Jakarta, 2018
Aisyah menatap amplop cokelat di tangannya dengan rahang yang mengeras. Tangannya bergetar menahan amarah yang sudah memuncak sejak tadi pagi.
UNIVERSITAS INDONESIA
FAKULTAS HUKUM
Surat penerimaan mahasiswa itu terasa berat di tangannya. Bukan karena kertas di dalamnya tebal, tapi karena impian yang dikandungnya terlalu besar untuk seorang gadis yang ayahnya bahkan tak sanggup membiayai kuliahnya.
“Aisyah ….”
Suara Pak Firdaus terdengar dari ambang pintu kamar, tetapi Aisyah juga sama sekali tidak menoleh mendengar panggilan itu.
“Aisyah, Bapak mau bicara.”
“Nggak usah!” Suara Aisyah datar dan terdengar dingin seperti es yang tak akan pernah mencair. “Aku sudah tahu apa yang mau Bapak bilang.”
Aisyah bisa merasakan ayahnya masih berdiri di sana dengan ragu-ragu, seakan tengah mencari kata-kata yang tepat untuk diucapkan. Namun, Aisyah tidak peduli. Ia sudah muak dengan semua alasan, semua janji kosong, semua kata maaf yang tak pernah diikuti perubahan.
“Dengarkan Bapak dulu—”
“Nggak mau!”
Aisyah berbalik dengan mata yang memerah, penuh dengan kemarahan yang sudah ditahannya selama sepuluh tahun. Sepuluh tahun sejak perempuan ‘itu’ masuk ke rumah mereka. Sepuluh tahun sejak ayahnya memilih kebahagiaannya sendiri dan melupakan dirinya.
Pak Firdaus berdiri di ambang pintu dengan kemeja lusuh yang sudah pudar warnanya. Rambut yang mulai memutih. Bahu yang sedikit membungkuk, entah karena beban kerja atau beban hidup yang terlalu berat. Di usianya yang hampir 50 tahun, Pak Firdaus terlihat seperti lelaki yang jauh lebih tua.
“Aisyah, Bapak sudah usaha,” ucap Pak Firdaus.
“Usaha?” Aisyah tertawa sinis. “Usaha apa, Pak? Usaha buang-buang uang buat orang lain? Usaha buat kasih makan keluarga orang lain? Usaha buat bahagiain istri Bapak itu?”
“Aisyah, jangan bicara seperti itu.”
“Kenapa? Kenapa aku nggak boleh bicara seperti itu?” Aisyah melangkah maju dengan tangan mengepal erat. “Aku kerja keras, Pak! Aku belajar sampai tengah malam! Aku ikut bimbingan sana sini pakai uang tabungan sendiri dan dari ngajar les! Aku korbanin waktu buat main sama temen-temen aku, semuanya demi bisa masuk UI! Dan sekarang saat aku berhasil, Bapak bilang nggak ada uang?”
Pak Firdaus menunduk. Tangannya terkepal di sisi kanan kiri tubuhnya, tetapi ia tak berkata apa-apa. Akan tetapi, diamnya itu justru membuat Aisyah semakin marah.
“Atau …” Aisyah tersenyum pahit, air matanya mulai mengalir. “Atau uangnya habis buat bayar sekolah Dimas dan Zahra, ya? Anak-anak dari istri Bapak itu?”
“Aisyah!” sentak Pak Firdaus.
“Aku benar, ‘kan?”
Pak Firdaus mengangkat wajahnya. Matanya memerah, tetapi ia tetap diam yang dianggap Aisyah sebagai sebuah jawaban. Aisyah tertawa pahit merasakan luka yang tak terlihat, tetapi menganga lebar di dadanya.
“Aku sudah tahu,” bisiknya pelan. “Aku sudah tahu dari dulu, Pak. Bapak lebih sayang sama mereka. Bapak lebih peduli sama keluarga baru Bapak. Sedangkan aku? Aku cuma anak dari istri pertama yang sudah mati. Aku cuma … sisa.”
