Perjalanan Si Gadis Penyihir Angin

Bab 16 : Dibalik Emas

Alisa Garbareva benar-benar tak menyangka bahwa penelitiannya kali ini akan mengantarkan dirinya pada salah satu tokoh bangsawan Vitania. Itu artinya dirinya akan mendapatkan informasi yang sangat menarik tentang apa yang terjadi di daerah otonom ini.

“I-ini keren sekali. Natasha, maksud saya, Nyonya Natasha. Sa-saya sangat senang bisa bertemu dengan orang penting seperti Anda,” Alisa begitu kegirangan sampai dirinya tak bisa berbicara dengan benar.

Namun melihat ekspresinya yang seolah berubah drastis itu, Natasha langsung tertawa.

“Hahaha, aduh Alisa, tidak perlu seformal itu. Meskipun aku keponakan dari Adipati, aku tetap menganggap diriku sebagai manusia biasa. Lagipula…”

Natasha mendekatkan kepalanya pada Alisa sambil berbisik.

“Sebenarnya aku lebih muda darimu loh, hihihi…”

Alisa tersenyum melihatnya.

“Haha, baiklah kalau begitu.”

Natasha kembali ke posisinya dan kembali makan.

“Yah, ngomong-ngomong soal organisasi dan trah keluarga, mengurus banyak orang dalam hal politik dan angkatan perang jauh lebih sulit daripada mengurus usaha sendiri. Makanya aku keluar. Hammm…”

Gadis berpenutup mata itu melahap potongan beefnya sebelum melanjutkan perkataannya.

“Terlebih lagi, mengurus kedua hal tersebut secara bersamaan tak semudah membalikkan telapak tangan. Dan kau akan berhadapan dengan kuasa gelap yang siap menerkammu kapan saja.”

Natasha kembali bergumam dengan kalimat yang aneh. Tapi kali ini tatapan matanya jauh lebih tajam dibandingkan sebelumnya. Nampak dirinya benar-benar serius sekarang.

“Apa? Apa maksudmu?” tanya Alisa.

Salah satu maid di belakang Natasha langsung menjelaskan maksud sang Nyonya Muda.

“Awalnya kediaman kami berada di pusat kota. Keluarga Schneider yang dikenal sebagai keluarga bangsawan sekaligus pengusaha emas juga sering memberikan bantuan kepada masyarakat kota atas prakarsa Yang Mulia Adipati. Namun semuanya berubah pasca kejatuhan Fatir.”

“Kejatuhan Fatir?”

“Pasca kejatuhan Fatir, semuanya berubah. Entah kenapa persaingan antar para pengusaha tambang menjadi semakin tidak sehat. Dan puncaknya, Keluarga Schneider kehilangan lebih dari 20% tambangnya,” lanjut maid itu.

“Apa? 20%?”

Alisa terkejut mendengarnya. Untuk sekelas Keluarga Schneider yang punya pengaruh sangat besar di Vitania, kehilangan lebih dari 20% tambang emas merupakan sebuah keganjilan.

“Kenapa hal itu bisa terjadi?” tanyanya.

“Kurangnya pendapatan dari hasil tambang, serta minimnya subsidi dari kerajaan pusat membuat kami kelabakan. Alhasil kami pun terpaksa memotong bantuan untuk masyarakat kota. Namun sayangnya, karena banyak dari mereka yang cenderung konsumtif dan boros, bantuan pun dirasa belum cukup bagi mereka. Dan akhirnya kediaman kami pun dijarah. Keluarga Schneider dianggap sebagai penyebab kerusuhan yang terjadi di kota,” jelas maid itu.

“Tidak mungkin,” gumam Alisa.

Maid lain di sampingnya melanjutkan penjelasan.

“Akibat kerusuhan itu, kami terpaksa memindahkan seluruh aset dari pusat kota ke tempat ini demi menghindari penjarahan yang lebih parah. Dan kami menyerahkan masalah yang terjadi di kota kepada walikota secara langsung.”

