Perjalanan Si Gadis Penyihir Angin

Bab 28 : Badai

Beberapa tahun yang lalu terjadi sebuah pertarungan mematikan antara dua kelompok gadis penyihir di Aastland, distrik timur ibukota Sentralberg. Pertarungan di malam hari itu melibatkan Brigade Penyihir Garis Depan Vitania dengan gadis penyihir pelindung ibukota. Banyak sekali korban yang berjatuhan dari kedua belah pihak dalam peristiwa tersebut.

Salah satu korban dari pertarungan berdarah itu adalah Charlotte Fatir, putri dari Louis Fatir yang juga merupakan anak keenam dari raja dan ratu pertama Archipelahia, Sazali dan Amanda Fatir. Dirinya tak bisa diselamatkan setelah dibawa oleh ambulans.

Hal tersebut sungguh mengejutkan mengingat Charlotte adalah seorang gadis penyihir pengguna elemen jiwa yang sangat kuat. Terdengar sebuah rumor bahwa dia dikalahkan oleh seorang gadis penyihir angin anggota Brigade Penyihir yang ternyata mampu menebas sihir jiwa yang ia lancarkan. Selama beberapa tahun rumor tersebut hanya menjadi buah bibir di kalangan masyarakat saja, sebelum akhirnya pertemuan ini mengungkap kebenarannya.

“Karena kau adalah salah satu gadis penyihir Vitania terkuat dengan kemampuan langka, aku tarik kata-kataku tadi. Aku tidak jadi mengeksekusi mati kalian, tapi aku akan memberi kalian pilihan. Serahkan gadis penyihir Karelia itu dan kalian semua akan bebas dari segala tuntutan pengkhianatan. Bagaimana?”

Pertanyaan yang dilontarkan Antilles membuat mereka kebingungan. Disisi lain mereka percaya bahwa pertemuan ini akan mengubah sejarah Archipelahia menuju perdamaian. Tapi disisi lain, kalau mereka menolak tawaran itu mereka harus menghadapi gadis penyihir angin terkuat se-Vitania itu.

Karena tak kunjung ada jawaban, Antilles pun mengambil keputusan sendiri.

“Hmm,  baiklah kalau begitu,”

WUSHH

Wanita itu tiba-tiba bergerak secepat angin, dan tanpa disadari oleh mereka berdua ia sudah berada tepat di depan Alisa. Dengan pedang perak di pinggang kanannya, Antilles berupaya menusuk perut gadis Karelia itu.

“…”

“AWAS!!”

Untungnya Flo yang menyadari hal itu langsung mendorongnya. Namun sayangnya pedang itu sedikit menyayat pahanya. Hal ini diperparah dengan lukanya yang masih belum sembuh total.

“Aghh…”

“FLO!!”

“Hei kau, menjauh dari mereka,” ujar Rikka yang baru menyadari hal itu.

“Kau sendiri tak menjawab pertanyaanku tadi, Rikka. Aku memintamu untuk-“

WUSHH

Belum selesai dirinya berucap, sepasang shuriken tiba-tiba melesat ke arahnya. Dengan mudah Antilles bisa menghindarinya.

“Sudah Nyonya Rikka bilang, menjauh dari mereka!!” tegas Sena.

Antilles menatap mereka berdua dengan sinis.

“Sepertinya kalian memang tidak bisa diajak kerja sama, ya,”

Ucapan tersebut ditepis Rikka yang masih berpegang pada tujuannya.

“Kita yang tidak bisa diajak kerja sama, atau kau yang tidak mengerti permasalahan yang sebenarnya?”

Antilles seketika terdiam mendengar perkataan itu. Pikirnya, ada sesuatu yang ingin Rikka sampaikan karena ia sangat bersikeras melindungi gadis penyihir Karelia tersebut. Tapi hal itu masih belum cukup untuk meyakinkannya.

“Pengkhianat tetaplah pengkhianat,” kata Antilles sambil mengarahkan pedangnya pada mereka berdua.

“Huh, baiklah kalau begitu, kita selesaikan disini saja. Tapi kumohon, lepaskan gadis itu,”

Rikka memintanya untuk melepaskan Alisa, tapi Antilles menolaknya.

