Angin dingin menyusup masuk di antara pepohonan hitam yang melingkari hutan asing itu. Langitnya tetap bergolak dalam warna ungu gelap, seperti kabut yang menari tanpa arah. Rangga berdiri mematung di tepi sebuah aliran air yang berpendar cahaya biru. Di sana, perempuan misterius yang menolongnya—yang kini ia tahu bernama Lira—mengamati wajah Rangga dengan sorot mata penuh keraguan, seolah sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih besar daripada keselamatan satu orang asing.
“Rangga…” suara Lira lirih, hampir tertelan suara arus sungai bercahaya. “Kau merasa… berbeda setelah masuk ke dunia ini?”
Rangga terdiam. Ia memang sudah merasakan sesuatu yang ganjil sejak pertama kali melangkah keluar dari gudang itu—sebuah sensasi panas samar di dadanya, berdenyut seperti jantung kedua.
“Aku… tidak tahu,” jawabnya pelan. “Tapi ada yang berubah. Seperti ada yang… terbangun.”
Lira menarik napas panjang. Ia menunduk, meraih sedikit air dari sungai bercahaya itu, lalu menggesekkannya ke batu hitam di dekat mereka. Batu itu langsung berpendar, membentuk pola runik seperti tulisan kuno.
“Ini,” katanya sambil menunjuk cahaya yang terbentuk, “adalah Tanda Kebangkitan.”
Rangga menelan ludah. “Kebangkitan apa?”
Lira memandangnya lama, sebelum akhirnya menjawab dengan nada yang mengandung ketakutan dan kekaguman sekaligus.
“Kebangkitan seorang Penjaga Gerbang.”
—
Rangga mengernyit. “Penjaga Gerbang? Seperti penjaga pintu dunia?”
“Lebih dari itu,” jawab Lira. “Gerbang antara dunia kami dan dunia manusia sudah lama tertutup. Hanya mereka yang memiliki darah tertentu—darah yang membawa tanda kuno—yang bisa memicunya terbuka lagi. Dan orang seperti itu… sudah ribuan tahun tidak ada.”
Rangga menggeleng tidak percaya. “Tapi aku orang biasa, Lira. Aku bukan siapa-siapa. Aku bahkan tidak punya keluarga besar untuk ditelusuri garis keturunannya.”
“Itulah sebabnya dunia kami panik,” lanjut Lira. “Gerbang itu tidak bisa terbuka tanpa alasan. Jika terbuka… berarti seseorang, atau sesuatu, ingin membuatnya terbuka.”
Rangga merasakan hawa dingin menjalari tengkuknya. “Maksudmu… ada yang mengincar gerbang itu?”
Lira tidak menjawab. Ia hanya memandang jauh ke dalam hutan, seolah bayangan yang tersembunyi di balik pepohonan telah lama mengawasinya.
—
Sementara itu—di dunia manusia.
Dudung duduk di pinggir pintu gudang yang sebagian masih terbuka, wajahnya pucat. Bukan karena menyesal. Bukan. Tetapi karena takut kalau tindakannya justru menimbulkan hal yang tidak ia pahami.
Di lantai gudang yang gelap, cahaya samar masih berkedip pada papan kayu yang berserakan. Seperti napas dari sesuatu yang belum sepenuhnya tertutup.
“Huh… jadi dia benar-benar hilang.” Dudung tersenyum kecil, senyum yang menyimpan kesenangan gelap. “Bagus. Biarkan dia di sana selamanya.”
Namun sebelum ia sempat bangkit, suara langkah cepat terdengar dari luar. Agus muncul, terengah, wajahnya penuh kecurigaan.
“Dudung!” serunya. “Kau masih di sini rupanya!”
Dudung terkejut, namun cepat menutupi kegugupannya. “Eh… A-agus. Ada apa?”
Agus menatapnya tajam, tidak seperti biasanya. “Aku lihat kamu dari jauh. Kamu kayak nunggu sesuatu. Dan tadi aku lihat sorot aneh dari dalam gudang. Kau tahu apa yang terjadi sama Rangga, kan?”