“Yah, dan walikota malah menerapkan kebijakan penghematan besar-besaran sehingga masyarakat di bawah sana bisa jadi seperti yang kalian lihat sekarang ini,” Natasha menimpali.

“Oh, begitu rupanya.”

Memang benar apa kata Natasha. Masyarakat Salzyburg yang sekarang seolah tak acuh akan apa-apa yang ada di sekitarnya. Yang mereka lakukan setiap hari hanyalah bekerja dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Mungkin ini adalah akibat dari kebijakan yang diambil oleh pemerintah kota.

Sedikit demi sedikit, informasi tentang apa yang terjadi disini semakin tergali. Alisa pun kembali bertanya pada mereka, terlebih setelah suatu hal yang dirasa ganjil terbesit di benaknya.

“Eh iya, Nyonya. Ngomong-ngomong soal penjarahan, kenapa kalian masih memilih untuk tinggal di Salzyburg, padahal tempat ini masih bisa diketahui oleh para penjarah?” tanya Alisa, namun Natasha membantahnya.

“Mereka takkan bisa kemari seenaknya, atau mereka akan tersesat.”

“Tersesat?”

Alisa bingung dengan jawabannya.

“Oh, kau tidak menyadarinya ya, Alisa? Tempat ini dikelilingi oleh hutan yang lebat dan dilapisi oleh sihir pelindung. Orang biasa, apalagi yang punya niat jahat akan tersesat bila memaksa masuk ke kediaman ini,” tuturnya.

“Oh, seperti itukah?”

Salah satu maid kembali menjelaskan.

“Sepupu tertua Nyonya Muda, Nyonya Natalie von Schneider melindungi kediaman ini dengan sihir ‘Skogur Skyoldir’ yang mampu menumbuhkan hutan-hutan di sekitar. Siapapun yang berniat jelek akan tersesat bila masuk ke hutan ini dan tidak akan bisa kembali.”

“Sungguh mengerikan,” gumam Alisa.

“Hampir tidak ada yang bisa menembusnya tanpa izin dari pemilik kediaman ini. Hanya Tuan Walikota dan beberapa staf khususnya saja yang tahu tempat ini. Dan mereka hanya kemari sebatas masalah birokrasi dan serah terima bantuan saja,” lanjut maid tersebut.

“Yah, dan kalian sangat beruntung bisa masuk ke tempat yang super rahasia ini dengan izinku,” ujar Natasha.

“Ah, begitu ya,” ucap Alisa sambil memegangi dagunya.

Alisa baru ingat sekarang. Saat dirinya pertama kali masuk ke kediaman itu dan melewati sebuah hutan yang cukup luas, ia merasakan hawa udara yang berubah drastis. Sebagai seorang gadis penyihir angin, Alisa benar-benar bisa merasakan perubahan hawanya.

Namun dibalik itu semua, ada satu hal yang membuat gadis itu penasaran. Apakah semua peristiwa itu, keluarga Schneider yang kehilangan pertambangannya, berkurangnya subsidi dari kerajaan pusat, hingga jatuhnya Dinasti Fatir terhubung satu sama lainnya.

“Kejatuhan Fatir, pergantian kekuasaan, apa mungkin ini ulah dari Raja Rocky Calais yang sekarang tengah menjabat?” tanya gadis Karelia itu.

“Hmm, bisa jadi. Dia ‘kan raja. Dia bisa melakukan apapun dengan menggunakan kekuasaannya. Tapi sayangnya kita tidak punya bukti bahwa dialah biang dari semua ini,” cakap Natasha sambil berpikir.

Salah satu maid di belakangnya menimpali lagi.

“Lagipula kalaupun benar bahwa Raja Rocky-lah yang melakukan semua hal itu, tentu sangat sulit bagi kita untuk mengungkapnya karena dia adalah penguasa tunggal. Dia bisa saja menghapus semua barang bukti perbuatannya. Terlebih lagi para anggota Keluarga Fatir yang menjadi kunci dari semua peristiwa ini perlahan mulai meredup dan menghilang,”

“Begitu ya.”