“Sayang sekali, aku tidak bisa melakukannya. Tapi mungkin ada benarnya, aku harus melakukan itu terlebih dahulu,”

SREETTT

WUSHH

Antilles memasang kuda-kuda bertarung lalu melesat secepat angin. Ia hendak menusuk gadis penyihir jiwa itu. Alhasil Rikka pun mau tidak mau harus menghadapinya.

TINGG

Dengan pisau kecil yang ia genggam, Rikka berhasil menepis serangan cutlass perak milik Antilles.

“KAK RIKKA!!”

Alisa hendak menolong wanita itu, namun Sena mencegahnya.

“Sudah, kalian diam disini saja. Biar kami yang mengurus dia,”

Sena memegang dua shuriken itu sambil menyilangkan kedua tangannya. Ia pun bersiap menyerang Antilles yang tengah bertarung dengan ketuanya tersebut.

“MELESATLAH, NAGAREBOSHI!!”

WUSHH

Dua buah shuriken itu melesat cepat ke arah Antilles. Mengetahui hal itu, wanita tersebut melompat ke belakang untuk menghindarinya. Namun ternyata itu bukanlah serangan utama.

SWINGG

Dengan secepat kilat, Sena berpindah posisi dan melempar kembali shuriken itu pada Antilles.

“Cih,”

Antilles berhasil menghindar kembali. Tapi lagi-lagi, Sena berpindah posisi dan menyerangnya dengan cara yang sama dengan tempo yang semakin cepat dan bertubi-tubi. Serangan khas ala ninja itu rupanya berhasil membuat Antilles cukup kewalahan.

“Nah, bagaimana? Kau kewalahan kan? Sekarang lihat ini,”

Serangan shuriken bertubi-tubinya berhenti, tapi Sena ternyata bersiap meluncurkan serangan kejutan pada Antilles. Gadis penyihir angin itu kini dikelilingi oleh ratusan shuriken yang melayang-layang di udara.

“TERIMALAH INI!! SANBYAKU NO NAGAREBOSHI!!” teriak Sena sambil menepuk kedua tangannya.

SWING SWING SWINGG

Ratusan shuriken itu melesat dengan cepat ke arah Antilles. Teknik sihir menyerupai Spell ‘Nalastormu’ milik Floria itu nyaris tak memberikan kesempatan pada wanita itu untuk menghindar.

Tapi sayangnya, serangan itu masih tak sebanding dengan kemampuan sihir angin yang dimiliki gadis penyihir peringkat 10 tersebut.

“Percuma saja,”

WUSHH

Tanpa menggerakkan satu jari pun, Antilles dengan mudahnya menghempaskan ratusan shuriken itu dengan sihir anginnya.

“Ehhh, itu curang,” keluh Sena sambil mengambil dua shuriken ‘aslinya’.

“Tak ada istilah curang dalam pertarungan. Kau harus mengandalkan strategi dan taktikmu sendiri, Natsuki Sena,” ucap Antilles.

“Cih,”

“Tapi untuk seorang kadet sepertimu, kau cukup mengesankan. Tapi sekarang giliranku. Lihat ini,”

Antilles memutar pedang peraknya lalu melesat seperti angin. Tidak hanya itu, ia pun bergerak kesana kemari seolah mengikuti arah hembusan angin.

TINGG TINGG TINGG

Wanita itu menyerang Sena dengan pedangnya, sementara gadis ninja itu berusaha menahan serangan Antilles dengan pelindung di kedua lengannya.

“Cih, teknik apa ini sebenarnya?” tanya Sena sambil berusaha menahan serangan itu.

“’Dancing Art, Teknik Angin Puyuh Timur Laut. Kau pasti tidak akan tahu karena kau bukanlah gadis penyihir angin,” jawab Antilles.

Gadis penyihir peringkat 10 itu menyerang Sena dengan Dancing Art dasar khas Archipelahia Utara itu, tapi dengan gerakan yang sangat halus namun mematikan.

