“Ah, sudah,” ucap Aisyah kemudian.
Pelukan itu perlahan mereda, meski sisa tangis masih tersangkut di napas mereka masing-masing.
Aisyah mengusap wajahnya dengan punggung tangan, berusaha mengembalikan ketegaran yang tadi runtuh begitu saja. Ia menatap Dimas beberapa detik, lalu menarik napas panjang.
“Masuk,” katanya pelan.
Dimas mengerjap, seolah tak yakin dengan apa yang didengarnya.
“Ayo masuk ke dalam dulu,” ulang Aisyah, kali ini lebih jelas. “Kamu pasti capek, ‘kan?”
Ia bangkit lebih dulu, lalu mengulurkan tangan. Dimas pun kemudian menyambutnya tanpa ragu. Sentuhan itu terasa asing karena sudah lama hilang, tapi juga hangat karena masih sama.
Mereka melangkah melewati pagar besi hitam sederhana itu. Rumah kontrakan bercat krem pucat itu tampak lebih kecil ketika dilihat dari dekat. Ruang tamunya sempit, hanya ada sofa dua dudukan, meja kecil, dan rak buku sederhana di sudut ruangan. Dindingnya polos, hanya dihiasi satu jam dinding dan foto wisuda yang dipajang rapi.
Dimas berhenti sejenak saat melihat foto itu. Ia sama sekali tak berkedip sedikit pun saat melihat Aisyah tersenyum lebar dalam balutan toga hitamnya. Dadanya kembali terasa penuh, tapi kali ini bukan lagi karena sedih, melainkan karena bangga yang bertumpuk.
Rina sudah duduk di kursi kayu dekat jendela, memberi ruang bagi mereka. Suasana memang canggung. Udara terasa berbeda ketika luka-luka lama ikut masuk bersama mereka.
“Duduk,” kata Aisyah pelan.
Dimas menurut atas apa yang kakaknya perintahkan. Tangannya masih saling menggenggam di pangkuannya, seperti anak kecil yang takut salah bergerak.
“Aku bikin minum dulu,” ucap Aisyah cepat, mungkin untuk mengalihkan gugupnya.
Di dapur kecil yang hanya dipisahkan setengah dinding, ia menuangkan air putih dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Saat ini ia belum benar-benar meminta maaf. Ia belum mengatakan apa-apa tentang semua kata-kata kasarnya tadi.
Dimas menerima gelas itu dengan dua tangan. “Makasih, Kak.”
“Kamu kurusan sekarang,” komentar Aisyah pelan sambil menatap lekat wajah Dimas.
“Kakak juga,” balas Dimas spontan.
Mereka sama-sama tersenyum kecil. yanh terlihat canggung.
Beberapa menit berlalu. Percakapan mulai mengalir pelan. Tentang perjalanan Dimas ke Jakarta. Tentang kontrakan ini, tentang Ashley dan tentang pekerjaannya. Sedikit demi sedikit, tembok yang selama ini berdiri kokoh mulai runtuh tanpa suara. Hanya satu hal yang belum terucap, yakni kata ‘maaf’.
Aisyah tahu itu. Ia tahu seharusnya ia mengatakannya. Namun baginya kata itu terasa berat, seolah harus melewati sisa ego yang masih tertinggal.
Rina yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.
“Ash.”
Aisyah menoleh.
Rina menatapnya serius, tidak lagi dengan senyum ringan seperti biasanya.
“Minta maaflah sama Bokap lo.”
Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi.
Aisyah mengernyit pelan. “Kak Rina .…”
“Biar bagaimanapun dia itu bokap lo,” lanjut Rina lembut tapi tegas. “Lo beruntung masih punya bokap. Nggak kayak gue.”
Dimas menoleh kaget, begitu pula dengan Aisyah. Rina tersenyum tipis, tapi ada luka lama yang tersirat di matanya.
“Sejak kecil gue hidup di panti asuhan,” katanya pelan. “Nggak pernah tahu siapa orang tua gue. Nggak pernah tahu wajah bokap nyokap gue.”
Aisyah terdiam lama.
“Waktu akhirnya ada keluarga yang angkat gue jadi anak,” lanjut Rina, “gue kira hidup gue bakal berubah. Ternyata nggak. Mereka justru perlakukan gue kayak pembantu. Gue kerja dari pagi sampai malam. Dan waktu gue protes, mereka bilang gue harus tahu diri karena cuma anak pungut.”
Suara Rina tetap tenang, tapi jelas ada perih di dalamnya.
“Makanya gue pilih buat pergi dari rumah,” ia menambahkan. “Gue nggak punya rumah untuk pulang. Nggak punya bokap buat dimarahin atau dibenci.”
Ia menatap Aisyah dalam-dalam. “Sedangkan lo … masih begitu disayangi.”
Kata-kata itu terasa seperti cermin di hadapan Aisyah. Aisyah menunduk. Tangannya saling menggenggam di pangkuan. Dadanya terasa berat mendengar apa yang baru saja Rina katakan. Ia selama ini merasa paling terluka, paling tersisih, dan paling tidak dicintai. Padahal ada orang lain yang bahkan tidak pernah merasakan memiliki.
Dimas menatap kakaknya dengan mata yang kembali berkaca-kaca, Aisyah menarik napas panjang.
“Aku …,” suaranya pelan. “Aku cuma takut kalau pulang … aku nggak tahu harus mulai dari mana.”
Dimas langsung menjawab, “Mulai aja dari depan pintu, Kak. Kayak aku tadi.”