Alisa pun berpikir demikian. Semenjak kejatuhannya, Dinasti Fatir mulai kehilangan respek dari masyarakat yang menganggap mereka hanya mengincar kekayaan alam kerajaan saja. Terlebih lagi setelah Calais naik takhta, eksistensi mereka mulai menghilang entah kemana. Tapi semenjak hal itu, rakyat mulai kembali merindukan sosok mereka, apalagi di bawah pemerintahan Calais yang jauh lebih buruk.

Alisa benar-benar kebingungan. Dirinya tak menyangka bahwa penelitian sederhana yang dilakukannya akan menyeretnya ke dalam suatu masalah kompleks yang terjadi di seantero kerajaan, dan bisa jadi inilah yang menjadi akar masalah dari konflik yang terjadi antara Karelia dan Vitania.

Di tengah kebimbangan itu, Natasha tiba-tiba mengeluh.

“Ahh…, raja, kerajaan, tambang, kekayaan, semuanya membingungkan. Gak raja gak pejabat, semuanya sama saja. Apalagi gara-gara si pria berjas hitam itu yang malah bikin buruk suasana. Ahh…, menyebalkan,” keluh gadis berpenutup mata itu sambil memukul-mukul mejanya.

Natasha memanglah seorang gadis yang aneh. Ia banyak bergumam dan mengkhayal tentang banyak hal. Namun adakalanya pesan yang ia sampaikan memiliki makna tersirat.

Alisa mendengar keluhan itu, sebuah ucapan tentang raja dan pejabatnya di kerajaan pusat. Gadis itu terlihat seperti mengeluh sambil mengkhayal. Akan tetapi dari apa yang ia ucapkan, sepertinya ia serius dan penuh tanda tanya. Terlebih lagi tentang ‘pria berjas hitam’ yang ia maksud.

“Pria berjas hitam? Siapa di-“

Belum selesai Alisa bertanya, seorang pria masuk ke ruangan itu untuk menyampaikan sesuatu.

“Permisi, Nyonya Muda. Motosicca para tamu Anda sudah kami perbaiki.”

“Ah, sudah selesai ya? Kerja bagus Roger,” puji Natasha.

Mereka pun beranjak ke luar untuk melihat kendaraannya.

“Wah…”

Keterampilan tangan Roger sang mekanik dan kawan-kawannya berhasil membuat Alisa dan Flo kagum. Motosicca itu berhasil mereka perbaiki, bahkan kini terlihat seperti baru dan lebih modis.

“Saya sengaja menambahkan beberapa perangkat baru dan mengganti perangkat lamanya yang telah usang. Sekarang mesin ini jauh lebih baik dan lebih kuat dari hantaman,” ungkap Roger.

“Ini, keren sekali.”

Sambil memperhatikan Motosicca-nya, Flo nampak kagum. Sementara itu Alisa tak henti-hentinya memuji Roger dan kawan-kawannya.

“Ihh…, Ini keren sekali. Kak Roger dan kawan-kawan memang sangat hebat,” puji gadis itu.

“Ah, tidak juga kok. Saya hanya belajar ini pas masih sekolah, hehe…” balas Roger sambil tersipu dengan pipi memerah.

Perlahan Alisa pun mengeluarkan sejumlah koin dari dompetnya. Ia berpikir bahwa dirinya harus membayar jasa bantuan mereka. Tapi Roger langsung menolaknya.

“Eh, Nein. Tidak usah. Kami melakukan ini tidak untuk dibayar kok.”

“Tapi aku merasa tidak enak kalau tidak membalas jasa kalian,” Alisa bersikeras.

“Tidak, tidak. Terima kasih, Nyonya. Tapi kami tidak bisa menerimanya.”

Alisa terus memaksa Roger untuk menerima uangnya, tapi Natasha menghentikannya.

“Sudahlah, Alisa. Simpan kembali koinmu itu. Kami melakukan ini dengan sukarela.”

