Gudang bayangan, gerbang ke dunia lain

Bab 1. Sawah dan tikus

Siang itu, matahari menggantung tepat di atas kepala, memancarkan terik yang seolah membakar kulit. Hamparan sawah di Desa Waringin Jaya berkilauan keemasan, batang padi menunduk berat karena bulirnya mulai terisi penuh. Angin sesekali berhembus, membawa aroma lumpur dan dedaunan basah yang khas. Di sela ketenangan alam itu, suara teriakan riuh anak-anak muda memecah keheningan.

 

“Cepat! Jangan biarkan kabur!” teriak Agus, seorang pemuda kurus dengan wajah yang dihiasi goresan panjang di pipi kirinya. Tongkat kayu panjang tergenggam erat di tangannya, diayunkan ke tanah untuk mengusir tikus yang melintas cepat di pematang sawah.

 

Beberapa pemuda lain ikut berlarian di belakangnya. Mereka sama-sama membawa tongkat atau galah bambu, berusaha menakut-nakuti hama sawah yang sejak semalam membuat para petani gusar. Tikus-tikus itu berlari zig-zag, kadang masuk ke lubang, kadang melompat ke parit kecil yang dialiri air jernih. Namun semangat anak-anak muda desa itu tak surut. Tawa dan teriakan mereka membuat suasana siang yang panas justru terasa penuh kehidupan.

 

Di antara mereka ada Rangga. Pemuda berusia tujuh belas tahun itu berlari tidak secepat teman-temannya, tapi matanya awas mengikuti pergerakan tikus yang lincah. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, namun kuat berkat kebiasaannya membantu ayahnya di sawah. Rambutnya yang agak panjang menutupi dahi, sesekali ia singkap dengan tangan kiri sementara tangan kanannya tetap memegang tongkat.

 

“Rangga, jangan bengong! Pukul saja kalau lewat!” sahut Agus sambil tertawa.

 

Rangga tersenyum tipis, lalu mengayunkan tongkatnya ke tanah. Seekor tikus keluar dari lubang, melesat di dekat kakinya, membuatnya sedikit terloncat kaget. Namun tikus itu lebih gesit dan berhasil kabur ke balik rumpun padi. Anak-anak muda yang melihatnya justru bersorak dan tertawa, seolah kegagalan itu adalah bagian dari permainan.

 

Mengejar tikus di sawah memang bukan hanya tugas, tapi juga hiburan tersendiri bagi para pemuda desa. Bagi mereka, sawah bukan sekadar tempat bercocok tanam, melainkan arena bermain, tempat bercanda, sekaligus ruang untuk membuktikan siapa yang paling cekatan.

 

Desa Waringin Jaya sendiri terletak di lembah kecil, dikelilingi bukit-bukit hijau dan satu gunung besar yang menjulang di kejauhan. Gunung itu menjadi penanda arah sekaligus kebanggaan warga desa. Di pagi hari, kabut turun menutupi lerengnya, sementara di sore hari cahaya matahari terbenam membuat puncaknya memerah indah.

 

Hidup di desa berjalan sederhana. Mayoritas warganya adalah petani. Ada juga beberapa yang beternak kambing atau sapi. Anak-anak biasanya membantu orang tua, entah dengan menghalau burung pipit yang nakal memakan bulir padi, atau sekadar membawa air minum ke sawah. Bila musim panen tiba, seluruh desa bergotong royong. Lagu-lagu rakyat dinyanyikan sambil memotong padi dengan ani-ani, dan hasil panen dikumpulkan untuk dibawa ke lumbung desa.

 

Bagi Rangga, semua itu adalah bagian dari kesehariannya yang biasa. Ia lahir dan besar di Waringin Jaya. Ayahnya seorang petani, sementara ibunya menenun kain sederhana untuk dijual di pasar kecamatan. Kehidupan mereka tidak berlebih, namun cukup untuk makan dan menyekolahkan Rangga hingga SMA di kota kecil yang jaraknya dua jam naik sepeda motor. Meski begitu, hatinya selalu terpaut pada desa. Ia lebih suka bermain di sawah, mendengarkan kicau burung di pagi hari, atau duduk di bawah pohon asam besar dekat pematang sambil melamun.