Dudung terdiam. Sesaat ia ingin marah, sesaat ingin kabur. Tapi ia hanya berdiri, menahan napas. Agus mendekat, menatapnya seperti menantang.
“Dudung,” katanya pelan. “Kau… sembunyikan sesuatu.”
Dudung tersenyum kecut. “Kalau iya?”
Agus mengepalkan tangan. “Kalau Rangga nggak balik malam ini… aku bakal bongkar semua kebusukanmu.”
Di belakang mereka, gudang tua itu mengeluarkan suara lirih—seperti pintu yang tertiup angin. Namun keduanya tidak melihat bahwa cahaya tipis kembali merayap dari celah lantai.
—
Di dunia asing.
Rangga dan Lira berjalan menyusuri hutan yang semakin gelap. Cabang-cabang pohon tampak bergerak pelan, seakan bernafas. Lira berjalan di depan, menggenggam tongkat pendek bercahaya biru. Setiap kali tongkat itu menyala lebih terang, Rangga merasa dadanya berdenyut lebih kuat.
“Kenapa dadaku terasa panas setiap kali tongkatmu menyala?” tanya Rangga sambil memegangi dadanya.
“Karena tongkat ini merespons energi yang sama yang ada dalam dirimu,” jawab Lira tanpa menoleh. “Energi seorang Penjaga.”
“Aku tidak percaya. Aku cuma… Rangga. Anak desa yang biasa lihat sawah dan tikus.”
“Kita semua memulai dari biasa.” Lira berhenti, menatapnya. “Tapi dunia memilih siapa yang akan membawa perubahan.”
Tiba-tiba, dari dalam semak-semak terdengar suara gemerisik keras.
Rangga mundur satu langkah. “Apa itu?”
Lira bersiap. Cahaya tongkatnya menajam, memanjang seperti bilah tipis. “Makhluk bayangan. Mereka bisa mencium energi Penjaga dari jauh.”
Keluar dari kegelapan, muncul sosok seperti binatang berkaki empat dengan tubuh hitam pekat tanpa wajah. Hanya dua titik cahaya merah menggantung seperti mata.
Makhluk itu mengaum tanpa suara—dan langsung menerjang.
Lira melompat ke samping, mengayunkan tongkat bercahayanya. Cahaya biru itu memecah udara, mengenai makhluk itu hingga tubuhnya bergetar dan kabut hitam terlepas dari kulitnya.
“Rangga! Menepi!”
Rangga ingin lari, tapi dadanya mendadak panas luar biasa. Panas yang bukan rasa sakit, melainkan sesuatu yang bergerak dari dalam dirinya seperti sedang bangun dari tidur panjang. Tubuhnya gemetar.
Cahaya samar muncul dari telapak tangannya.
“A-apa ini…” Rangga memekik.
Makhluk bayangan itu berhenti menyerang Lira dan justru menoleh kepada Rangga—tertarik oleh cahaya itu.
Lira terkejut. “Tidak! Rangga, sembunyikan energimu!”
“Aku tidak tahu cara—”
Belum sempat Rangga menghindar, makhluk itu menerjangnya.
Cahaya dari telapak tangan Rangga meledak.
Ledakan itu tidak merusak apa pun, tetapi dorongan energinya membuat makhluk bayangan itu terpental keras, tubuhnya mencair menjadi kabut hitam sebelum menghilang.
Rangga jatuh terduduk, napasnya terengah.
Lira berlari menghampiri, tatapannya penuh keterkejutan.
“Rangga…” katanya pelan. “Kekuatanmu sudah mulai bangkit.”
Rangga memandang tangannya yang masih berpendar lemah, jantungnya berdebar karena takut.
“Kenapa… kenapa aku punya kekuatan ini?”
Lira menatapnya dengan sorot yang berubah—bukan lagi hanya penasaran, tetapi juga gentar.
“Karena kau bukan hanya pemicu gerbang, Rangga.”
Ia menelan ludah.
“Kau… pewaris terakhir para Penjaga.”
Dan di kejauhan, di antara gelapnya pepohonan, tiga pasang mata merah lain menyala—mengamati. Mereka sedang menunggu.
—