“Cukup, Aisyah!”
Untuk pertama kalinya, Pak Firdaus membentaknya. Suaranya keras dengan kedua tangan yang mengepal erat, dan Aisyah bisa melihat urat-urat di lehernya menegang.
Namun Aisyah tidak takut, ia justru semakin berani.
“Kenapa? Kenapa aku nggak boleh bilang yang sebenarnya?” Aisyah melangkah lebih dekat, menatap mata ayahnya dengan tatapan penuh kebencian. “Bapak pikir aku nggak tahu? Bapak pikir aku nggak dengar waktu Bapak bilang ke Bu Ratna kalau uang THR kemarin dipakai buat bayar uang pangkal sekolah Zahra? Bapak pikir aku nggak lihat waktu Bapak beliin Dimas sepeda baru, sementara sepeda aku udah rusak dari tahun lalu?”
“Itu berbeda—”
“Beda apanya?” Aisyah berteriak. “Bedanya cuma satu, Pak! Mereka anak dari istri yang Bapak sayang. Sementara aku? Aku anak dari istri yang udah mati! Aku anak dari perempuan yang Bapak lupain!”
“Jangan pernah bilang Bapak melupakan ibumu!”
Suara Pak Firdaus menggelegar. Tangannya bergetar hebat, dan untuk pertama kalinya, Aisyah melihat air mata di pelupuk mata ayahnya.
“Lalu kenapa dulu Bapak nikah lagi?” Aisyah berbisik, suaranya bergetar oleh tangis yang sudah tak bisa ditahan lagi. “Kenapa Bapak bawa perempuan lain ke rumah ini? Kenapa Bapak tidur di kamar yang dulu Bapak pakai sama Ibu? Kenapa Bapak bahagiain perempuan lain, sementara Ibu bahkan belum setahun meninggal?”
“Aisyah … kamu nggak ngerti.”
“Aku ngerti!” tangis Aisyah pecah, memecah belah keheningan rumah kecil itu. “Aku ngerti kalau Bapak egois! Aku ngerti kalau Bapak lebih mikirin kebahagiaan Bapak sendiri! Aku ngerti kalau aku nggak pernah jadi prioritas!”
Pak Firdaus melangkah maju, tangannya terangkat seolah ingin meraih Aisyah, ingin memeluknya, tetapi Aisyah mundur.
“Jangan sentuh aku.” Suaranya dingin.
Pak Firdaus membeku. Tangannya masih terangkat di udara sebelum akhirnya jatuh lemas di sisi tubuhnya.
“Aisyah … Bapak sayang kamu.”
“Bohong.”
“Bapak sayang kamu, Nak. Lebih dari apa pun itu.”
“BOHONG!” Aisyah berteriak. “Kalau Bapak sayang, Bapak bakal usahain aku kuliah! Kalau Bapak sayang, Bapak nggak bakal nikah lagi! Kalau Bapak sayang, Bapak nggak bakal tinggalin Ibu! Kalau Bapak sayang … kalau Bapak bener-bener sayang ….”
Aisyah tidak bisa melanjutkan. Tangisnya sudah meleburkan semua kata-kata yang ingin ia ucapkan.
Pak Firdaus berdiri di sana dengan air mata yang akhirnya mengalir di pipinya yang keriput.
“Maafkan Bapak, Aisyah. Maafkan Bapak yang nggak bisa—”
“Aku nggak butuh maaf Bapak.” Aisyah segera memotong kata-kata ayahnya
Aisyah mengusap air matanya dengan kasar, lalu meraih tas ranselnya dari atas tempat tidur. Ia memasukkan beberapa potong baju, charger laptop, dan beberapa buku ke dalam tas.
“Aisyah, kamu mau ke mana?”
Aisyah tidak menjawab. Ia terus berkemas dengan cepat, dengan amarah yang membuat tangannya bergerak tanpa berpikir.
“Aisyah!” Pak Firdaus meraih lengan Aisyah, tetapi Aisyah menepisnya dengan keras.
“Lepasin!”