“Oh, baiklah kalau begitu. Terima kasih banyak atas bantuan kalian semua,” Alisa tersenyum mendengarnya.

“Eh iya, sekarang sudah siang. Apa kita masih mau melanjutkan perjalanan, Alisa?” tanya Flo.

“Eh benar juga.”

“Ah…, kok buru-buru sih? Menginap saja dulu disini sehari atau dua hari,” Natasha memelas.

“Maaf, Natasha. Tapi kami sedang ada kegiatan penting. Kami harus pergi ke Trossbourgh sekarang,” kata Alisa.

“Oh, begitu ya? Okelah kalau begitu, hati-hati di jalan. Dan jangan lupa kapan-kapan kembali lagi kesini. Itu pun kalau kalian masih bisa menemukan tempat ini, hehe…” ujar Natasha sambil sedikit bercanda.

Alisa dan Flo mengemasi barang mereka dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan.

“Kami izin pamit. Terima kasih atas bantuannya.”

BRUMM

Motosicca pun kembali melaju keluar dari halaman kediaman megah itu. Kini suara mesinnya nampak lebih halus dibandingkan sebelumnya. Stangnya juga lebih ringan. Flo benar-benar merasakan perubahannya.

Mereka meninggalkan tempat itu, melewati hutan yang mengitari kediaman tersebut. Awalnya Alisa masih bisa melihat pagar putihnya. Namun tepat setelah 100 meter mereka beranjak, tempat itu seolah-olah menghilang entah kemana. Hanya pepohonan rindang yang ada di belakang mereka, padahal seharusnya mereka masih dekat dengan kediaman itu.

“Sihir yang unik,” gumamnya.

Mereka berhasil keluar dari hutan itu dan kembali ke jalan raya menuju Trossbourgh. Saat ini informasi yang diperoleh Alisa terkait penelitiannya sudah sangat banyak. Disatu sisi dirinya senang karena memperoleh banyak informasi yang menarik. Tapi disisi lain dirinya juga khawatir dengan apa yang sebenarnya terjadi di Kerajaan Archipelahia, dan itu bukanlah hal yang baik.

“Hei, Flo,”

“Iya, Alisa?”

“Setelah bertemu dengan Natasha tadi, kok aku jadi khawatir ya?”

“Khawatir kenapa, Alisa?” tanya Flo.

“Aku merasa ada yang tidak beres disini, dan itu membuatku khawatir.”

Flo tidak menjawab. Rupanya gadis itu juga berpikir demikian. Sepertinya telah terjadi sesuatu yang sangat serius di kerajaan ini.

***

Lates Chapters

Bab 77 : Bersamamu, Selamanya

Awan gelap mulai menutupi sinar Formalha, pertanda hujan akan turun di ibukota Sentralberg. Angin pun berhembus walau tak kencang. Sementara itu di pusat kota, suara…

Bab 76 : Penghakiman

WUSHH Pusaran angin yang sangat kencang itu tiba-tiba menghilang tanpa sebab. Lingkaran sihir yang sebelumnya berputar di udara juga lenyap tak bersisa. Kini yang terlihat…

Bab 75 : Senyap

Angin berhembus semakin kencang. Suara adu senjata hingga ledakan sihir masih terdengar di seantero ibukota Sentralberg. Namun tidak ada hal lain yang bisa dilakukan oleh…

Bab 74 : Sang Raja yang Serakah

“Uhuk... uhuk...” Debu yang berterbangan dari reruntuhan itu membuat keduanya terbatuk-batuk. Kedua gadis itu terjatuh dari lantai atas akibat sebuah ledakan hingga terhempas ke lantai…

Bab 73 : Ruangan Sebelah

Hawa dingin menembus kulit mereka berdua. Perlahan keduanya pun membuka mata. “Dimana ini?” Dua gadis itu mendapati diri mereka terbaring di atas lantai dalam sebuah…

