Dimas berdiri kaku di depan sebuah rumah kontrakan bercat krem pucat dengan pagar besi hitam sederhana. Rumah itu tidak mewah, tetapi jelas lebih besar dibanding rumah mereka di kampung. Halamannya sempit, hanya cukup untuk satu motor dan beberapa pot tanaman yang tertata rapi.
Tangannya masih menggenggam kertas kecil berisi alamat yang ia dapat dari paket itu. Ini adalah kota Jakarta. Kota yang begitu asing baginya. Perjalanan panjang dengan bus semalaman masih terasa melelahkan di tubuhnya, tetapi rasa lelah itu kalah jauh oleh harapan yang memenuhi hatinya.
Ia sudah berdiri di sana hampir sepuluh menit, tetapi sama sekali tidak berani mengetuk. Dia takut jika ternyata salah alamat, tetapi juga takut jika ternyata alamat itu benar.
Dadanya berdebar tak karuan saat pintu rumah itu tiba-tiba terbuka. Seorang perempuan keluar sambil membawa kantong sampah hitam. Rambutnya diikat sederhana. Ia mengenakan kaus longgar dan celana rumahan sederhana. Wajahnya terlihat lebih dewasa, lebih kurus, dan ….
Jantungnya seperti berhenti sesaat. Dimas tahu jika itu adalah kakaknya.
“Kak Aisyah …,” bisiknya hampir tanpa suara.
Perempuan itu berjalan ke arah tempat sampah di depan pagar. Saat itulah Dimas merasa sesuatu di dadanya meledak. Sungguh ia merasa bahagia, haru, rindu, semuanya bercampur menjadi satu.
Ia tidak salah alamat dan di depan sana benar-benar kakaknya.
Kakinya bergerak perlahan mendekat, seperti takut jika langkahnya itu terlalu cepat maka akan membuat bayangan itu menghilang. Sampai akhirnya ia berdiri hanya beberapa langkah di depan perempuan itu.
“Kak …,” panggilnya lagi, kali ini lebih jelas meskipun terdengar sedikit ragu.
Aisyah menoleh.dan dunia seperti berhenti seketika itu juga. Matanya membesar. Wajahnya langsung pucat. Beberapa detik ia hanya menatap Dimas tanpa berkedip, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Namun, reaksi berikutnya bukan pelukan maupun tangisan haru. Melainkan … tatapan dingin. Setelahnya, Aisyah langsung berbalik hendak masuk ke dalam rumah.
“Kak Aisyah!” seru Dimas panik.
Langkah perempuan itu terhenti. Ia menoleh sedikit dengan rahang mengeras.
“Mau apa kamu ke sini?” sentaknya tajam. “Mau minta uang?”
Kalimat itu seperti pisau yang menusuk dada Dimas. Ia menelan ludah. Matanya langsung berkaca-kaca, tetapi ia memaksa tetap berdiri tegak di sana.
“Aku … aku cuma pengen lihat Kakak,” katanya pelan dengan suara bergetar. “Aku … pengen ketemu Kak Aisyah.”
“Terus? Sudah, ‘kan?” jawab Aisyah dingin. “Sekarang pulang kamu!”
Hening untuk beberapa detik, lalu Dimas menggeleng pelan.
“Aku jauh-jauh ke sini … bukan buat itu, Kak,” ucapnya lirih. “Aku cuma kangen.”
Kalimat sederhana itu justru membuat emosi Aisyah meledak. Perempuan itu berbalik penuh sekarang. Matanya tajam, penuh amarah yang selama ini ia simpan bertahun-tahun.
“Kangen?” ulangnya dengan nada sinis. “Kamu bilang kangen?”
Dimas hanya bisa terdiam.
“Apa belum cukup?” suara Aisyah mulai bergetar, “belum puas kamu ambil semuanya dari aku?”
Dimas mengernyitkan kedua alisnya tak paham.
“Kamu ambil posisi aku di rumah itu!” lanjut Aisyah dengan suara meninggi. “Kamu ambil Bapak dari aku!”
Hati Dimas terasa seperti diremas. “Kak … aku nggak pernah—”
“Jangan bohong!” potong Aisyah keras. “Sejak kamu ada, semuanya berubah! Bapak lebih sayang kamu! Lebih bangga sama kamu! Aku cuma … sekedar numpang di rumah itu!”
Air mata mulai menggenang di mata Aisyah, tetapi ia tidak menyekanya.
