Malam sunyi, Randi tidak lagi berkutat dengan data tetapi kini telah berubah menjadi sang akuntan dadakan
Dua hari Randi bekerja dalam kesunyian yang mematikan di ruang administrasi SMP Bintang Timur. Setelah berhasil membersihkan data Dapodik, kini ia berhadapan dengan labirin angka dan kuitansi yang berantakan, mencoba memutihkan LPJ Dana BOS Tahap 1.
Pak Arman telah menyerahkan tumpukan kuitansi yang terselip, bahkan beberapa di antaranya dicatat dengan tangan di kertas bekas. Memang benar, sebagian dana dialihkan untuk membeli pompa air dan buku, kebutuhan primer yang tidak bisa menunggu, namun dicatat sebagai pembelian alat tulis kantor.
Randi, dengan kemampuan analitisnya yang tajam, harus menjadi akuntan forensik dadakan. Ia menyusun ulang anggaran, melakukan re-alokasi virtual, dan mencocokkan setiap rupiah agar terlihat sesuai dengan Juknis. Ia memastikan total dana yang keluar sesuai dengan yang dilaporkan, hanya saja peruntukannya diubah agar lolos audit administratif.
Pagi di hari ketiga, Randi akhirnya mencetak berkas itu. Laporan setebal 50 halaman itu kini terlihat rapi, logis, dan sempurna secara administratif. Di akhir laporan, ia menambahkan lembar ringkasan yang menjelaskan bahwa sisa penggunaan dana akan dipertanggungjawabkan pada Tahap 2, sebuah langkah pengamanan terakhir.
“Sudah selesai, Pak Arman,” kata Randi, meletakkan map hijau yang berisi LPJ yang sudah ditandatangani dan distempel basah.
Pak Arman menatap map itu dengan napas tertahan, seolah itu adalah jimat keselamatan. “Terima kasih, Pak Randi. Bapak tidak hanya menyelamatkan sekolah ini dari penutupan, tetapi juga menyelamatkan saya dari masalah hukum.”
“Kita belum menang, Pak Arman,” koreksi Randi. “Ini baru permulaan. Sekarang kita pergi ke Dinas. Kita serahkan ini, dan kita cabut satu lagi alasan mereka untuk menekan kita.”
Randi tiba di Kantor Dinas Pendidikan dan langsung menuju lantai dua, ke bagian Koordinator Dana BOS.
Ia disambut oleh Ibu Rina, Koordinator Dana BOS yang dikenal sangat teliti dan kaku dalam urusan administrasi. Ibu Rina menatap Randi dengan pandangan sedikit terkejut. Biasanya, yang datang mengurus LPJ adalah Kepala Sekolah atau Bendahara.
“Selamat pagi, Ibu Rina. Saya Randi, dari SMP Bintang Timur. Saya datang untuk menyerahkan Laporan Pertanggungjawaban Dana BOS Tahap 1,” ujar Randi, meletakkan map hijau itu di meja.
Ibu Rina mengangkat alis. “SMP Bintang Timur? Cepat juga Anda. Kami mendapat instruksi khusus dari Pak Kabid agar laporan ini segera masuk.”
Randi mengangguk. “Kami langsung bekerja cepat. Kami ingin semua urusan administratif kami bersih.”
Ibu Rina membuka map tersebut. Matanya bergerak cepat, memeriksa kesesuaian format, tanda tangan, dan total angka. Ia membalik halaman demi halaman. Randi berdiri tegak, siap menjawab setiap pertanyaan jebakan atau celah.
Ibu Rina berhenti di halaman rincian penggunaan, matanya menyipit, seolah sedang mencari anomali yang selama ini ia harapkan. Ia memeriksa realokasi pembelian buku dan perlengkapan dibandingkan dengan RKAS awal.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, Ibu Rina mendongak, ekspresinya sulit dibaca.
“Laporannya… rapi,” katanya, sedikit nada terkejut dalam suaranya. “Semua terlampir lengkap, dan realisasi penggunaan dana sesuai dengan batas persentase yang diatur Juknis. Kami akan proses dan berikan tanda terima.”
Randi merasakan bahunya sedikit mengendur. Ia telah berhasil lolos dari jebakan birokrasi ini.
“Terima kasih, Bu Rina. Kami pastikan ke depan tidak ada lagi keterlambatan,” kata Randi.
“Saya harap begitu,” jawab Ibu Rina sambil mengeluarkan lembar tanda terima. “Tapi, Pak Randi, dengar baik-baik. Walaupun laporan ini bersih, itu tidak berarti status SMP Bintang Timur berubah. Keputusan penutupan tetap berlaku. Dan Dana BOS Tahap 2 tidak akan dicairkan.”
Randi menerima tanda terima itu, mencatat tanggal dan stempel resmi.
“Saya mengerti, Bu Rina. Tapi paling tidak, kami sudah menunaikan kewajiban kami,” balas Randi, sambil menyeringai.
“ Tetap semangat Pak, saya yakin apa yang bapak kerjakan ini akan membuahkan hasil yang baik. Dan semoga Pak Kabid melunak dan meluluskan permintaan Pak Randi” Bu Rina memberikan semangat padanya.
“ Saya akan membantu bapak, melaporkan semua yang telah bapak usahakan. Saya akan membantu Pak Randi, agar Dana Bos Tahap 2 sekolah bapak bisa cair” lanjut Bu Rina dengan senyuman yang membuat hati Randi sejuk.
Ada secercah harapan yang didapatkan dari penuturan Bu Rina, sebuah harapan yang membuat hatinya bernapas lebih ringan.
“ Terima kasih banyak atas bantuannya, bu” jawab Randi dengan wajah kusutnya.
“ Saya telah mendengar dari ruangan sebelah, tentang keteguhan Pak Randi, semangat Pak Randi menghadapi Pak Kabid. Saya sangat salut dengan perjuangan Pak Randi” tambah Bu Rina.
Randi meninggalkan ruangan itu dengan dokumen LPJ yang berhasil diserahkan dan diterima. Ia kini memegang dua bukti kunci yang bisa membantah argumentasi Dinas laporan verifikasi dapodik 100% clean dan LPJ Dana BOS Tahap 1 diterima dan clean.
Pak Kabid kini tidak punya alasan administratif apa pun untuk menutup sekolah ini. Bola panas telah dikembalikan ke tangan Dinas.