Angin berhembus pelan membawa aroma lembap yang asing. Saat Rangga membuka mata, yang pertama kali ia rasakan adalah dinginnya tanah di bawah tubuhnya. Ia mengerjap pelan, mencoba menyesuaikan pandangan. Namun apa yang tampak di hadapannya membuatnya membeku.
Hutan. Tapi bukan hutan yang pernah ia kenal. Pepohonan menjulang setinggi langit, batangnya sebesar rumah, dan dedaunannya berkilau keperakan saat terkena cahaya. Langit di atas kepalanya berwarna ungu pucat, bertabur garis-garis cahaya hijau seperti aurora. Udara terasa tebal, seolah setiap napas membawa aroma bunga dan tanah basah.
Rangga bangkit perlahan. Kakinya masih gemetar, pikirannya kacau. Ia menoleh ke belakang, berharap menemukan pintu gudang atau celah tempat ia jatuh tadi. Tapi yang tampak hanya dinding batu besar, kokoh dan tanpa celah—seolah tidak pernah ada apa pun di sana.
“Ini… di mana aku?” bisiknya dengan suara serak.
Tak ada jawaban. Hanya suara daun bergesekan dan hembusan angin lembut yang mengalun seperti bisikan samar. Rangga melangkah hati-hati, menyingkap semak yang dipenuhi bunga bercahaya biru. Cahaya-cahaya kecil seperti kunang-kunang berterbangan di udara, menambah kesan magis di tempat itu.
Semakin jauh ia melangkah, semakin terasa anehnya dunia ini. Dari kejauhan terdengar suara gemericik air, seperti sungai kecil. Rangga menoleh ke segala arah, mencari tanda-tanda kehidupan, tapi yang ia temukan hanyalah bayangan pohon yang bergerak pelan, seolah mengikuti langkahnya.
Tiba-tiba, semak di sampingnya bergerak. Rangga menegang. Dari dalamnya muncul sosok kecil, setinggi lututnya, dengan telinga runcing dan mata besar bercahaya hijau. Makhluk itu membawa ranting di tangannya, mengenakan pakaian dari daun dan lumut.
Rangga terlonjak mundur. “Si… siapa kamu?”
Makhluk itu memiringkan kepala, menatapnya lekat-lekat, lalu mengeluarkan suara lirih, seperti campuran bahasa asing dan dengungan lebah.
> “Zhe’raa… lumir rang! Zhe’raa lumir rang!”
Rangga tak mengerti sepatah kata pun. Ia mundur satu langkah, tapi makhluk itu malah mendekat dengan mata berbinar. Lalu tiba-tiba makhluk itu mengeluarkan teriakan nyaring dan melompat mundur, seolah melihat sesuatu di balik Rangga.
Dari balik pohon, muncul bayangan besar. Seekor makhluk raksasa berjalan perlahan ke arah mereka—berbentuk seperti serigala, namun tubuhnya tertutup sisik hitam dan matanya merah menyala. Nafasnya beruap seperti kabut, setiap langkahnya membuat tanah bergetar.
Rangga membeku di tempat. Astaga… apa itu?!
Makhluk kecil tadi berlari ketakutan ke balik akar pohon, meninggalkan Rangga seorang diri. Serigala bersisik itu mendengus, mengendus udara, lalu mengeluarkan geraman rendah. Dalam sekejap, makhluk itu menerkam!
“Ahh!” Rangga menjerit, berlari sekencang-kencangnya di antara akar pohon besar. Nafasnya terengah, jantungnya berdetak cepat. Suara geraman menggelegar di belakangnya, langkah kaki berat semakin dekat. Ia menoleh sekilas—makhluk itu sudah melompat!
Tanpa berpikir panjang, Rangga menunduk dan berguling di bawah akar besar. Cakar tajam makhluk itu hanya menyambar udara. Saat ia berhasil berdiri lagi, pandangannya menangkap celah batu di depan, seperti pintu kecil alami di antara akar. Ia berlari masuk ke sana, lalu tubuhnya jatuh terperosok menuruni lereng tanah.
Tubuhnya berhenti di dasar lereng, tepat di depan kolam kecil yang airnya berpendar kehijauan. Ia terengah, mencoba menenangkan diri. Suara geraman di belakangnya perlahan memudar. Sepertinya makhluk itu enggan masuk ke tempat ini.
Rangga menatap pantulan wajahnya di air kolam—wajah yang masih sama, tapi matanya kini tampak sedikit berbeda, seolah memantulkan cahaya samar. Ia menggenggam dadanya, berusaha memahami apa yang sedang terjadi.
“Aku… di mana ini?” bisiknya lagi, kali ini nyaris seperti doa.
Sementara itu, di dunia nyata, senja mulai turun di Desa Waringin Jaya. Langit berubah jingga, dan suara jangkrik mulai terdengar dari pematang sawah. Di depan gudang tua, Dudung berdiri mematung, menatap pintu kayu yang kini tertutup rapat.
Wajahnya menegang, tapi bukan karena takut—melainkan puas. Senyum licik perlahan muncul di sudut bibirnya. “Baguslah… biar kau tahu rasa, Rangga. Sok baik, sok disukai semua orang. Sekarang rasakan akibatnya.”
Ia tertawa pelan, namun tawa itu mendadak terhenti ketika suara langkah mendekat dari arah jalan setapak. Agus muncul, membawa karung di bahunya. Ia memandang curiga ke arah Dudung yang berdiri sendirian di depan gudang.
“Dung… ngapain kamu di situ?” tanya Agus heran.
Dudung tersentak. “Ah, A…Agus. Nggak, cuma lewat.”
Agus mempersempit mata, melihat bekas jejak kaki di tanah dan posisi pintu yang seolah baru saja tertutup. “Tadi kamu sama Rangga, kan? Mana dia?”
“Rangga? Udah pulang duluan,” jawab Dudung cepat. Tapi suaranya goyah.
Agus melangkah mendekat. Ia tahu Dudung sering berbuat usil, tapi kali ini ada sesuatu yang terasa berbeda. “Kamu bohong ya? Tadi aku lihat kalian berdua di sawah. Aku juga dengar suara pintu dari jauh. Ada apa, Dung?”
Dudung tersenyum kaku. “Nggak ada apa-apa. Sudahlah, aku mau pulang.” Ia berbalik cepat, meninggalkan tempat itu dengan langkah tergesa.
Agus menatap kepergiannya, lalu menoleh lagi ke arah gudang. Pintu itu tampak biasa saja, tapi entah kenapa udara di sekitarnya terasa lebih dingin. Ia mendekat perlahan, menyentuh gagang pintu. Dingin seperti es.
“Rangga… kamu di dalam?” panggil Agus pelan. Tak ada jawaban.
Ia mencoba mendorong pintu, tapi pintu itu tak bergeming. Seolah terkunci dari dalam. Rasa khawatir mulai tumbuh di dadanya. Jangan-jangan, Rangga benar-benar terjebak di dalam…
Agus menggigit bibir. Ia menatap gudang itu sekali lagi, lalu berlari ke arah kampung. “Aku harus cari bantuan!” serunya.
Dan sementara matahari tenggelam di balik perbukitan, dua dunia kini mulai terpisah oleh tirai yang tak kasatmata—satu dunia nyata yang penuh rahasia, satu lagi dunia asing yang baru saja membuka pintunya bagi Rangga, sang pemuda yang tanpa sengaja menjadi pengembara di negeri yang tak dikenal.
—