Perjalanan Si Gadis Penyihir Angin

Bab 18 : Kota Masyarakat Timur

BRUMM BRUMM

Kedua gadis itu kembali melanjutkan perjalanan mereka setelah menetap hampir seminggu di Trossbourgh. Kota yang ramai dan dipenuhi masyarakat yang lebih terbuka itu begitu menarik perhatian Alisa. Banyak sekali informasi menarik yang diperoleh gadis Karelia itu di kota tertua se-Vitania tersebut. Ia pun meninggalkan kota itu dengan perasaan bahagia.

“Ah, kota yang menyenangkan. Kapan-kapan aku mau kesana lagi,” ucap gadis itu.

“Kau menyukai Trossbourgh ya, Alisa?” tanya Flo sambil mengemudikan Motosicca-nya.

“Tentu saja. Masyarakat disana sangat ramah dan terbuka. Pemandangannya juga indah. Aku tidak menyangka kalau Vitania yang dikenal tertutup punya lingkungan masyarakat yang sangat menyenangkan seperti itu.”

Flo tersenyum mendengarnya.

“Trossbourgh memang kota yang sangat menarik. Tapi kupikir kau akan lebih tertarik dengan kota tujuan kita selanjutnya,” ungkapnya

“Eh, ada kota yang lebih menarik lagi?” tanya Alisa.

“Tentu saja. Vitania itu daerah yang penuh dengan kejutan. Tunggu sampai kau melihatnya secara langsung.”

“Ah, sepertinya aku akan menyukainya,” gumam gadis Karelia itu.

“Tapi menurutku kau akan terkejut. Kota ini jauh lebih berbeda bila dibandingkan dengan kota-kota lain di seantero Vitania ini,” katanya.

“Berbeda? Berbeda seperti apa?”

“Aku tidak akan menjelaskannya sekarang. Nanti kau juga tahu sendiri. Hehe…” ucap perempuan itu.

“Ihh…, Flo pelit informasi,” Alisa cemberut mendengarnya. Flo yang melihat ekspresi temannya itu tertawa pelan.

Tak terasa mereka sebentar lagi sampai di kota selanjutnya. Pemandangan hutan di sekitar pun sudah mulai berkurang. Tepat di depan jalan mereka, Alisa melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.

“Eh, Flo. Itu apa?” tanya Alisa sambil menunjuk ke arah depan.

“Oh, itu salah satu gedung yang ada di kota tujuan kita,” jawab Flo.

“Gedung? Memangnya kita sudah sampai? Gedungnya terlihat jelas sekali dari sini.”

“Sebenarnya kita akan sampai di kota sekitar 3 km lagi,” tutur temannya itu.

“Apa? 3 km lagi?”

Alisa terkejut bukan kepalang. Gedung sejauh 3 km dari lokasinya sekarang bisa terlihat dengan sangat jelas. Itu artinya gedung itu menjulang sangat tinggi. Alisa tidak bisa membayangkan seperti apa kota yang akan ia kunjungi sekarang.

Mereka semakin dekat dengan wilayah kota. Perlahan gedung-gedung di kota itu semakin terlihat jelas. Tidak seperti kota-kota sebelumnya, kota ini benar-benar sangat modern dengan banyaknya bangunan pencakar langit.

“Ke-keren…” Alisa kagum melihatnya.

Tak terasa mereka pun sampai di kota itu. Mereka melewati sebuah gerbang raksasa berwarna merah dengan arsitektur yang belum pernah Alisa lihat sebelumnya, bahkan semenjak dirinya menginjakkan kaki di Vitania.

“Ini…”

“Ya, benar. Selamat datang di Kaguyashima, Alisa-san,” ujar Flo dengan istilah yang asing di telinga gadis Karelia itu.

“Be-besar sekali.”

Kekaguman Alisa akan kota itu semakin menjadi begitu mereka memasuki wilayah urban. Gedung-gedung tinggi menjulang dengan kondisi jalan dan trotoar yang sangat rapi dan bersih menambah ketertarikan gadis itu akan kota ini. Bahkan bisa dibilang kota ini mungkin lebih maju daripada ibukota Archipelahia, Sentralberg.

Namun di balik kekaguman itu, ada satu hal yang membuat Alisa penasaran. Arsitektur khas Vitania sama sekali tidak ditemukan di kota ini. Mereka seakan masuk ke negeri lain di luar Archipelahia.

“Eh, Flo. Kita masih di Vitania ‘kan?” tanya Alisa penasaran.

“Tentu saja.”

“Tapi, aku lihat sekeliling tidak seperti-“

Belum selesai Alisa berucap, Flo berhenti di sebuah bangunan menyerupai apartemen kecil yang merupakan tempat tinggal sewa.

“Nah, kita akan bermalam disini selama meneliti di kota ini,” ujar Flo.