Bab 72 : Sang Korporat

Topi homburg yang dikenakannya ia berikan pada seorang gadis berambut pendek dengan pakaian serupa di sampingnya. Pria itu lalu memberikan hormat pada sang raja beserta…

Bab 71 : Konferensi Meja Bundar

Sinar bintang biru Formalha menyinari Sentralberg di pagi itu. Suara hiruk pikuk Carreta dan Motosicca yang berlalu lalang di jalanan beraspal hitam mewarnai suasana ibukota…

Bab 70 : Hari H

Lokasi rahasia, Ibukota Chekovia, Daerah Otonom Vitania. Sebuah ruangan besar menyerupai aula berdiri megah di dalam ruang bawah tanah raksasa. Ruangan itu diperkirakan cukup untuk…

Bab 69 : Arti dari Sebuah Nama

Angin berhembus cukup kencang di cuaca yang cerah itu. Kurang dari 24 jam lagi rencana besar yang telah disepakati dalam rapat rahasia akan dilaksanakan. Namun…

Bab 68 : Pertemuan Para Penguasa

Semua orang sudah ada di tempat rahasia ini. Melalui sihir interface yang diciptakan oleh Lilia, sang kakak sekaligus Gubernur Karelia Alistair Stefansson bertatap muka dengan…

Bab 67 : Menjelang Pertemuan

Alisa dan Floria berjalan di lorong bawah tanah yang panjang itu, melewati dinding bebatuan dan kayu oak di sisi kiri dan kanan mereka. Terlihat ada…

Bab 66 : Kebenaran Tentangnya

Gubernur Alistair mengusap air matanya, sementara itu kondisi Linne sudah jauh lebih tenang. Pembicaraan pun kembali berlanjut. “Huh, sepertinya ini akan menjadi pembicaraan yang panjang…

Bab 65 : Penyesalan dan Kekecewaan

Alisa Garbareva, Floria Fresilca, Linne Helenawicz dan Felipe Elsberg tampak tak percaya bahwa mereka telah dipanggil oleh orang nomor satu di Karelia itu. Alistair Stefansson…

Bab 64 : Pagi Kelabu

Pagi itu semuanya nampak tak biasa. Tidak ada senda gurau, canda tawa, serta kesenangan-kesenangan lainnya di Kartovik ini. Setelah peristiwa penyerangan itu, semuanya seakan sirna.…

Bab 63 : Prajurit Surga

Cahaya terang menembus kegelapan. Sinarnya begitu menyilaukan mata. Penglihatannya masih nampak buram saat itu, tapi perlahan semuanya terlihat jelas. Gadis itu pun membuka matanya. “Uh,…

Bab 62 : Vilhelmina

BRUKK Wanita itu terhempas oleh serangan lawannya. Walaupun ia adalah gadis penyihir api terkuat se-Vitania, tapi kemampuan lawannya yang merupakan gadis penyihir terkuat nomor 1…

Bab 61 : Panah Naga Api

Sudah lebih dari 60% wilayah Kartovik Timur luluh lantak akibat serangan itu. Korban pun semakin banyak yang berjatuhan. Tapi sayangnya bantuan dari luar tidak ada…

Bab 60 : Pohon yang Tak Terbakar Api

Tubuh Frenska berguling-guling di hamparan tanah setelah dibawa paksa oleh sesosok manusia yang tiba-tiba menyerangnya. Beruntung hal tersebut tak terlalu berarti bagi gadis penyihir tumbuhan…

Bab 59 : Gerbang Hitam, Dunia Putih

“Huh... Huh... Tidak akan... aku biarkan...” Tepat di tengah-tengah reruntuhan bangunan yang mulai terbakar itu, dua orang gadis penyihir terlihat saling berhadapan satu sama lainnya.…

Bab 58 : Sang Pelindung

Kartovik Timur benar-benar terbakar pada malam itu. Serangan sihir yang dilancarkan para pemberontak Vitania berhasil meluluhlantakkan kota pendidikan yang eksotis tersebut. Kini hanya terlihat puing-puing…
error: Content is protected !!