Tolvanstad, Vitania Utara.
Musim semi adalah waktu di mana bunga-bunga yang indah bermekaran. Ini adalah musim favorit bagi orang-orang untuk memetik tanaman hias nan cantik itu untuk dijadikan hiasan rumahnya ataupun diberikan pada kekasihnya.
Bunga-bunga yang bermekaran menjadi ketertarikan tersendiri bagi masyarakat di wilayah pesisir utara Vitania tersebut. Bunga yang bermekaran itu didominasi oleh bunga tulip, bunga nasional Kerajaan Archipelahia.
Sembari ditemani oleh hembusan angin pantai yang lembut, seorang gadis berambut perak pendek itu tengah mencari bunga tulip biru.
“Duh, aku ingin sekali dapat bunga itu,” ucapnya.
Biasanya bunga tulip biru cukup mudah untuk dicari. Namun entah kenapa di musim semi tahun ini bunga khas Vitania itu nampak sulit untuk ditemukan.
Hampir setengah jam berlalu sejak gadis itu mencari bunga kesukaannya tersebut, hingga akhirnya sesuatu hal menarik perhatiannya dari balik semak-semak.
“Eh, tunggu. Itu-“
Gadis itu menyingkirkan sejumlah dedaunan di semak-semak itu. Akhirnya ia mendapatkan apa yang ia cari, setangkai bunga tulip biru yang baru saja mekar. Ia pun langsung memetiknya dengan semangat.
“Asyik. Ketemu juga,”
Dengan ekspresi riang gembira, gadis itu berputar-putar seraya mengangkat tulip yang ia dapatkan. Namun sayangnya, angin pantai yang cukup kencang meniup bunga itu hingga terlepas dari tangannya.
“Eh, bungaku…”
Ia berlari mengejar bunga itu, tetapi angin pantai yang kencang menyulitkannya. Hingga seorang gadis lainnya berhasil mendapatkan bunga tersebut.
“Yes, dapat,”
Hanya kurang dari satu detik, bunga itu kembali terlepas dari tangannya dan terbang entah kemana.
“Ups,”
“Ahh… Bunganya hilang.,
Sambil tertunduk lesu, gadis berambut perak itu hanya bisa merenung.
“Hehe, Sorry. Aku tak bisa mendapatkannya,” kata gadis berambut panjang itu.
Gadis berambut perak itu tak meresponsnya dan hanya termenung akibat kehilangan bunga itu. Melihat hal tersebut, ia pun mencoba menghiburnya.
“Eh, tunggu. Aku juga punya bunga yang indah. Kamu ambil yang ini saja,”
Ia mengambil sebuah benda dari saku kanannya yang ternyata merupakan sebuah bunga mawar merah.
“Nah, ambil,”
“Eh, tapi ini punyamu ‘kan?”
“Sudah, No problem. Aku bisa mencarinya lagi nanti,”
Gadis berambut perak itu akhirnya sedikit tersenyum.
“Terima kasih,”
“Your welcome. Aku pergi dulu ya. Bye,”
“Eh, tunggu… Uhh..”
Belum sempat ia bertanya, gadis itu sudah meninggalkannya duluan.
***
Keesokan harinya, gadis berambut perak itu kembali berjalan-jalan di pantai utara sambil berharap menemukan orang itu kembali. Untungnya harapan itu terwujud. Gadis itu terlihat sedang duduk di pinggir pantai sambil menikmati angin laut yang berhembus.
“Hei,” sahut gadis berambut perak itu.
“Eh, kamu yang kemarin ya? Ayo kemari,”
Mereka pun duduk bersama sambil menikmati angin sepoi-sepoi.
“Eh, iya. Aku lupa ingin bertanya hal ini padamu kemarin. Aku belum tau namamu,” tanya gadis berambut panjang itu.
“Anu, namaku Rikka,”
Gadis berambut perak itu memperkenalkan dirinya sambil sedikit gugup.
“Rikka? Namanya terlalu kuno,” celetuk gadis berambut panjang itu.
“Eh, kuno?”