 

Namun, ada satu hal yang selalu membuat Rangga penasaran: sebuah gudang tua di tepi sawah, tepat di bawah pohon asam itu. Bangunan kayu dengan atap genteng berlumut itu sudah lama ditinggalkan. Pintu kayunya lapuk, dindingnya retak, dan jendela-jendelanya tertutup rapat. Orang-orang desa jarang sekali berani mendekat ke sana.

 

Konon, gudang itu dahulu milik seorang juragan kaya yang menyimpan hasil bumi dan barang dagangan. Namun setelah ia meninggal mendadak tanpa meninggalkan ahli waris, gudang itu terbengkalai. Seiring waktu, desas-desus berkembang. Ada yang bilang sering terdengar suara langkah di dalamnya pada malam hari, ada yang mengaku melihat bayangan bergerak di balik jendela. Bahkan beberapa anak kecil pernah bersumpah mendengar suara tangisan lirih saat bermain di dekat situ.

 

Karena itulah, warga desa lebih memilih menghindar. Mereka percaya gudang itu angker, tempat bersemayam roh-roh penasaran.

 

Berbeda dengan orang lain, Rangga justru merasa tertarik. Entah kenapa, setiap kali melewati gudang itu, matanya selalu melirik ke arah pintunya. Ada perasaan aneh, seolah sesuatu di dalam sana memanggilnya. Kadang ia berani berdiri agak dekat, mencoba mengintip celah pintu kayu yang rapuh, tapi yang terlihat hanya kegelapan pekat.

 

Siang itu, setelah lelah mengejar tikus bersama teman-temannya, Rangga duduk di pematang, tepat di seberang gudang tua. Keringat membasahi wajahnya, napasnya terengah. Ia memandangi bangunan itu dalam diam.

 

“Ngapain lihat-lihat gudang itu? Nanti malah kesurupan,” canda Agus yang tiba-tiba duduk di sampingnya.

 

Rangga hanya tersenyum tipis. “Aku cuma penasaran. Kenapa dibiarkan kosong? Sayang sekali, padahal kalau dipakai bisa jadi lumbung desa.”

 

Agus mengibaskan tangannya. “Ah, kamu ini. Sudah jelas-jelas tempat itu angker. Orang-orang tua di desa saja tidak berani mendekat. Jangan coba-coba ya, Rangga. Nanti kamu malah hilang ditelan gudang itu.”

 

Kata-kata Agus membuat bulu kuduk Rangga sedikit merinding, tapi juga menyalakan rasa ingin tahunya. Hilang ditelan gudang? Apa maksudnya? Ia tidak pernah mendengar kisah itu sebelumnya. Namun ia memilih diam, tidak menanggapi.

 

Angin bertiup lebih kencang, membuat daun padi berdesir seperti suara bisikan. Rangga terus menatap gudang itu, seolah ada sesuatu di balik pintunya yang samar-samar terlihat.

 

Sementara itu, suara ibu-ibu memanggil anak-anak mereka dari kejauhan. Waktu sudah beranjak sore, matahari mulai condong ke barat. Para pemuda satu per satu bangkit, menepuk-nepuk celana mereka yang kotor, lalu berjalan pulang. Sawah kembali sepi, hanya menyisakan suara jangkrik dan burung yang hendak kembali ke sarang.

 

Namun Rangga masih duduk di sana, memandangi gudang tua yang berdiri bisu di bawah pohon asam. Ia tidak tahu, bahwa rasa penasarannya itu akan menjadi awal dari sebuah perjalanan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya—perjalanan menuju dunia lain yang tersembunyi di balik kegelapan gudang itu.

 

 

 

 

Lates Chapters

Epilog : Di depan Gudang Yang Tidak Pernah Sepi

  Sore hari selalu datang dengan cara yang sama. Langit perlahan menguning, angin berhembus pelan, dan gudang tua itu berdiri diam seperti tidak pernah menyimpan…

Bab 19. Dunia yang bertabrakan

  Pagi tidak pernah benar-benar datang. Langit di dunia manusia tampak pucat, seperti warna yang dicuci berkali-kali hingga kehilangan makna. Orang-orang berjalan seperti biasa, namun…

Bab 18: Malam ketiga. Sebuah harga yang tidak kembali.

