Siang itu, matahari menggantung tepat di atas kepala, memancarkan terik yang seolah membakar kulit. Hamparan sawah di Desa Waringin Jaya berkilauan keemasan, batang padi menunduk berat karena bulirnya mulai terisi penuh. Angin sesekali berhembus, membawa aroma lumpur dan dedaunan basah yang khas. Di sela ketenangan alam itu, suara teriakan riuh anak-anak muda memecah keheningan.
“Cepat! Jangan biarkan kabur!” teriak Agus, seorang pemuda kurus dengan wajah yang dihiasi goresan panjang di pipi kirinya. Tongkat kayu panjang tergenggam erat di tangannya, diayunkan ke tanah untuk mengusir tikus yang melintas cepat di pematang sawah.
Beberapa pemuda lain ikut berlarian di belakangnya. Mereka sama-sama membawa tongkat atau galah bambu, berusaha menakut-nakuti hama sawah yang sejak semalam membuat para petani gusar. Tikus-tikus itu berlari zig-zag, kadang masuk ke lubang, kadang melompat ke parit kecil yang dialiri air jernih. Namun semangat anak-anak muda desa itu tak surut. Tawa dan teriakan mereka membuat suasana siang yang panas justru terasa penuh kehidupan.
Di antara mereka ada Rangga. Pemuda berusia tujuh belas tahun itu berlari tidak secepat teman-temannya, tapi matanya awas mengikuti pergerakan tikus yang lincah. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, namun kuat berkat kebiasaannya membantu ayahnya di sawah. Rambutnya yang agak panjang menutupi dahi, sesekali ia singkap dengan tangan kiri sementara tangan kanannya tetap memegang tongkat.
“Rangga, jangan bengong! Pukul saja kalau lewat!” sahut Agus sambil tertawa.
Rangga tersenyum tipis, lalu mengayunkan tongkatnya ke tanah. Seekor tikus keluar dari lubang, melesat di dekat kakinya, membuatnya sedikit terloncat kaget. Namun tikus itu lebih gesit dan berhasil kabur ke balik rumpun padi. Anak-anak muda yang melihatnya justru bersorak dan tertawa, seolah kegagalan itu adalah bagian dari permainan.
Mengejar tikus di sawah memang bukan hanya tugas, tapi juga hiburan tersendiri bagi para pemuda desa. Bagi mereka, sawah bukan sekadar tempat bercocok tanam, melainkan arena bermain, tempat bercanda, sekaligus ruang untuk membuktikan siapa yang paling cekatan.
Desa Waringin Jaya sendiri terletak di lembah kecil, dikelilingi bukit-bukit hijau dan satu gunung besar yang menjulang di kejauhan. Gunung itu menjadi penanda arah sekaligus kebanggaan warga desa. Di pagi hari, kabut turun menutupi lerengnya, sementara di sore hari cahaya matahari terbenam membuat puncaknya memerah indah.
Hidup di desa berjalan sederhana. Mayoritas warganya adalah petani. Ada juga beberapa yang beternak kambing atau sapi. Anak-anak biasanya membantu orang tua, entah dengan menghalau burung pipit yang nakal memakan bulir padi, atau sekadar membawa air minum ke sawah. Bila musim panen tiba, seluruh desa bergotong royong. Lagu-lagu rakyat dinyanyikan sambil memotong padi dengan ani-ani, dan hasil panen dikumpulkan untuk dibawa ke lumbung desa.
Bagi Rangga, semua itu adalah bagian dari kesehariannya yang biasa. Ia lahir dan besar di Waringin Jaya. Ayahnya seorang petani, sementara ibunya menenun kain sederhana untuk dijual di pasar kecamatan. Kehidupan mereka tidak berlebih, namun cukup untuk makan dan menyekolahkan Rangga hingga SMA di kota kecil yang jaraknya dua jam naik sepeda motor. Meski begitu, hatinya selalu terpaut pada desa. Ia lebih suka bermain di sawah, mendengarkan kicau burung di pagi hari, atau duduk di bawah pohon asam besar dekat pematang sambil melamun.
Namun, ada satu hal yang selalu membuat Rangga penasaran: sebuah gudang tua di tepi sawah, tepat di bawah pohon asam itu. Bangunan kayu dengan atap genteng berlumut itu sudah lama ditinggalkan. Pintu kayunya lapuk, dindingnya retak, dan jendela-jendelanya tertutup rapat. Orang-orang desa jarang sekali berani mendekat ke sana.
Konon, gudang itu dahulu milik seorang juragan kaya yang menyimpan hasil bumi dan barang dagangan. Namun setelah ia meninggal mendadak tanpa meninggalkan ahli waris, gudang itu terbengkalai. Seiring waktu, desas-desus berkembang. Ada yang bilang sering terdengar suara langkah di dalamnya pada malam hari, ada yang mengaku melihat bayangan bergerak di balik jendela. Bahkan beberapa anak kecil pernah bersumpah mendengar suara tangisan lirih saat bermain di dekat situ.
Karena itulah, warga desa lebih memilih menghindar. Mereka percaya gudang itu angker, tempat bersemayam roh-roh penasaran.
Berbeda dengan orang lain, Rangga justru merasa tertarik. Entah kenapa, setiap kali melewati gudang itu, matanya selalu melirik ke arah pintunya. Ada perasaan aneh, seolah sesuatu di dalam sana memanggilnya. Kadang ia berani berdiri agak dekat, mencoba mengintip celah pintu kayu yang rapuh, tapi yang terlihat hanya kegelapan pekat.
Siang itu, setelah lelah mengejar tikus bersama teman-temannya, Rangga duduk di pematang, tepat di seberang gudang tua. Keringat membasahi wajahnya, napasnya terengah. Ia memandangi bangunan itu dalam diam.
“Ngapain lihat-lihat gudang itu? Nanti malah kesurupan,” canda Agus yang tiba-tiba duduk di sampingnya.
Rangga hanya tersenyum tipis. “Aku cuma penasaran. Kenapa dibiarkan kosong? Sayang sekali, padahal kalau dipakai bisa jadi lumbung desa.”
Agus mengibaskan tangannya. “Ah, kamu ini. Sudah jelas-jelas tempat itu angker. Orang-orang tua di desa saja tidak berani mendekat. Jangan coba-coba ya, Rangga. Nanti kamu malah hilang ditelan gudang itu.”
Kata-kata Agus membuat bulu kuduk Rangga sedikit merinding, tapi juga menyalakan rasa ingin tahunya. Hilang ditelan gudang? Apa maksudnya? Ia tidak pernah mendengar kisah itu sebelumnya. Namun ia memilih diam, tidak menanggapi.
Angin bertiup lebih kencang, membuat daun padi berdesir seperti suara bisikan. Rangga terus menatap gudang itu, seolah ada sesuatu di balik pintunya yang samar-samar terlihat.
Sementara itu, suara ibu-ibu memanggil anak-anak mereka dari kejauhan. Waktu sudah beranjak sore, matahari mulai condong ke barat. Para pemuda satu per satu bangkit, menepuk-nepuk celana mereka yang kotor, lalu berjalan pulang. Sawah kembali sepi, hanya menyisakan suara jangkrik dan burung yang hendak kembali ke sarang.
Namun Rangga masih duduk di sana, memandangi gudang tua yang berdiri bisu di bawah pohon asam. Ia tidak tahu, bahwa rasa penasarannya itu akan menjadi awal dari sebuah perjalanan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya—perjalanan menuju dunia lain yang tersembunyi di balik kegelapan gudang itu.