“Oh, baiklah.”

Mereka pun masuk ke dalam untuk menyewa tempat tinggal sementara. Namun lagi-lagi Alisa kebingungan dengan apa yang ia dengar. Para pegawai dan sejumlah pengunjung saling bertutur kata, namun tidak menggunakan Bahasa Archipelahia ataupun Bahasa Vitania.

“Ah, Irasshaimase. Selamat datang,” sambut pegawai penerima tamu.

Flo menyewa tempat tinggal sementara disana dan memarkirkan Motosicca-nya di tempat parkiran yang sudah disediakan. Alisa nampak tak banyak bicara saat itu. Tak lama kemudian Flo pun mengajak gadis itu untuk jalan-jalan mengitari kota melalui sebuah tumpangan.

“Nah itu dia. Kita jalan-jalan naik itu.”

“A-apa?”

Alisa terkejut begitu melihat sebuah gerobak hias yang ditarik oleh seorang gadis di depannya. Ia nampak mengajak mereka untuk naik gerobak itu di belakangnya.

“Ayo kakak-kakak. Aku akan mengantar kalian berkeliling kota,” ajak gadis itu.

Keduanya menaiki gerobak itu dan sang gadis yang ada di depan mereka menariknya. Alisa nampak terkejut begitu melihat gadis di depannya mampu untuk menarik gerobak yang mereka berdua tunggangi itu.

“Eh, kau tidak keberatan menarik gerobak yang kami tunggangi ini?” tanya Alisa.

“Ini memang cara kami menggerakkannya,” jawab gadis itu.

Gadis berambut hitam itu nampak bersemangat menarik gerobak tersebut.

“Ah kalian pasti orang luar ya? Kaguyashima e youkoso. Selamat datang di Kaguyashima. Namaku Asahina Kyouko. Aku akan memandu kalian untuk berkeliling kota ini,” ujar sang gadis memperkenalkan dirinya.

“Ah, Kyouko ya? Aku Floria dari Matrotshaven. Sedangkan dia Alisa, temanku dari Clonovia.”

“Sa-salam kenal juga Kyouko,” ucap Alisa dengan sedikit terbata-bata.

“Ah, Clonovia ya? Pasti kau juga baru pertama kali kesini ‘kan, Alisa-san?” tanya Kyouko.

“Eh, iya. Aku belum pernah kesini sebelumnya,” jawabnya dengan sedikit canggung.

“Ah, baiklah kalau begitu. Aku akan menjelaskan sedikit tentang kota ini beserta penduduknya. Pasti kau juga masih asing bukan?”

Sambil menarik gerobaknya berkeliling kota, Kyouko menjelaskan tentang sejarah kota itu beserta penduduknya.

“Kaguyashima adalah satu dari tiga kota yang banyak dihuni oleh kami, suku Higashi. Kami bukanlah suku asli yang mendiami Vitania, melainkan pendatang yang berasal dari Keshogunan Yamato di tengah-tengah laut Babel,” jelas Kyouko.

“Keshogunan Yamato?” Alisa begitu asing mendengarnya.

“Iya. Ratusan tahun yang lalu kami mendiami negeri tersebut. Namun karena bencana letusan gunung api yang melenyapkan seluruh pulau, kami pun terpaksa bermigrasi. Dan syukurlah Kepangeranan Vitania mau menerima kami dan memberikan tempat tinggal baru bagi kami,” lanjutnya.

“Sebenarnya hal itu juga berkat jasa kalian membantu SDM negeri kami di masa lalu. Makanya Pangeran Ludwig von Fischer dengan sukarela mau menerima kalian,” timpal Flo.

“Ah, Floria-san. Kau juga tahu banyak soal sejarah kami ya. Sugoi,” puji Kyouko.

Sugoi?” Alisa kebingungan dengan istilah yang diucapkan gadis penarik gerobak itu.

Sugoi itu artinya ‘keren’ dalam Bahasa Yamato, Alisa-san,” ungkap Kyouko.

“Oh, begitu ya? Pantas saja aku tidak mengerti. Hehe…” Alisa tertawa kecil mendengarnya.

“Begitulah. Kami disini bertutur kata dengan Bahasa Yamato. Namun dengan orang Vitania lainnya, kami menggunakan Bahasa Vitania. Sedangkan kalau dengan orang dari daerah otonom lain, tentunya kami menggunakan Bahasa Archipelahia sebagai bahasa persatuan,” jelasnya.

“Jadi kalian mampu bertutur kata dalam 3 bahasa ya? Keren sekali. Sugoi,

Alisa memuji gadis itu dengan istilah yang digunakan oleh suku Higashi tersebut. Kyouko pun tersenyum mendengarnya.

“Hehe…, arigatou, Alisa-san.”

“Eh? Arigatou?”