  Ketika malam  ketiga datang tanpa suara.  Tidak ada bisikan. Tidak ada bayangan merayap di dinding. Tidak ada panggilan yang menggoda. Kesunyian itu sendiri yang…

Bab 17. Penjaga Retakan

       Langit dunia lain berdenyut seperti luka terbuka.      Rangga berlutut di tanah abu-abu, napasnya terengah. Setiap tarikan terasa seperti menelan pecahan…

Bab 16.ikatan yang terbangun

  Agus terbangun dengan rasa panas menjalar di telapak tangannya. Tanda kebiruan itu berdenyut pelan, seperti nadi kedua yang tumbuh di luar tubuhnya. Gudang masih…

Bab 15.Ambang yang menipu

  Pintu gudang itu terbuka perlahan, seolah tidak digerakkan oleh tangan Agus, melainkan oleh sesuatu yang telah lama menunggunya. Engselnya berdecit lirih, suara yang menusuk…

Bab 14.Panggilan dari balik dinding

  Gudang itu kembali sunyi, namun bagi Agus, kesunyian justru terasa berisik. Setiap sudut seperti menyimpan gema suara Rangga—tegas, terburu, seolah masih berdiri di depannya.…

Bab 13. Penjaga Ambang

  Pintu besi gudang itu berderit pelan, seolah ikut menahan napas. Lampu neon di langit-langit berkedip, memantulkan bayangan panjang di lantai berdebu. Rangga berdiri di…

Bab 12.Kembali ke Ambang Gerbang

Udara di ambang gerbang terasa berbeda. Tidak sepenuhnya milik dunia asing, tetapi juga bukan lagi dunia manusia. Ruang itu seperti terlipat—hening, dingin, dan berdenyut perlahan…

Bab. 11 Retakan di dunia manusia

Gudang tua itu tidak pernah benar-benar sunyi sejak malam Rangga menghilang. Kayu-kayu lapuk di dindingnya kerap berderit meski tak ada angin, dan lantai tanahnya menyimpan…

Bab 10.Komfrontasi pertama

Langit di atas Desa Cahaya bergetar, seperti permukaan air yang disentuh dari bawah. Cahaya pelindung desa meredup, garis-garis tipis yang biasanya berkilau kini berdenyut tidak…

Bab 9. Desa Cahaya

Kabut perlahan menyingkir ketika Rangga dan Lira menuruni jalur batu menuju sebuah dataran tinggi. Langkah Rangga terasa lebih mantap dibanding hari-hari sebelumnya, meski rasa lelah…

Bab. 8 Cahaya Di ujung kabut

  Malam di dunia asing terasa panjang. Di kejauhan, rembulan ungu memancarkan sinar redup yang menembus sela dedaunan pekat. Kabut menggulung pelan, menciptakan bayangan bergerak…

Bab 7. Bisikan dari kegelapan

  Hutan itu semakin sunyi. Angin tidak lagi berhembus, seakan seluruh dunia asing itu sedang menahan napas. Rangga berjalan perlahan di belakang Lira, tubuhnya masih…

Bab. 6 Tanda tanda kebangkitan

  Angin dingin menyusup masuk di antara pepohonan hitam yang melingkari hutan asing itu. Langitnya tetap bergolak dalam warna ungu gelap, seperti kabut yang menari…

Bab 5. Penjaga bayangan

  Kabut di hutan itu semakin tebal. Setiap napas yang Rangga hirup terasa lembab dan berat, seolah udara di dunia ini tak dibuat untuk paru-paru…

Bab 4. Penolong dari kabut

  Rangga berjalan tanpa arah di antara pepohonan yang tinggi menjulang. Langit di atasnya bukan biru seperti biasanya, melainkan berwarna keunguan pucat dengan gumpalan awan…

Bab 3. Dunia yang asing

Angin berhembus pelan membawa aroma lembap yang asing. Saat Rangga membuka mata, yang pertama kali ia rasakan adalah dinginnya tanah di bawah tubuhnya. Ia mengerjap…

Bab 2.Gudang tua yang misterius

Beberapa saat lamanya Rangga masih terdiam menatap gudang tua itu. Keningnya berkerut, seolah ada sesuatu yang aneh di balik bangunan reyot itu. Apa benar kata…
error: Content is protected !!