TRING WUSHH TRINGG

Serangan unik itu pun berhasil membalikkan keadaan. Sena mulai kehilangan kontrol atas pertarungan tersebut.

Dengan memanfaatkan kelengahan sang gadis ninja, Antilles pun melancarkan serangan tak terduga.

“Dasar lengah.,

“Ap-“

BRUKK

Antilles menendang punggung Sena hingga ia terhempas cukup jauh. Ia pun kembali berputar dan melesat ke arah Alisa, lalu berusaha untuk mengunuskan pedangnya pada gadis Karelia tersebut.

“…”

“ALISA!!”

TRINGG

Sebuah pedang besar menahan hunusan cutlass tersebut. Rupanya itu berasal dari temannya. Floria yang kini sudah dalam wujud gadis penyihir.

“Flo!!”

“Apapun yang kau lakukan itu sia-sia saja, pengkhianat,”

Antilles melompat mundur dan berusaha menyerang kembali. Kini ia berusaha untuk menikam Floria. Ia pun memasang kuda-kuda dan berusaha untuk menahannya. Alisa hanya berdiam diri di belakang gadis itu, dan Sena tidak sempat melempar shurikennya kembali.

“Rasakan ini, pengkhianat,” ucap gadis penyihir angin peringkat 10 itu.

“Sial,”

“FLOO!!”

Di tengah suasana genting itu, sebuah benda tiba-tiba muncul di depan mereka. Benda itu menghujam tanah dengan sangat keras dan membuat mereka bertiga terhempas.

SRINGG

BRUKK

“Uhuk uhuk… Eh, ini?”

Alisa baru menyadari ada sebuah tembok sihir transparan yang memisahkannya dengan Antilles. Ternyata itu adalah sihir pelindung yang dirapalkan oleh Rikka untuk melindungi mereka berdua.

“’Soluna Skyoldir’, bisa-bisanya kau menggunakan sihir pelindung tingkat tinggi ini untuk melindungi para pengkhianat seperti mereka,”

Antilles menoleh ke arah Rikka yang tengah mengangkat tangannya itu.

“Kalian berdua, pergilah,” sahut Rikka pada Alisa dan Flo.

“Tapi, Kakak…”

“Aku bilang pergi sekarang. Biar kami yang mengurusnya,”

Mendengar hal itu, dengan terpaksa Alisa dan Floria meninggalkan tempat itu. Flo kembali berubah wujud menjadi gadis biasa dan membawa Alisa dengan Motosicca-nya menjauh dari tempat itu.

“Semoga kalian baik-baik saja, Kak Rikka, Sena,”

Alisa dan Floria bergegas pergi dari kebun itu, meninggalkan Rikka dan Sena di dalam ‘Skyoldir’ bersama Antilles. Kini mereka bertiga berada dalam pertarungan antara hidup dan mati.

***

Lates Chapters

Bab 77 : Bersamamu, Selamanya

Awan gelap mulai menutupi sinar Formalha, pertanda hujan akan turun di ibukota Sentralberg. Angin pun berhembus walau tak kencang. Sementara itu di pusat kota, suara…

Bab 76 : Penghakiman

WUSHH Pusaran angin yang sangat kencang itu tiba-tiba menghilang tanpa sebab. Lingkaran sihir yang sebelumnya berputar di udara juga lenyap tak bersisa. Kini yang terlihat…

Bab 75 : Senyap

Angin berhembus semakin kencang. Suara adu senjata hingga ledakan sihir masih terdengar di seantero ibukota Sentralberg. Namun tidak ada hal lain yang bisa dilakukan oleh…

Bab 74 : Sang Raja yang Serakah

“Uhuk... uhuk...” Debu yang berterbangan dari reruntuhan itu membuat keduanya terbatuk-batuk. Kedua gadis itu terjatuh dari lantai atas akibat sebuah ledakan hingga terhempas ke lantai…

Bab 73 : Ruangan Sebelah

Hawa dingin menembus kulit mereka berdua. Perlahan keduanya pun membuka mata. “Dimana ini?” Dua gadis itu mendapati diri mereka terbaring di atas lantai dalam sebuah…

