataku kembali jatuh, tetapi kali ini bukan karena ingin kembali, melainkan karena akhirnya aku berani melepaskan.
Besok mungkin masih terasa sulit. Melihat mereka bersama pasti tetap menyakitkan. Namun aku tahu, waktu akan mengajarkanku untuk terbiasa.
Dan mungkin benar kata Buna, suatu hari nanti aku akan menemukan seseorang yang tidak membuatku harus berjuang sendirian untuk didengar.
Untuk saat ini, aku hanya ingin belajar berdiri kembali. Tanpa Rio. Tanpa Sasha. Dan tanpa janji-janji yang tidak pernah ditepati.