“Kamu mau ke mana, Nak? Jangan pergi ….”
“Aku mau pergi cari kontrakan. Aku mau kerja. Aku juga masih bisa kuliah dan cari uang sendiri.” Aisyah menatap ayahnya dengan mata yang dingin. “Aku nggak butuh Bapak. Aku nggak butuh keluarga ini. Aku bisa hidup sendiri.”
“Aisyah, dengarkan Bapak dulu,” pinta Pak Firdaus memelas.
“Nggak!” Aisyah menyentak tangannya. “Aku udah muak dengar! Aku udah muak sama janji-janji Bapak! Aku udah muak tinggal di rumah ini bareng sama orang-orang yang bukan keluarga aku!”
Pak Firdaus terhenyak mendengarnya. “Mereka keluarga kamu, Aisyah. Bu Ratna, Dimas, Zahra … mereka—”
“Mereka bukan keluarga aku!”
Aisyah berteriak dengan segenap amarah yang ada di dadanya. Seluruh tubuhnya bergetar. Tangisnya sudah tak terbendung lagi.
“Keluarga aku cuma Ibu! Cuma Ibu! Dan Ibu udah mati! Ibu udah mati gara-gara Bapak nggak bisa biayain pengobatan Ibu dengan baik! Ibu mati gara-gara kita miskin! Dan sekarang, sekarang Bapak mau bunuh impian aku juga? Mau bikin aku sengsara juga?”
“Aisyah, jangan bicara seperti itu. Ibumu sakit kanker, itu bukan salah siapa-siapa, Aisyah. Itu sudah menjadi takdir.”
“Tapi Bapak bisa usahain lebih! Bapak bisa cari pinjaman! Bapak bisa jual rumah! Bapak bisa—”
“Bapak sudah usahain semua itu!”
Pak Firdaus berteriak, dan untuk pertama kalinya, Aisyah melihat ayahnya benar-benar hancur. Lelaki itu jatuh berlutut, tangannya menutupi wajahnya, dan tubuhnya bergetar oleh tangis yang sudah ditahannya terlalu lama.
“Bapak sudah usahain semuanya, Aisyah … Bapak jual motor, Bapak pinjam ke bank, Bapak kerja sampai tiga tempat … tapi itu nggak cukup. Bapak nggak bisa selamatin ibumu dan Bapak minta maaf. Bapak minta maaf ….”
Aisyah berdiri di sana, menatap ayahnya yang menangis di lantai. Untuk sesaat, ada sesuatu di dadanya yang lembut. Sesuatu yang ingin berlutut, memeluk ayahnya, dan menangis bersama, tetapi rupanya amarah itu lebih besar. Amarah selama sepuluh tahun yang sudah membatu di dadanya. Amarah yang tidak bisa dimaafkan.
“Aku nggak peduli,” bisik Aisyah pelan. Suaranya kosong, hampa. “Aku nggak peduli sama alasan Bapak. Aku nggak peduli sama pengorbanan Bapak. Yang aku tahu, Bapak nggak bisa kasih aku apa yang aku butuh. Bapak nggak pernah bisa.”
Aisyah mengangkat tasnya, melemparkannya ke bahu, lalu berjalan menuju pintu.
“Aisyah … Nak!”
Pak Firdaus meraih kaki Aisyah, tangannya bergetar, dan Aisyah bisa merasakan basah air mata di sepatunya, tetapi ia tetap tidak berhenti.
Ia menendang pelan tangan ayahnya, memang tidak keras, tetapi cukup untuk melepaskan cengkeraman.
“Mulai hari ini,” Aisyah berhenti di ambang pintu, membelakangi ayahnya tanpa menoleh, “aku bukan anak Bapak lagi. Dan Bapak … bukan ayah aku.”
Hanya terdengar isak tangis Pak Firdaus yang memecah sunyinya malam.
“Aisyah … jangan pergi. Bapak mohon, Aisyah. Jangan tinggalin Bapak ….”
#20harimencarimaaf
#day1
#novelgoodcompetition