“Nama ‘Rikka’ itu ‘kan berasal dari Bahasa Vitania kuno yang berarti ‘mawar’ bukan?” tuturnya.
Gadis berambut perak itu nampak melamun sambil memikirkan apa yang ia katakan. Rikka benar-benar tidak tahu soal arti namanya sendiri.
“Huh, ternyata masih banyak orang yang pakai nama kuno ya? Baiklah, bagaimana kalau kau aku panggil ‘Rose’ saja?” tanya gadis berambut panjang itu.
“Rose?”
“Iya, Rose. Nama itu berasal dari Bahasa Atlantia yang artinya juga ‘mawar’. Itu cocok sekali dengan apa yang aku berikan padamu kemarin,” katanya.
“Oh, baiklah,”
Rikka pun mengiyakan saran dari gadis itu.
“Oh iya. Aku lupa belum memberitahumu. Namaku Antillia,”
Gadis itu memperkenalkan dirinya pada Rikka. Namun karena namanya yang cukup asing di telinga gadis berambut perak itu, dirinya nampak kesulitan mengucapkan namanya.
“Antilla?”
“Bukan Antilla, Antillia,”
“…”
Karena masih kesulitan mengucapkan namanya, ia pun menggunakan opsi lain.
“Hadeh, ya sudah begini saja. Kau panggil saja aku ‘Anne’,”
“Anne?”
“Nah itu. Daripada kau kesulitan memanggil namaku, aku membuatnya lebih simpel saja. Tidak masalah sih kalau aku dipanggil itu juga,” katanya.
Hembusan angin laut melembut. Formalha sedikit naik ke atas pagi itu. Pemandangan disini sangatlah indah dengan langsung menghadap Selat Timur Laut dan Kepulauan Edinberg yang memiliki banyak gunung berapi aktif. Namun sayangnya aktivitas pertambangan di sana cukup ‘mengganggu’ suasana.
“Hei, Anne,”
“Iya, Rose?”
“Orang-orang disana sedang apa ya? Banyak sekali mesin-mesin berukuran besar disana,” tanya Rikka sambil menunjuk ke arah kepulauan itu.
“Oh, itu pertambangan mineral,” jawab Antillia.
“Pertambangan mineral?”
“Iya. Mereka disana sedang menambang ‘batuan hitam’. Mineral itu jadi bahan bakar untuk memenuhi kebutuhan energi di planet ini, seperti listrik dan sebagainya,” jelasnya.
“Oh begitu ya,”
Mereka memandangi aktivitas para pekerja dengan berbagai macam alat berat disana.
“Oh iya, ngomong-ngomong soal mineral, Edinberg sana punya banyak sekali mineral yang di ekspor ke luar negeri loh. Ya, mungkin karena disini itu dekat dengan patahan aktif dan gunung berapi, jadi banyak mineral yang bisa kita tambang disana. Tapi sisi buruknya daerah ini sering terjadi gempa dan gunung meletus,” lanjutnya.
“Huh?”
Rikka nampak bingung dengan apa yang dikatakannya. Meskipun begitu, hal itu membuktikan bahwa Antillia merupakan seorang gadis yang pintar.
“Ah, Rose. Pasti kau bingung ya? Tidak apa-apa. Nanti kapan-kapan ke rumahku saja. Rumahku ada di utara desa kok, tidak terlalu jauh,”
“Hmm…”
Rikka mengangguk padanya. Mereka berdua pun akhirnya menjadi sepasang sahabat yang akrab.
***
Hari demi hari, hubungan persahabatan diantara keduanya semakin dekat, hingga mereka akhirnya saling mengetahui hobi masing-masing.
Rikka merupakan seorang gadis yang gemar membaca buku. Seringkali ia meminjam sejumlah buku di perpustakaan desa. Namun setelah pertemuannya dengan Antillia, ia lebih sering membaca dibandingkan sebelumnya.
Tetapi berbeda dengan sahabatnya, Antillia. Dirinya punya hobi memotong-motong kayu dan memahatnya menjadi berbagai benda. Banyak benda yang ia buat dari pahatannya itu, namun umumnya ia membuat semacam pedang-pedangan. Hal ini cukup aneh mengingat hal tersebut biasanya dilakukan oleh anak laki-laki.