“Sekarang kamu datang ke sini buat apa? Mau pamer kalau kalian semua bahagia tanpa aku?” lanjutnya. “Mau nunjukkin kalau aku yang jahat karena pergi dari rumah?”
Dimas langsung menggeleng kuat-kuat.
“Enggak, Kak … enggak … aku nggak pernah mikir gitu,” katanya terbata. “Aku cuma … pengen Kakak pulang.”
Kalimat itu membuat Aisyah tertawa kecil dan terdengar pahit.
“Pulang?” ulangnya lirih. “Ke mana aku harus pulang, Dimas?” Dadanya naik turun menahan emosi. “Rumah itu … sudah bukan rumah aku lagi.”
Air mata Dimas akhirnya jatuh. “Kak … Bapak kangen banget sama Kakak,” katanya pelan. “Bapak masih simpan semua barang Kakak. Bapak masih—”
“Jangan bawa-bawa Bapak!” bentak Aisyah tiba-tiba.
Suasana langsung hening. Napas Aisyah memburu. Wajahnya memerah karena emosi.
“Aku sudah capek, Dimas,” katanya lebih pelan, tetapi penuh luka. “Capek karena ada kalian.”
Dimas menatap kakaknya dengan mata basah. “Aku nggak pernah mau ambil posisi Kakak,” katanya lirih. “Aku cuma… mau punya Kakak.”
Kalimat itu seperti menghantam sesuatu di dalam hati Aisyah. Beberapa detik mereka hanya saling menatap.
Dua saudara dan dua luka. Dua rindu yang sama-sama besar tetapi terhalang oleh masa lalu. Di dalam dada Aisyah, emosi yang ia bangun bertahun-tahun mulai retak sedikit demi sedikit.
Namun ia masih bertahan, karena masih takut, marah, dan juga terluka. Sedangkan Dimas … masih berdiri di sana dan tak pernah ingin menyerah. Karena baginya, menemukan kakaknya saja sudah merupakan keajaiban. Dan ia siap melakukan apa pun, agar kakaknya mau pulang.
“Pulanglah, Kak. Sekali saja. Siapa tahu ini untuk yang terakhir kali Kak Aisyah bksa melihat Bapak,” ucap Dimas dengan serak yang tidak dapat ia tahan.
“Kamu nyumpahin bapakmu sendiri mati, Dimas? Keterlaluan!” Aisyah melotot.
“Bapak Kak Aisyah juga, Bapak kita, Kak,” sanggah Dimas. “Dan ya, Bapak sudah hampir mati sebelum akhirnya semangat hidupnya kembali.”
“Pembual kecil, aku tahu kamu bohong.”
“Nggak akan ada yag berbohong soal kematian, Kak,” jawab Dimas tegas.
“Dulu, Bapak sakit parah, Kak. Beliau terkena TBC dan nyaris mati. Tapi tepat pada saat itu, Kak Aisyah menelepon Bapak. Dan hanya dengan itu, Bapak punya semangat untuk sembuh.” Tangis Dimas pecah. “Itu karena Kakak, bukan karena aku, bukan karena Ibu.”
Ucapan Dimas menghantam keras. Aisyah melebarkan mata karena kaget.
“Apa Kak Aisyah sudah wisuda? Bapak sudah beli baju baru untuk berangkat ke sini melihat Kak Aisyah wisuda. Tapi …,” ucapan Dimas terjeda. “… mau ke mana pun kami juga nggak tahu harus nyari Kal Aisyah di mana.”
Aisyah meremas keras jantungnya. Rasa sesak itu terasa begitu nyata. Ia telah wisuda, dan memang ia sengaja tidak memberitahu ayahnya untuk itu. Namun, ia masih tetap mpertahankan keras kepalanya.
“Iya, aku sudah lulus. Untuk apa juga datang? Aku juga kuliah sendiri, nyari duit sendiri. Aku bisa hidup tanpa kalian. Aku—”
“Kakak bisa, tapi Bapak enggak!” potong Dimas sambil menyeru. Sungguh semua kata-kata Aisyah begitu menyakitkan. “Andai saja Bapak bisa tanpa Kak Aisyah, tentunya Bapak nggak akan semenderita itu!”
Dimas terkulai dan dengan kedua lhtutnya, ia terduduk di halaman.
“Andai saja Bapak bisa melepasmu, Kak. Tapi nyatanya … Bapak sangat mencintaimu …,” isak tangis itu lirih, tetapi sangat menyakitkan.
#day12
#20harimencarimaaf
#novelgoodcompetition