Bab 72 : Sang Korporat

Topi homburg yang dikenakannya ia berikan pada seorang gadis berambut pendek dengan pakaian serupa di sampingnya. Pria itu lalu memberikan hormat pada sang raja beserta…

Bab 71 : Konferensi Meja Bundar

Sinar bintang biru Formalha menyinari Sentralberg di pagi itu. Suara hiruk pikuk Carreta dan Motosicca yang berlalu lalang di jalanan beraspal hitam mewarnai suasana ibukota…

Bab 70 : Hari H

Lokasi rahasia, Ibukota Chekovia, Daerah Otonom Vitania. Sebuah ruangan besar menyerupai aula berdiri megah di dalam ruang bawah tanah raksasa. Ruangan itu diperkirakan cukup untuk…

Bab 69 : Arti dari Sebuah Nama

Angin berhembus cukup kencang di cuaca yang cerah itu. Kurang dari 24 jam lagi rencana besar yang telah disepakati dalam rapat rahasia akan dilaksanakan. Namun…

Bab 68 : Pertemuan Para Penguasa

Semua orang sudah ada di tempat rahasia ini. Melalui sihir interface yang diciptakan oleh Lilia, sang kakak sekaligus Gubernur Karelia Alistair Stefansson bertatap muka dengan…

Bab 67 : Menjelang Pertemuan

Alisa dan Floria berjalan di lorong bawah tanah yang panjang itu, melewati dinding bebatuan dan kayu oak di sisi kiri dan kanan mereka. Terlihat ada…

Bab 66 : Kebenaran Tentangnya

Gubernur Alistair mengusap air matanya, sementara itu kondisi Linne sudah jauh lebih tenang. Pembicaraan pun kembali berlanjut. “Huh, sepertinya ini akan menjadi pembicaraan yang panjang…

Bab 65 : Penyesalan dan Kekecewaan

Alisa Garbareva, Floria Fresilca, Linne Helenawicz dan Felipe Elsberg tampak tak percaya bahwa mereka telah dipanggil oleh orang nomor satu di Karelia itu. Alistair Stefansson…

Bab 64 : Pagi Kelabu

Pagi itu semuanya nampak tak biasa. Tidak ada senda gurau, canda tawa, serta kesenangan-kesenangan lainnya di Kartovik ini. Setelah peristiwa penyerangan itu, semuanya seakan sirna.…

Bab 63 : Prajurit Surga

Cahaya terang menembus kegelapan. Sinarnya begitu menyilaukan mata. Penglihatannya masih nampak buram saat itu, tapi perlahan semuanya terlihat jelas. Gadis itu pun membuka matanya. “Uh,…

Bab 62 : Vilhelmina

BRUKK Wanita itu terhempas oleh serangan lawannya. Walaupun ia adalah gadis penyihir api terkuat se-Vitania, tapi kemampuan lawannya yang merupakan gadis penyihir terkuat nomor 1…

Bab 61 : Panah Naga Api

Sudah lebih dari 60% wilayah Kartovik Timur luluh lantak akibat serangan itu. Korban pun semakin banyak yang berjatuhan. Tapi sayangnya bantuan dari luar tidak ada…

Bab 60 : Pohon yang Tak Terbakar Api

Tubuh Frenska berguling-guling di hamparan tanah setelah dibawa paksa oleh sesosok manusia yang tiba-tiba menyerangnya. Beruntung hal tersebut tak terlalu berarti bagi gadis penyihir tumbuhan…

Bab 59 : Gerbang Hitam, Dunia Putih

“Huh... Huh... Tidak akan... aku biarkan...” Tepat di tengah-tengah reruntuhan bangunan yang mulai terbakar itu, dua orang gadis penyihir terlihat saling berhadapan satu sama lainnya.…

Bab 58 : Sang Pelindung

Kartovik Timur benar-benar terbakar pada malam itu. Serangan sihir yang dilancarkan para pemberontak Vitania berhasil meluluhlantakkan kota pendidikan yang eksotis tersebut. Kini hanya terlihat puing-puing…
error: Content is protected !!