Antillia pun membuatkan sebuah belati kayu kecil yang ia berikan pada Rikka sebagai kenang-kenangan. Namun ternyata itu bukan sekedar cenderamata belaka.
“Wah, ini indah sekali. Pahatannya begitu rapi. Terima kasih Anne,” puji Rikka.
“Sama-sama. Hehe. Itu bukan apa-apa. Ngomong-ngomong ayo angkat benda itu. Mari kita bermain dengannya,”
Antillia lalu mengarahkan pedang kayu miliknya pada Rikka. Hal itu sontak membuat gadis berambut perak itu terkejut.
“Eh tunggu, Anne. Maksudnya kita bermain pedang-pedangan? Bukannya hal itu biasanya dimainkan sama anak laki-laki? Kenapa kau suka hal itu?” tanya Rikka.
“Itu karena, aku ingin menjadi seorang Hero yang bertarung untuk menegakkan keadilan,” jawab gadis itu.
“Hero ya?”
Rikka terlihat kebingungan dengan apa yang ada di benak gadis itu. Namun disisi lain ia merasa takjub dengan ambisi Antillia.
“Yosh, tanpa ragu lagi ayo kita mulai. HIYAAA!!”
“Eh, tunggu,”
BRUKK
Antillia memukul belati kayu yang dipegang Rikka oleh pedangnya. Karena pukulannya terlalu kuat, gadis berambut perak itu pun terjatuh.
“Aduh,”
“Eh, Sorry. Sepertinya aku kelepasan,”
Sebenarnya Rikka tak terlalu menyukai permainan seperti ini. Ia lebih senang duduk bersantai di rumah sambil memainkan permainan yang sederhana. Namun karena melihat sahabatnya yang ambisius itu membuatnya mencoba bangkit kembali.
Rikka pun menghela napas dan bersiap melanjutkan permainan itu dengan belati kayunya.
“Huh, baiklah Anne. Ayo kita mulai permainan yang sebenarnya,” ujar Rikka dengan percaya diri.
Antillia yang melihatnya langsung tersenyum.
“Ah, sepertinya kau sudah mulai bersemangat ya, Rose. Ayo kita mulai permainannya,”
“HIYAAA!!”
TRAK TRAK
Mereka pun mulai saling beradu kayu. Awalnya Rikka yang baru saja mengetahui cara bermainnya sempat beberapa kali terkena serangan Antillia. Namun lambat laun ia pun berhasil menguasainya.
Seiring dengan berjalannya waktu, mereka pun mulai ahli dalam melakukan permainan adu senjata kayu tersebut. Baik Rikka maupun Antillia, mereka mulai bisa saling menangkis serangan satu sama lainnya.
Rikka yang awalnya tidak terlalu menyukai permainan itu lambat laun mulai tertarik untuk melakukannya hampir setiap ia bertemu dengan Antillia. Terlebih setelah mereka membaca buku bersama tentang sejarah perjuangan para wanita untuk mendirikan Kerajaan Archipelahia dan mempertahankannya. Hal itu menjadikan mereka semakin bersemangat untuk saling berlatih.
TRAK TRAK TRAK
“Huh, sepertinya kau sudah mulai menguasainya ya, Rose. Kau mungkin akan menjadi seorang Hero yang mungkin bisa mengalahkanku,” puji Antillia.
“Hehe, tidak juga. Teknik bertarungmu justru semakin meningkat, Anne,” Rikka memujinya balik.
Persahabatan antara Rikka dan Antillia menjadi semakin dekat dan berkembang dengan adanya permainan bertarung itu. Hal tersebut membuat mereka bukan hanya sekedar sepasang sahabat, namun juga seperti sepasang ksatria wanita muda yang siap untuk membela kebenaran di masa depan.
Tapi sayangnya, suatu peristiwa terjadi di wilayah Tolvanstad yang mengubah kehidupan sepasang sahabat itu.
***