Kalimat itu sederhana, tetapi mampu menghantam tepat di hati. Aisyah menatap adiknya lama sekali.
Rumah ini memang menjadi tempatnya bertahan dua tahun terakhir. Di sini ia belajar berdiri sendiri. Di sini ia membangun nama baru, harapan, dan juga hidup baru. Namun kini ia sadar jika bertahan bukan berarti memutus.
Ia mengusap sudut matanya yang kembali basah. “Mungkin … aku memang harus pulang.”
–
Malam turun pelan di atas kota yang tak pernah benar-benar tidur di kota Jakarta.
Lampu-lampu jalan menyala kekuningan di luar pagar kontrakan. Suasana di dalam rumah kecil itu jauh lebih tenang dibanding siang tadi. Setelah percakapan panjang dan makan malam sederhana yang Aisyah masak seadanya, Dimas akhirnya duduk bersandar di sofa dengan wajah yang terlihat jauh lebih ringan.
Ia memang belum kembali ke kampung. Ia belum membawa pulang kabar bahagia itu. Namun setidaknya, malam ini ia tidak lagi berdiri di luar pagar sebagai orang asing.
“Kamu nginep sini aja malam ini,” kata Aisyah pelan.
Dimas langsung menoleh. “Boleh?”
“Memangnya kamu mau tidur di hotel mana?” sahut Aisyah, mencoba terdengar santai meski ada senyum tipis di sudut bibirnya.
Rina yang masih ada di sana tersenyum kecil melihat perubahan itu. Suasana memang belum sepenuhnya cair, tetapi tidak lagi setegang sebelumnya.
Menjelang Magrib, langit berubah menjadi jingga keunguan. Dari kejauhan, suara azan mulai terdengar, mengalun lembut di antara riuh kendaraan.
Allahu akbar … Allahu akbar …
Dimas yang sedang duduk langsung bangkit pelan.
“Kak, kamar mandi di mana?” tanyanya hati-hati.
Aisyah menunjuk ke arah lorong kecil. “Di situ. Kenapa?”
“Aku mau ambil wudhu,” jawab Dimas polos. “Mau salat.”
Jawaban itu membuat Aisyah terdiam. Sesuatu di dadanya seperti ditekan perlahan. Sudah berapa lama ia tidak benar-benar memperhatikan azan? Sudah berapa lama ia membiarkan suara itu lewat begitu saja tanpa makna?
Dimas berjalan ke kamar mandi, membuka keran dengan hati-hati. Suara air mengalir terdengar jelas di rumah yang sempit itu. Aisyah berdiri mematung beberapa detik. Rina yang melihat ekspresi sahabatnya hanya diam. Ia tahu ada sesuatu yang sedang bergetar di dalam hati Aisyah.
Beberapa menit kemudian, Dimas menggelar sajadah tipis yang ia keluarkan dari tasnya. Ia membentangkannya di sudut ruang tamu, menghadap ke arah kiblat. Aisyah memerhatikan dari kejauhan. Gerakan itu sederhana. Tak pernah dibuat-buat. Hanya ada seorang anak laki-laki yang berdiri untuk menunaikan kewajibannya.
Dan Aisyah … merasa kecil.
Empat tahun lebih dia tinggal di Jakarta, ia sibuk mengejar kehidupan baru, mengejar pembuktian diri, mengejar pengakuan. Namun, ada satu kewajiban yang perlahan ia lupakan..Saat Dimas mengangkat takbir, suara itu terdengar pelan namun mantap.
Allahu akbar ….
Aisyah tanpa sadar melangkah mendekat ke arah pintu kamar. Ia tidak masuk dan hanya berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka. Di sana ia mengintip. Dimas rukuk, sujud, berdiri, dan takbir lagi.
Hingga saat dirinya sudah sampai pada sujud terakhir, suara tangisan itu terdengar.
“Terima kasih, Ya Allah … Ya Tuhanku …,” suara Dimas lirih, patah-patah.
Tangannya menengadah setelah salam. “Aku telah menemukan separuh dari dunia Bapak.”
Air mata Aisyah jatuh tanpa ia sadari.
“Utuhkanlah permohonanku,” lanjut Dimas dengan suara gemetar. “Izinkanlah aku membawa Kak Aisyah pulang.”
Isak tangis itu terdengar begitu tulus tanpa tuntutan sedikit pun. Itu hanya doa seorang adik yang rindu.
Aisyah bersandar pada dinding, tubuhnya melemah perlahan. Selama ini ia merasa paling tersakiti. Padahal ada seorang anak kecil yang setiap malam mungkin menyebut namanya dalam doa.
‘Separuh dari dunia Bapak’.
Kalimat itu terus terngiang di telinganya. Selama ini ia mengira dirinya dibuang dan terlupakan. Ternyata ia justru menjadi bagian yang hilang.
Tangannya menutup mulut untuk menahan tangis. Setelah sekian lama, ia merasakan kerinduan yang bukan pada rumah, bukan pada masa lalu, tapi pada Tuhan yang selama ini ia jauhi.
Di sudut ruangan itu, Dimas masih terduduk dengan wajah basah memeluk sajadahnya. Sedangkan di balik pintu itu, Aisyah akhirnya menyadari bahwa pulang bukan hanya tentang kembali ke kampung, tetapi juga tentang kembali pada yang selama ini ia tinggalkan.
#day14
#20harimencarimaaf
#novelgoodcompetition