“Itu artinya terima kasih.”

Kyouko pun mengantarkan mereka berkeliling sebagian kecil wilayah Kaguyashima yang sering dikunjungi wisatawan. Sementara itu, Alisa semakin banyak mendapatkan informasi baru untuk kebutuhan penelitiannya.

Mereka pun lalu berhenti di depan sebuah restoran.

“Kami berhenti disini saja. Arigatou gozaimasu. Terima kasih atas tumpangannya,” ucap Flo.

Douitashimashite. Kapan-kapan kita berkeliling lagi ya, Alisa-san, Floria-san,” ujar Kyouko sambil meninggalkan mereka.

“Dia orang yang baik ya, Flo. Yah, meskipun aku tidak terlalu mengerti istilah-istilah yang ia gunakan,” kata Alisa.

Flo tersenyum mendengarnya.

Mereka masuk ke restoran mie yang masyarakat Higashi sebut sebagai ‘ramen’ tersebut. Flo mentraktir Alisa semangkuk ramen kuah seharga dua Din. Mereka pun makan bersama.

Flo terlihat menyantap mie itu dengan nikmatnya. Namun berbeda dengan Alisa. Dia nampak kesulitan memegang alat makan yang disebut sebagai sumpit itu. Tak mengherankan karena di Karelia sendiri tidak ada alat makan yang berwujud seperti itu.

“Aduh, bagaimana cara makannya?”

Gadis Karelia tersebut nampak kesulitan memegang dua batang sumpit itu hingga terus terjatuh. Flo yang melihat hal itu sontak berpindah posisi duduk dan membantunya.

“Kau tidak bisa pakai sumpit ya, Alisa? Begini caranya.”

Flo memegangi tangan Alisa dan membantunya untuk memegang sumpit dengan benar. Mie yang ada di mangkuk itu pun akhirnya bisa ia santap dengan bantuan tangan temannya itu.

“Mmm…, enak sekali,”

“Nah, bagaimana Alisa? Sekarang kau bisa makan sumpit dengan benar ‘kan?” tanya Flo sambil tersenyum tipis.

“Aku masih perlu banyak belajar sih. Ngomong-ngomong terima kasih, tapi…”

“…jangan sedekat ini juga dong. Malu kalau dilihat orang.”

Alisa mengeluhkan posisi duduk Flo yang berada di sampingnya hingga pipi mereka nyaris bersentuhan. Pipi gadis Karelia itu memerah dan dirinya tersipu malu.

“Ah, maaf. Sepertinya aku terlalu dekat. Hihi…”

“Hmm…” Alisa cemberut.

Mereka pun kembali menyantap ramen, termasuk Alisa yang sedikit bersusah payah memegang alat makan tersebut.

Di tengah suasana makan itu, Alisa memperhatikan cincin Angke yang ada di jari Flo. Hal itu mengingatkannya akan sesuatu yang sebenarnya ingin ia katakan sejak awal.

“Hei, Flo.”

“Iya, Alisa?”

“Kalau tidak keberatan, bolehkah aku bertanya sesuatu?”

“Kau mau bertanya soal apa?” Flo bertanya balik.

“Sebenarnya ini tentang apa yang terjadi di Telhi 8 tahun yang lalu.”

Flo terdiam mendengarnya.

“Kita sudah berpisah sejak lama karena tragedi itu. Dan syukurlah aku bisa bertemu kembali denganmu saat ini. Aku sangat bahagia. Tapi, ada satu hal yang ingin aku tanyakan padamu, Flo.”

Alisa menatap wajah Flo dengan tatapan penuh tanda tanya.

“Apa yang terjadi padamu sebenarnya? Kenapa kau bisa menjadi anggota dari Brigade Penyihir Garis Depan Vitania? Sejujurnya itu mengejutkanku,” tanya Alisa.

Mendengar hal itu, Floria langsung menaruh sumpitnya.

“Huh, sebenarnya aku tidak benar-benar berniat masuk Brigade Penyihir. Aku melakukan itu karena keterpaksaan,” ungkap Flo.

“Keterpaksaan?”

“Keterpaksaan yang membuatku harus memilih jalan hidupku yang baru seperti ini,” lanjutnya.

