Beberapa hari berlalu. Aku mulai merasakan hal yang aneh pada Sasha. Ia sudah jarang menggangguku dan bahkan sedikit menghindar dariku. Aku bingung, mengapa ia tiba-tiba berubah? Namun, selama ia masih mengajakku berbicara dan tertawa, aku tetap menganggapnya sahabatku.
Keanehan Sasha yang perlahan menjauh itu disertai dengan hal lain. Kini, ia kembali dekat dengan Daniel.
“Oh, mungkin dia kembali lagi dengan Daniel,”
pikirku.
Saat itu,aku mempunyai teman sekelas bernama Buna. Ia anak baru, perempuan yang cukup lucu, agak introvert, dan memiliki aura yang baik. Anehnya, aku merasa sangat cocok berteman dengannya. Mungkin sudah lebih dari dua minggu aku bersamanya, sementara Sasha semakin menjauh dariku. Kami bahkan bisa dikatakan seperti orang asing yang tak pernah kenala sebelum nya saat itu.
Aku menceritakan semuanya kepada Ibu. Ibu berkata,
“Ibu punya firasat buruk terhadap Sasha. Coba kamu pikirkan baik-baik, mengapa ada orang yang sangat antusias saat kamu dekat dengan seorang lelaki, padahal dia sendiri sudah punya pacar?”
Aku mengelak.
“Bisa saja dia memang punya firasat baik waktu itu. Lagi pula, aku bisa mengenal Rio karena Sasha.”
Aku berusaha membela Sasha agar namanya tidak buruk di mata Ibu. Ibu menghela napas panjang dan dengan nada sedikit ketus berkata,
“Ya sudah, kalau kamu percaya seperti itu. Asal kamu tahu, firasat Ibu jarang meleset.”
Aku tahu, semua yang dikatakan Ibu hampir tidak pernah salah. Namun kali ini, firasatku mengatakan bahwa Ibu keliru. Sasha adalah teman baikku. Mana mungkin ia bisa menikungku? Ia juga menganggapku sahabat, bukan? Iya, kan?
Sebenarnya, aku tidak peduli Sasha dekat dengan siapa. Aku hanya takut rahasia pribadiku tersebar dari mulut ke mulut. Firasat buruk itu selalu muncul bersamaan dengan keyakinan bahwa Sasha tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Kini semua pikiranku bercampur menjadi satu setiap kali aku hendak tidur.
Perasaanku kepada Rio, sikap Sasha yang tiba-tiba menjauh, serta perkataan Ibu yang semakin lama terdengar semakin meyakinkan, semuanya berputar di kepalaku. Setiap malam, aku tidak pernah langsung tertidur pulas. Otakku seakan memaksaku berpikir selama dua jam sebelum akhirnya menyerah pada rasa lelah.
Aku mengalami insomnia yang cukup berat hingga kantong mataku menghitam seperti panda. Dengan langkah sempoyongan karena sangat mengantuk, hanya satu orang yang selalu membantuku di sampingku. Bukan Rio, apalagi Sasha. Yang membantuku hanyalah Buna.
Aku hanya dibantu oleh teman yang bahkan baru kukenal selama dua minggu terakhir. Aku sedikit sedih saat itu. Laki-laki yang selalu kubanggakan,dan bahkan sahabat yang selalu ku bela,justru tidak hadir ketika aku dalam keadaan seperti ini. Pusing, mual, sedih, dan marah bercampur menjadi satu dalam diriku. Namun yang ada disisi ku hanya Buna.
Saat itu, aku mulai merasa bahwa perkataan Ibu mungkin benar dan tidak meleset sama sekali.
Suatu hari, aku melihat Sasha berbicara dan tertawa bersama Rio di depan pintu kelas. Buna menenangkanku. Dengan nada lembut dan hangat, ia berkata,
“Sudah, Giit. Kamu sabar, ya. Jangan lihat ke depan pintu. Ada ular dan buaya yang sedang berbincang.”
Aku tersenyum. Tidak ada yang pernah menghiburku seperti itu selain dia dan kedua orang tuaku.
Sejak saat itu, setiap malam aku lebih mudah tertidur karena Buna. Ia selalu berkata kepadaku,
“Apa pun masalahnya, tidur tetap harus diutamakan. Masalah bisa selesai kalau Tuhan berkehendak. Tapi kalau tidur? Di dunia ini, tidur hanya ada dua, Giit. Tidur untuk mengisi energi dan tidur untuk beristirahat selamanya.”
Sejak itu pula aku semakin sering menelepon Buna. Leluconnya selalu tepat dan mengena. Perlahan, karena Buna, kantong mataku mulai menipis, langkahku kembali tegak, dan senyum lebarku kembali merekah.
Tentu saja, Buna sangat bahagia melihatku membaik. Berbeda dengan Rio, Sasha, dan Daniel. Mereka memandang sinis ketika aku lewat dengan senyum lebar. Namun aku dan Buna tidak memedulikan mereka bertiga.
Suatu hari, Buna berbisik sambil tertawa kecil,
“Karnivora pemakan hati itu sedang tidak mendapat santapan harian, karena santapannya sudah tidak punya hati lagi di tubuhnya, melainkan besi.”
Aku tertawa keras hingga Buna menutup mulutku dengan tangannya. Leluconnya cerdas dan tetap lucu tanpa merendahkan dirinya sendiri.
Kini kami sering duduk berdua. Bahkan, beberapa perempuan di kelas mulai lebih dekat dengan kami. Lelucon Buna menyebar dari mulut ke mulut. Entah karena apa, semakin banyak orang yang menyukai kami berdua. Mungkin karena kami terlihat tulus dan apa adanya.
Aku merasa Sasha dan teman-temannya semakin membenci kami. Kami tidak takut dibenci, tetapi kami takut jika mereka berani melakukan hal yang tidak baik kepada kami.
Kini, aku mulai membuang semua barang yang pernah diberikan Sasha, bahkan dari Rio sekalipun. Aku mengganti barang-barang itu dengan benda-benda buatan Buna dan aku. Foto-foto kenanganku bersama Sasha dan Rio pun kubuang.
Hari itu, aku membersihkan semua “rongsokan” dari kamarku. Aku tidak ingin ada sampah yang dulu kuanggap emas tersisa di ruang yang kini ingin kujaga kebersihannya.
Saat aku mengumpulkan barang-barang itu untuk dibakar, aku melihat Ibu mengintip dari pintu dengan senyum bahagia. Ia masuk lalu berkata,
“Kamu sudah sadar, kan? Yang Ibu bilang itu tidak pernah salah.”
Aku menjawab dengan senyum lebar sambil memasang foto baruku bersama Buna.
“Hehe, iya, Mah. Aku percaya. Ternyata orang yang kita kira tidak mungkin membenci kita bisa saja menjadi musuh tanpa ada pertengkaran besar sebelumnya.”
Ibu hanya tersenyum, lalu keluar dari kamarku. Aku melanjutkan mendekorasi kamar dengan hati yang jauh lebih ringan.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa benar-benar bersih.