“Flo…”

***

Lates Chapters

Bab 77 : Bersamamu, Selamanya

Awan gelap mulai menutupi sinar Formalha, pertanda hujan akan turun di ibukota Sentralberg. Angin pun berhembus walau tak kencang. Sementara itu di pusat kota, suara…

Bab 76 : Penghakiman

WUSHH Pusaran angin yang sangat kencang itu tiba-tiba menghilang tanpa sebab. Lingkaran sihir yang sebelumnya berputar di udara juga lenyap tak bersisa. Kini yang terlihat…

Bab 75 : Senyap

Angin berhembus semakin kencang. Suara adu senjata hingga ledakan sihir masih terdengar di seantero ibukota Sentralberg. Namun tidak ada hal lain yang bisa dilakukan oleh…

Bab 74 : Sang Raja yang Serakah

“Uhuk... uhuk...” Debu yang berterbangan dari reruntuhan itu membuat keduanya terbatuk-batuk. Kedua gadis itu terjatuh dari lantai atas akibat sebuah ledakan hingga terhempas ke lantai…

Bab 73 : Ruangan Sebelah

Hawa dingin menembus kulit mereka berdua. Perlahan keduanya pun membuka mata. “Dimana ini?” Dua gadis itu mendapati diri mereka terbaring di atas lantai dalam sebuah…

Bab 72 : Sang Korporat

Topi homburg yang dikenakannya ia berikan pada seorang gadis berambut pendek dengan pakaian serupa di sampingnya. Pria itu lalu memberikan hormat pada sang raja beserta…

Bab 71 : Konferensi Meja Bundar

Sinar bintang biru Formalha menyinari Sentralberg di pagi itu. Suara hiruk pikuk Carreta dan Motosicca yang berlalu lalang di jalanan beraspal hitam mewarnai suasana ibukota…

Bab 70 : Hari H

Lokasi rahasia, Ibukota Chekovia, Daerah Otonom Vitania. Sebuah ruangan besar menyerupai aula berdiri megah di dalam ruang bawah tanah raksasa. Ruangan itu diperkirakan cukup untuk…

Bab 69 : Arti dari Sebuah Nama

Angin berhembus cukup kencang di cuaca yang cerah itu. Kurang dari 24 jam lagi rencana besar yang telah disepakati dalam rapat rahasia akan dilaksanakan. Namun…

Bab 68 : Pertemuan Para Penguasa

Semua orang sudah ada di tempat rahasia ini. Melalui sihir interface yang diciptakan oleh Lilia, sang kakak sekaligus Gubernur Karelia Alistair Stefansson bertatap muka dengan…

Bab 67 : Menjelang Pertemuan

Alisa dan Floria berjalan di lorong bawah tanah yang panjang itu, melewati dinding bebatuan dan kayu oak di sisi kiri dan kanan mereka. Terlihat ada…

Bab 66 : Kebenaran Tentangnya

Gubernur Alistair mengusap air matanya, sementara itu kondisi Linne sudah jauh lebih tenang. Pembicaraan pun kembali berlanjut. “Huh, sepertinya ini akan menjadi pembicaraan yang panjang…

Bab 65 : Penyesalan dan Kekecewaan

Alisa Garbareva, Floria Fresilca, Linne Helenawicz dan Felipe Elsberg tampak tak percaya bahwa mereka telah dipanggil oleh orang nomor satu di Karelia itu. Alistair Stefansson…

Bab 64 : Pagi Kelabu

Pagi itu semuanya nampak tak biasa. Tidak ada senda gurau, canda tawa, serta kesenangan-kesenangan lainnya di Kartovik ini. Setelah peristiwa penyerangan itu, semuanya seakan sirna.…

Bab 63 : Prajurit Surga

Cahaya terang menembus kegelapan. Sinarnya begitu menyilaukan mata. Penglihatannya masih nampak buram saat itu, tapi perlahan semuanya terlihat jelas. Gadis itu pun membuka matanya. “Uh,…

Bab 62 : Vilhelmina

BRUKK Wanita itu terhempas oleh serangan lawannya. Walaupun ia adalah gadis penyihir api terkuat se-Vitania, tapi kemampuan lawannya yang merupakan gadis penyihir terkuat nomor 1…

Bab 61 : Panah Naga Api

Sudah lebih dari 60% wilayah Kartovik Timur luluh lantak akibat serangan itu. Korban pun semakin banyak yang berjatuhan. Tapi sayangnya bantuan dari luar tidak ada…

Bab 60 : Pohon yang Tak Terbakar Api

Tubuh Frenska berguling-guling di hamparan tanah setelah dibawa paksa oleh sesosok manusia yang tiba-tiba menyerangnya. Beruntung hal tersebut tak terlalu berarti bagi gadis penyihir tumbuhan…

Bab 59 : Gerbang Hitam, Dunia Putih

“Huh... Huh... Tidak akan... aku biarkan...” Tepat di tengah-tengah reruntuhan bangunan yang mulai terbakar itu, dua orang gadis penyihir terlihat saling berhadapan satu sama lainnya.…

Bab 58 : Sang Pelindung

Kartovik Timur benar-benar terbakar pada malam itu. Serangan sihir yang dilancarkan para pemberontak Vitania berhasil meluluhlantakkan kota pendidikan yang eksotis tersebut. Kini hanya terlihat puing-puing…
error: Content is protected !!